Oom Willem (William Soeryadjaya) Obituary on Twitter


Deceased Astra International founder William Soeryadjaya. Deceased Astra International founder William Soeryadjaya.

Lack of in-depth obituary of Oom Willem on newspaper drove me to twit about him. Since these tweets about Oom Willem dominated my timeline today, I think I should write it here too as my truly first blog.

Oom Willem died on Friday, April 2nd 2010. His legacy as a businessman that could hold his ethics in ORBA cronyism era should be applauded and spread to Indonesian youth who aspire to be businessman.

Oom Willem was orphan in his seventh and dropped out of school in his nineteenth. Those conditions didn’t serve as obstacles for him to build the second biggest business in Indonesia. He founded ASTRA in 1957 and in the 90’s ASTRA were the biggest business group listed in Indonesian Stock Exchange.

Oom Willem had to release his stocks in ASTRA due to the collapse of Bank Summa, one of the top ten bank at that time, owned by his first son Edward Soeryadjaya. One hundred millions stocks were sold by him to finance payment of Bank Summa debts and savers money. Bank Summa was also the first bank in Indonesian history to face liquidation by the government.

The rest of this blog will be my tweets on Oom Willem, with hashtags #Wil (in Indonesian):

  • Thn 1992, Oom Willem jual 100 juta sahamnya utk ganti uang deposan kecil di Bank Summa milik anaknya yg jatuh.
  • Ketika Bank Summa milik anaknya-Edward kolaps, Oom Willem lepas 100juta sahamnya di Astra utk lunasi kewajiban. Bandingkan dengan BLBI!
  • Bank Summa kalah kliring sama dg Century. Bedanya utang & kredit macet 1,7T tsb dilunasi Oom Willem dg jual sahamnya di Astra. Robert?
  • Bank Summa, salah satu dari 10 Besar Bank di Indonesia tahun 1992, menjadi bank pertama yang dilikuidasi oleh BI. Akibat mismanajemen?
  • Bank Summa bekerjasama dengan NU membuat Nusumma, gerakan dg visi membuka ribuan bank rakyat di seluruh Indonesia.
  • Peresmian BPR Nusumma yg pertama oleh Gus Dur dan Edward Soeryadjaya pemilik Bank Summa, anak pertama Oom Willem.
  • Oom Willem terkenal sebagai satu dari segilintir konglomerat yg menolak memberikan sumbangan2 untuk aktivitas politik Soeharto-Golkar.
  • Kolaborasi NU-Summa, kedekatan Oom Willem dan Gus Dur tentunya bertolak belakang dengan visi Soeharto yg dekat dg konglomerat2 lainnya.
  • Sementara Soeharto memiliki visi develop negara melalui kolaborasi penguasa dan konglomerat. Bukan konglomerat dg ormas.
  • Oom Willem, Astra dan Summa dipandang Soeharto sebagai kelompok bisnis yang tidak se-visi dengan rencana besarnya.
  • Gus Dur saat itu, di tahun 90-an muncul sebagai figur pemimpin NU yg cermelang dan karismatik. Potensi musuh besar bagi Soeharto.
  • “Bergabungnya” Oom Willem dan Gus Dur ibarat potensi gempa 9 Skalar Ritcher bagi Soeharto. Apalagi dg gerakan NUSUMMA.
  • Ditambah visi gerakan Nusumma adalah penguatan ekonomi umat Islam yg akan membuat mereka sejajar dengan etnis Cina yg lebih sejahtera.
  • Seperti kita tau, Soeharto gunakan kesejahteraan etnis Cina sebagai bemper politiknya. Isu kesenjangan ekonomi sering ia manfaatkan.
  • “Saya cinta Indonesia. Saya lahir, hidup, & berkarya di Indonesia,” Om Willem. Dan ia buktikan hal itu di ASTRA, hal yg langka era itu.
  • ASTRA adalah grup bisnis pertama yg memberikan kesempatan dan pelatihan bagi “pribumi” utk bisa develop skill manajerial swasta.
  • Kejatuhan Bank Summa adalah kesempatan yg ditunggu2 Soeharto untuk menghancurkan total kerajaan bisnis yg bukan sekutunya tsb.
  • Gus Dur dipandang Soeharto sebagai rival terkuatnya. Aliansi Edward dg Gus Dur hanya menambah keresahan Soeharto .
  • Mengapa BI membiarkan Summa collapse? Tahun 1988, Menkeu Sumarlin memperkenalkan banking deregulation.
  • Dg kebijakan itu, BI menegaskan bahwa di era deregulasi bisnis harus mandiri tanpa bantuan negara. Negara tdk bs bantu bank Summa.
  • Namun byk yg mencurigai kelambanan respon BI dlm kasus Summa ini mengandung unsur kolusi dg grup2 yg ingin ambil alih Astra.
  • Akhirnya Bank Summa dibail-out Oom Willem dg menjual sahamnya di Astra. Yang beli sahamnya? Prayogo Pangestu & Liem Sioe Liong.
  • Sumarlin, Menkeu RI 1988-1993 menetapkan kebijakan deregulasi perbankan. Siapapun dengan modal 10 Milyar Rupiah bisa buat Bank.
  • Dengan deregulasi bank, bank2 baru bermunculan, BI tak akan mampu monitor. Pertanyaannya bagaimana bila bank tersebut kolaps?
  • Jawab Sumarlin: Ya biarkan itu terjadi. Pemerintah tdk akan bailout. Bgmn dg uang deposan? Org harusnya milih bank dg bijak, resiko.
  • Dengan kata lain, BI saat itu tdk monitoring bank2 dan tdk akan bailout. Bagaimana publik bisa tau mana bank yg sehat/sakit?
  • Kecurigaan bahwa BI sengaja membiarkan Summa kolaps agar ASTRA dapat diambil alih grup kroni Soeharto semakin jelas dg fakta berikut.
  • Saat Bank Danamon di-rush deposan, Sumarlin muncul di TV utk tenangkan publik. Saat Summa kalah kliring, govt umumkan tangkap manajemen.
  • BI jg seharusnya sdh tahu problem Summa dan bisa ambil-alih aset & manajemen. Dg demikian Bank Summa dapat hidup, uang deposan aman.
  • Dengan alasan deregulasi perbankan bail out tdk dilakukan. Hal yg sebaliknya dilakukan saat Bank2 kolaps tahun 97-98 -> BLBI.
  • Likuidasi, Bank Summa harus bayar 900 Milyar. Perbanas bantu 130M jadi sisa 770M. Oom Willem terpaksa nalangin sisa utang Bank Summa.
  • Oom Willem jual 100jt sahamnya di Astra dg harga Rp 5000/saham = 500 Milyar. Saat itu Toyota Japan siap bayar Rp 10.000/saham.
  • Saham dijual ke PresKom Danamon, Usman Atmadjaja yg akhirnya diketahui disponsori Prayogo Pangestu dan Liem Sioe Liong, kroni Soeharto.
  • Saham ASTRA yg dijual jauh di bawah harga pasar hanya bisa terjadi bila ada konspirasi, demikian anggapan orang2 saat itu.
  • Kwik Kian Gie memiliki dugaan kuat ada konspirasi antara pejabat moneter (BI) saat itu dengan pemilik Bank Danamon dalam hal ambil alih SUMMA-ASTRA.
  • Waktu Soeharto minta saham perusahaan harus dijual ke koperasi, Oom Willem menolak dan mengatakan lebih baik dihibahkan saja.
  • Penolakan Oom Willem tsb diartikan sebagai ejekan kepada Soeharto seakan2 Oom Willem lebih dermawan daripada Mbahnya negeri ini.
  • Dengan dijualnya saham miliknya di ASTRA, Oom Willem berpisah dg bisnis yg dilahirkannya, grup konglomerasi terbesar kedua di RI.

And this closing statement from Jakarta Globe will serve well: In the prime of his business career, William lost his kingdom, but he never looked back. He set himself apart from others by considering the setback yet another lesson in life that no one is ever too old to learn.

4 thoughts on “Oom Willem (William Soeryadjaya) Obituary on Twitter

  1. Thanks om Benhan atas ulasannya yg MANTAP. Gus Dur dan Om Willem yg harusnya dapat gelar pahlawan nasional, bukan Mbah Harto. .

  2. Taon lalu baca buku biografi William Soeryadjaya, sampe sekarang masih terpesona sama karakternya yang berprinsip + dermawan. Mestinya cerita idupnya dijadiin sinetron aja deh, biar bisa mendidik masyarakat kita, gimana etos kerja yang bagus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s