Fenomena Tolak Dana Aspirasi Orang Biasa


Suara penolakan terhadap Dana Aspirasi DPR bergema di social media seperti Twitter. Begitu kuat gemanya sehingga media mainstream pun memuatnya. Tweet-tweet dengan hashtag #tolakdanaaspirasi juga dilakukan para seleb-twitter, pengguna twitter dengan jumlah followers yang mencapai puluhan ribu.

Jakarta Globe memuat opini analis Charta Politika- Yunarto Wijaya, bahwa resistensi sosial lewat social media dapat menjadi gerakan akar rumput untuk mempengaruhi kebijakan dan pengambilan keputusan pemerintah. Ia juga berpendapat penolakan terhadap “pork barrel” ini menunjukkan kebangkitan masyarakat madani dalam keterlibatan di isu politik. Diskusi isu politik di social media dapat berfungsi sebagai edukasi publik, dengan memberikan informasi kepada mereka yang belum tahu banyak soal isu tertentu dan memberikan mereka pengertian melebihi apa yang dapat diberikan politisi, yang biasanya tersamarkan oleh formalitas dan legalitas. Ia berpendapat social media saat ini memainkan peran pengawasan atas politik negeri ini.

Saya sependapat dengan analisa di atas. Cepat atau lambat social media akan berperan penting dalam mempengaruhi opini publik. Dan ini semestinya kita sambut dengan baik.  Social media dapat menjadi jalur opini masyarakat yang tidak bisa ditampung media mainstream yang bagaimanapun banyaknya pasti terbatas. Pengaruh social media tidak diragukan lagi di Amerika Serikat, di mana faktor penting kemenangan Obama di pemilu 2008 salah satunya adalah kampanye lewat social media seperti twitter dan facebook.

Blog saya mengenai Dana Aspirasi DPR sendiri mendapatkan sekitar 5000 hits dalam sehari berkat publikasi di twitter. Dan publikasi itu memungkinkan saya untuk diundang Pandji Pragiwaksono host acara Provocative Proactive Hard Rock FM untuk berpartisipasi di acaranya dalam bentuk dialog soal Dana Aspirasi, bersama anggota DPR Fraksi Golkar Bobby Adithyo Rizaldi. Sayangnya pemancar radio Hard Rock FM mengalami masalah teknis pada saat acara hendak dimulai sehingga terpaksa ditunda hingga minggu berikutnya. Meskipun demikian diskusi yang terjadi off air antara kami cukup seru dan mencerahkan.

Gagal siaran dialog Dana Aspirasi di Hard Rock FM, pembicaraan mengenai acara tersebut yang ramai di twitter menyebabkan SUN TV berencana mengadakan acara debat Dana Aspirasi DPR. Saya diundang untuk hadir pada acara debat yang akan diadakan pada hari Rabu, 16 Juni 2010 pukul 20.00 WIB, disiarkan Live oleh SUN TV di saluran televisi berbayar Indovision Channel 83. Peserta debat lainnya yang akan hadir pada acara tersebut adalah Indra J Piliang, politisi Golkar. Moderatornya Fadjroel Rachman. Apabila acara debat berjalan sesuai rencana, argumen-argumen yang terjadi selama debat akan saya coba dokumentasikan di blog ini.

Fenomena orang biasa (orang awam yang bukan politisi, pejabat publik, aktivis ormas) yang mendapatkan wadah untuk menyuarakan pendapatnya ke publik melalui social media merupakan hal menarik yang patut kita perhatikan. Social media dapat menjadi jembatan orang biasa ke media mainstream, seperti yang telah ditunjukkan dalam isu tolak dana aspirasi ini. Partisipasi orang-orang biasa dapat memperluas keterlibatan publik dalam politik, sehingga dapat kita simpulkan social media memungkinkan kebangkitan political awareness (melek politik) orang awam. Melek politik ini akan sangat penting untuk menciptakan tuntutan politik yang lebih tinggi dan efektif terhadap politisi pejabat publik dan wakil rakyat kita. Melek politik juga dapat menghalangi terjadinya penipuan publik, penyesatan opini publik yang selama ini sering dipraktekkan politisi kita, paling nyata di kasus Century.

Terakhir yang paling penting adalah melek politiknya orang biasa akan menghapuskan skeptisme kita terhadap politik sehingga ujung-ujungnya kita akan lebih berpartisipasi ikut membentuk masa depan negeri ini, tidak hanya menyerahkan nasib negeri ini kepada para politisi. Karena negeri ini juga milik kita, orang-orang biasa.

15 thoughts on “Fenomena Tolak Dana Aspirasi Orang Biasa

  1. usulan Dana Aspirasi ini adalah Bentuk Keputus Asaan Anggota Dewan dalam memelihara hubungan dengan konstituennya. Atau secara sederhana mungkin ini juga buah dari kebiaaan caleg menabur janji, sehingga begitu terpilih mereka bingung memenuhi janji2nya. Belu lagi mereka juga harus mengejar break even point dan kalu kita lihat parpol juga sering memanjakan kadernya dengan materi. begitulah kira-kira bro

  2. Ben, seriously. I have a bad feeling with Fadjroel and Indra Pilliang challenge you on next wednesday. But, good luck bro! Jangan mau terprovokasi oleh aktivis2 itu.

    Kita memang orang biasa, tapi kita punya “suara” yang gak boleh dipengaruhi kita. Good luck bro!

    (@IrvanLubis)

  3. ups sorry, typo. maksud gua :

    Ben, seriously. I have a bad feeling with Fadjroel and Indra Pilliang challenge you on next wednesday. But, good luck bro! Jangan mau terprovokasi oleh aktivis2 itu.

    Kita memang orang biasa, tapi kita punya “suara” yang gak boleh dipengaruhi mereka. Good luck bro!

    (@IrvanLubis)

    • Thanks Irvan atas sarannya.
      Saya akan usahakan sebaik mungkin argumentasi saya dalam debat nanti. Di satu sisi kita bisa berpandangan seperti ini: kapan lagi orang biasa bisa berdialog dengan politisi? Ini kesempatan kita menyuarakan pendapat kita. Apapun counter argumennya yang penting suara kita tersampaikan. Tujuannya juga bukan untuk menang debat, tapi menyampaikan suara ke publik.
      I hope I’ll be fine🙂

      • Dear @benhan,

        to be honest saya malah ragu dgn adanya niat “diskusi”. Lihat tweets Indra Pilliang, saya rasa ada ego-nya kesentil dan menantang mu utk diskusi. What I’m afraid of is, no pure idea exchange will be presented in that discussion. Sounds like abusive to me…

        But, I wish you luck, you’ve been such an inspiration for tweetverse. Hope I can skip my class and make it tomorrow (eh, dibuka gak sih?)

  4. Hi Benhan, finally we met in person (at SMI public lecture weeks ago). Anyway, great perspective on how the new social media change the way we interact and influence mainstream media.

    IMO, fenomena ini juga bukti dari kegagalan jalur politik konvensional yang seharusnya dapat menjadi tulang punggung demokrasi kita + media mainstream yang sangat terlihat memiliki keberpihakan terhadap interests2 tertentu.

    Keep writing, keep influencing!

    [@putraditama]

  5. Saya biasanya cuek-cuek aja sama isu macam ini karena merasa ga ngerti dan ga punya kapasitas untuk ngasih “suara”, tapi baca-baca blog dan tweet mas benhan, om wimar, dll, jadi ikut gemes pengen bersuara. Fenomena suara orang biasa yang disalurkan lewat social media ini mudah2an bisa terus “netral” dari intervensi pihak-pihak yang perang kepentingan. Keep on posting mas. Oh iya, saya ijin nge-link ke blog post anda yang mengenai pork barrel. Thank you.

  6. Ben, keberanian dan kejernihan berpikir Benny akan diukir dalam sejarah. Dan akan memotivasi orang untuk ikut serta memikirkan hal yang baik buat bangsa dan negaranya.

    Maju Ben!

  7. mas Ben..saatnya orang biasa bicara yang luar biasa..anggota DPR hanya mementingkan partainya saja dgn mengatasnamakan rakyat.raktat sllu menjadi tameng bagi DPR untuk melegalkan kepentingan partai mereka..DPR tidak peka terhadap defisit anggaran yg terjadi selama ini.
    maju dan sukses mas Beni..:)

  8. Saya setuju dengan mas wandi….rakyat selalu dijadikan alasan klise untuk melegalkan kepentingan parpol. Permintaan atas dana aspirasi kemudian yang lebih heboh lagi 1 M perdesa harusnya dikaji secara berimbang. Memang kalau dirasa, desa mana yg tidak akan maju bila diberikan dana pembangunan sebesar itu per tahun. Namun harus dilihat juga secara balance resiko2 penyimpangan yang bisa terjadi. Tidak perlu menerapkan terlebih dulu cukup berkaca pada negara2 yg terlebih dulu menerapkan hal tersebut. Menyimak statement2 yang dikeluarkan pak idrus semalam di tv one, disampaikan yang bagus2nya saja. Hanya berbicara normatif secara konseptual saja. Fungsi legislatif seharusnya jangan dikaburkan dengan fungsi eksekutif, kesannya dengan jalan tersebut kaum pengawas pengen turut campur dalam pelaksanaan. Harusnya DPR berperan sebagai pengawas saja, evaluator atas kebijakan yg telah ditetapkan semula. DPR cukup melakukan “push” terhadap departemen terkait yang notabene sebagai pelaksana program2 pemerintah. Dengan begitupun DPR sudah ikut membangun…semisal mengawasi pelaksanaan BOS….PNPM…bantuan2 di departemen pertanian
    Kalaupun pengen bener2 memperhatikan rakyat saya rasa tidak perlu se ekstrim itu dulu tahapnya
    Supaya rakyat desa nyaman hidup dan berkarya dikampung…. yah logika paling simpel adalah memberikaan “pekerjaan rumah” yg bisa menghidupi bagi mereka. Bukan konsep bagus yg nantinya hanya bersisa diangan-angan saja. Mungkin itu fungsi para wakil rakyat, mengetahui potensi dan memikirkan apa yg dapat “dijual” dari daerahnya untuk kesejahteraan.

    Sukses aja deh buat mas ben….good luck & i hope God bless your effort

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s