Catatan Akhir Tahun 2010 -siapa yang paling berpengaruh?


Setelah merangkum pilihan pembaca untuk Indonesian Most Influential Persons 2010, maka tampaknya kurang lengkap bila saya juga belum menulis pilihan saya. Saya akan mencoba untuk menuliskan pendapat saya, naik turunnya tahun 2010 dan siapa saja tokoh yang menurut saya sangat berpengaruh di tahun ini. Tokoh-tokoh yang memberikan inspirasi maupun menuai kutukan, kecaman. Mari kita mulai.

Tahun 2010, Tahun Roller Coaster

Tidak berlebihan bila kita mengatakan tahun 2010 sebagai tahun roller coaster, naik turun tidak karuan. Berbagai peristiwa di tanah air ini membawa kita dalam perasaan sesedih-sedihnya dan sebangga-bangganya. Bencana alam maupun bencana politik menimpa negeri ini. Skandal demi skandal, baik yang privat maupun yang publik. Keharuan dan kebersamaan diimbangi dengan keegoisan dan perbuatan memalukan, yang menuai kecaman. Tahun 2010 tidak pernah sewarna. Apakah tahun 2010 ini tahun kekecewaan atau tahun kebanggaan? Sulit menyimpulkannya. Kita bisa coba membahas beberapa peristiwa besar di tahun ini, kilas balik untuk mendapatkan gambaran seputar tahun 2010 ini.

Skandal Politik

Peristiwa yang sangat mempengaruhi diri saya baik secara emosional maupun wawasan pemikiran adalah kriminalisasi Bibit-Chandra di KPK yang kemudian dilanjutkan dengan kriminalisasi pejabat publik Boediono dan Sri Mulyani Indrawati, terutama terhadap SMI setelah kemudian mengetahui hal ini merupakan skandal politik besar. Bila kriminalisasi Bibit-Chandra dilakukan oleh mafia hukum di kepolisian dan kejaksaan maka kriminalisasi Boediono-SMI lewat gerbang Kasus Century dilakukan oleh anggota DPR, wakil rakyat. Ironis.

Sandiwara yang dilakukan anggota pansus Century DPR sungguh memuakkan. Pansus Century yang awalnya dibentuk untuk mencari tahu apakah ada aliran dana bailout Century ke Partai Demokrat dan tim kampanye SBY-Boediono berbalik tujuannya di tengah perjalanan, berubah menjadi mengincar Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan yang terlibat dalam keputusan bailout bank tersebut. Mengingat bailout bank Century telah diketahui anggota DPR periode sebelumnya (2004-2009) setahun sebelum Pansus ini dibentuk dan tidak ada keberatan di masa itu, maka kasus ini seakan menjadi sandiwara politik yang menggelikan. Yang menjadi panggung adalah Gedung DPR di Senayan dan layar televisi (media, terutama stasiun tv berita sangat intensif meliput kasus ini). Aktor-aktor karbitan, anggota Pansus DPR bergantian nampang di televisi bak artis sinetron, memainkan peran yang lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya untuk rakyat yang diwakilkannya. Hasilnya? Sesuai prediksi, Pansus Century hanya menghasilkan dugaan pelanggaran yang merugikan keuangan negara. Hanya dugaan. Jadi awal dan akhir Pansus itu sama: dugaan. Seperti anjing yang berputar-putar mengejar ekornya sendiri.

Walaupun Pansus Century seperti bekerja sia-sia, mereka berhasil secara politik. Kedudukan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan menjadi goyah. Di mata media, SMI dan Boediono telah dicap bersalah membailout Century walaupun tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa mereka melakukan hal tersebut untuk memperkaya diri, atau orang lain. Tidak ada unsur korupsi yang terbukti, saat itu, dan bahkan hingga sampai sekarang (setelah proses hukum di KPK). Hasil paripurna DPR yang kompak mendukung Pansus Century pun membuat posisi SBY-Boediono goyah. Anggota koalisi yang membelot bersama dengan oposisi mengancam melanjutkan dengan proses pemakzulan. SBY melakukan kompromi, terutama dengan Golkar. SMI mengundurkan diri, beberapa hari kemudian Aburizal Bakrie diangkat menjadi Ketua Harian Setgab Koalisi. Golkar kemudian “menutup” kasus Century, oposisi kecewa (seakan-akan) oleh langkah rekan koalisi Century barunya. Dan kita tahu itu semua tidak lain sandiwara politik yang disponsori Aburizal Bakrie untuk menjatuhkan SMI, yang diakui sendiri oleh SMI dalam wawancaranya dengan Wall Street Journal Singapore. Kasus pajak perusahaanya dan agenda akuisisi Newmont konon menjadi motivasi Aburizal Bakrie untuk menggeser Menteri Keuangan yang memang memiliki otoritas atas dua hal tersebut. Saat ini SMI menjabat sebagai Managing Director World Bank, pejabat publik yang mengundurkan diri setelah sukses dalam program reformasi Departemen Keuangan. Pertama kali di negeri ini. Sementara ada yang berpesta-pora setelah ia mengundurkan diri. Menyedihkan.

Kasus Bibit-Chandra di KPK hampir serupa, hanya beda sponsor. Anggodo Wijaya, pengusaha asal Surabaya ini yang menjadi sponsor kriminalisasi KPK. Saudaranya, Anggoro yang saat ini buron di Singapura terjerat kasus di KPK. Anggodo lakukan kriminalisasi di KPK agar kasus yang menimpa Anggoro bisa diputarbalikkan menjadi kasus pemerasan oleh KPK. Lewat Jaksa dan Polisi proses hukum terhadap Bibit-Chandra dijalankan, menuduh mereka melakukan pemerasan terhadap Anggoro. Namun rekaman “rencana kriminalisasi” tersebut berhasil diputar di MK. Motif Anggodo, beberapa pejabat Polisi dan Kejaksaan terbuka di publik, publik marah dan menekan Presiden untuk hentikan kasus KPK ini. Presiden menanggapi dengan membentuk Tim 8 untuk investigasi.

Setelah Tim 8 dibentuk, tekanan publik terhadap Kejagung, dan arahan Presiden agar penyelesaian dilakukan di luar pengadilan, Kejaksaan tetap lamban merespon. Seakan-akan mereka memang sengaja berlambat-lambat dalam kasus ini, agar KPK tidak dapat bekerja secara efisien. Cukup berhasil, mengingat Bibit-Chandra kemudian sibuk menjalani proses ini, aktif-non aktif dan apa yang telah dicapai KPK pada tahun ini relatif tidak lebih cemerlang daripada tahun-tahun sebelumnya.

Di luar dua kasus besar ini, reformasi di Kejaksaan dan Kepolisian dianggap berjalan amat lambat kalau tidak mau disebut tidak ada sama sekali. Pemilihan Kapolri dan Jaksa Agung baru yang lamban dikritik oleh publik. Dan hasil pilihannya pun tidak memenuhi ekspektasi masyarakat. Demikian halnya pemilihan pimpinan KPK oleh DPR. Figur kontroversial yang lugas seperti Bambang Widjojanto tidak mendapatkan suara DPR. Busyro Muqoddas yang terpilih pun hanya akan menjabat setahun. Kemajuan di bidang penegakan hukum ini sungguh mengecewakan.

Ariel dan Negeri yang Makin Konservatif

Kasus Ariel merupakan kasus fenomenal pertama di Indonesia di mana seseorang yang video seksnya disebar di internet diancam hukuman pidana. Video seks yang tersebar di internet bukan hal baru di Indonesia. Beberapa pejabat dan anggota DPR pernah alami kasus serupa. Namun belum pernah ada yang diproses secara hukum. Adanya UU Pornografi memungkinkan itu (walaupun interpretasinya dapat didebat). Saya pernah menulis soal kasus Ariel itu di blog ini. Tak pelak lagi kita bisa nilai kasus ini sebagai fenomena negeri yang makin konservatif, bahkan menuju bigotry dalam beberapa hal.

Pendapat ini semakin menemukan kebenarannya ketika kita melihat aksi ormas-ormas agama di masyarakat kita yang semakin menggelisahkan. Dimotori oleh FPI, penolakan terhadap gereja-gereja (yang menurut mereka tanpa izin) dan aktivitas umat Ahmadiyah cukup meresahkan. Segel tempat ibadah, pengancaman bahkan di beberapa kasus berakhir pada penusukan. SKB Menteri dijadikan sebagai justifikasi kelompok ini. Dan aparat keamanan tidak membantu. Penindasan tegas terhadap pelaku kekerasan dan ancaman tidak terjadi, yang ada aparat mengamankan dengan cara ikut melarang pihak “korban” beribadah. Dalam hal ini negeri kita bukannya maju tapi malah mundur. Pekerjaan rumah besar dalam hal pluralisme dan HAM yang masih perlu diselesaikan. Sayangnya hingga saat ini belum ada kelompok masyarakat yang berani maju membela yang lemah. Ada pendapat-pendapat yang dikeluarkan secara pribadi di media, twitter, namun belum ada aksi nyata, senyata gerakan ormas-ormas agama tersebut.

Bencana Alam

Bencana alam menghantam Indonesia berturut-turut di kuartal keempat tahun 2010 ini. Wasior, Mentawai dan Merapi terjadi pada waktu yang hampir bersamaan. Lagi-lagi respon pemerintah pusat dan daerah dalam hal ini sungguh mengecewakan. Ketidak-tersediaannya infrastruktur yang memadai dalam mitigasi bencana alam menghambat informasi ketika terjadi bencana dan distribusi bantuan untuk korban bencana alam. Untung ada elemen masyarakat sipil yang bergerak sendiri. Relawan-relawan baru lahir, bekerjasama dengan NGO dan LSM memberikan bantuan evakuasi, dan pemulihan kepada korban bencana alam. Di twitter orang-orang menghimpun dana untuk disalurkan. Musisi bernyanyi mencari dana amal, selebritis buka posko. Solidaritas rakyat Indonesia muncul ketika terjadi bencana. Bangsa yang resilient demikian kata Obama. Tidak salah lagi.

Kunjungan Obama sesaat setelah serentetan bencana alam itu membawa sebuah inspirasi baru. Bahwa bangsa ini adalah bangsa yang besar, yang mengagumkan. Obama membantu kita mengingatkan diri kita sendiri akan perjalanan bangsa ini. Akan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Bahwa bangsa ini bangsa besar dan tangguh. Semua menjadi tidak klise ketika diucapkan olehnya (saya kebetulan berkesempatan untuk menyaksikan langsung pidatonya di kampus UI, Depok). Kita percaya walaupun kata-kata manis adalah bagian dari diplomasi, namun kata-kata itu juga diucapkannya dengan tulus. Ada kualitas istimewa pada diri Obama yang saya lihat, yang tidak dimiliki pemimpin-pemimpin kita. Integritas dan kejujuran, yang dapat membuat kita percaya padanya.

Kekecewaan dan kebanggaan, bercampur di Indonesia ketika bencana alam menimpa negeri ini.

Nasionalisme Sepakbola

Di akhir tahun, nasionalisme bangsa ini mencapai puncaknya saat timnas sepakbola kita berhasil mencapai final kejuaraan AFF, kejuaraan sepakbola di level Asia Tenggara. Walaupun gagal merebut gelar juara, Indonesia tampil meyakinkan. Debut pemain naturalisasi seperti Christian Gonzales dan Irfan Bachdim juga sensasional. Gonzales sebagai top skorer timnas dan Irfan Bachdim dengan wajahnya yang imut-imut merebut perhatian media dan para wanita. Mereka tidak dipandang sebagai berbeda, rakyat Indonesia cepat sekali menganggap mereka sebagai bagian dari kita, warga negara Indonesia. Luar biasa perbedaan yang bisa dihilangkan oleh sepakbola. Semua bersatu, mendukung dan berdoa untuk timnas. Sayang perjalanan timnas sedikit dicemari oleh ulah politisi-pengusaha yang mencoba mengambil untung dari euforia masyarakat. Ulah ketua PSSI, Nurdin Halid yang menggadang-gadang timnas ke rumah bossnya, Aburizal Bakrie dan show off pemberian bantuan oleh keluarga Bakrie serta acara doa bersama berhasil mengganggu persiapan timnas. Hasilnya timnas Indonesia kalah 0-3 di Bukit Jalil, Malaysia. Bahkan kebanggaan terakhir kita di tahun ini pun mau direbut oleh para politisi. Memalukan.

Penutup Akhir Tahun

Setelah tulisan di atas, maka kita bisa lebih mudah memberikan penilaian. Bagi saya anggota DPR nilainya minus. SBY dan Aburizal Bakrie minus. SMI walaupun berhasil diusir politikus nilainya plus, karena berhasil memberikan inspirasi kepada ratusan ribu mungkin jutaan rakyat Indonesia bagaimana menjadi teratai di kolam yang kotor. Figur bersih dan berintegritas. Kejaksaan dan Kepolisian minus. FPI minus. Relawan bencana plus. Obama plus. Timnas Indonesia plus. PSSI dan Nurdin Halid minus. Pendukung sepakbola Indonesia plus.

Jadi siapa yang paling berpengaruh di Indonesia untuk tahun 2010? Pilihan pribadi saya adalah Sri Mulyani Indrawati dan Timnas Sepakbola Indonesia. Yang pertama karena berhasil memberikan inspirasi kepada rakyat Indonesia yang rindu akan Integritas dan anti-korupsi, anti-politisasi, simbol perlawanan terhadap semua kekuatan yang dirasakan jahat terhadap negeri ini dan yang kedua karena berhasil memberikan kebanggaan kolektif, nasionalisme bagi bangsa Indonesia, yang haus akan itu. Setelah semua pemimpin dan pejabat publik yang ada di negeri ini tak mampu memberikan kebanggaan dan inspirasi, timnas Indonesia dan Ibu Sri Mulyani berikan itu. Kebanggaan dan Inspirasi, bagi saya cukup untuk menutup tahun 2010 ini. Tahun yang hampir menjadi tahun penuh kekecewaan. Semoga 2011 lebih baik lagi. Mari kita usahakan.

Timnas Indonesia

Sri Mulyani Indrawati

One thought on “Catatan Akhir Tahun 2010 -siapa yang paling berpengaruh?

  1. tulisan yang bagus dan menarik dan pemilihan SMI sebagai “tokoh yang paling berpengaruh tahun 2010”, saya sangat sepakat untuk mengusung SMI sebagai capres Indonesia tahun 2014….
    biar bisa “menyikat” habis para mafia yang semakin memuakkan ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s