The Secret of Unhappiness


Mengapa Semua Orang Pada Dasarnya Tidak Bahagia

Anda mungkin kaget dengan judul di atas. Bila biasanya orang selalu menulis tentang bagaimana caranya hidup bahagia, rahasia hidup bahagia, seni hidup bahagia, mengapa sekarang ada yang malah menulis tentang ketidakbahagiaan? Apakah penulis seorang yang pesimis dengan kehidupan? Atau lebih jauh lagi, apakah penulis ini sebenarnya sedang depresi sehingga merasa perlu mengangkat topik Unhappiness ini? Bila Anda tertarik untuk mengetahui mengapa tulisan ini dimuat, maka saya akan menghimbau agar Anda dapat bersabar dahulu dan membaca artikel yang cukup panjang ini sampai akhir sebelum berkomentar. Karena judul di atas sama sekali bukan pepesan kosong, atau gimmick untuk menarik perhatian. Tetapi judul di atas akan menunjukkan kepada Anda sebuah fakta yang selama ini selalu dihindari untuk diakui oleh semua orang padahal ia nyata.

Jika kita mau sedikit merenungkan kata-kata di atas, sama sekali tidak ada yang salah dengan judul tersebut. Semua orang pada dasarnya tidak bahagia, oleh karena itu mereka mencari kebahagiaan dalam hidupnya. Ada film yang judulnya “The Pursuit of Happyness” yang dibintangi oleh Will Smith, dan di toko-toko buku Anda akan temukan banyak sekali buku-buku motivasi tentang mencari kebahagiaan. Kalau manusia pada dasarnya sudah bahagia, untuk apa lagi kita mencari kebahagiaan? Kita mencari kebahagiaan karena kita sedang tidak bahagia. Betul bukan? Nah logika tersebut memang masuk akal, tapi tidak lama lagi saya akan mencoba menuntun Anda pada pemahaman yang tidak hanya logis namun juga faktual. Bahwa ada fakta-fakta yang menunjukkan bahwa kita pada dasarnya memang tidak bahagia.

Kalau manusia pada dasarnya sudah bahagia, untuk apa lagi kita mencari kebahagiaan?

Kita Terlahir Tidak Bahagia

Seorang bayi terlahir menangis. Nah itu indikasi ia tidak bahagia tuh, kata orang-orang yang mendukung teori saya ini. Sebentar jangan terlalu cepat menyimpulkan. Teori medis mengatakan bayi terlahir menangis karena sistem pernafasannya pertama kali bekerja saat itu dan menangis perlu untuk membersihkan cairan amniotic dari paru-parunya. Dengan menangis ia juga dapat dengan cepat mendapatkan oksigen ke paru-paru. Tapi ini juga baru teori. Ada lagi yang mengatakan karena ini pertama kalinya ia merasakan gravitasi, adaptasinya dari keluar dari rahim ia tidak nyaman, maka menangis. Teori saya, bayi menangis saat lahir dan menangis beberapa jam sesudahnya, beberapa hari, minggu, bulan sesudahnya karena satu hal: ia tidak nyaman.

Kalau Anda termasuk orang tua yang beruntung dan sudah pernah menyaksikan, membesarkan bayi, tentu akan tahu bahwa menangis adalah satu-satunya alat komunikasi bayi kepada orang tuanya untuk hal-hal yang ia perlukan. Bila ia lapar, ia menangis. Saat ia tidak nyaman dengan popoknya yang penuh dengan pup atau air seni, ia menangis. Saat ia bosan, ia menangis. Kesimpulannya saat bayi merasa tidak nyaman, ia menangis. Menangis adalah indikasi ketidaknyamanan, yang dalam hal ini juga dapat kita sebut ketidakbahagiaan.

Apakah bayi terus-menerus menangis? Tidak juga. Selebihnya ia akan tertawa, tersenyum, mengoceh sendiri, tapi setelah bosan, ia akan menangis. Siklus ini diulang-ulang sampai para orang tua muda ini sering kali jadi ikut bingung, tertekan, dan kekurangan tidur. Bayi yang tidak bahagia membuat orang tuanya tidak bahagia pula. Tapi karena bayi ini menggemaskan, ketidakbahagiaan orang tua terbayar saat melihatnya tersenyum, atau tertawa. Seperti Michelle anakku yang baru berumur 3 bulan ini.

Baby Michelle, how cute is she?

Mengapa bayi bisa tersenyum atau tertawa? Nah itu kita simpan untuk artikel berikutnya saja. Mungkin judulnya The Secret of Baby Happiness.🙂

Sekarang kita melihat orang dewasa. Apakah sesungguhnya kita sama dengan bayi, yang lebih sering merasa tidak nyaman daripada nyaman? Untuk mengujinya mudah sekali. Coba Anda diam sejenak. Diam dalam posisi tertentu tanpa harus melakukan apa-apa. Kalau ada stopwatch boleh dipakai, hitung berapa lama dari Anda pertama kali diam sampai Anda mulai gelisah dan ingin berpindah posisi. Apakah itu memindahkan posisi tangan, menggerakkan kepala, atau menggoyangkan kaki. Anda akan terkejut mengetahui seberapa cepat Anda dari diam menjadi gelisah, tidak nyaman. Hal yang sama bisa diterapkan ke pikiran. Perhatikan pikiran Anda, sejak Anda diam sampai Anda gelisah. Apakah pikiran bisa merasa relax, atau terus-menerus memikirkan hal-hal lain?

Setelah Anda mencoba, maka mungkin sedikit banyak Anda mulai akan terbuka pada kemungkinan ini: bahwa pada dasarnya kita cepat sekali merasa tidak nyaman. Posisi badan dipindah-pindahkan karena badan ini tidak nyaman berada dalam satu kondisi statis untuk waktu yang sebentar sekalipun. Pikiran juga tidak nyaman dalam kondisi relax, tenang. Pada dasarnya pikiran ini sifatnya seperti monyet liar, ingin selalu bergerak ke sana ke mari, tidak bisa diam. Cobalah test percobaan di atas beberapa kali sampai Anda benar-benar memahami demikianlah sifat dasar badan dan pikiran kita: tidak bisa diam, dan kalau diminta untuk diam dengan cepat menjadi gelisah dan tidak nyaman.

Siklus Ketidakbahagiaan

Anda mungkin bisa protes, “Lho tidak nyaman kok disamakan dengan tidak bahagia? Bukannya wajar saja kalau kita merasa tidak nyaman dalam satu saat? Toh kemudian kita melakukan perpindahan posisi misalnya, atau melakukan aktivitas, dan badan serta pikiran ini kembali nyaman.”

Anda benar, pikiran dan badan ini selalu mencari “kesibukan” agar ketidaknyamanan ini dapat dilupakan, untuk sesaat. Saya ambil contoh lain.

“Hari Minggu, sebagaimana orang-orang kantoran umumnya Lukas tidak bekerja. Bangun siang karena semalam nonton pertandingan Arsenal sampai tengah malam. Tidak ada janji acara hari ini. Bingung mau ngapain. Nonton TV tidak ada acara yang menarik. Mau ke bioskop tidak ada teman. Teman-teman lagi pada sibuk dengan pacarnya masing-masing. Pacarnya sendiri baru diputuskan 2 bulan lalu. Lukas lalu membuat sarapan sendiri, indomie. Saat ia makan, ia memikirkan apa yang mau dilakukannya hari Minggu itu. Bosan. Akhirnya ia memutuskan untuk main game PS3 saja. Lumayan bisa membunuh waktu, pikir Lukas.”

Nah dari contoh di atas kondisi awal Lukas adalah tidak nyaman. Baru bangun tidur ia sudah merasa tidak nyaman. Ia mencari-cari aktivitas apa yang bisa ia lakukan untuk “menghabiskan” sisa hari Minggu itu. Akhirnya ia memilih menghanyutkan dirinya dalam game console. Anda, saya mungkin sering mengalami hal yang serupa dengan Lukas. Apakah dalam permainan PS3 tersebut ia akan menikmatinya? Mungkin iya. Untuk 3-4 jam ia akan melupakan sejenak dunia di sekitarnya dan hidup di dunia imajiner rekayasa sebuah game. Ia “lari” dari kenyataan untuk sejenak. Setelah selesai dan bosan bermain, ia terpaksa harus kembali lagi ke dunia nyata. Dan mencari lagi aktivitas baru yang dapat membuatnya nyaman, sekaligus untuk melupakan ketidaknyamanan yang dihadapinya. Hampir sama dengan bayi.

Kalau dirunut aktivitas harian kita, bisa kita bagi dalam beberapa kategori:

  1. Aktivitas primer yang rutin. Seperti mandi, sikat gigi, buang air, makan, minum, tidur. Aktivitas ini dilakukan hampir secara otomatis setiap hari karena kebutuhan biologis atau karena harus dilakukan demi kesehatan badan.
  2. Aktivitas sekunder yang rutin. Berangkat kerja/sekolah, dan bekerja di kantor/belajar di sekolah. Semua kegiatan yang dilakukan hampir sama setiap harinya kecuali hari libur. Kegiatan ini dilakukan karena manusia hidup bermasyarakat. Butuh pekerjaan untuk menghidupi keluarga atau diri sendiri, butuh pendidikan untuk modal bekerja nanti.
  3. Aktivitas optional untuk mengisi waktu yang tersisa . Bisa jalan-jalan ke suatu tempat setelah bekerja, pacaran, ibadah, shopping, main game, nonton film, baca buku, browsing dan lain-lain.

Aktivitas primer dan sekunder kita lakukan seakan-akan itu kewajiban, agar manusia bisa tetap hidup bermasyarakat. Aktivitas sekunder dilakukan untuk menopang aktivitas primer. Kita bekerja agar punya uang untuk makan, punya tempat untuk tidur, bisa beli sabun untuk mandi. Enak atau tidak, aktivitas primer dan sekunder ini harus dilakukan. Apakah aktivitas primer dan sekunder ini mendatangkan kebahagiaan? Apakah makan bisa buat orang bahagia? Makan sering menjadi ritual harian yang kita lakukan dan lalui tanpa terlalu menikmatinya. Apakah bekerja bisa mendatangkan kebahagiaan? Bagi sebagian orang yang cinta profesinya mungkin akan merasakan kebahagiaan dari pekerjaan. Tapi umumnya orang bekerja hanya untuk uang. Jadi aktivitas primer dan sekunder ini umumnya dilakukan sebagai bagian dari kewajiban hidup. Jarang sekali orang menganggap kedua aktivitas ini adalah sumber kebahagiaan. Jadi kita bisa simpulkan saat melakukan aktivitas primer dan sekunder, umumnya manusia tidak bahagia.

Bagaimana dengan aktivitas optional? Tampaknya yang satu ini bisa menjadi sumber kebahagiaan. Dengan bekerja dan punya uang, orang bisa berpacaran, bisa shopping, bisa nonton film yang ia sukai, bisa mengoleksi barang-barang yang ia sukai, perhiasan atau mobil sport misalnya (miniatur). Dengan hiburan, orang merasa ia bisa bahagia. Dengan memiliki benda-benda yang ia inginkan, orang jadi bahagia. Membelanjakan uang, orang bahagia. Apakah benar?

Para wanita yang demen shopping mungkin akan mengiyakan. Saat shopping, wajah mereka begitu berseri-seri. Sepertinya bahagia. Demikian juga para pria. Saat bisa melakukan aktivitas kegemarannya seperti bermain futsal, atau golf, mereka tampaknya bahagia. Persepsi kita saat seseorang melakukan kegiatan yang disukainya, ia puas, ia bahagia.

Fakta ini tak mungkin disangkal. Melakukan kegiatan yang digemari, diinginkan, otomatis kita merasa gembira. Namun apakah kita tidak mungkin bosan dengan kegiatan yang digemari itu? Ternyata kita juga akan bosan, seiring dengan berlalunya waktu.

Contoh: membeli sebuah benda kesukaan, handphone misalnya. Saat handphone terbaru diumumkan, hasrat membelinya menggebu-gebu. Saat kita pertama kali membelinya, senangnya bukan main. Seharian itu handphone diutak-atik. Seminggu pertama masa bulan madu. Satu bulan lewat, dua bulan lewat, enam bulan handphone itu sudah dianggap biasa. Kalau habis bekerja, langsung dilempar ke meja atau tempat tidur. Seiring dengan waktu berlalu, “kecintaan” kita pada handphone itu berkurang. Kebahagiaan kita yang didapatkan dari berinteraksi dengannya berkurang, bahkan perlahan hilang.

Memiliki sebuah benda ternyata tidak mendatangkan kebahagiaan. Saat membelinya kita “bahagia”, seiring dengan waktu berlalu “kebahagiaan” itu hilang. Apakah benar ini kebahagiaan? Kalau benar ini kebahagiaan mengapa sifatnya hanya sementara? Mengapa kita bisa “bosan” terhadap barang yang sangat kita senangi di awal?

Dua contoh dan tiga kategori aktivitas  di atas adalah ilustrasi bahwa awalnya kita tidak bahagia (“terpaksa” menjalankan aktivitas primer dan sekunder). Lalu kita bisa gembira ketika menenggelamkan diri dalam suatu aktivitas optional yang disukai, atau ketika mendapatkan sesuatu yang kita sukai. Namun kegembiraan itu bersifat sementara. Seiring dengan berlalunya waktu, kita kembali bosan, kembali tidak nyaman, dan kembali mencari-cari lagi sesuatu yang bisa menggembirakan. Kalau dibuat diagramnya kira-kira seperti ini:

kondisi awal: tidak bahagia -> mencari-cari kebahagiaan -> melakukan aktivitas -> merasa mendapatkan kebahagiaan -> kembali tidak bahagia

Ketidaknyamanan, kebosanan adalah indikasi ketidakbahagiaan kita. Dan kita berusaha menolak kenyataan itu dengan melakukan aktivitas-aktivitas opsional. Walaupun akhirnya kita terpaksa dihadapkan kembali pada kondisi awal, yaitu ketidakbahagiaan. Demikianlah siklus ketidakbahagiaan ini berulang.

Escapism

Escapism is mental diversion by means of entertainment or recreation, as an “escape” from the perceived unpleasant or banal aspects of daily life. It can also be used as a term to define the actions people take to help relieve persisting feelings of depression or general sadness.

-wikipedia

Usaha kita untuk melarikan diri dari kondisi awal ketidakbahagiaan ini disebut escapism. Kita merasa tidak nyaman, lalu kita mencoba mengalihkan perhatian kita dari keadaan yang tidak nyaman ini ke berbagai bentuk hiburan atau rekreasi seperti: membaca buku, nonton film, main game, atau bahkan aktivitas seksual. Saat kita terbenam dalam kegiatan hiburan dan rekreasi tersebut, sejenak kita dapat melupakan ketidaknyamanan kita. Namun setelah kegiatan itu usai, karena tidak dapat berlangsung selamanya, kita kembali merasa tidak nyaman. Ada yang mencoba drugs untuk membawanya ke dunia khayal lebih lama namun itupun tidak membantu. Kerusakan pada jaringan otak dan ketergantungan menjadikan drugs bukan solusi.

Ada sebuah contoh lagi ketika saya masih kuliah. Ada jam session hari itu diadakan di kampus. Saya mengajak seorang teman untuk menonton jam session. Tugas kuliahnya masih banyak yang belum selesai. Ia suntuk. Saya berkata, “Ayolah jangan suntuk, kita nikmati musik.” Teman yang bijak ini menjawab, “Ah paling senangnya satu dua jam doank Ben, habis itu kembali harus bikin tugas ini… malah waktu terbuang.”

Kata-kata itu masih teringat sampai sekarang. Ia benar, escapism hanya menyediakan solusi sementara atas ketidaknyamanan kita. Bukan solusi permanen. Namun kebanyakan dari kita hidup dengan melompat-lompat dari bentuk escapism yang satu ke bentuk yang lain. Kita pun salah identifikasi, menganggap escapism adalah sumber kebahagiaan padahal ia sesungguhnya hanyalah sarana pelarian kita.

Sulit memang menerima kenyataan bahwa kita sesungguhnya tidak bahagia, namun semakin kita menolak fakta ini, semakin kita terdelusi. Sebagian jadi bergantung dengan drugs. Sebagian lagi dari aktivitas seksual, bergonti-ganti pasangan demi sensasi seksual. Sebagian jadi shopaholic. Ada yang jadi game-addicted. Bahkan di Korea sudah banyak cerita remaja yang menghabiskan lebih dari 48 jam di warnet dan kemudian tewas karena dehidrasi atau tidak makan. Salah identifikasi escapism sebagai source of happiness membuat kita terdelusi, dan hal ini bisa berakibat fatal.

Achievement

Bila escapism tidak membawakan kebahagiaan, bagaimana dengan achievement? Orang akan bahagia ketika ia berhasil dalam hidupnya. Berhasil menjadi pimpinan sebuah perusahaan, berhasil menjadi ketua RT atau malah Gubernur. Berhasil menjadi orang terkaya di kompleks. Berhasil ranking satu di sekolah. Segala macam prestasi ini konon disebutkan sebagai sumber kebahagiaan juga. Mari kita periksa kebenarannya.

Saya mengawali karir saya sebagai Engineer di proyek. Impian saya adalah menjadi Project Manager di usia muda. Dengan demikian saya bisa membuktikan diri saya sebagai Civil Engineer yang berhasil di dunia konstruksi. Setelah beberapa tahun berkecimpung di dunia konstruksi, akhirnya saya diberikan kesempatan menjadi Project Manager (PM). Gembira? Tentu. Ada sebuah kebanggaan dalam diri saya di mana saya berhasil menjadi PM dalam usia yang belum kepala tiga saat itu, dan di proyek bertaraf internasional pula. Satu-dua bulan, setahun berlalu dan “prestasi” itu menjadi biasa lagi. Jabatan PM itu tak lagi membanggakan, bahkan perlahan-lahan yang lebih terasa adalah kewajibannya daripada posisi yang dapat dipamerkan. Kebanggaan tetap akan muncul ketika kita dipuji orang saat itu, namun pujian hanya datang mungkin satu-dua kali dalam beberapa bulan. Sisanya adalah memuji diri sendiri dalam hati ketika kita lagi ingin merasakan kebanggaan tersebut. Lucu dan konyol juga kalau diingat-ingat.🙂

Setelah sekian lama terbiasa dengan jabatan tersebut, achievement tersebut tidak lagi menjadi hal yang membanggakan. Saya tidak lagi mengandalkan prestasi itu sebagai sumber kebahagiaan. Lagipula mengandalkan pujian orang lain untuk menjadi bahagia, how pathetic is that? :p

Orang yang merasa saat ia berhasil mencapai sesuatu ia bahagia mungkin harus memeriksa kembali kenyataannya. Bahwa kita bangga kita berhasil menaklukkan tantangan tertentu, itu benar. Dan bahwa kita senang ketika orang lain mengakui prestasi kita, itu juga benar. Namun menjadikan pengakuan orang lain atas prestasi kita itu sebagai sumber kebahagiaan tampaknya terlalu naif. Tidak heran ada orang yang haus pujian, bahkan sampai ada yang mengharuskan bawahannya menjilat dan memuja-muji karena ia merasa dengan demikian ia bisa bahagia. Ketika tidak ada yang memuji, ia tidak bahagia. Malah saking haus pujian, ia bisa depresi karena absennya pujian. Ini menjadi ketergantungan. Kalau contoh sebelumnya ada yang menjadi tergantung dengan escapism, yang ini ketergantungannya dengan pengakuan (pujian) atas achievement.

Mengakui Kita Tidak Bahagia = Depresi?

Lalu pertanyaan berikutnya setelah memahami penjelasan di atas: Apa untungnya kita mengakui diri kita tidak bahagia? Bukankah itu bisa malah membuat kita depresi?

Depresi, atau penyakit mental banyak didapatkan bahkan pada penduduk negara-negara maju. Mereka hidup berkecukupan, kebutuhan primer terpenuhi, tapi tetap depresi. Pil tidur seakan menjadi obat flu/batuk kalau di sini. Apakah karena mereka mengakui dirinya tidak bahagia lalu jadi depresi? Tidak. Justru karena tidak mengenali ketidakbahagiaan ini sebagai fenomena yang natural ini yang membuat mereka depresi. Karena tidak mengenali ketidakbahagiaan sebagai fenomena yang natural, orang cenderung untuk mencari-cari sebab mengapa ia tidak bahagia. Kemudian ia mencari-cari cara bagaimana agar ia bahagia. Dan setelah menjalankan berbagai macam cara, ia tetap tidak bahagia. Akhirnya depresi.

Justru dengan mengakui bahwa kondisi awal kita adalah tidak bahagia, bahwa unhappiness adalah titik awal kondisi mental seseorang, kita bisa bebas dari upaya menyangkalnya. Bebas dari denial. Dengan bebas dari upaya menyangkalnya, kita tidak lagi mencari-cari sebab mengapa kita tidak bahagia. Dan kita tidak lagi bergantung pada escapism atau achievement untuk menjadi bahagia. Tidak bergantung pada sumber yang salah untuk menjadi bahagia. Akhirnya kita tidak lagi depresi ketika setelah melakukan aktivitas-aktivitas rekreasi dan hiburan ternyata tidak menghasilkan kebahagiaan.

Menerima bahwa unhappiness itu alami justru mulai membebaskan kita dari siklus ketidakbahagiaan ini. Kok bisa? Cobalah. Akui bahwa aku ini tidak bahagia. Dengan menerima fakta ini, cara berpikir Anda akan berubah. Inilah rahasia kecil ketidakbahagiaan yang akhirnya berhasil kita buka. The secret of unhappiness.

Bahkan rahasia ini, the secret of unhappiness bukan tidak mungkin akan membuka mata Anda terhadap happiness yang sesungguhnya. Bukan yang palsu, yang disediakan escapism atau achievement. Akan coba saya tulis di lain kesempatan.

The secret of unhappiness could be the gate to real happiness.

Tulisan ini terpaksa saya singkat karena dipost dalam blog. Tentu masih menyisakan banyak pertanyaan karena saya merasa juga masih banyak pembahasan poin-poin tertentu yang tidak lengkap saya tulis di sini. Namun ruang diskusi terbuka di bagian komentar. Silakan corat-coret pikiran Anda di bagian komentar, bila sempat pasti akan saya usahakan untuk menjawab.🙂

30 thoughts on “The Secret of Unhappiness

  1. Kalo usaha manusia untuk menemukan dirinya dan mendekati Tuhan sebagai jawaban atas ketidakbahagiaan itu gimana, Bang Ben? Kan ada orang yang merasa dunia ini emang dari sononya gak akan memberikan kebahagiaan yang sejati. Trus dia melakukan ritual keagamaan biar bahagia. Agama sebagai escapism.

    (Entah saya yang kurang iman atau gimana, tapi kadang untuk ritual keagamaan ini saya merasa agak terpaksa juga melakukannya. Belom ikhlas. Jadinya gak tenang dan gak membawa kebahagiaan juga.)

    Trus juga, kalau cinta itu gimana?

    Kan kalo lagi jatuh cinta kayaknya kita bahagia banget gitu. Berbunga-bunga terus. Walopun memang waktunya gak panjang, palingan yaaa … tiga sampai enam bulan lah dalam kondisi kayak gitu. Apa itu juga bisa dibilang escapism? Jatuh cinta untuk membuat kita bahagia?

    Maap kalo saya banyak tanya, Bang Ben. Tapi topik ini bener-bener menarik buat saya. ^^

    • Halo Octa, manusia memang menggunakan berbagai cara untuk keluar dari ketidakbahagiaan ini. Mendekatkan diri dengan Tuhan adalah salah satu cara. Agama digunakan manusia sebagai jawaban atas hal-hal yang tidak ia mengerti, termasuk kondisi ketidakbahagiaannya itu.

      Untuk hal ini bisa kita sebut agama adalah media escapism JIKA ia tetap menggunakan agama sebagai pelarian. Jika ia tetap kembali kepada kondisi yang tidak bahagia setelah selesai dari ritual keagamaannya.

      Kalau masih terpaksa melakukan ritual agama, mungkin perlu direnungkan lagi apa tujuan kita melakukan ritual dan apakah ritual ini membantu kita. Hal ini bersifat personal dan setiap agama punya cara yang berbeda-beda, jadi jawabannya mesti dimulai dari kita mempertanyakan motif, cara, dan hasil dari pelaksanaan ritual agama kita.

      Jatuh cinta bahagia kalau cintanya diterima. Kalau cintanya ditolak, bahagia ngga?😀

      Bukan jatuh cintanya yang bikin bahagia, tapi mengetahui cinta kita berbalas yang bikin bahagia. Semacam “achievement” kalau menurut saya ya.🙂

    • Saat kita menolong atau memberikan bantuan kepada orang lain, ada sebuah rasa senang, sering orang juga menyebutnya bahagia.

      Kalau menolongnya tulus dan tanpa pamrih, maka ini bukan termasuk upaya mencari kebahagiaan lewat achievement.
      Kalau menolongnya bukan upaya kita untuk lari dari kenyataan (bahwa kita sebenarnya tidak peduli dan menolong hanya wujud pencitraan), maka ini bukan termasuk upaya mencari kebahagiaan lewat escapism.

      Menolong orang lain, terutama yang benar-benar tulus, tak peduli reaksi dari orang yang ditolong, memang bisa membuat kita bahagia.
      Menolong orang lain bukan untuk tujuan mencari kebahagiaan, malah bisa berakhir pada kondisi kita bahagia.
      Menolong orang lain agar diri kita bahagia, malah berakhir dengan kita tidak bahagia.
      Mengapa? Nah ini hal yang menarik. Silakan dites lewat praktek masing-masing.🙂

  2. Jika kita menyadari real kehidupan bahwa unhappiness, situasi tidak menyenangkan yang bisa kita manage dengan achievement yang membahagiakan, akan merubahnya menjadi real happiness, sehingga continuity of happiness life bisa tersentuh sepanjang hidup kita.

  3. Dear Benny,

    Long time no see since our marriage ceremony.

    Dalam banyak kesempatan, saya banyak mendengar bahwa sumber ‘ketidakbahagian’ bersumber dr ‘keinginan’ dan terkadang itu menyamar seolah-olah menjadi ‘kebutuhan’, dan saya pribadi merasakan hal tersebut juga. Mereka di sekitar kita terlihat lebih kaya, lebih mapan karirnya, lebih maju bisnisnya, lebih banyak waktu luangnya, lebih terkenal dan dihargai pendapatnya, dsb. Kebutuhan karena itu, berpeluang menjadi sumber ketidakbahagian, seperti yang sudah Benny jelaskan dalam siklus. Mereka yang ambisius akan menyebut itu excuse untuk tidak mau maju, tidak mau berkembang, pemalas dsb.

    Saya seringkali berpikir, juga berdasarkan apa yang saya lihat, mereka yang lebih sedikit ‘menginginkan’ cenderung terlihat lebih bahagia di mata saya.

    Ada pro dan kontra dalam setiap hal, tapi topik ini membuka mata saya akan makna kebahagiaan.

    Good writing!

    • Halo Franky my bro…🙂
      Pake angka 99 pula supaya gue ingat ya haha…

      Nah kalau bicara source of unhappiness, itu sebenarnya mau saya plot di artikel berikutnya, kalau artikel ini banyak peminatnya. So sabar, kita akan menuju ke sana nanti🙂

      Simplenya: awalnya tidak bahagia -> agar bahagia keluar keinginan -> terlalu banyak keinginan, susah didapatkan semua -> makin tidak bahagia.

      • atau skenario ke dua:

        awalnya tidak bahagia -> agar bahagia keluar keinginan -> keinginan berhasil didapatkan semua -> muncul keinginan-keinginan baru -> makin kerja keras untuk memenuhi keinginan-keinginan tersebut -> tetap ada yang tidak dipenuhi -> makin tidak bahagia.

  4. Halo mas Benhan.. Thx udah ngulas ttg #Unhappines ini. Saya lagi ngalamin nih. Jadi, mikir mau melakukan A, tapi dari awal udah mikir pasti lama-lama juga bosen, trus ga jadi deh melakukan A. Jadi inget kutipannnya Ludwig Mies van der Rohe “Less Is More”. Ditunggu ulasan berikutnya mas😀

    • Less is more itu benar. Menjadi bahagia dengan memahami fenomena ketidakbahagiaan ini. Unik tapi begitulah sesungguhnya.🙂

      Tapi hati-hati, perlu penyesuaian diri agar kita tidak menjadi orang yang pasif dan sulit dijangkau komunitas sosial. Balance itu perlu.

  5. Hallo Mas Benhan…
    Tulisan yang sangat menarik.

    Manusia memang tak pernah akan puas sehingga terus dan terus mencari kebahagian yang bila telah didapat satu akan mencari yang lain tanpa henti, tapi untuk mengerem itukah menurutku makanya diciptakan rasa syukur. tapi untuk bersyukur ini pada kenyataannya hanya segelintir orang mungkin yang benar-benar bisa.

    Ditunggu tulisan menarik lainnya

    • Bersyukur bisa mengerem keinginan yang seperti tanpa henti ini.
      Dengan bersyukur kita berhenti sejenak dari arus gelombang keinginan yang tak henti-henti. Mungkin saat bersyukur kita bisa coba menyadari juga, mengapa kita tidak bahagia dengan “kekinian” kita.

  6. hai mas….gatau knp kalo ada yg bahas ttg bahagia yang terlintas di kepala saya adalah ajaran budha bahwa hidup itu adalah penderitaan.padahal saya bukan penganut ajaran budha.hehehe.mungkin sudah saatnya mencari ke “dalam” tidak lagi sibuk mencari2 di “luar”.saya juga sangat setuju bahwa sikap menerima adalah langkah awal dari bahagia.dengan menerima biasanya akan lebih mudah bersyukur.bukan seperti yg biasanya terjadi, baru bisa bersyukur setelah melakukan perbandingan dengan orang yg lebih “susah”🙂 makasih ya buat tulisannya yg keren

    • bukan penganut ajaran Buddha tapi bisa tau kalo ajarannya adalah hidup itu penderitaan hehe… lumayan.

      Buddhisme memang ajaran yang langsung menunjuk pada fakta ini: life is suffering. Tapi tentunya butuh pemahaman-pemahaman akan ajaran Buddha yang berikutnya agar kita tidak menjadi orang yang fatalistik.

      Analogimu yang kedua sudah tepat dan bijak. Bersyukur dengan membandingkan diri dengan orang susah sebenarnya bukan bersyukur, tapi senang di atas penderitaan orang lain. :p

    • Untuk menguji apakah sebuah kegiatan adalah escapism, bisa dengan beberapa referensi sbb:

      1. Apakah kegiatan itu memberikan rasa nyaman (atau tenang) HANYA pada saat kegiatan itu dilakukan, dan kita tidak merasakan kenyamanan yang sama pada kegiatan sebelum dan sesudahnya?
      2. Apakah kita menjadi ketagihan dengan kegiatan tersebut, demi rasa nyaman (tenang) yang dihasilkan darinya?
      3. Apakah kita tidak mampu menjadi nyaman atau tenang tanpa melakukan kegiatan tersebut?

      Bila jawabannya adalah YA untuk tiga pertanyaan di atas, maka jelas kegiatan tersebut adalah escapism. Saat di mana kita lari dari kenyataan yang tidak menyenangkan sementara dan berlindung pada kegiatan tersebut.

  7. Inti dari kebahagiaan adalah kesederhanaan & bersyukur ya ga bro ? lihat ke atas untuk urusan ilmu & knowledge dan lihat ke bawah untuk urusan materi.

    Kebahagiaan tergantung mindset & jendela hati setiap orang yang berpikir bahwa kebahagiaan itu simpel.
    Banyak orang di tinggal di bawah kemiskinan tapi mereka masih bisa tertawa sembari menghisap rokok dan tukar pikiran sambil main catur hehe…

    Kebahagiaan adalah ketika saya mampu melakukan yang terbaik untuk orang di sekeliling saya dan membuat mereka tertawa ataupun bahagia …

    nice & inspirational article gooners🙂
    muchas gracias..

  8. Kasian ya, orang yang mencari kebahagiaan adalah orang yang tidak bahagia. Sebab jika kebahagiaan itu sudah ada, buat apa dicari-cari. Ya dicari lewat pelarian, ya dicari lewat pencapaian. Padahal setelah berlari dan mencapai, Ia masih terus mencari pelarian dan pencapaian baru.

    Lalu, apakah ada kebahagiaan yang hakiki? Yang tanpa kembali pada unhappiness, kemudian mulai mencari pelarian dan pencapaian lagi.

    Saya jadi ingat tulisan Soe Hok Gie, yang dibukukan menjadi Catatan Seorang Demonstran:

    “Seorang filsuf Yunani pernah berkata; nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang ke dua dilahirkan tapi mati muda, yang tersial adalah berumur tua.”

    Apakah karena ketika manusia terlahir otomatis dia menanggung ketidakbahagiaan? Jika iya, benar kata Buddha, “Hidup adalah penderitaan.”

  9. Buat gua bahagia itu berarti bersyukur dgn keadaan gua yg sekarang, menerima diri gua dan org lain yg gua cintai apa adanya, dan berusaha berbuat sebaik yg bisa gua lakukan utk membantu orang lain. Gua merasa kaya karena gua bisa bantu ortu gua hidup dgn nyaman, menyisihkan sebagian penghasilan gua utk bantu saudara dan org lain yg butuh bantuan, dan menyisihkan waktu gua utk mengerjakan sesuatu yg gua suka: ketemuan orang, belajar hal2 baru dan menarik, baca buku, main dgn anak2, dan kalau ada waktu dan sisa uang, jalan2 melihat keindahan Indonesia.
    Bahagia itu buat gua sederhana, kalau gua bisa tidur dengan lega karena hari itu gw sudah berbuat sesuatu yg baik buat org lain. Spt kata Mogran Freeman di Bruce Almighty: Do an “Act of Random Kindness” (ARK). Kelihatannya sih gampang, tapi butuh hampir 30 tahun buat gua utk menyadari bahwa kebahagiaan tdk bisa gua capai dgn uang,kekuasaan atau jabatan, tapi dgn sesuatu yg lebih sederhana tapi berat: menerima diri gua dan kehidupan gua apa adanya, dan bersyukur atas hal tersebut. That is my escape from being unhappy. Seperti seorang motivator kelas dunia, you can choose to be happy, and you can choose to be happy. But it is always wiser to choose to be happy

  10. Oh, satu lagi ‘jalan keluar’ menuju kebahagiaan yg baru minggu kemarin gua temukan: back to simple life. Gua baru menghabiskan weekend di hutan Kalimantan, di camp WWF selama beberapa hari. Entah mengapa gua merasa: “Now I’m truly home,” padahal gak ada TV, gak ada listrik, gak ada sinyal, cuma kegiatan sehari-hari, berenang di danau, bengong sambil ngobrol dan ngopi2, malam ikutan ronda keliling kampung, bangun pas matahari baru terbit, mancing buat nyari makanan hari itu. Such a simple life that actually made me feel relaxed and happy. Maybe a life in a village, being self sufficient can bring me happiness. Tapi itu percobaan buat nanti, kalau anak2 sdh pada mentas semua

  11. holaa.. saya komeng disini aja ya, ko…

    mau komen tapi kayanya banyak yang koBen uda lebih tau banyak, karena otakku sedikit banyak jg uda “dirusak” sama konsep2 ketidakakuan, ketidakkekalan dan penderitaan xixixi dan kebeneran baru banget siang tadi baca buku “bukan siapa-siapa” nya Ajahn Brahm walau baru sekitar seperempat buku yg berhasil dibaca. Yang selalu teringat-ingat yaitu mungkin koBen juga pernah denger/baca mengenai konsep Bumi. Segala macam sampah, kotoran dibuang ke bumi, tapi bumi tidak pernah mengeluh, marah. Dibuat taman yang cantik, dibersihkan pun, bumi tidak merasa senang dan bahkan tidak peduli.

    Kalau soal escapism, mungkin mirip sama pemikiranku soal liburan. saya seneng kalo pergi ke tempat2 baru, tapi kurang setuju kalau pergi berlibur ke suatu tempat sebagai pelarian karena stress dari rutinitas. karena perasaan harus kembali ke rutinitas di hari terakhir liburan itu jauh lebih berat dibanding di hari-hari biasa. Jadi kalau memang lg jenuh ya lebih baik melakukan rutinitas itu dengan cara berpikir yg berbeda dari biasa. saving cost juga😀
    bahkan di sela2 liburan itu, ada perasaan terus was2 ga pengen liburan cepet2 berakhir. ini jadi penderitaan juga >,<

    sepertinya hubungannya dengan "jodoh" yang kita obrolin di group itu dengan menjalani kehidupan dengan ketidakbahagiaan ya ?
    tapi bukan berarti untuk belajar/melatih "mengakui kita tidak bahagia", lalu kita sengaja mencari pasangan hidup yang banyak perbedaannya kan ? kidding :p

  12. Kalau dilihat dari psikologis pun individu yang sehat adalah mereka yang bisa menertawakan masa sakitnya. Jadi individu yang bahagia adalah individu yang mengakui dan menertawakan ketidakbahagiannya sendiri (bukan ketidakbahagiaan orang lain lho..hahaha)

  13. Pingback: Jalan Arsenal, Blog Baru dari Gooner untuk Gooners Indonesia | mind over matter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s