Hasil Seri yang Bikin Wenger Berseri-seri


Manchester City 1 (Lescott 40) – 1 Arsenal (Koscielny 82)

Bundle, Koscielny!

Tidak biasanya Wenger berseri-seri atas sebuah hasil seri. Namun hasil seri ini bukan hasil biasa. Etihad Stadium adalah bentengnya Manchester City. Dalam 19 pertandingan terakhir, rekor mereka menang 18 kali dan seri 1 kali. Arsenal menjadi tim pertama musim ini yang berhasil meraih hasil seri di kandang sang juara musim lalu.

Selain itu hasil seri ini juga bukan hasil seri umumnya, di mana tim tamu bertahan total menghadapi gempuran sang juara. Sebaliknya, Arsenal mendominasi pertandingan dengan 59% possession dan dengan 200 operan lebih banyak daripada City. Andai saja Gervinho berhasil memanfaatkan kesempatan di babak pertama hasil umpan terobosan cantik dari Ramsey, maka Arsenal bisa unggul lebih dahulu. Dua gol dari tendangan sudut di setiap babak mengakhiri pertandingan yang menarik ini. Kedua klub saling menyerang dengan terbuka, dan saling menggagalkan serangan lawan. Arsenal lebih banyak peluang di babak pertama dan sebaliknya City memiliki beberapa peluang bersih untuk memperbesar keunggulan di babak kedua. Penyelesaian yang kurang baik dari striker kedua tim memaksa Center Back turun tangan untuk mencetak gol. Pertandingan ini menghibur penonton sebagaimana selayaknya sebuah pertandingan Super Sunday. Kualitas calon juara dipertontonkan kedua tim ini, berbeda 180′ dengan pertandingan sebelumnya antara Liverpool dan United yang penuh dengan kesalahan elementer, termasuk kesalahan fatal dari wasit yang bertugas (yang menguntungkan United tentunya).

Wenger Knows!

Wenger mengejutkan fans Arsenal dan mungkin juga Mancini dengan memainkan Ramsey di sayap kanan Arsenal, posisi yang mungkin baru pertama kali dihuninya setelah beberapa musim bersama Arsenal. Wenger pernah mencoba Ramsey di sayap kiri Arsenal musim lalu namun hasilnya tidak terlalu baik. Prediksi pundit dan fans sayap kanan Arsenal akan diisi Gervinho bila Giroud dimainkan, atau Chamberlain bila Gervinho yang menjadi striker utama. Pemilihan Ramsey atas Chamberlain ini di luar dugaan, namun hasilnya ternyata sangat baik. Ramsey mendominasi pertandingan ini dengan umpan-umpannya yang akurat dan mobilitas tinggi berkat staminanya yang seakan tak kenal lelah. Data dari whoscored.com menunjukkan Ramsey melakukan operan terbanyak kedua (82) di pertandingan ini setelah Arteta (106), jauh di atas pengoper terbanyak City, Yaya Toure dengan 63 operan. Kembali hal ini menunjukkan ungkapan Wenger Knows Best bukannya tidak berdasar. Manager tentu lebih tahu daripada fans tentang pemainnya sendiri. Hal ini juga menunjukkan Wenger memperhatikan detail taktik (yang sering disebut sebagai kelemahannya di media), di mana sisi kiri City yang dirasakan lebih lemah dieksploitasi dengan memainkan Ramsey di sana dan Gervinho menusuk ke tengah dari sayap kanan, masuk lewat blind spot antara Clichy dan Lescott. Podolski dan Gibbs yang sangat efektif di beberapa pertandingan sebelumnya kurang bersinar di pertandingan ini. Zabaleta dan Kompany berhasil menjaga sisi kanan City dengan sangat baik, dibantu oleh Yaya Toure dan beberapa crossing dari Gibbs terburu-buru, tidak menemukan target di kotak penalti City.

Sisi kanan menjadi kekuatan Arsenal di pertandingan kali ini. Bila di semua pertandingan EPL sebelumnya posisi Jenkinson lebih bertahan, di match ini average position-nya sejajar dengan Gibbs (lihat grafik di bawah ini). Dengan Ramsey lebih bermain ke tengah, Jenkinson jadi sering overlapping. Satu peluang diciptakan Jenkinson setelah menang duel perebutan bola di garis lapangan belakang City dengan Lescott, sayangnya tendangan Podolski masih melayang jauh di atas mistar gawang.

Average Position Pemain (Arsenal di Kanan). Jenkinson (25) sejajar dengan Gibbs (28)

Review Statistik

Membaca statistik setelah pertandingan yang disajikan dengan apik di whoscored.com akan membantu kita untuk lebih memahami kekuatan dan kelemahan Arsenal dalam pertandingan ini. Statistik bisa berbohong, jika disajikan dengan agenda tertentu. Tapi data mentah statistik yang dihubungkan dengan ingatan kita akan pertandingan tersebut bisa memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai satu pertandingan.

Dari Grafik di bawah ini terlihat serangan Arsenal lebih seimbang antara sayap kiri dan kanan dan City lebih banyak menyerang dari sisi kiri. Mungkin karena City mengira Jenkinson adalah titik lemah Arsenal. Di luar dugaan Mancini, Jenkinson bertahan dari Sinclair dengan baik bahkan bisa beberapa kali melakukan serangan balik yang cepat dari sayap. Sinclair akhirnya ditarik di awal babak kedua diganti Rodwell, untuk mengimbangi serangan Arsenal yang ganas dari sisi kanan. Dengan “sukses”-nya sisi kanan Arsenal, Wenger mungkin akan mempertimbangkan penggunaan Ramsey di sayap kanan Arsenal di pertandingan melawan Chelsea. Terutama jika Gervinho tetap diplot sebagai striker utama. Keseimbangan antara sisi kiri dan kanan ini penting agar lawan tidak mudah mematikan serangan-serangan Arsenal. Gibbs dan Jenkinson berperan besar untuk menjadi attacking threat Arsenal dari sayap dan membuka permainan agar lebih melebar.

Offence: City vs Arsenal

Arsenal Outplayed the Champion

Arsenal menguasai pertandingan di kandang sang juara dengan possession dan jumlah operan yang 200 lebih banyak. Grafik di bawah ini menjelaskan betapa dominannya Arsenal. Walaupun demikian kesempatan bersih mencetak gol City lebih banyak (15 City, 11 Arsenal) terutama di babak kedua ketika Arsenal dipaksa bertahan sekitar 20-25 menit awal babak kedua.

Passing Stats

Hal ini tidak lepas dari performa Diaby dan Podolski yang menurun dibanding pertandingan sebelumnya. Setelah Rodwell menggantikan Sinclair, City bisa menguasai lebih banyak bola di lapangan tengah. Namun statistik menunjukkan Ramsey dan Arteta adalah pemegang kendali lapangan tengah di pertandingan ini. Dua-duanya melakukan jumlah operan yang jauh lebih banyak dari pemain tengah City dengan jumlah operan tertinggi, Yaya Toure dengan 63 operan.

Statistik Passing Pemain Arsenal

Bisa dilihat pada grafik di atas jumlah operan Jenkinson dan Gibbs yang hampir sama, dan hanya di bawah 3 pemain tengah. Satu bukti Arsenal mengoptimalkan serangan dari sayap dengan baik dan Arsenal bermain cukup melebar. Sementara itu grafik operan City menunjukkan pemain tengah dan sayap City kalah dalam penguasaan lapangan.

Statistik Passing Pemain City

Professor Per

Per Mertesacker mengubah opini banyak fans Arsenal sejak awal musim ini. Penampilannya yang cemerlang di setiap pertandingan Arsenal musim ini memastikan ia selalu di starting eleven Arsenal. Koscielny dan Vermaelen harus rela bergantian untuk berpasangan dengannya. Per walaupun tidak memiliki kecepatan seperti dua rekannya, dapat menganulir serangan lawan dengan baik lewat kecepatan pikirannya membaca arah pertandingan. Jumlah interception sebanyak 7 kali adalah bukti kemampuan pembacaan permainannya yang apik. Lebih hebat lagi semua interception yang dilakukan Per terjadi di luar kotak penalti Arsenal, artinya ia selalu memotong operan terakhir yang berbahaya dari City.

Statistik Pertahanan Arsenal

Bila Per adalah master of game reading dan interception maka Koscielny melengkapinya sebagai master of recovery dan man marking. Aguero dibuat tidak berkutik olehnya. Dengan 6 tackle dan 12 clearance, Koscielny membuktikan keunggulannya dalam pertarungan satu lawan satu. Kecolongan gol di babak pertama akibat kalah duel di udara dengan Lescott, Koscielny membayarnya dengan volley sempurna dari bola hasil heading Lescott yang tanggung. Kecuali blunder di menit-menit akhir yang hampir membuahkan gol untuk Aguero, penampilan Koscielny sempurna malam ini.

Wenger mengatakan ia akan merotasikan 3 bek tengah ini tergantung lawan yang dihadapi. Namun untuk lawan yang kuat dalam penyerangan, sepertinya Per akan selalu dipasang. Kemampuan membaca pertandingannya amat diperlukan agar lini belakang Arsenal tetap kalem dan tidak panik. Melawan tim-tim yang relatif lebih sering bertahan, Vermaelen dan Koscielny dapat dipasangkan. Terutama kemampuan menyerang Vermaelen akan berguna sebagai alternatif pembuka pertahanan ketat lawan.

update by request:

Zonal Marking vs Man Marking

Pundit ESPN mengkritik zonal marking yang dilakukan Arsenal saat bertahan dari tendangan sudut City. Lescott yang berlari sebelum menyundul bola ke gawang tidak dapat dibendung Podolski dan Koscielny yang menjaga area mereka. Arsenal menerapkan zonal marking saat set piece dengan menjaga area, bukan orang. Dalam sejarah sepakbola zonal marking lebih modern daripada man marking karena daripada menjaga penyerang yang secara posisional selalu lebih diuntungkan daripada yang bertahan, pemain menjaga area di mana bola berada. Saat set piece tendangan sudut, Arsenal menempatkan 8 pemain di area D kotak penalti dan masing-masing pemain bertanggung jawab untuk “menyerang” bola yang masuk area tersebut. Pundit ESPN tersebut mengeluhkan kurangnya tanggung jawab yang jelas dalam zonal marking, padahal tanggung jawab itu sudah sangat jelas.

Mau zonal marking atau man marking, yang penting adalah aplikasinya. Buktinya Manchester City juga kebobolan dari tendangan sudut padahal mereka menerapkan man marking. Bola liar dan gerakan lawan yang bisa berubah dalam sekejap susah diantisipasi man marking. Bola muntahan hasil sundulan Lescott yang tanggung disamber Koscielny yang kosong dari penjagaan. Mengapa pundit ESPN yang sama tidak mengkritisi sistem man marking?

Obsesi pundit Inggris akan sistem man marking ada sejarahnya. Secara historis, sepakbola Inggris adalah soal heroisme. Mereka menyukai pemain seperti John Terry, yang bravado-nya terlihat hebat, keren. John Terry yang tidak sungkan-sungkan mengadu kepalanya dengan kaki lawan. Mereka tidak menyukai pemain tipe Per Mertesacker, yang terkesan lamban dan jarang melakukan tackling. Padahal Per tidak perlu melakukan tackling karena sudah membaca arah bola satu dua langkah di depan CB umumnya. Bila ia dapat memotong bola sebelum sampai pemain lawan, untuk apa melakukan tackling?

Sistem zonal marking yang diterapkan Arsenal berhasil mencegah Stoke City mencetak gol dari set piece padahal tim ini musim lalu adalah tim yang persentase golnya paling banyak dari set piece. Steve Bould pasti akan meningkatkan efektifitas aplikasinya di pertandingan-pertandingan mendatang. Tidak ada alasan untuk meninggalkan sistem zonal marking, apalagi hanya karena komentar pundit sepakbola yang terobsesi man marking, sehingga ia dengan cerobohnya mengabaikan kenyataan City kebobolan karena man marking.

Optimisme

Dengan hasil seri ini, Arsenal bisa optimis menyambut pertandingan EPL berikutnya melawan Chelsea di kandang. Fans Arsenal juga mulai menaruh kepercayaan dengan skuad baru Arsenal ini. Arteta semakin menikmati posisi barunya sebagai pivot, pemain tengah yang menjadi poros mesin Arsenal. Per dan back four makin solid. Cazorla dan Podolski makin menikmati kecepatan sepakbola Liga Inggris. Yang masih menjadi PR adalah lini depan terutama Giroud yang masih butuh waktu untuk nyetel dengan rekan-rekannya. Dan Don Vito, mudah-mudahan ia bisa menjaga gawang Arsenal dengan baik sampai Szczęsny kembali fit. Ia perlu lebih percaya diri dalam menangkap bola dari udara dan memantulkan bola ke area aman ketika menghentikan tembakan lawan.

Dengan kondisi yang belum optimal 100% ini saja, Arsenal telah memiliki poin yang sama dengan sang Juara musim lalu dan sama-sama belum terkalahkan. Menang lawan Chelsea minggu depan, maka Arsenal hanya berjarak satu poin dari Chelsea. Seperti kata Wenger, tim ini punya potensi untuk berkembang lagi dan dasar-dasarnya sudah bagus. Kalau kita melihat foto perayaan gol di atas, rasanya kita bisa optimis dengan semangat baru dan harmonisnya skuad baru Arsenal ini.

Victoria Concordia Crescit

8 thoughts on “Hasil Seri yang Bikin Wenger Berseri-seri

  1. PR Arsenal tiap musim yaitu konsistensi.Semoga musim ini lebih baik dari musim sebelumnya, konsisten dan fokus hingga akhir musim.Memang indah melihat skuad musim sekarang.Terlihat lebih kompak dan sehati.Kaptennya Vermalen sih..jempol 4 deh!

  2. gw setuju soal man marking vs zonal marking itu
    pers inggris jelas terlalu overated menilai bek2 “tradisional” inggris macam Terry dan Carra yang cenderung main fisik daripada bek2 modern seperti per atau kalau yg “versi lebih hebat” nya ya cannavaro / nesta. membaca permainan dan memotong operan lawan dgn timing yg pas.
    bener zonal marking jauh lebih lebih lebih susah daripada man marking. butuh intelegensi tinggi di masing2 pemainya dan latihan yg lebih intens daripada man marking. tapi kalau jadi ya lebih ok. kelemahanya emang kadang susah menghadapi gerakan tak terduga atau aksi individual, tapi semua strategi bakal ada kelemahanya bukan
    ga ada yg sempurna

    -bukan fans arsenal hanya penikmat bola🙂

    • Ketidakmampuan bek2 tradisional Inggris membaca permainan bikin aksinya jadi “terlambat”. Jadi kontak fisik itu terpaksa terjadi karena mereka lamban bukan karena hebat.
      Setuju kalau bek2 modern dari Italia lebih tau seni bertahan. Melakukan interception daripada tackling.

      Setuju juga pendapatmu soal zonal marking. Kalau dipraktekkan dengan baik bisa lebih hebat daripada man marking yang sudah lebih sederhana

      Zonal marking itu soal: the whole is greater than the sum of its parts.

    • Wawancara dari Alonso ini menegaskan kembali bedanya “budaya” sepakbola Inggris dan Eropa daratan: http://www.guardian.co.uk/football/2011/nov/11/xabi-alonso-spain-england-interview

      “At Liverpool I used to read the matchday programme and you’d read an interview with a lad from the youth team. They’d ask: age, heroes, strong points, etc. He’d reply: ‘Shooting and tackling’. I can’t get into my head that football development would educate tackling as a quality, something to learn, to teach, a characteristic of your play. How can that be a way of seeing the game? I just don’t understand football in those terms. Tackling is a [last] resort, and you will need it, but it isn’t a quality to aspire to, a definition. It’s hard to change because it’s so rooted in the English football culture, but I don’t understand it.”

      Alonso bingung dengan English football yang mementingkan tackling. Hehe🙂

      • yup artikel tahun lalu ya pernah baca bro
        sebagai orang yg banyak berhubungan dengan komunitas orang2 inggris di tempat kerja dan lingkungan gw serta sering beberapa kali nonton bareng sepakbola dgn mereka ,membuat gw jadi sedikit banyak tau gimana mereka menilai bagus tidaknya seorang pemain bola. Pemain yang terlihat bisa menendang bola dengan keras dan berduel jatuh bangun seperti Gerrard jelas lebih mereka hargai daripada seorang Corzola yg bagi mereka lebih terlihat seperti penari, dan berdebat tentang hal ini dengan orang inggris jelas membuang-buang waktu saja haha

  3. melihat replay-nya jelas terlihat pemain Arsenal berbaris di kotak D penalti, suatu hal yg terlihat “aneh”. Saya jadi ingat musim2 lalu Arsenal banyak kalah saat duel sepak pojok, jadi menurut saya jika presentasi gol ke gawang Arsenal berkurang dengan sistem ini kenapa hai ini jadi aneh atau dipermasalahkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s