Chelsea 2 – 1 Arsenal. Arsenal dengan Dua Muka


Lagi-lagi  terulang. Arsenal melempem di babak pertama dan trengginas di babak kedua. Dan seperti saat pertandingan melawan City pekan lalu, Arsenal kembali gagal seri apalagi menang. Kebobolan dua gol “mudah” di babak pertama gagal dibayar di babak kedua. Walaupun gol indah dari Walcott dan bombardir serangan Arsenal di babak kedua sempat membuat Chelsea terus bertahan, gol lanjutannya tak kunjung datang. Ada sesuatu yang salah dengan penampilan Arsenal di babak pertama. Sedikit analisa singkatnya dari fan layar kaca:

1. Kurang pressing di babak pertama

Di babak pertama terlihat Wilshere seringkali mengajak rekan-rekannya untuk melakukan pressing terhadap pemain Chelsea. Terutama kepada Diaby yang sering statis dan juga kepada Coquelin. Namun pressing itu tetap tidak dilakukan. Cazorla dan Walcott (pemain dengan naluri menyerang) juga tidak membantu sama sekali. Hasilnya pemain tengah Chelsea diberikan ruang yang demikian leluasa di lini tengah. Ditambah lagi tiga pemain tengah Chelsea adalah pemain kreatif bertalenta tinggi, lini tengah praktis dikuasai Chelsea di babak pertama.

2. Benitez menyerang titik lemah Arsenal

Berbeda dengan Wenger yang dalam menyiapkan pemainnya tidak begitu detail secara taktik (insight dari biografinya), Benitez terkenal sebagai Tinkerman. Ia selalu menyesuaikan formasi dan starting line up timnya dengan lawannya dan menyerang titik lemah lawan. Wenger lebih senang pemainnya bermain dengan gaya permainannya sendiri dan menang karena dominan atas lawannya. Karena itu ia cenderung memilih pemain dengan tingkat intelejensia lumayan dan menurutnya pemain harusnya cukup cerdik untuk bisa menyesuaikan diri dengan dinamika di lapangan.

Benitez pasti telah menyiapkan timnya untuk menyerang sisi kanan Arsenal. Jarak yang cukup jauh antara Sagna dan Walcott menjadi titik lemah Arsenal. Walcott jarang melakukan track back, karena menganggap dirinya sebagai striker (ini salah satu alasan kenapa ia menolak dianggap sebagai winger). Permasalahannya di formasi 4-2-3-1 Sagna tidak akan mendapatkan perlindungan. Ditambah Diaby yang mestinya menutup sisi kanan tersebut statis dalam pergerakan tanpa bolanya. Dua gol Chelsea berawal dari serangan di sisi kanan Arsenal.

Formasi Arsenal dieksploitasi oleh Benitez dengan sangat baik. Di atas kertas, Arsenal mestinya bermain dengan formasi 4-2-3-1 namun kenyataan di lapangan menjadi 4-2-2-2. Walcott bermain dengan mental sebagai striker bukan winger. Cazorla bermain mestinya sebagai pemain tengah kiri tapi ia lebih memilih condong ke tengah. Akibatnya LB dan RB Arsenal selalu di bawah tekanan. Setelah sukses mencetak gol lewat kanan Arsenal, giliran kiri Arsenal yang dibombardir di sisa babak pertama. Beruntung Chelsea tidak menambah jumlah golnya.

Chelsea (kiri) - Arsenal (kanan) Average Position. Perhatikan posisi Sagna (no.3 di kanan)

Chelsea (kiri) – Arsenal (kanan) Average Position. Perhatikan posisi Sagna (no.3 di kanan)

Benitez menempatkan pemain menyerangnya di sisi kiri Chelsea, di depan dan melebar. Dan karena Walcott posisinya sering maju ke depan, untuk merapatkan jarak otomatis Sagna juga bermain lebih maju, jauh di depan offside line pemain bertahan Arsenal. Posisi Sagna ini dimanfaatkan oleh Mata di babak pertama dan Oscar-Ramires di babak kedua. Bola diagonal ke sisi kanan Arsenal, Sagna yang terlambat mundur, adalah awal cerita sama kedua gol Chelsea. Skor untuk Benitez 2 – Wenger 0 untuk soal taktik di babak pertama.

Benitez selalu menyesuaikan formasi dan starting line up timnya dengan lawannya dan menyerang titik lemah lawan. Wenger lebih senang pemainnya bermain dengan gaya permainannya sendiri dan menang karena dominan atas lawannya.

3. Ramires sang Aggressor

Wenger berkata timnya perlu bermain dengan lebih banyak “aggression” dan sayangnya hal itulah yang tidak ada sama sekali di babak pertama. Ramires sebaliknya adalah manifestasi dari aggression yang diinginkan Wenger. Gol pertama Chelsea berawal dari tackle Ramires terhadap Coquelin (yang mestinya foul) dan bola yang berhasil direbut dengan cepat sampai di kaki Mata yang menyelesaikannya dengan sangat baik. Gol kedua Chelsea berawal dari Diaby yang mengoper bola salah karena berada dalam tekanan Ramires dan bola dengan cepat juga sampai ke Oscar dan kembali ke Ramires di sisi kanan Arsenal (Sagna terlambat). Ramires kemudian melesat dengan cepat ke kotak penalti dan dengan sedikit aksi “diving” ketika menghindari kaki Szczesny, berhasil mendapatkan penalti.

Diaby sebaliknya sangat lamban dalam tracking back pemain lawan dan juga tidak melakukan pressing. Gol pertama Chelsea sedikit banyak juga ada kontribusi darinya. Ramires menusuk ke tengah, Per Mertesacker yang mestinya menutup gerakan Mata teralihkan untuk menjaga Ramires. Bila Diaby segera mundur saat itu untuk tracking Ramires, maka Per bisa menutup Mata. Keterlambatan Sagna bisa ditutupi.

Ramires sebaliknya bertahan dan melakukan pressing dengan sangat baik. Man of the match dari partai ini jelas adalah Ramires sang Aggressor, yang tidak dimiliki Arsenal di babak pertama.

4. Perubahan 180′ di babak kedua

Arsenal adalah tim yang reaktif, untuk saat ini. Di dressing room, apapun yang dikatakan dan dilakukan Wenger, berhasil. Arsenal mengubah formasi dengan Diaby sedikit ke depan meninggalkan Coquelin sebagai poros tengah. Diaby pun melakukan pressing bersama Wilshere dan Coquelin berubah menjadi Ramires-nya Arsenal. Coquelin bermain dengan sangat baik, tackling, interception sehingga bola selalu kembali ke Arsenal. Agresivitasnya muncul di babak kedua. Sayangnya ia mengalami cedera dan harus ditarik keluar digantikan Ramsey.

Walcott mencetak gol indah setelah lolos jebakan offside. Berulang-ulang di babak pertama ia tertangkap offside. Saya twit: salah satu dari run Walcott ini di babak kedua akan menjadi onside dan terbukti! Operan cantik dari Santi yang menerobos pertahanan Chelsea diselesaikan dengan indah oleh Walcott. Sayangnya di sisa babak kedua, Arsenal tidak mampu mengulanginya karena Chelsea bermain lebih bertahan, tidak menyisakan ruang untuk penetrasi Walcott.

Arsenal mendominasi babak kedua, Chelsea memilih bertahan. Fans Arsenal pun akan berandai-andai mengapa Arsenal tidak bermain seperti ini dari babak pertama?

Wenger mencoba menjelaskan bahwa masalah psikologis di babak pertama ini adalah kurang percaya dirinya pemain-pemain Arsenal akan kualitas tim. Arsenal sebenarnya mampu mengimbangi tim-tim papan atas seperti Chelsea dan City, terbukti dari penampilan di babak kedua, ujar Wenger. Ia memang benar dan pernyataan ini adalah indikasi Wenger adalah tipe manager yang mengandalkan kepercayaan diri pemain. Permasalahannya ia mungkin lupa beberapa hal yang bisa menghambat manifestasi kepercayaan diri ini menjadi performa yang mantap di lapangan:

  1. Pemain tengah yang relatif muda dan baru beberapa kali ini dipasangkan bersama. Wilshere yang mesti berteriak kepada rekan-rekannya untuk melakukan pressing adalah bukti kurangnya pengertian di antara mereka. Diaby walau sudah 26 tahun jam terbangnya bak pemain usia 22-23 tahun (karena cedera panjang). Kurangnya rasa percaya diri dan percaya terhadap teman mengakibatkan keraguan dalam melakukan pressing, saling cover, yang amat penting bagi permainan yang tidak menyisakan ruang untuk kesalahan sedikitpun. Dua kesalahan, kebobolan dua gol.
  2. Formasi. Walcott dan Cazorla tidak nyaman bermain di 4-2-3-1 sebagai AM sayap yang mesti turun membantu bek sayap saat bertahan. Bahkan tidak juga untuk Podolski (gol City juga berawal dari kesalahan di sayap kiri Arsenal). Banyaknya kesalahan-kesalahan individu yang terjadi adalah contoh pemain-pemain belum memahami formasi yang diterapkan. Untuk mengakomodasi Walcott (yang memang berguna saat ini karena kecepatan dan ketajaman finishingnya), Wenger mungkin mesti mempertimbangkan kembali ke formasi 4-4-2. Chamberlain di sayap kanan dan Cazorla bisa bermain di sayap kiri dengan cover dari Arteta/Coquelin. Atau 4-4-2 diamond dengan Wilshere di puncak, kiri-kanan oleh Ramsey-Diaby.
  3. Sedikit pengarahan soal taktik sejak babak pertama akan membantu kepercayaan diri pemain muda. Cara Benitez bisa diterapkan. Arahan yang jelas kepada pemain untuk bermain dengan taktik tertentu dan pemberian tugas yang lebih spesifik ke setiap pemain akan membantu menimbulkan kepercayaan diri. Saat ini pemain Arsenal seperti kehilangan orientasi saat bermain. Counter attack atau pressing? Crossing atau cutback? Serangan Arsenal menjadi gampang dibaca (contohnya crossing Sagna). Saat melawan Swansea kepercayaan diri Arsenal memungkinkan operan one-two yang cantik dan berani di kotak penalti lawan. Melawan Chelsea kita tidak melihat itu. Pengarahan taktik yang jelas sebelum pertandingan akan membantu pemain-pemain muda Arsenal ini untuk fokus sejak babak pertama, bukan setelah dimarahi di ruang ganti saat half time.

Akibat pergantian pemain depan dan tengah yang cukup signifikan, musim ini bagi Arsenal adalah musim untuk menemukan jati diri. Musim menemukan Satu Muka. Giroud adalah striker yang berbeda dengan RVP. Kekuatan dan kelemahannya berbeda. Pemain-pemain di sekitarnya mesti menyesuaikan diri dengannya. Wilshere baru kembali, Cazorla baru bermain di Liga Inggris dan Walcott baru saja menemukan identitas barunya sebagai striker yang tajam. Semakin cepat pemain-pemain Arsenal ini saling mengerti satu sama lain, semakin besar kemungkinan untuk tetap finish di empat besar dan meraih trofi, paling mungkin di FA Cup (Champions League rasanya berat). Aktivitas Arsenal di transfer window Januari ini juga akan ikut menentukan resiko yang mesti dibayar untuk penemuan jati diri. Pembelian pemain yang berpengalaman dan penuh percaya diri akan membantu meminimalisir resiko dari proses pencarian jati diri ini. Mungkin itu sebabnya Arsenal sangat tertarik dengan David Villa di transfer window ini.

Advertisements

Untuk Jakarta Baru, Jokowi Mesti “Bakar Kapal”


Setelah muncul banyak opini kontra baik di twitter ataupun di media terhadap persetujuan Jokowi atas proyek 6 Ruas Jalan Tol, Jokowi mengatakan ia akan menggelar public hearing terkait keputusannya meneruskan proyek pembangunan enam ruas tol baru di Jakarta. Ia berjanji akan mengundang semua pakar dan pengamat, terutama yang selama ini protes terhadap kebijakan pembangunan enam ruas tol tersebut. Bahkan perkembangan terbaru menyebutkan public hearing ini akan digelar hari Selasa, 15 Januari 2013.

“Sekali lagi saya sampaikan kalau saya itu pro pada transportasi massal; agar elevated bus bisa masuk, silakan. Jangan dikomentari terlalu jauh dulu-lah. Saya dengar kok dari pakar-pakar, termasuk mereka yang berkicau di twitter. Lah iya saya juga mengerti kok baca-baca terus,” kata Jokowi di Balaikota Jakarta, Jumat (11/1/2013).

Langkah selanjutnya, kata dia, akan membuat public hearing untuk proyek enam ruas tol dalam kota. Jokowi berjanji akan mengundang semua pakar dan pengamat, terutama yang protes terhadap kebijakan tersebut. Sementara itu, Jokowi juga mengaku belum pernah bertemu dengan konsorsium penggerak jalan tol, yaitu PT Jakarta Tollroad Development.

“Belum ketemu. Saya kan baru dengar dari Kementerian Pekerjaan Umum. Nanti diterangkan, lho, saya itu setuju dengan catatan, catatan itu jangan ditutup-tutupi. Sekali lagi catatan jangan ditutup. Kalau perlu kamu block yang gede,” ujarnya sambil tertawa.

Melalui public hearing yang Jokowi janjikan, dengan itu, ia mengharapkan warga dan para pengamat untuk tidak berkomentar negatif terlebih dahulu terkait kebijakan enam ruas tol dalam kota. “Saya maudenger kok semua pendapat dari pakar-pakar, termasuk mereka yang berkicau di Twitter. Lha saya mengerti dan baca kok kritikan dan kecaman yang disampaikan ke saya,” katanya.

“Nanti hari Selasa atau Rabu kita akan adakan public hearing,” ujar Jokowi di Kamal Muara, Jakarta Utara, Sabtu (12/1/2013).

“Kita akan dengarkan langsung pendapat masyarakat seperti apa. Kenapa menolak, itu kan harus jelas. Saya kan baru kemarin dijelaskan sama Menteri PU,” terang Jokowi yang mengenakan kemeja putih ini.

Sumber: Detik.com dan Kompas.com

Perkembangan ini adalah berita bagus untuk warga Jakarta yang pro transportasi publik dan menolak pembangunan Jalan Tol Dalam Kota. Bahwa Jokowi juga masih memperhatikan kritik di twitter menunjukkan beliau adalah figur yang masih mau mendengarkan keluhan masyarakat dan siap untuk mengubah sikapnya jika diperlukan. Sikap ini kita apresiasi karena tidak banyak pemimpin sekarang yang bersedia melakukan hal serupa.

Saya telah menulis pendapat saya panjang-lebar tentang pembangunan 6 ruas jalan tol dalam kota yang diestimasi senilai 42 triliun ini di Mimpi Transportasi Publik Jakarta dan Jokowi Setuju 6 Ruas Jalan Tol, Harapan Jakarta Baru Sirna. Tulisan kali ini adalah pengembangan kedua tulisan tersebut dan kembali mempertegas mengapa 6 Ruas Jalan Tol adalah ancaman bagi cita-cita Jakarta Baru yang diusung Jokowi-Ahok pada masa kampanye Gubernur DKI Jakarta tahun lalu. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi masukan bagi masyarakat yang berkenan menghadiri public hearing nanti. Sayangnya saya sendiri tidak dapat hadir karena masih bertugas di luar Jakarta. 🙂

Bakar Kapalnya, Point of No Return

Dalam sejarah perang, ada beberapa kejadian di mana pemimpin perang melakukan tindakan drastis “membakar kapal” untuk memastikan kemenangan. Hal ini dilakukan untuk menciptakan “point of no return”, titik di mana tak mungkin kembali lagi sehingga semua pasukan hanya fokus melihat tujuan yang ada di depan. Perang Julu (tahun 207 SM) di Cina dan invasi Spanyol ke Meksiko (tahun 1519) adalah contoh taktik membakar kapal yang berhasil.

Perang Julu tahun 207 SM terjadi antara Dinasti Qin dan kerajaan Chu yang memberontak. Pemimpin tentara Qin adalah Zhang Han sedangkan yang memimpin pasukan Chu adalah Xiang Yu. Xiang Yu memimpin pasukannya menyeberangi Sungai Kuning untuk memperkuat pasukan Chu yang sedang berperang melawan tentara Qin. Saat itu kondisi pasukan Chu sudah di ambang kelaparan karena perang yang berlarut-larut. Xiang Yu lalu memerintahkan pasukannya untuk membawa persediaan makanan yang hanya cukup untuk 3 hari dan menghancurkan sisanya, bersama peralatan masaknya dan menenggelamkan kapal yang baru saja mereka gunakan untuk sampai di Julu. Dengan melakukan hal ekstrim ini, Xiang Yu mengirimkan pesan yang jelas kepada pasukannya bahwa mereka tidak mungkin dapat hidup tanpa mengalahkan musuh dan mengambil alih persediaan makanan musuh.

Hasilnya luar biasa, pasukan Chu berperang dengan ganasnya untuk dapat hidup. Demikian hebatnya sehingga setiap prajurit seakan mengalahkan 10 musuh dan akhirnya seluruh pasukan Qin dapat dikalahkan. Lebih dari 100.000 tentara Qin tewas dan Zhang Han terpaksa mundur dari Julu. Jenderal Qin Su Jiao juga tewas dalam perang dan Wang Li, wakilnya Zhang Han tertangkap. Pasukan Chu yang hanya berjumlah 50.000-60.000 orang itu mengalahkan 300.000 pasukan Qin, prestasi yang tidak mungkin terjadi pada kondisi psikologis yang wajar.

Kisah Hernando Cortez dari Spanyol juga hampir sama. Hanya dengan modal 500 prajurit dan 100 pelaut, ia berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Aztec yang menguasai daerah Meksiko di tahun 1500-an. Strateginya juga sama, membakar kapal yang mereka gunakan, menciptakan point of no return.

No More Highway, More Public Transport

Nah apa hubungan kisah ini dengan Jokowi? Jokowi bisa mencontoh sikap ekstrim ini dalam membenahi sistem transportasi publik Jakarta. Kebijakan yang setengah-setengah selama ini dalam pembenahan transportasi oleh gubernur-gubernur DKI sebelumnya mengakibatkan DKI Jakarta sebagai ibukota Republik Indonesia, tidak memiliki sistem transportasi publik yang bisa diandalkan. Lihat saja busway Trans Jakarta. Jumlah bus yang minim, waktu tunggu yang sangat lama, dan jalur yang masih bisa dimasuki kendaraan pribadi (bahkan pada situasi tertentu polisi lalu lintas menganjurkan kendaraan pribadi masuk jalur ini karena macet yang luar biasa) mengakibatkan sistem transportasi publik ini gagal menarik sebagian besar pengguna mobil pribadi. Di samping itu pengguna mobil pribadi semakin dimanjakan dengan tarif parkir dan tol yang relatif murah, BBM subsidi, dan harga mobil yang makin murah. Menggunakan mobil pribadi masih menjadi pilihan rasional dan walaupun kondisi jalan macet di sana sini, masih bisa ditolerir oleh kelas menengah Jakarta, karena opsi transportasi publiknya tidak menarik dan dapat diandalkan. Hati yang setengah-setengah dalam mengurus busway mengakibatkan delapan tahun investasi seakan sia-sia. Membangun 6 ruas tol dalam kota yang baru adalah kebijakan yang setengah-setengah.

Kebijakan yang setengah-setengah selama ini dalam pembenahan transportasi oleh gubernur-gubernur DKI sebelumnya mengakibatkan DKI Jakarta sebagai ibukota Republik Indonesia tidak memiliki sistem transportasi publik yang bisa diandalkan

Perlu kebijakan radikal untuk mengondisikan penggunaan transportasi publik sebagai pilihan rasional mayoritas warga Jakarta. Hal yang biasa diterapkan di kota-kota metropolitan dunia adalah strategi stick and carrot bagi pengguna mobil pribadi. Menyediakan dan memperbaiki sistem transportasi publik sehingga menjadi lebih nyaman, aman dan tepat waktu, dan pada saat yang bersamaan buatlah pilihan menggunakan kendaraan pribadi menjadi tidak nyaman lagi, mahal dan boros waktu.

Di Singapura misalnya, stick and carrot ini diberlakukan dengan membuat aturan kepemilikan mobil yang sulit dipenuhi karena biayanya yang tinggi sekali. Selain itu usia mobil dibatasi hanya 5 tahun. Tarif parkir juga dikenakan tinggi dan jalan-jalan utama pada jam-jam tertentu dikenakan tarif ERP (seperti tol). Akibatnya mayoritas warga kota, termasuk kelas menengahnya memilih menggunakan MRT dan bus daripada memiliki mobil pribadi. Hal yang sama terjadi di kota-kota metropolitan lainnya di dunia, dengan variasi kebijakan yang mungkin sedikit berbeda tapi tujuannya sama: jadikan transportasi publik sebagai pilihan yang rasional.

Pembangunan 6 ruas tol dalam kota yang baru akan kembali menjadi kebijakan setengah-setengah yang lain. Walaupun tol dalam kota ini disyaratkan Jokowi untuk bisa dilewati oleh angkutan umum seperti bus Trans Jakarta atau Kopaja misalnya (selama ini bus Patas AC juga bisa lewat tol dalam kota), tujuan menjadikan transportasi publik pilihan yang rasional tidak akan tercapai karena pengguna mobil pribadi tetap bisa menggunakan jalan tol tersebut. Coba Menteri PU sebagai yang punya hajatan proyek ini ditanya untuk siapa 6 ruas jalan tol ini dibangun? Jawabannya pasti untuk pengguna mobil pribadi, walaupun dengan alasan yang mutar-mutar.

Jokowi mesti “membakar kapal” dengan menolak proyek jalan tol dalam kota ini. Biarkan pengguna mobil pribadi merasakan kemacetan yang luar biasa, namun di saat persamaan Pemda harus menyediakan transportasi publik yang layak pakai bagi mereka, yang bisa menembus kemacetan di jalan. Dengan demikian perpindahan pasti akan terjadi dengan sendirinya. Silakan pakai MRT/monorel/bus untuk survive atau mobilnya “mati” total di jalanan. Mau macet di dalam mobil atau pindah naik MRT bawah tanah?

MRT Singapore: Macet di Atas? Lewat Bawah Saja

Kekuatiran-kekuatiran seperti: ah MRT kan makan waktu untuk dibangun, masih lama baru jadi solusi sementara ini bagaimana, memang perlu ditanggapi. Namun jawabannya jelas bukan dengan membangun jalan tol dalam kota yang baru, yang jelas juga makan waktu (lihat saja Jalan Tol Antasari-Casablanca). Lagipula membangun jalan tol dalam kota dan MRT secara bersamaan akan menyebabkan kemacetan yang luar biasa. Satu saja sudah mengganggu apalagi dua. Mesti ada pilihan untuk hal ini dan pilihan mestinya jatuh ke kepentingan orang banyak, kepentingan publik. Semakin menunda membangun MRT, semakin mahal biayanya di masa depan. Semakin menunda penyediaan transportasi publik, semakin Jakarta tidak layak huni.

Solusi sementara waktu selama menunggu pembangunan koridor MRT dan busway yang baru bisa dengan pengadaan armada busway tambahan, implementasi kebijakan nomor plat ganjil/genap dan pengenaan tarif ERP di jalur-jalur macet. Bisa juga dengan menaikkan tarif parkir sehingga perlahan-lahan warga Jakarta akan membiasakan diri untuk meninggalkan penggunaan kendaraan pribadi. Lebih baik lagi bila BBM subsidi bisa dihentikan supply-nya ke Jakarta. Banyak cara untuk menyiasati problem transportasi karena manajemen transportasi adalah sebuah seni, yang tidak memiliki hanya satu solusi.

Dengan menolak proyek jalan tol dalam kota ini, Jokowi bisa fokus penuh membangun sistem transportasi publik yang terintegrasi. Investor bisa dialihkan untuk mendukung proyek-proyek transportasi publik seperti MRT, monorel, penambahan armada dan koridor busway yang baru daripada membangun jalan tol baru. Dengan “membakar kapal” pengguna kendaraan pribadi, mau tidak mau mayoritas warga Jakarta harus maju, menuju pada penggunaan transportasi publik. Dengan penggunaan transportasi publik yang makin banyak, Jokowi bisa punya modal yang lebih kuat lagi untuk mengembangkan jaringan transportasi publik sehingga visinya tentang Jakarta Baru:  

Kota modern yang tertata rapi, menjadi tempat hunian yang layak dan manusiawi, memiliki masyarakat yang berkebudayaan, dan dengan pemerintahan yang berorientasi pada pelayanan publik

tidak lagi sekedar slogan kampanye, tetapi memang sangat mungkin teraktualisasikan.

Pemerintahan yang berorientasi pada pelayanan publik akan fokus ke pelayanan publik, bukan ke tuntutan mobilitas kendaraan pribadi. Menolak pembangunan jalan tol dalam kota untuk saat ini dan ke depan adalah strategi membakar kapal. Dengan demikian Pemda DKI dan seluruh warga Jakarta dapat fokus pada satu tujuan ke depan: Jakarta harus memiliki sarana transportasi publik yang digunakan mayoritas warganya, sebagaimana kota-kota modern lainnya di dunia.