Chelsea 2 – 1 Arsenal. Arsenal dengan Dua Muka


Lagi-lagi  terulang. Arsenal melempem di babak pertama dan trengginas di babak kedua. Dan seperti saat pertandingan melawan City pekan lalu, Arsenal kembali gagal seri apalagi menang. Kebobolan dua gol “mudah” di babak pertama gagal dibayar di babak kedua. Walaupun gol indah dari Walcott dan bombardir serangan Arsenal di babak kedua sempat membuat Chelsea terus bertahan, gol lanjutannya tak kunjung datang. Ada sesuatu yang salah dengan penampilan Arsenal di babak pertama. Sedikit analisa singkatnya dari fan layar kaca:

1. Kurang pressing di babak pertama

Di babak pertama terlihat Wilshere seringkali mengajak rekan-rekannya untuk melakukan pressing terhadap pemain Chelsea. Terutama kepada Diaby yang sering statis dan juga kepada Coquelin. Namun pressing itu tetap tidak dilakukan. Cazorla dan Walcott (pemain dengan naluri menyerang) juga tidak membantu sama sekali. Hasilnya pemain tengah Chelsea diberikan ruang yang demikian leluasa di lini tengah. Ditambah lagi tiga pemain tengah Chelsea adalah pemain kreatif bertalenta tinggi, lini tengah praktis dikuasai Chelsea di babak pertama.

2. Benitez menyerang titik lemah Arsenal

Berbeda dengan Wenger yang dalam menyiapkan pemainnya tidak begitu detail secara taktik (insight dari biografinya), Benitez terkenal sebagai Tinkerman. Ia selalu menyesuaikan formasi dan starting line up timnya dengan lawannya dan menyerang titik lemah lawan. Wenger lebih senang pemainnya bermain dengan gaya permainannya sendiri dan menang karena dominan atas lawannya. Karena itu ia cenderung memilih pemain dengan tingkat intelejensia lumayan dan menurutnya pemain harusnya cukup cerdik untuk bisa menyesuaikan diri dengan dinamika di lapangan.

Benitez pasti telah menyiapkan timnya untuk menyerang sisi kanan Arsenal. Jarak yang cukup jauh antara Sagna dan Walcott menjadi titik lemah Arsenal. Walcott jarang melakukan track back, karena menganggap dirinya sebagai striker (ini salah satu alasan kenapa ia menolak dianggap sebagai winger). Permasalahannya di formasi 4-2-3-1 Sagna tidak akan mendapatkan perlindungan. Ditambah Diaby yang mestinya menutup sisi kanan tersebut statis dalam pergerakan tanpa bolanya. Dua gol Chelsea berawal dari serangan di sisi kanan Arsenal.

Formasi Arsenal dieksploitasi oleh Benitez dengan sangat baik. Di atas kertas, Arsenal mestinya bermain dengan formasi 4-2-3-1 namun kenyataan di lapangan menjadi 4-2-2-2. Walcott bermain dengan mental sebagai striker bukan winger. Cazorla bermain mestinya sebagai pemain tengah kiri tapi ia lebih memilih condong ke tengah. Akibatnya LB dan RB Arsenal selalu di bawah tekanan. Setelah sukses mencetak gol lewat kanan Arsenal, giliran kiri Arsenal yang dibombardir di sisa babak pertama. Beruntung Chelsea tidak menambah jumlah golnya.

Chelsea (kiri) - Arsenal (kanan) Average Position. Perhatikan posisi Sagna (no.3 di kanan)

Chelsea (kiri) – Arsenal (kanan) Average Position. Perhatikan posisi Sagna (no.3 di kanan)

Benitez menempatkan pemain menyerangnya di sisi kiri Chelsea, di depan dan melebar. Dan karena Walcott posisinya sering maju ke depan, untuk merapatkan jarak otomatis Sagna juga bermain lebih maju, jauh di depan offside line pemain bertahan Arsenal. Posisi Sagna ini dimanfaatkan oleh Mata di babak pertama dan Oscar-Ramires di babak kedua. Bola diagonal ke sisi kanan Arsenal, Sagna yang terlambat mundur, adalah awal cerita sama kedua gol Chelsea. Skor untuk Benitez 2 – Wenger 0 untuk soal taktik di babak pertama.

Benitez selalu menyesuaikan formasi dan starting line up timnya dengan lawannya dan menyerang titik lemah lawan. Wenger lebih senang pemainnya bermain dengan gaya permainannya sendiri dan menang karena dominan atas lawannya.

3. Ramires sang Aggressor

Wenger berkata timnya perlu bermain dengan lebih banyak “aggression” dan sayangnya hal itulah yang tidak ada sama sekali di babak pertama. Ramires sebaliknya adalah manifestasi dari aggression yang diinginkan Wenger. Gol pertama Chelsea berawal dari tackle Ramires terhadap Coquelin (yang mestinya foul) dan bola yang berhasil direbut dengan cepat sampai di kaki Mata yang menyelesaikannya dengan sangat baik. Gol kedua Chelsea berawal dari Diaby yang mengoper bola salah karena berada dalam tekanan Ramires dan bola dengan cepat juga sampai ke Oscar dan kembali ke Ramires di sisi kanan Arsenal (Sagna terlambat). Ramires kemudian melesat dengan cepat ke kotak penalti dan dengan sedikit aksi “diving” ketika menghindari kaki Szczesny, berhasil mendapatkan penalti.

Diaby sebaliknya sangat lamban dalam tracking back pemain lawan dan juga tidak melakukan pressing. Gol pertama Chelsea sedikit banyak juga ada kontribusi darinya. Ramires menusuk ke tengah, Per Mertesacker yang mestinya menutup gerakan Mata teralihkan untuk menjaga Ramires. Bila Diaby segera mundur saat itu untuk tracking Ramires, maka Per bisa menutup Mata. Keterlambatan Sagna bisa ditutupi.

Ramires sebaliknya bertahan dan melakukan pressing dengan sangat baik. Man of the match dari partai ini jelas adalah Ramires sang Aggressor, yang tidak dimiliki Arsenal di babak pertama.

4. Perubahan 180′ di babak kedua

Arsenal adalah tim yang reaktif, untuk saat ini. Di dressing room, apapun yang dikatakan dan dilakukan Wenger, berhasil. Arsenal mengubah formasi dengan Diaby sedikit ke depan meninggalkan Coquelin sebagai poros tengah. Diaby pun melakukan pressing bersama Wilshere dan Coquelin berubah menjadi Ramires-nya Arsenal. Coquelin bermain dengan sangat baik, tackling, interception sehingga bola selalu kembali ke Arsenal. Agresivitasnya muncul di babak kedua. Sayangnya ia mengalami cedera dan harus ditarik keluar digantikan Ramsey.

Walcott mencetak gol indah setelah lolos jebakan offside. Berulang-ulang di babak pertama ia tertangkap offside. Saya twit: salah satu dari run Walcott ini di babak kedua akan menjadi onside dan terbukti! Operan cantik dari Santi yang menerobos pertahanan Chelsea diselesaikan dengan indah oleh Walcott. Sayangnya di sisa babak kedua, Arsenal tidak mampu mengulanginya karena Chelsea bermain lebih bertahan, tidak menyisakan ruang untuk penetrasi Walcott.

Arsenal mendominasi babak kedua, Chelsea memilih bertahan. Fans Arsenal pun akan berandai-andai mengapa Arsenal tidak bermain seperti ini dari babak pertama?

Wenger mencoba menjelaskan bahwa masalah psikologis di babak pertama ini adalah kurang percaya dirinya pemain-pemain Arsenal akan kualitas tim. Arsenal sebenarnya mampu mengimbangi tim-tim papan atas seperti Chelsea dan City, terbukti dari penampilan di babak kedua, ujar Wenger. Ia memang benar dan pernyataan ini adalah indikasi Wenger adalah tipe manager yang mengandalkan kepercayaan diri pemain. Permasalahannya ia mungkin lupa beberapa hal yang bisa menghambat manifestasi kepercayaan diri ini menjadi performa yang mantap di lapangan:

  1. Pemain tengah yang relatif muda dan baru beberapa kali ini dipasangkan bersama. Wilshere yang mesti berteriak kepada rekan-rekannya untuk melakukan pressing adalah bukti kurangnya pengertian di antara mereka. Diaby walau sudah 26 tahun jam terbangnya bak pemain usia 22-23 tahun (karena cedera panjang). Kurangnya rasa percaya diri dan percaya terhadap teman mengakibatkan keraguan dalam melakukan pressing, saling cover, yang amat penting bagi permainan yang tidak menyisakan ruang untuk kesalahan sedikitpun. Dua kesalahan, kebobolan dua gol.
  2. Formasi. Walcott dan Cazorla tidak nyaman bermain di 4-2-3-1 sebagai AM sayap yang mesti turun membantu bek sayap saat bertahan. Bahkan tidak juga untuk Podolski (gol City juga berawal dari kesalahan di sayap kiri Arsenal). Banyaknya kesalahan-kesalahan individu yang terjadi adalah contoh pemain-pemain belum memahami formasi yang diterapkan. Untuk mengakomodasi Walcott (yang memang berguna saat ini karena kecepatan dan ketajaman finishingnya), Wenger mungkin mesti mempertimbangkan kembali ke formasi 4-4-2. Chamberlain di sayap kanan dan Cazorla bisa bermain di sayap kiri dengan cover dari Arteta/Coquelin. Atau 4-4-2 diamond dengan Wilshere di puncak, kiri-kanan oleh Ramsey-Diaby.
  3. Sedikit pengarahan soal taktik sejak babak pertama akan membantu kepercayaan diri pemain muda. Cara Benitez bisa diterapkan. Arahan yang jelas kepada pemain untuk bermain dengan taktik tertentu dan pemberian tugas yang lebih spesifik ke setiap pemain akan membantu menimbulkan kepercayaan diri. Saat ini pemain Arsenal seperti kehilangan orientasi saat bermain. Counter attack atau pressing? Crossing atau cutback? Serangan Arsenal menjadi gampang dibaca (contohnya crossing Sagna). Saat melawan Swansea kepercayaan diri Arsenal memungkinkan operan one-two yang cantik dan berani di kotak penalti lawan. Melawan Chelsea kita tidak melihat itu. Pengarahan taktik yang jelas sebelum pertandingan akan membantu pemain-pemain muda Arsenal ini untuk fokus sejak babak pertama, bukan setelah dimarahi di ruang ganti saat half time.

Akibat pergantian pemain depan dan tengah yang cukup signifikan, musim ini bagi Arsenal adalah musim untuk menemukan jati diri. Musim menemukan Satu Muka. Giroud adalah striker yang berbeda dengan RVP. Kekuatan dan kelemahannya berbeda. Pemain-pemain di sekitarnya mesti menyesuaikan diri dengannya. Wilshere baru kembali, Cazorla baru bermain di Liga Inggris dan Walcott baru saja menemukan identitas barunya sebagai striker yang tajam. Semakin cepat pemain-pemain Arsenal ini saling mengerti satu sama lain, semakin besar kemungkinan untuk tetap finish di empat besar dan meraih trofi, paling mungkin di FA Cup (Champions League rasanya berat). Aktivitas Arsenal di transfer window Januari ini juga akan ikut menentukan resiko yang mesti dibayar untuk penemuan jati diri. Pembelian pemain yang berpengalaman dan penuh percaya diri akan membantu meminimalisir resiko dari proses pencarian jati diri ini. Mungkin itu sebabnya Arsenal sangat tertarik dengan David Villa di transfer window ini.

3 thoughts on “Chelsea 2 – 1 Arsenal. Arsenal dengan Dua Muka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s