Terima Kasih


Besok adalah hari spesial, setidaknya untuk saya. Sidang ke-14 di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan akan menutup satu babak dalam kehidupan pribadi saya yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun. Bermula dari dilaporkannya saya ke polisi oleh seorang politikus karena twit yang dianggap mencemarkan nama baiknya, saya menjalani sesuatu yang baru, untuk pertama kalinya dalam hidup: proses hukum. Sejak 8 Desember 2012 ketika perbuatan itu terjadi, lalu diperiksa di Polda Metro Jaya selama beberapa kali, ditahan di Rutan Cipinang selama satu hari satu malam pada tanggal 5 September 2013, kemudian dihadirkan sebagai terdakwa pencemaran nama baik di persidangan tanggal 2 Oktober 2013, saya akhirnya mengalami bagaimana rasanya berurusan langsung dengan penyidik, Jaksa Penuntut Umum sampai berinteraksi dengan sipir penjara dan para tahanan kriminal. Untuk pertama kalinya juga saya merasakan proses persidangan, mengalami langsung bagaimana proses mencari keadilan itu terjadi di negeri ini.

Tentunya banyak kisah yang bisa saya bagikan. Banyak pengalaman langsung yang menarik, menggelikan, konyol, menyedihkan, menguatirkan tapi juga ada yang menyenangkan, mengharukan selama babak proses hukum tersebut. Banyak hal yang bisa saya ceritakan. Namun karena adanya pasal pencemaran nama baik UU ITE di negeri ini, rasanya saya harus lebih hati-hati bahkan untuk menulis tentang pengalaman tersebut. Karena bukan tidak mungkin ada pihak yang akan tersinggung, dan nantinya akan melaporkan saya lagi ke polisi dengan pasal yang sama. Konyol bukan kalau kena jerat pasal yang sama dua kali?

Dalam tulisan kali ini, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih untuk berbagai orang, baik yang sudah dikenal maupun yang baru dikenal, yang membantu saya menghadapi proses ini. Tanpa bantuan orang-orang luar biasa ini, mustahil saya dan keluarga bisa tabah menghadapi proses ini, karena sesungguhnya tidak mudah berhadapan dengan yang namanya proses hukum di negeri ini, apalagi untuk Orang Biasa, yang tak punya jabatan publik, modal dan tak punya akses ke kekuasaan.

Ada pepatah habis gelap terbitlah terang. Mungkin terdengar klise tapi pepatah itu ada benarnya. Di tengah kekalutan dan kekuatiran saya dan keluarga saat saya ditahan, tanpa disangka bantuan dan perhatian pun berdatangan. Dan hebatnya lagi, orang-orang yang membantu ini banyak yang baru saya kenal, atau bahkan belum saya kenal sama sekali. Mungkin awalnya hanya saling kenal lewat Twitter saja. Bahkan ada yang tidak saya kenal sama sekali (belum follow). Ada yang sudah saling follow tapi belum pernah kopdar. Interaksi di dunia maya akhirnya menjadi pertemuan di dunia nyata, dan hebatnya langsung dalam wujud bantuan. Mereka membantu dengan tulus, tanpa pamrih, didasari rasa simpati karena ada “teman” yang mendapatkan masalah. Istilah “teman” di sini pun mengalami perluasan makna, dari yang  kita kenal dan berada di sekitar kita sehari-hari, menjadi dari yang kita tahu dan kenal isi pemikirannya sehari-hari, hanya lewat Twitter.

Saya tidak tahu persis mengapa mereka menolong dan membantu saya. Mungkin karena mereka iba karena ada anak Twitter yang ditahan akibat twit, mungkin karena mereka punya opini yang sama dengan saya, atau mungkin juga karena mereka peduli dengan hak untuk bebas berpendapat di internet. Tapi yang saya tahu pasti mereka ini berasal dari berbagai latar belakang, suku, agama dan klub bola (selain fans Arsenal juga banyak ternyata). Perbedaan identitas dan status ini tidak menjadi penghambat dalam menyalurkan simpati. Apapun motivasi dan latar belakang mereka, saya rasa ada sebuah kesamaan yang menghubungkan kami semua. Mungkin bisa kita simpulkan di akhir tulisan ini. Di tulisan ini saya akan menulis peran orang-orang yang telah mendampingi, membantu saya selama proses hukum ini. Bila sebuah film selalu ditutup dengan closing credits, anggaplah tulisan ini sebagai closing credits untuk babak kehidupan saya yang satu ini. Apapun vonis yang akan dijatuhkan besok (bisa bebas, lepas atau bersalah), jasa dan budi mereka ini tak akan pernah saya lupakan selama hidup saya. Untuk itu saya akan menulis sinopsis sekaligus closing credits untuk “film” ini. Untuk adegan demi adegan detailnya, akan saya tulis di kesempatan mendatang.

Saat pertama kali saya dipanggil polisi sebagai saksi, selain keluarga saya sendiri, orang pertama yang saya hubungi adalah Mba Susy Rizky (@susyrizky). Saya kenal Mba Susy belum lama, sekitar tahun 2009 ketika kami sama-sama bergabung dalam gerakan di Facebook: Kami Percaya Integritas Sri Mulyani Indrawati di tengah keramaian Century-gate. Semuanya lalu terjadi begitu saja. Interaksi dengan Susy dkk yang aktif duluan di gerakan tersebut lalu mendekatkan kami berdua. Saya bergabung belakangan namun cukup cepat akrab dengan pentolan-pentolan di gerakan tersebut. Walau disebut pentolan, mereka sesungguhnya adalah orang-orang biasa dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada dosen, pengusaha, ibu rumah tangga, karyawan. Mba Susy sendiri adalah ibu rumah tangga, yang juga berbisnis furniture. Dari gerakan itu kami menghadap ke KPK, DPR untuk menyalurkan aspirasi. Dari sana saya juga mengenalkan Susy kepada Wimar Witoelar yang telah saya kenal sebelumnya lewat Twitter (juga karena kasus Century). Kami lalu bertemu dengan teman-teman P2D (dengan boss-nya yang inspiratif, Pak Rahman Tolleng) yang juga punya sikap yang sama soal Century, dan akhirnya bergabung dalam gerakan SMI-K dan Partai SRI. Dari sebuah kepedulian yang sama (saat itu adalah soal perlakuan tidak adil terhadap Sri Mulyani oleh media massa dan DPR yang kami rasakan), saya dan Mba Susy yang sama sekali tidak pernah berurusan dengan politik akhirnya kenal dengan beberapa public figure dan aktivis. Semua ini berkat Facebook dan Twitter, social media.

Mba Susy kemudian aktif di Partai SRI sebagai bendahara. Saya sendiri tidak aktif di Partai SRI dikarenakan penugasan kantor ke luar pulau saat itu (ke Sulawesi Tengah). Namun kami tetap berhubungan via BBM, email dan Twitter. Karena latar belakang kami yang mungkin hampir sama, dan proses keterlibatan kami dengan “politik” saat itu yang juga sama, maka saya merasa lebih nyaman menghubungi Mba Susy saat saya dipanggil polisi sebagai saksi. Mba Susy kemudian berkonsultasi dengan teman-temannya dan memberikan saran serta masukan agar saya tidak kebingungan dalam menghadapi proses hukum ini.

Singkat kata, saya kemudian bertemu dengan Mba Ezki Suyanto (@ezkisuyanto) untuk pertama kalinya. Sempat menjadi komisioner KPI dan juga mantan aktivis, beliau memberikan banyak masukan kepada saya. Lalu sekitar bulan Maret 2012, saya diperiksa sebagai saksi di Polda Metro Jaya. Beberapa bulan berlalu, saya kemudian dipanggil lagi, kali ini sebagai tersangka. Komunikasi lebih lanjut dengan Mba Susy dkk, akhirnya Mba @widyasrini mengontak saya dan menginformasikan soal pengacara yang dapat saya hubungi untuk mendampingi saya selama pemeriksaan di polisi. Pengacara itu bernama Jimmy Simanjuntak, dan beliau bersedia membantu saya secara pro bono. Bertemu di kantornya, Bang Jimmy dengan ramah dan tegas lalu menjelaskan secara garis besar pokok permasalahan kasus yang saya hadapi ini dan garis besar argumentasi pembelaan saya. Ia mendampingi saya selama proses pemeriksaan saya sebagai tersangka dan sejak itu ramailah pemberitaan di media massa. Orang-orang mungkin kaget karena “twitwar” yang terjadi hampir setahun sebelumnya ternyata akhirnya diproses sampai menjadi tersangka.

Setelah pemeriksaan kami menunggu kabar selama beberapa bulan dari Polda. Berkat kerjasama yang baik selama pemeriksaan dan karena saya mengakui apa yang telah saya perbuat, Polda Metro Jaya merasa tidak perlu menahan saya. Sampai pada tanggal 5 September itu, saya mendapatkan panggilan untuk penyerahan berkas P21 ke Kejaksaan. Saat itu saya dan pengacara merasa tidak akan ada penahanan. Demikian juga keterangan polisi. Maka pada hari itu tanpa berfirasat buruk, saya dan dua orang penyidik berangkat ke Kejati DKI di Kuningan. Bertemu dengan JPU, kami lalu diarahkan ke Kejari Jaksel di Jagakarsa. Menunggu beberapa jam di sana, akhirnya JPU datang dan setelah penandatanganan berkas, saya diinstruksikan untuk ditahan. Surat penahanan telah tersedia, alasannya karena tindak pidana saya diancam maksimal 6 tahun walaupun saya bersikap kooperatif selama penyidikan. Kaget, saya menghubungi pengacara dan kemudian keluarga dan Mba Susy. Proses itu terjadi begitu cepat dan telat pada hari itu (sekitar jam 3 sore), sehingga penangguhan penahanan tidak dimungkinkan pada hari itu. Bis dari Kejari ke Rutan Cipinang akan berangkat jam 4 sore, dan saya lalu ditempatkan bersama dengan tahanan pidana lainnya yang akan dikirim hari itu ke Rutan. Sebelum bis berangkat, saya menelepon keluarga (istri dan orang tua), Bang Jimmy, boss di kantor, Mba Susy dan bang Ali Sutra, senior satu almamater saya. Tidak sempat berkata panjang, intinya adalah mengkomunikasikan hal ini ke publik dan mencari cara agar penangguhan penahanan bisa dikabulkan. Selain itu saya sudah pasrah untuk menginap malam itu di Rutan.

Proses di Rutan rasanya tidak usah diceritakan kali ini, banyak hal yang menarik tapi juga mungkin akan mengejutkan, buat yang belum pernah merasakan. Bahaya.🙂

Singkat kata, berkat perhatian media (karena upaya rekan-rekan di Twitter dengan #freebenhan dan isu penggundulan di rutan yang mencuat), perhatian beberapa figur dan pejabat publik, akhirnya penangguhan penahanan saya bisa dikabulkan.

Selanjutnya tulisan ini akan saya ringkas dengan ucapan terima kasih antara lain kepada:

  • Susy Rizky untuk kesetiaan dan ketabahan dalam mendampingi saya selama proses hukum ini. Dari sejak pemanggilan sampai persidangan. Saya mungkin baru mengenal beliau selama 4 tahun, namun apa yang dilakukannya untuk menolong saya rasanya lebih-lebih daripada sahabat terdekat manapun. Tidak cukup berapa kalimat untuk melukiskan rasa terima kasih saya kepada Mba Susy Rizky, yang bertindak bak kakak saya sendiri.
  • Widyasrini karena nasehatnya, masukannya dan kemudian mengenalkan Jimmy Simanjuntak yang berperan sangat penting dalam pembelaan kasus saya. Saya bertemu Mba Rini hanya beberapa kali di dunia nyata namun perhatian dan simpatinya terhadap kasus saya ini luar biasa.
  • Ezki Suyanto untuk saran-sarannya selama pemeriksaan, kampanye publik, dan networknya yang luas.
  • Rekan-rekan Twitter yang tidak saya ingat satu-persatu yang meramaikan Twitter di hari penahanan itu dengan hashtag #freebenhan. HP saya disita, sehingga tidak bisa cek timeline hari itu. Namun setelah bebas, jumlah mention yang masuk sangat banyak. Siapapun kalian, pasti tahu bahwa kalian ikut berperan hari itu. Terima kasih.
  • Wimar Witoelar, Goenawan Mohamad yang peduli dan juga ikut menanyakan proses penahanan saya tersebut. Termasuk dengan me-mention Pak Wamen Denny Indrayana. Hal itu ikut mendorong akselerasi pressure dan exposure publik terhadap kasus ini.
  • Denny Indrayana atas perhatiannya kepada kasus ini. Beliau sangat berperan agar proses penangguhan penahanan ini tidak dipersulit oleh birokrasi Rutan yang berada di bawah otoritasnya. Tidak ada rasa lain selain respek saya kepada Pak Wamen KumHam yang memperhatikan masukan publik saat itu dan berpihak pada keadilan. Aktif di Twitter mungkin membantu dalam hal ini. Pembicaraan saya dengan Kepala Rutan dan staf di dalam Rutan mengkonfirmasi bahwa memang sedang diupayakan reformasi birokrasi di Rutan Cipinang. Selama penahanan saya, tidak terjadi diskriminasi, pemerasan terhadap diri saya saat itu sejak awal sampai akhir. Entah kalau saya tinggal lebih lama lagi  di sana (amit-amit) tapi positive thinking-nya adalah mungkin ini indikasi adanya upaya reformasi birokrasi di Rutan/Lapas.
  • Kejari Jaksel yang baru dilantik, Bapak Teguh, SH., MH. Beliau yang menyetujui (menginstruksikan untuk persetujuan) surat permohonan penangguhan penahanan keesokan harinya setelah saya ditahan.
  • Pasangan suami-istri Nong Darol Mahmada dan Guntur Romli, Robertus Robet dan Rachland Nashidik. Beliau-beliau ini awalnya saya kenal hanya di Twitter dan kemudian beberapa kali kopdar dan merasa sepemikiran, namun kami semua tahu tanpa tindakan beliau-beliau saat itu rasanya sulit saya mendapatkan penangguhan penahanan secepat itu. Terima kasih yang sedalam-dalamnya saya ucapkan.
  • Teman-teman netizen yang peduli dengan kebebasan berekspresi di Internet kemudian mengkampanyekan #garagaraUUITE: Damar Juniarto yang mengkampanyekan #freebenhan, MT dan teman-teman di SafenetUsman Hamid, Arif Azis dan rekan-rekan dari change.orgDonny BU, Tjatur dan rekan-rekan dari ICTWatchZainal Abidin, Triana Dyah dan rekan-rekan dari ELSAM. Anggara Suwahju dari ICJR.
  • Megi Margiyono. Abang yang satu ini banyak sekali berjasa terutama dalam soal advis hukum dan networkingnya di lembaga-lembaga yang peduli soal kebebasan berekspresi. Penampilannya boleh low profile tapi pemikirannya yang cerdas membuat saya terkagum-kagum soal penguasaannya akan topik freedom of expression dan defamation.
  • Tim Penasehat Hukum/ Tim Advokasi Kebebasan Berpendapat yang terdiri dari 4 lembaga dan bekerja secara pro bono dalam kasus ini. Selain kantor pengacara Jimmy Simanjuntak & Partners (JSP), saya kemudian melobi dan dibantu lawfirm Lubis Santosa & Maramis (LSM), LBH Jakarta dan LBH Pers berkat network dan komunikasi dengan teman-teman yang saya sebut di atas.
  • Dari JSP: Jimmy Simanjuntak, Martin Roy Simangunsong, Ferdinand Tobing, Karina Astari, dan Friscarina.
  • Dari LSM: Todung Mulya Lubis yang berkenan membantu dan lalu merekomendasikan saya kepada partnernya (karena sedang studi di Harvard): Bu Lelyana Santosa. Bersama Bu Lelyana ada para pengacara muda dan cerdas dari LSM: Suar Sanubari, Aristo Pangaribuan, Yosua Situmorang, dan Idaman Putri.
  • Dari LBH Jakarta: Febi Yonesta (alias Mayong), Muhamad Isnur, Ahmad Biky dan rekan-rekan pengacara muda (aktivis) dari LBH Jakarta.
  • Dari LBH Pers: Nawawi Bahrudin dan Asep Komarudin.
  • Ari Juliano, pengacara muda yang sangat menguasai soal UU ITE serta saya ucapkan terima kasih kepada lawfirm AHP yang mengizinkan Mas Ari untuk bergabung dalam tim penasehat hukum saya.
  • Para saksi meringankan: Fadjroel Rachman, LR Baskoro, Robertus Robet, Goenawan Mohamad (ahli pers), Roby Muhamad (ahli socmed), Made Darma Weda (ahli pidana), Bob Hardian (ahli IT). Kesaksian beliau-beliau ini sungguh membantu dalam penyusunan nota pembelaan kami.
  • Tommy F Awuy dan Amalia Ahmad. Support moralnya sangat berarti dan dibutuhkan. Benar-benar pasangan Philo dan Sophia.🙂
  • Rahman Tolleng, Rocky Gerung, Robertus Robet (disebut sekali lagi), Davi Muammar, Sony Tan, Donny, Aten, Esron, Horas, Desy, Fika, Sahat, Hendrik dan teman-teman di Partai SRI ataupun SMI-K. Saya tidak pernah menyesal mempunyai sikap dan gagasan yang sama dengan rekan-rekan yang mengagumkan ini, hanya sedikit malu karena belum bisa berkontribusi banyak.
  • Ali Sutra, abang satu almamater Unpar ini sangat bisa diandalkan ketika saya mengalami kesulitan. Terima kasih atas dukungan moral maupun finansial kepada keluarga saya selama masa krisis pribadi saya.
  • Jack Junaidy, Poppy, Sulastri dan rekan-rekan alumni Sipil Unpar, baik angkatan 97 maupun angkatan lainnya. Ikut mengangkat kasus ini di forum ikatan alumni Unpar, terutama Jurusan Teknik Sipil.
  • Rekan-rekan alumni KMB Parahyangan. You know who you are. Thanks untuk support moralnya.🙂
  • Maina (@FunJunkies) yang selalu menghibur kami dengan joke-joke santai dan gossip berbobot (adakah?) selama menunggu persidangan.
  • Teman-teman di Twitter yang belum sempat bertemu selama proses ini tapi saya tahu mendukung secara moral. Misalnya: @Lyndaibrahim yang aktif memantau kasus ini dan memberikan banyak masukan. @pangeransiahaan yang merekomendasikan reporter luar Michael Holtz yang lalu menulis tentang kasus ini di media internasional, PRI. Masih banyak lagi teman-teman di Twitter yang mention, retweet, memberikan dukungan di Twitter. Meski tidak bertemu langsung, saya bisa merasakannya.🙂
  • Rekan kerja saya di proyek Donggi Senoro LNG, Tubafa, dan manajemen serta direksi kantor tempat saya bekerja, Murinda, yang mau mengerti dan memahami kasus ini dan selalu mendukung saya untuk berjuang secara hukum. Support total seperti ini sungguh langka, saya tidak tahu apakah mungkin bisa didapatkan di perusahaan lain.
  • Rekan-rekan jurnalis yang menaruh perhatian terhadap kasus ini. Terutama kepada TEMPO, pemred Arif Zulkifli yang bahkan bersedia membantu dengan mengirimkan saksi fakta meringankan LR Baskoro untuk kasus ini. Terima kasih juga kepada redaktur Tempo yang mewawancarai dan kemudian memuat profil saya terkait kasus ini, Mas Heru dkk.
  • MetroTV, Kompas, Detik, Kabar3, SCTV dan rekan-rekan jurnalis yang meliput persidangan.
  • Dan tentunya kepada keluarga saya. Ayah Suherman, Ibu Ai Lin, adik-adik saya: David Siura, Anton Siura, Celia Siura. Arti sebuah keluarga semakin terasa ketika kita mengalami masalah. Juga kepada kerabat dekat: sepupu, paman, bibi, om, tante.
  • Terakhir kepada isteri saya tercinta: Yulia Indah (Lola), yang selalu setia menemani saya baik dalam suka maupun duka. Hanya ketika pasangan kita mengalami masalahlah, cinta ini teruji benar. Mohon maaf saya telah merepotkan di saat kamu masih perlu membesarkan buah hati kita tercinta yang berusia baru setahun lebih, Michelle Sofia Handoko. Di Rutan Cipinang, kalian berdua tak bisa lepas dari pikiran. Semoga saya selalu dapat berusaha yang terbaik untuk membahagiakan kalian berdua.

Demikianlah apresiasi sederhana dan terima kasih saya yang sedalam-dalamnya kepada orang-orang yang sangat berjasa dalam babak kehidupan saya yang satu ini. Bila ada nama yang salah tulis ataupun lupa untuk diikutkan dalam daftar di atas, saya minta maaf. Yang pasti itu karena kelalaian, dan bukan disengaja. Kepada siapapun yang memperhatikan kasus ini, saya mengucapkan Terima Kasih.

Dalam hidup kita ini, selalu akan muncul masalah. Life is suffering, kata Buddha. Namun Buddha bukan seorang pacifist. Ia tidak mengajarkan untuk pasrah kepada penderitaan kehidupan. Ia mengajarkan cara mengatasi penderitaan kehidupan, agar kita tidak tenggelam dan hanyut terbawa arus penderitaan tersebut. Bukan untuk menjadi depresi dan putus asa. Tapi menjadi bahagia, tenang seimbang dan berpuas diri, apapun yang terjadi. Dengan memahami akar penderitaan dan kemudian melenyapkannya.

Mengatasi masalah-masalah dalam kehidupan memang pada akhirnya mesti dilakukan sendiri. Buddha menjelaskan bagaimana ketenangan batin sangat penting dalam menghadapi konflik agar tidak menambah atau memperpanjang penderitaan yang sedang dialami. Namun peran orang-orang di sekitar kita juga penting. Mereka dapat membantu menenangkan diri, memberikan panduan agar jalan menjadi jelas dan terang. Bagaimana kita dapat melihat uluran bantuan dan menyambutnya, memadukannya dengan ketenangan dalam diri sehingga muncul solusi. Hal inilah yang saya alami dalam babak ini, dan saya lalui.

Saya yakin bantuan teman-teman di atas kepada saya ini bukan hanya karena soal memperjuangkan nasib saya pribadi. Ada hal yang lebih penting dan lebih luas: Kebebasan Berekspresi di Negara Demokratis. Di pledoi pribadi saya, hal ini yang menjadi poin utama pembelaan saya. Mudah-mudahan kasus ini bisa jadi pembelajaran kita semua, demi perjuangan yang lebih besar: merevisi pasal pencemaran nama baik UU ITE. Jangan sampai di masa depan lebih banyak “korban” orang biasa berjatuhan karena aduan pencemaran nama baik dari orang-orang besar, bermodal, dan berkoneksi. Penahanan karena ancaman pidana 6 tahun ini bisa menyebabkan orang-orang biasa ini kehilangan pekerjaan, pendidikan, dan terganggu kehidupan pribadinya. Semua ini demi nama baik “orang besar”, yang bahkan bisa diperdebatkan “kebaikan”-nya.

Apapun keputusan besok, apapun vonis yang dijatuhkan Majelis Hakim, saya telah berada pada posisi siap mental dan fisik. Kami telah berbuat maksimal dan tidak mungkin saya meminta lebih lagi. With acceptance comes peace, demikian lagi kata Buddha. Saya telah siap menerima akibat dari perbuatan saya, dan sedikit banyak itu berkat kalian semua.

Terima Kasih.

Ps: Sidang ke-14 @benhan dengan agenda pembacaan vonis. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. 5 Februari 2014, 10.00 WIB. Terbuka untuk umum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s