Pemilu 2014 dan Anak Zaman Peralihan (I)


Di Indonesia hanya ada dua pilihan, menjadi idealis atau apatis. Dan saya sudah lama memutuskan bahwa saya akan menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya.

~ Soe Hok Gie

Pemilu 2014 untuk pemilihan Presiden baru kita akan diadakan 9 Juli nanti. Awalnya saya enggan untuk ikut mencoblos di Pilpres nanti karena saya memilih untuk tidak mencoblos di Pileg dua bulan lalu. Kekecewaan kepada politisi-politisi kita dan tidak bergairahnya kampanye para caleg di Pemilu membuat saya menjadi apatis, tidak yakin kalau para wakil rakyat baik yang baru maupun yang hanya ganti kulit tersebut dapat melakukan perubahan yang berarti saat mereka bercokol di Senayan. Selain itu tidak ada satupun parpol yang menarik, yang muncul dengan visi yang jelas, dan mampu meyakinkan bahwa mereka memiliki misi untuk bangsa Indonesia, selain misi untuk mendapatkan kursi kekuasaan di Senayan.

Pileg menjadi sebuah trend ukuran kemakmuran yang baru. Seorang yang sukses dan kaya dalam hidupnya seakan belum merasa “complete” kalau belum duduk di Senayan. Para CEO perusahaan, pebisnis, pemilik stasiun TV, artis, berlomba-lomba “menjual diri” ke rakyat (lewat hambur-hamburkan kekayaannya) untuk mendapatkan status “wakil rakyat” tersebut. Sempat bingung juga apa yang mendorong mereka untuk berubah dari status “dilayani” menjadi “melayani”. Namun kebingungan itu tak berlangsung lama karena realita selama 5 tahun terakhir ini menunjukkan bahwa anggota DPR lebih banyak “dilayani” daripada “melayani”.

Demikianlah apatisnya saya, hingga 2 bulan lalu bahkan sampai beberapa minggu lalu.

Kampanye kedua kubu capres, Prabowo dan Jokowi semakin memanas mendekati hari-H dan tak urung membuat saya cukup tertarik. Black/negative campaign dilancarkan masing-masing kubu dan pendukungnya. Ada yang dengan cara kasar, ada yang dengan cara halus. Ada yang langsung dari timses-nya, ada yang lewat tangan ketiga, misalnya lewan agen pengatur berita di media bayaran. Bukan hal baru di negeri ini bahwa “kampanye” bisa dikemas dalam bentuk “berita”. Opini diubah menjadi fakta. Coba saja tengok dua televisi berita terbesar di negeri ini si biru dan si merah. Betapa angle kedua TV demikian berbeda sesuai dengan pilihan politik sang pemiliknya. Saya hampir tertawa ketika melihat tag “Presiden Pilihan Rakyat” di TV yang satu dan “Presiden Pilihan Kita” di TV yang kedua. “Ini editornya atau produser-nya ga bisa lebih kreatif?” ujar saya dalam hati. Bila ada yang perlu kita takutkan dari babak pemilu kali ini, bukanlah soal fasisme, otoritarianisme ataupun rezim boneka yang dirumorkan akan terjadi selama lima tahun ke depan. Yang perlu kita takutkan di masa depan dan sekarang telah nyata terjadi adalah kehilangan kebebasan dan independensi pers kita dalam meliput berita, tenggelam oleh pilihan politik sang pemilik media.

Turut bersimpati kepada kawan-kawan jurnalis yang memilih profesi ini karena terdorong oleh kebebasan berekspresi dan kemandirian dalam mencari kebenaran.

Bila ada yang perlu kita takutkan dari babak pemilu kali ini, bukanlah soal fasisme, otoritarianisme ataupun rezim boneka yang dirumorkan akan terjadi selama lima tahun ke depan. Yang perlu kita takutkan di masa depan dan sekarang telah nyata terjadi adalah kehilangan kebebasan dan independensi pers kita dalam meliput berita, tenggelam oleh pilihan politik sang pemilik media.

Fans Bola

Kembali ke topik, nah apa yang mendorong saya menjadi tertarik dan kemudian sekarang menulis tentang Pemilu 2014 ini adalah karena “terpaksa” membaca banjir kampanye kedua kubu capres di Twitter. Begitu semangatnya kedua kubu berkampanye sehingga bagi orang-orang yang independen (swing voters istilah kerennya, voter belum commit ke salah satu calon) mereka terlihat bak fans klub bola. Fans klub bola akan mengelu-elukan tim bola pujaannya dan menjelek-jelekkan tim lain. Ini modus lama yang juga dianut para pemeluk agama fundamentalis. Dengan merendahkan “lawan”, otomatis kamu menjadi lebih tinggi. Hehe semacam teori relativitas dan ada benarnya, buat si pelaku tentunya. Walaupun faktanya tinggi-rendah ini lebih sering adalah ilusi daripada kenyataan. Agama paling benar, klub paling hebat, dan sekarang capres paling hebat. Dan bila yang satu paling hebat, maka yang satunya mesti menjadi paling buruk untuk membenarkan kehebatan capres dukungannya. Lupa mereka bahwa para capres ini telah tersaring oleh modal, popularitas dan kompromi antar parpol. Mungkin bukan yang terhebat, namun pastinya dua capres ini yang paling populer. Berapa beda popularitas mereka? Tidak banyak. Berapa beda kehebatan mereka? Sangat jauh, demikianlah maunya masing-masing fans. Maka diciptakanlah black campaign untuk menistakan capres lawan ke lumpur terdalam sambil diiringi nyanyian janji-janji surgawi untuk mengangkat capres sendiri ke surga tertinggi. Dua-duanya ilusi untuk menipu orang lain dan meyakinkan diri.

Celakanya semakin sering ilusi, “kebohongan” ini diulang, semakin mereka sendiri menjadi percaya, dan lupa pada kenyataan. Saya melihat di Twitter bagaimana tokoh-tokoh intelektual bisa menjadi demikian terdelusi dengan dukungan terhadap capres pilihannya. Mungkin juga itu hanya kesan yang dibuat-buat agar timeline-nya menjadi ramai. Mungkin juga karena ia terhanyut dengan arus euforia. Namun itu tak sulit dipahami, hal serupa terjadi ketika kita begitu terserap saat mendukung tim bola. Saya sadar dan melakukannya sendiri saat mendukung Arsenal.🙂

Tulisan ini tidak bermaksud untuk meninggi-ninggikan capres yang satu dan merendah-rendahkan capres lainnya. Ini bukan kampanye politik blogger Kompasiana (ups, maaf kalau pengelola Kompasiana tersinggung). Saya bukan bagian dari tim sukses kedua capres dan tidak dibayar untuk tulisan ini. Tulisan ini adalah opini pribadi yang mencoba mengambil sudut pandang yang berbeda dalam melihat kedua capres ini. Barangkali tulisan ini menarik bagi Anda dan dapat dishare ke rekan-rekan terdekat. Barangkali tulisan ini bisa menjadi sesuatu yang lebih menyegarkan daripada broadcast-broadcast kampanye negatif terhadap salah satu capres yang juga sering saya terima. Barangkali Anda jadi bisa mengerti cara pikir anak Zaman Peralihan, bila Anda lahir dan besar di zaman yang berbeda. Atau barangkali juga tulisan ini sampah. Kalau begitu anggap saja Anda baru saja membaca tulisan sampah yang agak berbeda.🙂

Anak Zaman Peralihan

Kutipan di bagian paling atas itu berasal dari Soe Hok Gie, dari resensi buku “Zaman Peralihan”. Soe Hok Gie adalah seorang aktivis 66 yang sayangnya tidak hidup lebih lama daripada teman-teman angkatannya. Ia turut berperan dalam menurunkan Soekarno lewat demonstrasi Angkatan 66, namun tidak turut mengisi jabatan di pemerintahan Soeharto sebagaimana beberapa teman-teman aktivisnya. Ia adalah anak Zaman Peralihan, mereka yang merasakan masa transisi dari Orde Lama ke Orde Baru.

Soe Hok Gie meninggal di usia 27 tahun kurang sehari, sebagai seorang idealis yang belum terkorupsi oleh kekuasaan. Mungkin ia lebih bahagia mati muda daripada harus menua bersama Orde Baru dan kemudian meninggal sebagai koruptor. Sebagaimana pepatah yang pernah dikutipnya.

Seorang filsuf Yunani pernah menulis… Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.

Dalam buku “Catatan Seorang Demonstran”, Soe (ia lebih sering dipanggil Soe atau Hok-Gie daripada Gie) menceritakan bagaimana ia dan teman-temannya sempat berkolaborasi dengan TNI-AD dalam demonstrasi-demonstrasi anti-Soekarno di tahun 60-an. Perlu dipahami kondisi saat itu popularitas Soekarno di kalangan mahasiswa cukup buruk. Kondisi ekonomi yang menyedihkan, rakyat yang kelaparan dan melarat, Demokrasi Terpimpin, korupsi di kalangan pejabat istana, ditambah dengan obsesi Seokarno pada panggung politik internasional (yang memperburuk perekonomian) menjadikan Soekarno dan bawahannya target gerakan mahasiswa di penghujung masa kepemimpinannya. Bahkan sebelum menjadi mahasiswa, Hok-Gie sudah menunjukkan ketidaksukaannya pada pemimpin “otoriter”-nya saat itu.

Di “Catatan Seorang Demonstran” Hok-Gie menulis kalau ia melihat seorang yang dilihat dari tampangnya bukan pengemis namun karena kelaparan memungut dan memakan kulit mangga. Ia kemudian memberikan uang sakunya yang cuma Rp 2,50 kepada orang tersebut. Peristiwa tersebut terjadi dua kilometer di seberang istana negara. Dalam catatan hariannya ia menulis, “Ya, dua kilometer dari pemakan kulit mangga, ‘paduka’ kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik-cantik. Aku besertamu, orang-orang malang” (sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat saat itu bahwa Presiden Soekarno memiliki istri lebih dari satu dan sering mengadakan pesta di istana; baik di istana negara di Jakarta, istana Bogor, maupun istana Tampak Siring di Bali).

Hok-Gie bertemu dengan Presiden Soekarno tiga kali di istana dan inilah kesannya,

Setiap aku keluar dari istana, aku sedih dan kecewa. Sedangkan biasanya orang lain bangga jika bisa berjabatan tangan dengan Bung Karno.

Hok-Gie sempat menaruh harapan pada Soeharto di saat terjadi peralihan kekuasaan namun tidak lama kemudian ia kecewa. Fakta mulai terkuak beberapa saat setelah gerakan pembersihan PKI. Hok-Gie yang membenci PKI di masa pergerakannya, menulis tentang pembantaian ratusan ribu anggota dan keluarga PKI yang ditutupi Soeharto dan tentara. Ia juga mulai melihat kecenderungan pola Orde Lama akan terulang di Orde Baru ini seperti korupsi di lingkaran Istana, dan pembredelan pers.

Buku Zaman Peralihan diterbitkan di tahun 1995 dengan merangkum artikel-artikel tulisannya (yang dimuat di media massa dan dokumentasi pribadi) selama tiga tahun pertama Orde Baru (1967-1969). Selain tulisan-tulisan yang berupa kritik terhadap pemerintahan Orba, juga ada tulisan tentang kekecewaan pribadinya. Tentang perasaan ditipu oleh kekuasaan, oleh kawan seangkatan yang berkompromi dengan penguasa, tentang tragisnya idealisme yang harus berhadapan dengan culasnya kekuasaan. Ia melihat bagaimana pemuda-pemuda yang penuh dengan Idealisme akhirnya hanya punya dua pilihan. Yang pertama tetap bertahan dengan idealisme mereka, menjadi manusia-manusia yang non-kompromistis. Dan orang-orang dengan aneh dan kasihan akan melihat mereka sambil geleng-geleng kepala: ”Dia pandai dan jujur, tetapi sayangnya kakinya tidak menginjak tanah.” Atau dia kompromi dengan situasi yang baru. Lupakan idealisme dan ikut arus, bergabung dengan group yang kuat (Partai, Ormas, ABRI, dan lain-lainnya) dan belajarlah teknik memfitnah dan menjilat.

Di artikel “Siapakah Saya?” Hok-Gie menutup tulisannya dengan kalimat begini:

Kadang saya bertanya pada kenalan-kenalan saya, “Siapakah kamu?”

Seorang tokoh mahasiswa menjawab: “Saya adalah antek partai. Kebenaran ditentukan oleh DPP Partai.”

Anak Zaman Peralihan II

Walaupun saya bukanlah aktivis seberat Hok-Gie di masa muda (baca: mahasiswa), saya dan generasi angkatan saya bisa dikatakan juga adalah anak-anak Zaman Peralihan. Kami menyaksikan dan mengalami peralihan dari Orde Baru ke Orde Reformasi (belakangan nama ini tak lagi populer). Kami mengalami masa puncak pemerintahan Presiden Soeharto dan kejatuhannya. Kami mengalami demonstrasi mahasiswa anti-Soeharto. Kami mengalami bagaimana harapan-harapan baru akan Indonesia baru yang lebih bebas, lebih maju, lebih progresif, lebih demokratis muncul untuk kemudian menjadi kecewa setelah beberapa waktu. Angkatan 98 mengalami apa yang Hok-Gie dan Angkatan 66 alami. Sebagian dari Angkatan 98 itu saat ini juga telah menjadi wakil rakyat, sebagian malah sedang menduduki jabatan penting di pemerintahan. Sejarah pun berulang.

Saya pernah menulis kesaksian saya tentang peralihan Zaman tersebut di blog ini juga, empat tahun lalu: “Mei 98, Kelahiran Kembali Kebanggaan Bangsa”. Empat tahun lalu saya merasakan adanya perubahan setelah kita beralih Zaman. Namun beberapa tahun belakangan ini, perubahan untuk menjadi masyarakat yang lebih demokratis, lebih bebas dari korupsi tidak terjadi. Konflik antar aliran agama, pelarangan beribadah makin marak. Korupsi makin menjadi dan makin meluas, di daerah-daerah, dan bahkan masuk ke lembaga peradilan tertinggi yang sangat dihormati sebelumnya. Pemerintahan SBY periode kedua lebih mengecewakan daripada periode pertama. Daripada meninggalkan warisan negara yang lebih baik daripada periode pertamanya, Presiden SBY mewariskan parpol dan negara yang dililit masalah korupsi para pejabatnya, kebebasan berekspresi yang terancam, dan bangsa yang tidak punya visi.

Maka tak heran sebagian masyarakat kita bergairah dengan tawaran baru dari figur capres baru yang lebih segar. Prabowo dengan retorika ala Soekarno dan visi Ekonomi Kerakyatannya dan Jokowi dengan blusukannya dan kedekatannya dengan rakyat. Karena kata “Rakyat” barangkali telah lebih dahulu dicaplok oleh Prabowo, Jokowi sekarang memilih menggunakan kata “Kita”. One of us, ia tak beda dengan kita, barangkali begitu pesannya. Mungkin pesannya adalah “Kita” adalah kelas menengah, kelas kaya sampai ke kelas kaum ekonomi lemah. Kita adalah “Semua” yang kemudian menjadi lebih besar dari sekedar “Rakyat” (yang identik dengan kaum ekonomi lemah). Entahlah, bagaimanapun itu hanya gimmick sebuah kampanye.

Bagaimana Anak Zaman Peralihan II menyikapi Pemilu 2014 ini? Sebagian anak-anak zaman peralihan II telah menjadi antek dari partai. Kebenaran mereka ditentukan oleh DPP Partai. Mereka yang tadinya memuji Prabowo misalnya karena sebelumnya adalah “pasangan politik” (cue PDIP Pemilu 2009), sekarang berbalik menghujatnya. Demikian juga yang tadinya mengangkat Jokowi (cue Gerindra di Pilkada DKI 2012) sekarang menjatuhkannya. Antek Partai akan bertindak sesuai “Kebenaran” DPP. Hal sama terjadi pada rekan-rekan koalisi kedua kubu. Paling menarik adalah Kisah Hary Tanoesoedibjo dan grup medianya. Dari Nasdem ke Hanura dan sekarang ke Prabowo, berseberangan dengan Surya Paloh dan Wiranto, mantan partner politiknya. Antek-anteknya tentunya juga akan mengikuti “Kebenaran” versi boss-nya.

Dalam kondisi seperti ini, berbahagialah kita yang terlepas dari ikatan partai dan bukan antek siapapun. Kita bebas memilih atau tidak memilih capres di Pemilu nanti. Dan bila kita memilih seseorang yang tadinya tak kita pilih karena satu dan lain hal, itu tak berarti kita tidak konsisten. Karena pilihan kita bukanlah hasil instruksi DPP. Misal di Pilkada DKI lalu memilih Faisal Basri, dan tidak memilih Jokowi. Di Pilpres kali ini memilih Jokowi. Apakah hal ini kontradiktif? Tentu tidak. Namun bagaimana dengan orang-orang yang dulunya sering menghujat Jokowi dan sekarang mengelu-elukan Jokowi karena takut dengan proyeksi “otoritarianisme” ala Prabowo? Tidak sulit untuk menjawabnya. Mereka adalah antek dari propagandanya sendiri. Semakin sering “kebohongan” diulang, semakin mereka sendiri percaya, dan akhirnya lupa pada kenyataan.🙂

Beruntungnya sebagai anak Zaman Peralihan, saya pernah merasakan jatuhnya rezim yang semakin jauh dengan rakyatnya, merasakan harapan-harapan yang baru tumbuh, dan merasakan kekecewaan karena harapan-harapan itu tidak tercapai. Dengan bekal pengalaman ini, saya bisa menjadi lebih realistis. Mencoba menjadi Idealis (bukan antek) yang serealistis mungkin. Kita boleh memiliki harapan-harapan terhadap calon pemimpin baru, namun kita juga punya kebijaksanaan untuk menyadari bahwa tidak semua harapan tersebut dapat tercapai dan pemimpin bukanlah orang suci yang sempurna. Mampu menempatkan pemimpin politik pada proporsinya. Mereka bukan Nabi, bukan Messiah, bukan Juru Selamat. Mereka adalah orang-orang dengan ambisi luar biasa, dengan koneksi luas, dan rela mengorbankan kehidupan pribadinya demi popularitas, kekuasaan seorang Presiden. Itu realitanya. Kemasan luarnya adalah melayani, namun mereka menikmati memegang kekuasaan dan menerapkan ide-idenya tentang pemerintahan di level tertinggi. Memilih seorang Presiden artinya memilih seorang manusia yang kita percayai dapat lebih berhasil dalam eksperimennya dengan kekuasaan kepresidenan daripada gagal. Keduanya belum pernah menjadi seorang Presiden artinya keduanya akan bereksperimen. Nah yang mana yang bisa lebih kita percayai untuk diberikan kekuasaan untuk bereksperimen selama lima tahun?

Nomor Satu atau Dua

Menutup tulisan ini, pada akhirnya saya harus melakukan endorsement terhadap salah satu capres. Tapi tenang, tidak akan ada black campaign di sini. Pilihan ini berdasarkan opini subjektif setelah melihat track record capres, menerawang psikologi capres, melihat orang-orang di sekitar masing-masing capres. Melihat masa lalunya, aksinya di masa kini dan lalu memproyeksikan apa yang akan terjadi dengan eksperimennya di lima tahun mendatang. Apa yang saya inginkan di lima tahun mendatang? Kebebasan, keadilan dan kemakmuran dengan pondasi demokrasi. Lalu saya akan coba membandingkan capres mana yang lebih bisa saya percaya untuk lebih mampu mewujudkan ketiga hal itu selama masa jabatannya.

bersambung…

bagian II: Ambisi Sang Putra Mahkota

10 thoughts on “Pemilu 2014 dan Anak Zaman Peralihan (I)

  1. Analisa yang tajam…. Bacaan saya yang pertama waktu masih SMP adalah buku Soe Hok Gie Catatan Seorang Demonstran. Sampai sekarang saya masih kagum sama orang ini.

    Catatan Ben : Orang yang baik harus pilih orang baik pula…

    • “Orang yang baik harus pilih orang baik pula”

      haruskah ? Saya tidak memilih – tapi saya memang saya bukan orang baik juga sih.. Mudah-mudahan Tuhan sayang sama saya walaupun saya tidak memilih dan gak baik-baik banget .

      ‘baik’ di politik itu semu. ‘Baik’ di politik itu tetap mengusung kepentingan golongan. Kalau memang di politik itu benar-benar ada yang baik (=bersih,jujur,mengemban amanah dan kesejahteraan rakyat) gak mungkin sampe rakyat diharuskan untuk memilih 2 kubu seperti sekarang ini. Kalo ada kebaikan murni di politik gak mungkin akan ada black campaign yang memecah-mecah rakyat memakai issue agama dan ideologi seperti sekarang ini.

      Saya gak idealis. Saya tidak memilih juga bukan karena saya apatis. saya tidak memilih karena saya terlalu peduli dan saya muak dengan sistem yang ada dari pemilihan di daerah sampe sekarang ujungnya di pilpres ini.

      Dari dua capres muncul dua kubu kepentingan. Di masing-masing kubu ada yang bawa kepentingan golongan ada yang bawa ambisi & kepentingan pribadi. Apakah ada yang bawa kepentingan rakyat?? Liat aja orang-orangnya lah..

      Cawapres yang satu terkenal bangga mengakali mantan bossnya yang kurang awas penglihatannya supaya gak dipecat karena jalan-2 ke luar negri gak minta ijin. Cawapres yang lain menjabat mentri di posisi yang layaknya bertanggung jawab atas apbn yang konon bocor trilyunan itu.. Belum lagi orang-orang lain di belakang masing-2 capres.

      Siapa pun yang menang semoga mampu menghajar koruptor yang mengambil hak rakyat. Semoga gak akan ada rakyat Indonesia yang makan kulit mangga karena lapar. Itu harapan. Kalau jadi kenyataan baru 5 tahun lagi saya gagal golput.

      Untuk kali ini .. sorry ya.. biarin aja saya tetap menjadi orang yang gak baik deh …

    • Hehe definisi “orang baik” bisa membuat kita jadi “righteous” dan condong “preaching from the high ground”. Akibatnya sang hero hanya akan menjadi villain bagi mereka yang dianggap “tidak baik”.

  2. Ah, saya pikir saya bisa menemukan ‘sesuatu yang logis’ di sini untuk membantu saya menentukan pilihan. Sebagai swing voter, saya hanya membaca rekam jejak capres dari postingan politik yang sudah lama (sebelum 2012) karena belum terkontaminasi pilpres. Atau kalau dari blog, bukan blog dadakan yang dibuat setelah Januari 2014. Dst.

    Sampai hari ini, saya masih belum menentukan pilihan. Tapi sama seperti Anda, sepertinya saya juga cukup bersemangat nyoblos di pilpres.

  3. Pingback: Pemilu 2014 dan Anak Zaman Peralihan (part II) | mind over matter

  4. Reblogged this on curhat si emak and commented:
    Bila ada yang perlu kita takutkan dari babak pemilu kali ini, bukanlah soal fasisme, otoritarianisme ataupun rezim boneka yang dirumorkan akan terjadi selama lima tahun ke depan. Yang perlu kita takutkan di masa depan dan sekarang telah nyata terjadi adalah kehilangan kebebasan dan independensi pers kita dalam meliput berita, tenggelam oleh pilihan politik sang pemilik media.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s