Pemilu 2014 dan Anak Zaman Peralihan (part III)


Bila bagian pertama tulisan ini adalah prolog mengenai opini saya seputar Pilpres 2014, dan bagian kedua adalah soal figur Prabowo Subianto capres nomor 1, maka bagian ketiga ini akan berisi tentang figur Jokowi sebagai capres nomor 2 dan ditutup dengan pilihan pribadi saya.

Bila Prabowo adalah soal Ambisi, maka Jokowi adalah soal Kesempatan. Ambisi dan Kesempatan berbeda namun memiliki keserupaan. Yang pertama adalah soal sesuatu yang dicita-citakan dari dalam dan yang kedua adalah soal sesuatu yang hadir dari luar. Kesamaannya ada pada bila kedua hal itu tidak terealisasikan, maka tak akan terjadi perubahan dalam hidup. Ambisi dan Kesempatan juga perlu faktor-faktor penunjang lainnya dari dalam dan luar diri agar bisa berwujud menjadi Keberhasilan.

Kesempatan Anak Tukang Kayu

Berbeda dengan Prabowo yang lahir dari keluarga terpandang, sekolah di luar negeri dan memulai karir dengan mulus di militer, Jokowi adalah anak orang biasa saja. Ia lahir di tahun 1961, sepuluh tahun lebih muda daripada Prabowo. Saat ini usianya 53 tahun. Ia lahir sebagai anak dari seorang tukang kayu, besar di sekitar bantaran sungai di Solo, dan sering digusur. Pendek kata ia hidup miskin sejak lahir.

Bapaknya penjual kayu di pinggir jalan, sering juga menggotong kayu gergajian. Ia sering ke pasar, pasar tradisional dan berdagang apa saja waktu kecil. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pedagang dikejar-kejar aparat, diusir, pedagang ketakutan untuk berdagang. Sewaktu SD ia berdagang apa saja untuk biaya sekolah, membantu ayahnya yang tidak berkecukupan.

Video di atas (cek dari menit ke-5) menunjukkan bagaimana Jokowi terharu mengingat masa kecilnya. Ia meneteskan air mata (menit ke-8 dan ke-9) ketika bertemu tetangga “bantaran sungai”-nya di stasiun televisi. Dalam kata-katanya sendiri:

“Saya jadi… bayangin waktu kecil saya dulu… Hidup di bantaran sungai, di pinggir sungai, dalam sebuah kehidupan yang sangat sulit… dan… dan digusur. Dan sekarang ini saya… ya sangat bersyukur sekali.

Tuhan memberikan sebuah… jabatan, yang saya bisa… bisa berbuat sesuatu. Dan saya ingin melakukan sesuatu itu.” (sambil berlinangan air mata dan menahan emosi)

Jokowi lalu bersekolah di SD Negeri Solo, SMP dan SMA juga di Sekolah Negeri di Solo lalu berlanjut dengan studi perguruan tinggi di UGM, Fakultas Perhutanan. Ia memilih jurusan itu mungkin karena dibesarkan di lingkungan keluarga yang akrab dengan kayu. Setelah lulus sebagai Sarjana, Jokowi merantau ke Aceh, bekerja di BUMN bidang perkayuan. Ia kembali ke Solo karena istrinya hamil dan mulai bertekad untuk berbisnis di bidang kayu. Akhirnya pada tahun 1988, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri dengan nama CV Rakabu, yang diambil dari nama anak pertamanya. Jatuh bangun dalam bisnis, akhirnya Jokowi meraih kesuksesan dalam bisnis mebel sampai bisa mengekspor ke luar negeri.

Seperti biasa, ketika seseorang sukses dalam bisnis, maka relasi politik umumnya tak terhindarkan. Mulai masuk dalam jaringan politik kota, Jokowi akhirnya akrab dengan politikus-politikus di PDIP dan PKB. Ia diusung kedua parpol itu untuk menjadi walikota Solo di tahun 2005. Yang menariknya saat itu Jokowi mendapatkan suara terbanyak (99.747) suara meskipun tidak mampu mengungguli jumlah suara golput dan kartu rusak (104.248 suara). Ia menang dengan hanya sekitar 36% dari suara sah.

Ia memulai mandat pertamanya dengan rebranding Solo, pembenahan pedagang kaki lima, pembenahan pasar tradisional, pembenahan transportasi umum, program pendidikan dan kesehatan. Semua program populis itu sangat berhasil ditunjang dengan blusukannya ke seantero Solo, berkomunikasi dengan masyarakat secara langsung, menghantarkannya untuk menang di Pilkada lima tahun berikutnya dengan suara telak 90% (248.243 suara).

Popularitas Jokowi bahkan sampai ke level nasional dibantu dengan isu mobil nasional (Esemka) dan buruknya performa Gubernur di DKI. Baru 2 tahun menjabat di Solo, Jokowi dicalonkan sebagai DKI-1. Yang menariknya, usulan mencalonkan Jokowi dan Ahok sebagai cagub-cawagub di Pilkada DKI 2012 tidak lepas dari tangan Prabowo yang sedang mencari simpati publik tingkat nasional. Singkat kata, Jokowi kembali menang di DKI. Laju anak tukang kayu ini tak tertahankan.

Saat itu jelas Prabowo melihat kemenangan Jokowi dan Ahok sebagai kredit baginya. Modal baginya untuk menunjukkan kepada publik bahwa ia pro pejabat publik yang bersih dan kompeten. Menunjuk Ahok juga diharapkan bisa menghapuskan kekhawatiran etnis Tionghoa kepada prospek dirinya menjadi Presiden di tahun 2014 (karena isu kerusuhan Mei 98). Prabowo tidak menyangka hal yang dilakukannya ini malah balik makan tuan. Jokowi, dengan desakan partai (yang juga terdesak dengan elektabilitasnya di publik) akhirnya mencalonkan diri menjadi capres di Pilpres 2014 ini.

Selama di DKI, ia mengulangi modus yang sama saat ia menjabat di Solo. Blusukan, program-program populis menjadi andalan. Pembenahan nyata secara fisik juga terjadi. Waduk Pluit, Tanah Abang menjadi bukti janji Jokowi yang terealisasi. Program Kartu Jakarta Sehat melahirkan euforia dan trend baru masyarakat miskin untuk berobat di Rumah Sakit, yang bahkan menjadi trending di daerah-daerah. Pembenahan rumah susun, pedagang kaki lima, pencitraan ulang Satpol PP merupakan upaya-upayanya untuk semakin memanusiawikan Jakarta. Semua upayanya sejauh ini ditanggapi positif oleh warga Jakarta, meskipun ada beberapa kritik soal kecepatan aksi pembenahan yang dilakukan Jokowi-Ahok.

Apabila ada satu kritik penting warga Jakarta untuk Jokowi adalah soal Jakarta dijadikan batu loncatan untuk panggung nasional. Kritik ini bisa jadi valid karena itulah yang terjadi (walau itu tidak berarti ia tidak serius selama menjadi Gubernur DKI). Namun yang tak bisa dipungkiri adalah terjadinya krisis kepemimpinan di level nasional sehingga hanya ada figur-figur lama berusia di atas 60 tahun yang akan menjadi capres. Krisis kepemimpinan ini dan popularitas Jokowi yang luar biasa akhirnya menghadirkan kesempatan bagi Gubernur DKI yang belum selesai masa jabatannya ini. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Ia ditawarkan untuk menjadi Presiden RI 2014 oleh PDIP dan Jokowi akhirnya menerimanya. Bila berhasil, ia akan menjadi Presiden RI pertama setelah Sukarno yang adalah warga Sipil dan bukan keturunan orang besar.

Pilih Yang Mana?

Dalam menulis tentang sosok kedua capres ini, saya menemukan dua hal yang sangat kontras. Bila menulis soal Prabowo saya harus mencari referensi yang cukup banyak dan melakukan cek silang antar referensi, maka menulis tentang Jokowi cukup mudah. Hal itu dikarenakan masa lalu Prabowo yang penuh dengan polemik dan rumor, penuh dengan konflik. Sedangkan Jokowi seperti secarik kertas bersih yang berisi beberapa bullet point. Bukan berarti hidup Jokowi tidak lebih menarik atau berwarna daripada Prabowo, namun itu mungkin karena hidup Jokowi rasanya lebih sederhana dituliskan. Hidupnya seperti hidup sebagian besar kita (kecuali bagian karir politiknya yang gemilang). Lahir miskin, sekolah, bekerja, berwiraswasta, dan sukses. Tidak neko-neko. Sementara hidup Prabowo bagaikan tragedi di film. Misterius dan mengandung banyak pertanyaan soal motif, soal kebohongan, soal konflik.

Seorang Putra Mahkota dan seorang anak Tukang Kayu pun sudah adalah kenyataan yang demikian kontras. Calon penerus Soeharto dari militer yang gagal karena kejadian-kejadian eksternal yang tak terprediksikan sebelumnya dibandingkan dengan melejitnya karir politik warga Sipil yang tidak menyangka ia akan masuk demikian dalam pusaran kekuasaan. Jokowi hanya bercita-cita menjadi pengusaha kayu sedangkan Prabowo mungkin sejak kecil sudah bercita-cita menjadi seorang penguasa, pemimpin negara. Namun nasib dan jalan hidup mempertemukan mereka berdua saat ini, selangkah lagi menuju puncak kekuasaan politik negeri ini.

Saya cukup salut dengan tekad dan ambisi Prabowo yang berusaha memenangkan kekuasaan dengan mengikuti cara demokrasi. Hal itu harus diacungi jempol. Bahwa ia kemudian menggaet partner dari partai-partai kanan dan ormas seperti FPI, hal itu mudah dipahami bila kita memahami rekam jejaknya. Itu hal biasa baginya. Prabowo akan menggunakan cara apapun yang ia rasa efisien dan efektif untuk mencapai sasaran, sebagaimana seorang pemimpin pasukan tempur. Ia seorang ekstrovert yang mudah mendapatkan banyak teman, asalkan visinya sama. Tidak heran ia yang beradik Kristen tidak sulit mendapatkan dukungan dari ormas dan partai Islam sedangkan Jokowi yang semua keluarganya Islam mesti menghadapi isu keagamaan. Prabowo ahlinya soal membangun jaringan dukungan. Ia punya network dan dana. Saya rasa pasti ada sesuatu yang diharapkan dari organisasi dan partai pendukungnya yang bisa mempersatukan mereka semua. Pembagian kekuasaan, visi bersama tentang organisasi agama yang lebih mendapatkan tempat di kekuasaan akan menjadi hal lumrah setelah ia menjadi Presiden. Baginya tentu tidak sulit mengendalikan ormas seperti FPI, apalagi setelah melihat rekam jejaknya dengan Gada Paksi dll di Timor Timur.

Prabowo akan menjadi pemimpin yang mandiri, yang punya visi tentang Indonesia, gagasan tentang nasionalisme versi pribadinya, dan tidak mudah untuk digoyang ketika ia sudah yakin dengan apa yang hendak dilakukannya dengan kekuasaan puncak di negeri ini.

Jokowi sebaliknya adalah pengusaha mebel paling beruntung di dunia. Namun ada pepatah mengatakan keberuntungan hanya akan datang pada mereka yang bekerja keras. Ia bekerja keras, baik di bisnisnya maupun di jabatan politiknya. Orang-orang di sekitarnya bisa merasakan kerja kerasnya itu. Bisa merasakan semangatnya, kejujurannya dan ketulusannya. Ia juga berada di saat yang tepat, ketika kesempatan besar datang padanya. Saat terjadi krisis kepemimpinan di DKI, dan saat terjadi krisis kepemimpinan di level nasional. Saat demokrasi kita sudah cukup dewasa untuk menghargai Ratu Adil yang lahir dari lapisan masyarakat kecil. Saat kita mulai beradaptasi pada Meritokrasi daripada Kleptokrasi atau Teokrasi. Meritokrasi yang artinya siapapun ia, latar belakangnya, akan mendapatkan kesempatan berdasarkan pada hasil kerjanya, usahanya sendiri. Jokowi adalah perwujudan dari Meritokrasi Indonesia. Ia bukan anak pendiri partai, bukan pula anak dari pemimpin partai. Ia anak Tukang Kayu yang terus diberikan kesempatan demi kesempatan, yang lahir dari hasil kerja kerasnya.

Jokowi akan menjadi pemimpin yang butuh dukungan banyak pihak karena ia tidak punya modal kekuasaan pribadi. Kekuasaan diraihnya dengan kolaborasi, dengan dukungan rakyat. Ia akan mendasarkan gagasannya mengenai Indonesia ke depan dari hasil dialognya dengan rakyat, dari hasil blusukannya. Ia akan bangun, hidup, sukses ataupun jatuh bersama rakyat.

Bagi saya, memilih Prabowo artinya memilih babak masa lalu sejarah Indonesia yang misterius, penuh dengan pertanyaan yang belum terjawabkan. Masa lalu di mana militer negeri ini berutang darah dengan negara lain atau warga negaranya sendiri. Timor Leste, Papua, dan Aceh. Belum lagi koalisi Prabowo dengan ormas dan parpol “kanan” yang visinya tentang negeri ini tidak cocok dengan harapan saya pribadi. Saya ingin Indonesia yang lebih beragam, yang lebih bisa hidup sesuai semangat “Bhinneka Tunggal Ika”. Keberagaman adalah kekuatan, bukan kelemahan. Keseragaman mencoba menyembunyikan ketakutan dalam persamaan.

Memilih Jokowi artinya memilih fase berikutnya dari demokrasi: Meritokrasi. Fase di mana semua warga negara, tak peduli kelas ekonominya saat ia lahir, tak peduli siapa orang tuanya, memperoleh kesempatan yang sama untuk berkontribusi terhadap negara. Bahkan di level tertinggi sebagai seorang Presiden. Jika Jokowi sang anak Tukang Kayu bisa menjadi Presiden RI, maka di tahun-tahun berikutnya mungkin giliran Kusni si anak Nelayan, atau Aceng si anak pemulung. Indonesia menjadi negeri harapan untuk semua orang, yang tidak terbatas lagi untuk keluarga penguasa tertentu atau kelas tertentu. Selama seseorang berusaha dengan jujur, dengan kerja keras, hasil kerjanya akan diapresiasi oleh publik, seperti Jokowi.

Berbagai kampanye negatif dengan isu SARA menurut saya adalah pembodohan publik. Negeri ini sudah cukup lama berhasil mengatasi isu SARA, bahkan sejak berdirinya (Bhinneka Tunggal Ika). Hanya saja isu ini dipakai berulang kali oleh penguasa diktator demi melanggengkan kekuasaannya, mengadu domba rakyatnya sendiri dengan perbedaan. Sama halnya dengan kampanye negatif dengan isu fasisme dan otoritarianisme. Rezim Orba sudah lama berlalu, dan saya yakin masyarakat demokratis ini tidak akan sudi melepas kebebasannya. Masyarakat akan melawan, ketika indikasi opresif akan dilakukan. Kedua isu ini sama saja bentuknya, adalah fear mongering campaign. Kampanye untuk menebarkan rasa takut yang tidak berdasar.

Baik Prabowo ataupun Jokowi yang terpilih, masa depan Indonesia akan ditentukan oleh rakyatnya sendiri. Yang jadi masalah sekarang adalah seakan ada dua kubu rakyat yang punya visi berbeda drastis mengenai Indonesia. Jangan kuatir, itu hanya permainan marketing kedua tim sukses. Saya yakin sebagian besar kita masih memiliki gagasan, harapan akan masa depan yang mirip tentang Indonesia, hanya berbeda selera soal figur pemimpinnya. Kita semua ingin Indonesia yang Makmur, Adil, dan Aman. Hanya bagaimana mencapainya yang mungkin berbeda.

Sudah saatnya Indonesia beralih Zaman. Mari tinggalkan Zaman Ratu Adil. Zaman Pemimpin ditunjuk untuk kita, dipilih dari kelas penguasa, atau dari militer yang berkuasa. Ini Zaman Peralihan.

Saya memilih Jokowi untuk menjadi Presiden Republik Indonesia di Pilpres 9 Juli besok. Bagaimana dengan Anda?

7 thoughts on “Pemilu 2014 dan Anak Zaman Peralihan (part III)

  1. saya suka ngikutin tulisan Om Benhan, terutama yang tentang Arsenal.. setiap update-an tulisan Om benhan seputar Arsenal saya baca semua, dan bahkan terus berlanjut sampai ke ranah politik ini saya baca juga.. tapi yaa apa hendak dikata, Pilihan saya tetap pada No.1🙂
    Tapi kan gak masalah ada perbedaan, saling menghargai dan menghormati, semua akan lebih baik..🙂
    Ditunggu nih tulisan tentang Arsenal-nya lagi Om, tentang Rumor transfer lagi seru nih kayaknya heheheeee😀

    Salam Ind-ONE-sia😛

  2. Reblogged this on curhat si emak and commented:
    Memilih Jokowi artinya memilih fase berikutnya dari demokrasi: Meritokrasi. Fase di mana semua warga negara, tak peduli kelas ekonominya saat ia lahir, tak peduli siapa orang tuanya, memperoleh kesempatan yang sama untuk berkontribusi terhadap negara. Bahkan di level tertinggi sebagai seorang Presiden. Jika Jokowi sang anak Tukang Kayu bisa menjadi Presiden RI, maka di tahun-tahun berikutnya mungkin giliran Kusni si anak Nelayan, atau Aceng si anak pemulung. Indonesia menjadi negeri harapan untuk semua orang, yang tidak terbatas lagi untuk keluarga penguasa tertentu atau kelas tertentu. Selama seseorang berusaha dengan jujur, dengan kerja keras, hasil kerjanya akan diapresiasi oleh publik, seperti Jokowi.

  3. ªa̲̅kц.. Nangis baca artikel Anda,,,
    Smga doa Anda dan ketulusan rakyat Indonesia,,, didengar ALLAH, Tuhan YME,, aamiin

  4. Reblogged this on Planet Hijau and commented:
    Memilih Jokowi artinya memilih fase berikutnya dari demokrasi: Meritokrasi. Fase di mana semua warga negara, tak peduli kelas ekonominya saat ia lahir, tak peduli siapa orang tuanya, memperoleh kesempatan yang sama untuk berkontribusi terhadap negara. Bahkan di level tertinggi sebagai seorang Presiden. Jika Jokowi sang anak Tukang Kayu bisa menjadi Presiden RI, maka di tahun-tahun berikutnya mungkin giliran Kusni si anak Nelayan, atau Aceng si anak pemulung. Indonesia menjadi negeri harapan untuk semua orang, yang tidak terbatas lagi untuk keluarga penguasa tertentu atau kelas tertentu. Selama seseorang berusaha dengan jujur, dengan kerja keras, hasil kerjanya akan diapresiasi oleh publik, seperti Jokowi.

  5. Memberikan pencerahan karena sy dukung jokowi kalau memang hasil perhitungan suara di KPU menunjukan beliau memperoleh suara terbanyak.
    Meski pd saat pencoblosan saya pilih Prabowo dengan berbagai alasan yg tentunya bukan atas dasar fitnah2 di Obor Rakyat dan juga bukan atas dasar agama apalagi atas dasar uang. Saya tidak akan kemukakan alasan pilihan saya karena tdk mau diperdebatkan yang pasti saya menghormati siapapun pemilih Jokowi, begitupun saya ingin dihormati/dihargai dengan pilihannya. Salam kenal mas Benhan, salut utk tulisannya yg jernih

  6. sudah yakin kalo jokowi sering digusur dan berpindah pindah serta hidup miskin? sudah tanya para tetangga jokowi dahulu? sudah yakin kalo ayah jokowi tukang kayu? saat mengulasprabowo pake cross chek data.. tapi saat jokowi kok lsg telen mentah2.. berimbanglah supaya yg baca tidak tersesatkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s