Penderitaan, Kekecewaan dan Rasa Sakit


Browsing artikel-artikel lama di milis grup, ketemu sebuah artikel yang saya post hampir sepuluh tahun yang lalu. Mudah-mudahan bermanfaat untuk yang mereka yang lagi membutuhkannya. Tentang kekecewaan dan penderitaan. Jangan galau dulu, baca sampai selesai dan niscaya Anda bisa lebih bahagia. :) 

PENDERITAAN, KEKECEWAAN, DAN RASA SAKIT

Oleh : Jansen H. Sinamo *

Pada tahun 1967 Gerhard Gschwandtber mengadakan riset mengenai kekecewaan dan menemukan bahwa di Library Of Congress terdapat 1500 judul buku mengenai kesuksesan sedangkan buku mengenai kekecewaan hanya 16 judul saja. Ini mengherankan Gerhard karena observasi menunjukkan bahwa kekecewaan dan dukacita sesungguhnya merupakan pengalaman paling akrab dengan manusia ketimbang kesuksesan dan kegembiraan. Artinya dukacita lebih sering terjadi daripada sukacita. Kekecewaan lebih banyak terjadi daripada kegembiraan.

Lalu mengapa topik kekecewaan begitu sedikit dibahas orang?

Mengapa kesuksesan dan sukacita yang hanya sedikit dirasakan orang atau dirasakan oleh sedikit orang saja mendapat perhatian begitu banyak? Dan apakah kekecewaan itu sehingga ia dihindari orang sekuat tenaga dan para sarjana pun kurang berminat membahasnya padahal dikatakan tadi kekecewaan selalu datang terus menerus?

Saya ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan 3 tujuan.

Pertama, agar Anda para pembaca lebih mampu mengelola kekecewaan yang sering menimpa Anda. Kedua, bagaimana menggunakan kekecewaan menjadi batu loncatan menuju sukacita. Ketiga, agar Anda lebih mampu meningkatkan
kualitas rasa bahagia Anda di tengah-tengah dunia yang selalu merasa kecewa.

Pertama, kekecewaan itu perlu dijelaskan dulu. Menurut kamus Webster, kekecewaan adalah perasaan pedih karena menginginkan sesuatu namun tidak mendapatkannya. Mengharapkan sesuatu namun tidak terkabul.

Perhatikanlah daftar kekecewaan di bawah ini. Rasanya sangat dekat dengan pengalaman kita dan orang-orang di sekitar kita bukan?

  • Anda menyekolahkan anak habis-habisan sampai sarjana tetapi anak Anda tidak mampu menjadi orang kaya yang bisa membantu keluarga besar Anda, maka Anda kecewa.
  • Anda mengawinkan anak, tetapi ternyata menantu Anda tidak sebaik yang diharapkan, maka Anda kecewa lagi.
  • Anda berharap putri Anda menikah dengan pria baik-baik dari keluarga kaya dan terhormat, tetapi putri Anda memilih kawin lari dan melahirkan anak di luar nikah dengan laki-laki brengsek, maka hati Anda sangat kecewa.
  • Anda menikah dengan baik-baik di penghulu dan dirayakan dengan meriah pula, tetapi bertahun-tahun sudah lewat namun Anda tidak mendapat anak juga, padahal tetangga Anda yang anaknya kawin di luar nikah justru sudah punya dua anak yang lucu-lucu, maka Anda pun kecewa juga.
  • Anda sudah berusaha keras untuk setia pada suami, tetapi suami Anda tetap menyeleweng juga, sudah pasti Anda kecewa.
  • Anda berharap Pak Bupati dan Gubernur datang ke pesta pernikahan anak Anda tetapi sang pejabat tidak muncul, maka Anda kecewa berat.
  • Anda menanam kopi di kebun, tetapi ketika panen tiba harganya anjlok di pasar, lalu Anda juga kecewa.
  • Anda bekerja jujur, rajin, dan sungguh-sungguh, tetapi sejawat Anda yang brengsek dan cuma pandai menjilat yang naik pangkat, maka kemudian Anda juga kecewa.
  • Anda membuka toko dan puluhan tahun bekerja dengan keras serta berhemat mati-matian sehingga toko Anda maju dan menjadi besar, tetapi dalam sehari habis dijarah dan dibakar massa, pasti Anda sangat kecewa.
  • Anda mengharapkan sang kekasih hati membawa oleh-oleh pada malam minggu, tetapi dia datang dengan tangan kosong dan terlambat lagi, hati Anda pun kecewa.
  • Anda mengharapkan pesta keluarga Anda dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, tetapi yang datang cuma keroco-keroco, maka Anda juga kecewa lagi.
  • Anda mengharapkan sumbangan besar dari seseorang yang Anda anggap cukup kaya tetapi sumbangannya ternyata sedikit, maka Anda kecewa setengah mati.
  • Anda berharap pendeta Anda dan isterinya berperilaku seperti nabi yang suci dan penuh kasih sayang, tetapi mereka ternyata gila hormat dan gila duit, maka Anda kecewa berat.
  • Anda berharap dijamu dan dihormati oleh seseorang yang berhutang budi pada Anda, tetapi sebaliknya dia menghina Anda, maka Anda pun kecewa juga.
  • Anda melihat bahwa tetangga Anda bertambah kaya sedangkan Anda tidak padahal jabatan suami Anda lebih tinggi, ini pun mengakibatkan kekecewaan.
  • Anda berharap seseorang agar jatuh melarat dan ditimpa penyakit namun nyatanya dia bertambah makmur dan sehat walafiat, Anda pun amat kecewa.
  • Anda sudah bekerja setengah mati tetapi kerja keras Anda dihabiskan oleh tikus dan hama wereng, maka Anda juga kecewa lagi.
  • Anda berharap boss mendukung Anda, tetapi malah menjatuhkan Anda, maka Anda pun kecewa.
  • Anda sudah mendukung seorang untuk menjadi pejabat dengan uang dan doa Anda, tetapi ketika sang pejabat sudah duduk di kursinya dia melupakan Anda, maka Anda pun kecewa berat.
  • Anda berharap anak buah patuh dan tunduk pada Anda, namun ternyata dia bisa melawan dan susah diatur, maka Anda pun kecewa juga.

Anda tentu bisa menambahkan daftar di atas seribu lagi. Namun dengan daftar ini saja kita sudah mampu melihat bahwa sesungguhnya kekecewaan memang lebih sering kita alami daripada sukacita.

Maka begitulah orang kecewa pada Bupati, kecewa pada IMF, kecewa pada Amerika, kecewa pada Bank Dunia, kecewa pada Harmoko, kecewa pada orangtua, kecewa pada Soeharto, kecewa pada Habibie, kecewa pada anak, kecewa pada menantu, kecewa pada tetangga, kecewa pada matahari, kecewa pada hujan, kecewa pada ABRI, kecewa pada kakak, kecewa pada adik, kecewa pada Pak Lurah, kecewa pada Pak Camat, kecewa pada kawan, kecewa pada sahabat, kecewa pada isteri, kecewa pada suami, kecewa pada pendeta, kecewa pada Golkar, dan seterusnya dan seterusnya. Bahkan orang bisa sangat kecewa pada Tuhan.

Dua Macam Kekecewaan

Kekecewaan jenis pertama disebut kekecewaan bodoh. Mengapa disebut bodoh? Jawabnya karena kekecewaan itu sesungguhnya tidak perlu terjadi. Namun terjadi juga karena kita bodoh. Akibatnya kegembiraan kita yang wajar terampas, sukacita yang sudah di tangan hilang lenyap.

Kita dengan bodohnya mau kecewa dan membiarkan hati kita larut dalam kepahitan yang mengakibatkan dendam, amarah, dukacita, stress, depressi, hilang ingatan, kebencian, sungut-sungut, fitnah, kabar bohong, bahkan kekerasan dan pembunuhan.

Sebab utama kekecewaan bodoh adalah harapan yang tidak-tidak, ambisi yang tidak masuk akal, keinginan yang mustahil,
keserakahan, dan ilusi atau impian di siang bolong. Ingatlah, Tuhan saja tidak memperoleh semua yang diinginkanNya. Adalah keinginan Tuhan agar semua manusia masuk surga tetapi kita tahu ada banyak yang masuk neraka. Artinya,
keinginan Tuhan tak semua kesampaian. Kristus pun kehilangan Yudas Iskariot dan tentu hatinya sedih ketika Petrus menyangkal diriNya tatkala dukungannya paling dibutuhkan. Jadi janganlah kita bodoh dengan berharap semua keinginan
kita bisa tercapai.

Berikut adalah contoh-contoh kekecewaan bodoh.

  1. Anda berharap Ketua Umum PDI-Perjuangan di Jakarta mengirimkan karangan bunga pada pesta sunatan anak Anda padahal Anda cuma seorang penggembira PDI kelas kelurahan di ujung pulau Sumatera.
  2. Anda berharap kaya raya dengan memasang lotere atau main judi padahal Anda tahu penjudilah yang biasanya bangkrut jatuh miskin.
  3. Anda berharap dengan datang ke Jakarta maka dengan sekejap bisa makmur dan mengkilat seperti orang yang di TV itu, padahal kuliah tingkat dua pun Anda tak selesai akibat kemalasan Anda.
  4. Anda berharap hidup bahagia, tenteram, dan terhormat dengan menuruti ajakan kawin seorang pria brengsek padahal Anda tahu dia masih beristeri dan agamanya pun berbeda dengan Anda.
  5. Anda berharap semua orang sebaik Anda, seramah Anda, sejujur Anda, dan semanis Anda.
  6. Anda berharap semua orang yang pernah Anda bantu akan membantu Anda pula pada saatnya.
  7. Anda berharap agar suami Anda selalu baik, melindungi, tidak egois, lembut, bertanggungjawab, dan bersikap kesatria seperti Arjuna.
  8. Anda berharap hari tak pernah mendung, rezeki tak pernah seret, badan selalu sehat.
  9. Anda berharap hidup makmur, mewah, penuh gengsi padahal jabatan Anda adalah ulama atau pendeta yang memang diharapkan dan seharusnya hidup sederhana.
  10. Anda berharap agar Tuhan menghukum orang yang Anda benci padahal rencana Tuhan lebih besar dari keinginan Anda yang egoistik.

Jelaslah semua harapan di atas sebenarnya too good to be true bahkan sebenarnya mustahil. Maka dengan mudah dimengerti bahwa kekecewaan-kekecewaan seperti di atas terjadi karena kebodohan kita sendiri kok mau menginginkan hal-hal yang mustahil. Agar kita terhindar dari kekecewaan bodoh seperti di atas berikut adalah sejumlah saran:

  • Hiduplah lebih realistik. Jangan neko-neko.
  • Bersikaplah wajar-wajar.
  • Jangan menganggap diri sendiri sudah hebat atau jago.
  • Bandingkan diri sendiri dengan orang lain secara proporsional.
  • Pelajari hukum alam, dan ketahuilah Anda tidak mungkin bisa menipu hukum alam. Andalah yang kena batunya jika nekat melawan hukum alam, moral dan kebenaran.
  • Ingat, tidak ada makan gratis di bumi ini. Seseorang pasti membayarnya untuk Anda, dan pada suatu hari pasti ditagihnya.
  • Jangan percaya pada keajaiban buatan manusia.
  • Curigalah pada apa saja yang terlalu indah, terlalu muluk, atau terlalu gampang. Biasanya di belakangnya pasti ada penipuan.

Ketahuilah hidup ini pada dasarnya susah. Jadi jangan percaya undian. Jangan percaya pada janji iklan berhadiah. Jangan buang waktu mengisi kupon-kupon di supermarket. Jangan percaya pada program penggandaan uang. Itu semua cuma angin surga demi keuntungan mereka.

Ingatlah, karya tangan Anda sendirilah yang membuat Anda senang, berkecukupan, dan bahagia. Apa yang Anda terima dengan sangat gampang akan lenyap dengan sangat gampang pula. Jangan bermimpi, hasil keringat dan jerih payah sendiri, itulah tetap tinggal dengan berkat Tuhan.

Kekecewaan Yang Sehat

Lawan kekecewaan bodoh ialah kekecewaan yang sehat yaitu kekecewaan yang Anda rasakan ketika rasa keadilan tidak terpenuhi dan kebenaran dijungkirbalikkan. Kebaikan dibalas kejahatan. Kerja keras hilang percuma. Cinta tulus dibalas dengan pengkhianatan. Kasih menjadi dosa. Orang malas naik pangkat, orang jujur disingkirkan. Kebaikan dilecehkan, kesucian diolok-olok. Orang kaya diperkaya, orang miskin dipinggirkan. Konglomerat dilindungi, kita semua rakyat dicurangi.

Jika yang begini terjadi maka kekecewaan adalah reaksi yang wajar. Malahan jika Anda tidak kecewa ketika hal-hal di atas terjadi, saya berpendapat hati nurani Anda sudah kumuh. Kekecewaan seperti ini selain sehat, juga berpotensi mengubah Anda menjadi orang besar. Ada orang bijak berkata, “Kekecewaan diberikan Tuhan pada manusia biasa agar kita menjadi manusia luar biasa.”

Tengoklah misalnya Abraham Lincoln. Hampir seluruh riwayat hidupnya diisi oleh rangkaian kegagalan dan kekecewaan. Tapi ia selalu bangkit. Tidak penting berapa kali engkau gagal, kata Lincoln, yang penting berapa kali engkau bangkit. Ujung-ujungnya dia berhasil menjadi presiden pada tahun 1861, dan dicatat sebagai presiden Amerika terbesar.
Untuk mengubah rasa kecewa jenis ini menjadi energi yang positif maka berikut adalah sejumlah saran saya:

  • Ketika Anda terkena rasa kecewa maka carilah penghiburan sejati agar hati Anda lebih ringan, misalnya musik, jalan-jalan, tidur panjang, atau cuti. Jika hati Anda sudah enteng, terhibur, maka pikiran rasional akan kembali pada Anda, dan perspektif Anda menjadi lebih baik.
  • Hindari pelarian. Pelarian yang umum dari kekecewaan adalah gila kerja (workaholik), obat bius, alkohol, agressi, depressi, balas dendam, makan berlebihan, merokok berlebihan, dan melamun serta bermuram durja.
  • Bicarakan kekecewaan Anda dengan seseorang yang cerdas emosinya, bersikap simpatik dan empatik, bersikap dewasa, dan dapat dipercaya.
  • Ungkapkan kekecewaan Anda dalam bentuk tulisan, misalnya di catatan harian atau sebuah karangan. 
  • Ungkapkan kekecewaan Anda kepada Tuhan dalam bentuk doa.
  • Gubahlah kekecewaan Anda menjadi sebuah musik atau syair (jika punya bakat).
  • Cari petunjuk dari seseorang sudah mampu mengatasi kekecewaan serupa.
  • Bacalah kisah orang-orang besar tentang bagaimana cara mereka mengatasi kekecewaan yang dialaminya, misalnya:
    • Mahatma Gandhi yang ditendang dari kabin kereta api kelas satu dan kemudian berubah menjadi pejuang gerakan tanpa kekerasan (satyagraha) yang mampu mengusir penjajah Inggris dari bumi India.
    • Nelson Mandela yang keluar dari penjara selama 29 tahun tanpa dendam dan sakit hati.
    • Nietzche yang berkata, “Apa yang tidak bisa mematikanku sesungguhnya menguatkan aku”
    • Thomas A. Edison yang pabrik dan laboratorumnya terbakar namun sanggup mengangumi nyala api yang hebat itu, seraya berkata, “Tidak apa-apa semua ini terbakar karena sekarang kita berkesempatan membangun gedung yang lebih modern dan besar.
    • William Soerjadjaya, mantan pemilik Grup Astra yang kehilangan kerajaan bisnisnya tetapi masih tetap tersenyum dan tetap sanggup memulai bisnis baru di usia lanjutnya.
    • Kuntoro Mangkusubroto yang dipecat oleh atasannya Menteri Pertambangan dan Energi di zaman Kabinet Pembangunan VI gara-gara kasus Busang, tetapi yang berpikir positif dan konstruktif, kemudian terpilih menjadi Menteri menggantikan si pemecatnya setahun kemudian.
    • AH Nasution yang disingkirkan oleh Soeharto secara sistematik sejak 1966, mampu bertahan selama 32 tahun sampai usia lanjut, menulis puluhan buku tebal, menjadi mentor moral bagi banyak orang, mencapai status jenderal besar, semakin berkharisma, sanggup berdamai dengan Soeharto, dan masih sempat menyaksikan tragedi kejatuhan Soeharto yang dramatik.
    • Cacuk Sudarijanto yang dipecat sebagai Dirut Telkom, menjadi orang terbuang sekian tahun, tetapi mampu come back ke dunia bisnis, menjadi Dirut Bank Mega, dan menjadi Ketua Alumni ITB periode 1998-2003.

Orang-orang Dekat yang Mengecewakan

Yang paling sering mengecewakan Anda pastilah orang-orang dekat Anda  seperti orangtua, anak, isteri/suami, kakak/adik,
ipar/saudara. Terhadap mereka, inginkanlah yang terbaik tetapi pasanglah sikap zero expectation (tuntutan nol). Artinya jika Anda berbuat baik jangan harapkan imbalan, apalagi menuntut balasan agar mereka berbuat setimpal. Jadi berbuat baiklah dengan tulus.Terima kasih pun jangan harapkan.

Sadarilah dunia ini memang bukan dunia yang adil. Ingatlah, para nabi pun selalu dilecehkan bahkan dihujat dan dikejar-kejar. Mereka pun tidak mampu menyenangkan semua orang.

Bergembiralah bahwa Anda masih bisa memberi dan sanggup berbuat baik. Itu saja adalah sebuah kehormatan. Untuk menghibur Anda, ketahuilah bahwa Tuhan akan membalas kebaikan Anda berlipat ganda jika penerima kebaikan Anda itu
tidak tahu berterimakasih. Jika orang yang Anda baiki itu tahu berterimakasih dan kemudian membalas perbuatan baik Anda, jangan pula ditolak, tetapi terimalah sebagai bonus, dan karenanya bergembiralah dua kali.

Jika orang yang Anda baiki itu sudah keterlaluan, Anda tak sanggup lagi bersikap baik pada dia, maka jauhi sajalah dia.

Putuskan saja hubungan dengan dia tanpa terjebak dalam kebencian dan dendam kesumat. Batasi diri, jaga jarak. Kalau Anda mampu, doakanlah orang brengsek itu. Jika hasil doa Anda tidak layak diterimanya, maka doa Anda akan
kembali pada Anda.

Jika tidak mampu mendoakannya, jangan pula mengutuknya, siapa tahu kutuk Anda bisa memakan Anda. Serahkan saja agar keadilan Tuhan yang terjadi.

Kemudian, jangan memelihara karakter meminta, menuntut, dan mengemis dari orang lain untuk diri sendiri. Jika Anda harus meminta dan menuntut maka minimal itu demi kepentingan bersama, kalau bisa demi kepentingan dia yang
Anda tuntut, tapi jangan pernah untuk diri sendiri.

Sebaliknya suburkanlah karakter memberi, membagi, dan berbagi dengan orang lain. Anggaplah bahwa Anda adalah wakil Tuhan untuk membagi-bagikan rezeki dan berkat-berkat surgawi. Tapi jangan terlalu ekstrim. Jangan sampai susu buat anak sendiri terputus gara-gara terlalu bersemangat membantu anak tetangga. Yang seperti itu bisa-bisa adalah bentuk
kesombongan baru yang pada suatu saat akan berbalik mengecewakan Anda.

Penutup

Saya mau menutup tulisan ini dengan kisah dari bawah laut. Pada suatu  hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. Anakku, kata
sang Ibu sambil bercucuran air mata, Tuhan tidak memberikan kita bangsa kerang sebuah tangan pun sehingga Ibu tak bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam.

Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa pedih dan sakit yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat, kata Ibunya dengan sendu namun lembut.

Maka si anak kerang pun melakukan nasihat ibundanya.

Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan bertahun-tahun. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Makin lama mutiaranya makin besar. Rasa sakit menjadi terasa wajar. Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada seribu ekor kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

Penderitaan membuat seekor kerang biasa menjadi kerang luar biasa.

Kekecewaan dan penderitaan pun dapat mengubah orang biasa menjadi orang luar biasa. Jika Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Ibu Teresa, Mahatma Gandhi, AH Nasution, Cacuk Sudarijanto, dan Kuntoro Mangkusubroto mampu melakukannya, saya yakin, Anda pun mampu melakukannya. Anda sudah selesai membaca sampai di sini, itu tanda bahwa Anda sedang berjalan menuju status manusia luar biasa dan meninggalkan status manusia biasa.

Jadi saya ucapkan selamat menempuh jalan susah, itulah jalan menuju keagungan, jalan menuju kemuliaan, the road less
traveled, kata M. Scott Peck. Dan itulah jalan menuju kebahagiaan sejati.

* Jansen H. Sinamo adalah seorang penulis, pembicara, pengembang pelatihan sumber daya manusia berbasis etos yang pertama di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s