Penderitaan, Kekecewaan dan Rasa Sakit


Browsing artikel-artikel lama di milis grup, ketemu sebuah artikel yang saya post hampir sepuluh tahun yang lalu. Mudah-mudahan bermanfaat untuk yang mereka yang¬†lagi membutuhkannya. Tentang kekecewaan dan penderitaan. Jangan galau dulu, baca sampai selesai dan niscaya Anda bisa lebih bahagia. ūüôā¬†

PENDERITAAN, KEKECEWAAN, DAN RASA SAKIT

Oleh : Jansen H. Sinamo *

Pada tahun 1967 Gerhard Gschwandtber mengadakan riset mengenai kekecewaan dan menemukan bahwa di Library Of Congress terdapat 1500 judul buku mengenai kesuksesan sedangkan buku mengenai kekecewaan hanya 16 judul saja. Ini mengherankan Gerhard karena observasi menunjukkan bahwa kekecewaan dan dukacita sesungguhnya merupakan pengalaman paling akrab dengan manusia ketimbang kesuksesan dan kegembiraan. Artinya dukacita lebih sering terjadi daripada sukacita. Kekecewaan lebih banyak terjadi daripada kegembiraan.

Lalu mengapa topik kekecewaan begitu sedikit dibahas orang?

Mengapa kesuksesan dan sukacita yang hanya sedikit dirasakan orang atau dirasakan oleh sedikit orang saja mendapat perhatian begitu banyak? Dan apakah kekecewaan itu sehingga ia dihindari orang sekuat tenaga dan para sarjana pun kurang berminat membahasnya padahal dikatakan tadi kekecewaan selalu datang terus menerus?

Saya ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan 3 tujuan.

Pertama, agar Anda para pembaca lebih mampu mengelola kekecewaan yang sering menimpa Anda. Kedua, bagaimana menggunakan kekecewaan menjadi batu loncatan menuju sukacita. Ketiga, agar Anda lebih mampu meningkatkan
kualitas rasa bahagia Anda di tengah-tengah dunia yang selalu merasa kecewa.

Pertama, kekecewaan itu perlu dijelaskan dulu. Menurut kamus Webster, kekecewaan adalah perasaan pedih karena menginginkan sesuatu namun tidak mendapatkannya. Mengharapkan sesuatu namun tidak terkabul.

Perhatikanlah daftar kekecewaan di bawah ini. Rasanya sangat dekat dengan pengalaman kita dan orang-orang di sekitar kita bukan?

  • Anda menyekolahkan anak habis-habisan sampai sarjana¬†tetapi anak Anda tidak¬†mampu menjadi orang kaya yang bisa membantu keluarga¬†besar Anda, maka Anda¬†kecewa.
  • Anda mengawinkan anak, tetapi ternyata menantu Anda¬†tidak sebaik yang¬†diharapkan, maka Anda kecewa lagi.
  • Anda berharap putri Anda menikah dengan pria baik-baik¬†dari keluarga kaya¬†dan terhormat, tetapi putri Anda memilih kawin lari¬†dan melahirkan anak di¬†luar nikah dengan laki-laki brengsek, maka hati Anda¬†sangat kecewa.
  • Anda menikah dengan baik-baik di penghulu dan¬†dirayakan dengan meriah pula,¬†tetapi bertahun-tahun sudah lewat namun Anda tidak¬†mendapat anak juga,¬†padahal tetangga Anda yang anaknya kawin di luar nikah¬†justru sudah punya¬†dua anak yang lucu-lucu, maka Anda pun kecewa juga.
  • Anda sudah berusaha keras untuk setia pada suami,¬†tetapi suami Anda tetap¬†menyeleweng juga, sudah pasti Anda kecewa.
  • Anda berharap Pak Bupati dan Gubernur datang ke pesta¬†pernikahan anak Anda¬†tetapi sang pejabat tidak muncul, maka Anda kecewa¬†berat.
  • Anda menanam kopi di kebun, tetapi ketika panen tiba¬†harganya anjlok di¬†pasar, lalu Anda juga kecewa.
  • Anda bekerja jujur, rajin, dan sungguh-sungguh, tetapi¬†sejawat Anda yang¬†brengsek dan cuma pandai menjilat yang naik pangkat,¬†maka kemudian Anda juga¬†kecewa.
  • Anda membuka toko dan puluhan tahun bekerja dengan¬†keras serta berhemat¬†mati-matian sehingga toko Anda maju dan menjadi besar,¬†tetapi dalam sehari¬†habis dijarah dan dibakar massa, pasti Anda sangat¬†kecewa.
  • Anda mengharapkan sang kekasih hati membawa oleh-oleh¬†pada malam minggu,¬†tetapi dia datang dengan tangan kosong dan terlambat¬†lagi, hati Anda pun¬†kecewa.
  • Anda mengharapkan pesta keluarga Anda dihadiri oleh¬†tokoh-tokoh penting,¬†tetapi yang datang cuma keroco-keroco, maka Anda juga¬†kecewa lagi.
  • Anda mengharapkan sumbangan besar dari seseorang yang¬†Anda anggap cukup kaya¬†tetapi sumbangannya ternyata sedikit, maka Anda kecewa¬†setengah mati.
  • Anda berharap pendeta Anda dan isterinya berperilaku¬†seperti nabi yang suci¬†dan penuh kasih sayang, tetapi mereka ternyata gila¬†hormat dan gila duit,¬†maka Anda kecewa berat.
  • Anda berharap dijamu dan dihormati oleh seseorang yang¬†berhutang budi pada¬†Anda, tetapi sebaliknya dia menghina Anda, maka Anda¬†pun kecewa juga.
  • Anda melihat bahwa tetangga Anda bertambah kaya¬†sedangkan Anda tidak padahal¬†jabatan suami Anda lebih tinggi, ini pun mengakibatkan¬†kekecewaan.
  • Anda berharap seseorang agar jatuh melarat dan ditimpa¬†penyakit namun¬†nyatanya dia bertambah makmur dan sehat walafiat, Anda pun amat kecewa.
  • Anda sudah bekerja setengah mati tetapi kerja keras¬†Anda dihabiskan oleh¬†tikus dan hama wereng, maka Anda juga kecewa lagi.
  • Anda berharap boss mendukung Anda, tetapi malah¬†menjatuhkan Anda, maka Anda¬†pun kecewa.
  • Anda sudah mendukung seorang untuk menjadi pejabat¬†dengan uang dan doa Anda,¬†tetapi ketika sang pejabat sudah duduk di kursinya dia¬†melupakan Anda, maka¬†Anda pun kecewa berat.
  • Anda berharap anak buah patuh dan tunduk pada Anda,¬†namun ternyata dia bisa¬†melawan dan susah diatur, maka Anda pun kecewa juga.

Anda tentu bisa menambahkan daftar di atas seribu lagi. Namun dengan daftar ini saja kita sudah mampu melihat bahwa sesungguhnya kekecewaan memang lebih sering kita alami daripada sukacita.

Maka begitulah orang kecewa pada Bupati, kecewa pada IMF, kecewa pada Amerika, kecewa pada Bank Dunia, kecewa pada Harmoko, kecewa pada orangtua, kecewa pada Soeharto, kecewa pada Habibie, kecewa pada anak, kecewa pada menantu, kecewa pada tetangga, kecewa pada matahari, kecewa pada hujan, kecewa pada ABRI, kecewa pada kakak, kecewa pada adik, kecewa pada Pak Lurah, kecewa pada Pak Camat, kecewa pada kawan, kecewa pada sahabat, kecewa pada isteri, kecewa pada suami, kecewa pada pendeta, kecewa pada Golkar, dan seterusnya dan seterusnya. Bahkan orang bisa sangat kecewa pada Tuhan.

Dua Macam Kekecewaan

Kekecewaan jenis pertama disebut kekecewaan bodoh. Mengapa disebut bodoh? Jawabnya karena kekecewaan itu sesungguhnya tidak perlu terjadi. Namun terjadi juga karena kita bodoh. Akibatnya kegembiraan kita yang wajar terampas, sukacita yang sudah di tangan hilang lenyap.

Kita dengan bodohnya mau kecewa dan membiarkan hati kita larut dalam kepahitan yang mengakibatkan dendam, amarah, dukacita, stress, depressi, hilang ingatan, kebencian, sungut-sungut, fitnah, kabar bohong, bahkan kekerasan dan pembunuhan.

Sebab utama kekecewaan bodoh adalah harapan yang tidak-tidak, ambisi yang tidak masuk akal, keinginan yang mustahil,
keserakahan, dan ilusi atau impian di siang bolong. Ingatlah, Tuhan saja tidak memperoleh semua yang diinginkanNya. Adalah keinginan Tuhan agar semua manusia masuk surga tetapi kita tahu ada banyak yang masuk neraka. Artinya,
keinginan Tuhan tak semua kesampaian. Kristus pun kehilangan Yudas Iskariot dan tentu hatinya sedih ketika Petrus menyangkal diriNya tatkala dukungannya paling dibutuhkan. Jadi janganlah kita bodoh dengan berharap semua keinginan
kita bisa tercapai.

Berikut adalah contoh-contoh kekecewaan bodoh.

  1. Anda berharap Ketua Umum PDI-Perjuangan di Jakarta mengirimkan karangan bunga pada pesta sunatan anak Anda padahal Anda cuma seorang penggembira PDI kelas kelurahan di ujung pulau Sumatera.
  2. Anda berharap kaya raya dengan memasang lotere atau main judi padahal Anda tahu penjudilah yang biasanya bangkrut jatuh miskin.
  3. Anda berharap dengan datang ke Jakarta maka dengan sekejap bisa makmur dan mengkilat seperti orang yang di TV itu, padahal kuliah tingkat dua pun Anda tak selesai akibat kemalasan Anda.
  4. Anda berharap hidup bahagia, tenteram, dan terhormat dengan menuruti ajakan kawin seorang pria brengsek padahal Anda tahu dia masih beristeri dan agamanya pun berbeda dengan Anda.
  5. Anda berharap semua orang sebaik Anda, seramah Anda, sejujur Anda, dan semanis Anda.
  6. Anda berharap semua orang yang pernah Anda bantu akan membantu Anda pula pada saatnya.
  7. Anda berharap agar suami Anda selalu baik, melindungi, tidak egois, lembut, bertanggungjawab, dan bersikap kesatria seperti Arjuna.
  8. Anda berharap hari tak pernah mendung, rezeki tak pernah seret, badan selalu sehat.
  9. Anda berharap hidup makmur, mewah, penuh gengsi padahal jabatan Anda adalah ulama atau pendeta yang memang diharapkan dan seharusnya hidup sederhana.
  10. Anda berharap agar Tuhan menghukum orang yang Anda benci padahal rencana Tuhan lebih besar dari keinginan Anda yang egoistik.

Jelaslah semua harapan di atas sebenarnya too good to be true bahkan sebenarnya mustahil. Maka dengan mudah dimengerti bahwa kekecewaan-kekecewaan seperti di atas terjadi karena kebodohan kita sendiri kok mau menginginkan hal-hal yang mustahil. Agar kita terhindar dari kekecewaan bodoh seperti di atas berikut adalah sejumlah saran:

  • Hiduplah lebih realistik. Jangan neko-neko.
  • Bersikaplah wajar-wajar.
  • Jangan menganggap diri sendiri sudah hebat atau jago.
  • Bandingkan diri¬†sendiri dengan orang lain secara proporsional.
  • Pelajari hukum alam, dan ketahuilah Anda tidak mungkin¬†bisa menipu hukum¬†alam. Andalah yang kena batunya jika nekat melawan hukum alam, moral dan¬†kebenaran.
  • Ingat, tidak ada makan gratis di bumi ini. Seseorang¬†pasti membayarnya untuk¬†Anda, dan pada suatu hari pasti ditagihnya.
  • Jangan percaya pada keajaiban buatan manusia.
  • Curigalah pada apa saja yang¬†terlalu indah, terlalu muluk, atau terlalu gampang.¬†Biasanya di belakangnya¬†pasti ada penipuan.

Ketahuilah hidup ini pada dasarnya susah. Jadi jangan percaya undian. Jangan percaya pada janji iklan berhadiah. Jangan buang waktu mengisi kupon-kupon di supermarket. Jangan percaya pada program penggandaan uang. Itu semua cuma angin surga demi keuntungan mereka.

Ingatlah, karya tangan Anda sendirilah yang membuat Anda senang, berkecukupan, dan bahagia. Apa yang Anda terima dengan sangat gampang akan lenyap dengan sangat gampang pula. Jangan bermimpi, hasil keringat dan jerih payah sendiri, itulah tetap tinggal dengan berkat Tuhan.

Kekecewaan Yang Sehat

Lawan kekecewaan bodoh ialah kekecewaan yang sehat yaitu kekecewaan yang Anda rasakan ketika rasa keadilan tidak terpenuhi dan kebenaran dijungkirbalikkan. Kebaikan dibalas kejahatan. Kerja keras hilang percuma. Cinta tulus dibalas dengan pengkhianatan. Kasih menjadi dosa. Orang malas naik pangkat, orang jujur disingkirkan. Kebaikan dilecehkan, kesucian diolok-olok. Orang kaya diperkaya, orang miskin dipinggirkan. Konglomerat dilindungi, kita semua rakyat dicurangi.

Jika yang begini terjadi maka kekecewaan adalah reaksi¬†yang wajar.¬†Malahan¬†jika Anda tidak kecewa ketika hal-hal di atas terjadi,¬†saya berpendapat hati¬†nurani Anda sudah kumuh.¬†Kekecewaan seperti ini selain sehat, juga berpotensi¬†mengubah Anda menjadi¬†orang besar. Ada orang bijak berkata, “Kekecewaan¬†diberikan Tuhan pada¬†manusia biasa agar kita menjadi manusia luar biasa.”

Tengoklah misalnya Abraham Lincoln. Hampir seluruh riwayat hidupnya diisi oleh rangkaian kegagalan dan kekecewaan. Tapi ia selalu bangkit. Tidak penting berapa kali engkau gagal, kata Lincoln, yang penting berapa kali engkau bangkit. Ujung-ujungnya dia berhasil menjadi presiden pada tahun 1861, dan dicatat sebagai presiden Amerika terbesar.
Untuk mengubah rasa kecewa jenis ini menjadi energi yang positif maka berikut adalah sejumlah saran saya:

  • Ketika Anda terkena rasa kecewa maka carilah¬†penghiburan sejati agar hati¬†Anda lebih ringan, misalnya musik, jalan-jalan, tidur¬†panjang, atau cuti.¬†Jika hati Anda sudah enteng, terhibur, maka pikiran¬†rasional akan kembali¬†pada Anda, dan perspektif Anda menjadi lebih baik.
  • Hindari pelarian. Pelarian yang umum dari kekecewaan¬†adalah gila kerja¬†(workaholik), obat bius, alkohol, agressi, depressi,¬†balas dendam, makan¬†berlebihan, merokok berlebihan, dan melamun serta¬†bermuram durja.
  • Bicarakan kekecewaan Anda dengan seseorang yang cerdas¬†emosinya,¬†bersikap¬†simpatik dan empatik, bersikap dewasa, dan dapat¬†dipercaya.
  • Ungkapkan kekecewaan Anda dalam bentuk tulisan,¬†misalnya di catatan¬†harian¬†atau sebuah karangan.¬†
  • Ungkapkan kekecewaan Anda kepada Tuhan dalam bentuk¬†doa.
  • Gubahlah kekecewaan Anda menjadi sebuah musik atau¬†syair (jika punya bakat).
  • Cari petunjuk dari seseorang sudah mampu mengatasi¬†kekecewaan serupa.
  • Bacalah kisah orang-orang besar tentang bagaimana cara¬†mereka mengatasi¬†kekecewaan yang dialaminya, misalnya:
    • Mahatma Gandhi yang ditendang dari kabin kereta api¬†kelas satu dan kemudian¬†berubah menjadi pejuang gerakan tanpa kekerasan¬†(satyagraha) yang mampu¬†mengusir penjajah Inggris dari bumi India.
    • Nelson Mandela yang keluar dari penjara selama 29¬†tahun tanpa dendam dan¬†sakit hati.
    • Nietzche yang berkata, “Apa yang tidak bisa¬†mematikanku sesungguhnya¬†menguatkan aku”
    • Thomas A. Edison yang pabrik dan laboratorumnya¬†terbakar namun sanggup¬†mengangumi nyala api yang hebat itu, seraya berkata,¬†“Tidak apa-apa semua¬†ini terbakar karena sekarang kita berkesempatan¬†membangun gedung yang lebih¬†modern dan besar.
    • William Soerjadjaya, mantan pemilik Grup Astra yang¬†kehilangan kerajaan¬†bisnisnya tetapi masih tetap tersenyum dan tetap¬†sanggup memulai bisnis baru¬†di usia lanjutnya.
    • Kuntoro Mangkusubroto yang dipecat oleh atasannya¬†Menteri Pertambangan dan¬†Energi di zaman Kabinet Pembangunan VI gara-gara kasus¬†Busang, tetapi yang¬†berpikir positif dan konstruktif, kemudian terpilih¬†menjadi Menteri¬†menggantikan si pemecatnya setahun kemudian.
    • AH Nasution yang disingkirkan oleh Soeharto secara¬†sistematik sejak 1966,¬†mampu bertahan selama 32 tahun sampai usia lanjut, menulis¬†puluhan buku tebal,¬†menjadi mentor moral bagi banyak orang, mencapai¬†status jenderal besar,¬†semakin berkharisma, sanggup berdamai dengan Soeharto,¬†dan masih sempat¬†menyaksikan tragedi kejatuhan Soeharto yang dramatik.
    • Cacuk Sudarijanto yang dipecat sebagai Dirut Telkom,¬†menjadi orang terbuang¬†sekian tahun, tetapi mampu come back ke dunia bisnis,¬†menjadi Dirut Bank¬†Mega, dan menjadi Ketua Alumni ITB periode 1998-2003.

Orang-orang Dekat yang Mengecewakan

Yang paling sering mengecewakan Anda pastilah orang-orang dekat Anda  seperti orangtua, anak, isteri/suami, kakak/adik,
ipar/saudara. Terhadap mereka, inginkanlah yang terbaik tetapi pasanglah sikap zero expectation (tuntutan nol). Artinya jika Anda berbuat baik jangan harapkan imbalan, apalagi menuntut balasan agar mereka berbuat setimpal. Jadi berbuat baiklah dengan tulus.Terima kasih pun jangan harapkan.

Sadarilah dunia ini memang bukan dunia yang adil. Ingatlah, para nabi pun selalu dilecehkan bahkan dihujat dan dikejar-kejar. Mereka pun tidak mampu menyenangkan semua orang.

Bergembiralah bahwa Anda masih bisa memberi dan sanggup berbuat baik. Itu saja adalah sebuah kehormatan. Untuk menghibur Anda, ketahuilah bahwa Tuhan akan membalas kebaikan Anda berlipat ganda jika penerima kebaikan Anda itu
tidak tahu berterimakasih. Jika orang yang Anda baiki itu tahu berterimakasih dan kemudian membalas perbuatan baik Anda, jangan pula ditolak, tetapi terimalah sebagai bonus, dan karenanya bergembiralah dua kali.

Jika orang yang Anda baiki itu sudah keterlaluan, Anda tak sanggup lagi bersikap baik pada dia, maka jauhi sajalah dia.

Putuskan saja hubungan dengan dia tanpa terjebak dalam kebencian dan dendam kesumat. Batasi diri, jaga jarak. Kalau Anda mampu, doakanlah orang brengsek itu. Jika hasil doa Anda tidak layak diterimanya, maka doa Anda akan
kembali pada Anda.

Jika tidak mampu mendoakannya, jangan pula mengutuknya, siapa tahu kutuk Anda bisa memakan Anda. Serahkan saja agar keadilan Tuhan yang terjadi.

Kemudian, jangan memelihara karakter meminta, menuntut, dan mengemis dari orang lain untuk diri sendiri. Jika Anda harus meminta dan menuntut maka minimal itu demi kepentingan bersama, kalau bisa demi kepentingan dia yang
Anda tuntut, tapi jangan pernah untuk diri sendiri.

Sebaliknya suburkanlah karakter memberi, membagi, dan berbagi dengan orang lain. Anggaplah bahwa Anda adalah wakil Tuhan untuk membagi-bagikan rezeki dan berkat-berkat surgawi. Tapi jangan terlalu ekstrim. Jangan sampai susu buat anak sendiri terputus gara-gara terlalu bersemangat membantu anak tetangga. Yang seperti itu bisa-bisa adalah bentuk
kesombongan baru yang pada suatu saat akan berbalik mengecewakan Anda.

Penutup

Saya mau menutup tulisan ini dengan kisah dari bawah laut. Pada suatu  hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. Anakku, kata
sang Ibu sambil bercucuran air mata, Tuhan tidak memberikan kita bangsa kerang sebuah tangan pun sehingga Ibu tak bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam.

Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa pedih dan sakit yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat, kata Ibunya dengan sendu namun lembut.

Maka si anak kerang pun melakukan nasihat ibundanya.

Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan bertahun-tahun. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Makin lama mutiaranya makin besar. Rasa sakit menjadi terasa wajar. Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada seribu ekor kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

Penderitaan membuat seekor kerang biasa menjadi kerang luar biasa.

Kekecewaan dan penderitaan pun dapat mengubah orang biasa menjadi orang luar biasa. Jika Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Ibu Teresa, Mahatma Gandhi, AH Nasution, Cacuk Sudarijanto, dan Kuntoro Mangkusubroto mampu melakukannya, saya yakin, Anda pun mampu melakukannya. Anda sudah selesai membaca sampai di sini, itu tanda bahwa Anda sedang berjalan menuju status manusia luar biasa dan meninggalkan status manusia biasa.

Jadi saya ucapkan selamat menempuh jalan susah, itulah jalan menuju keagungan, jalan menuju kemuliaan, the road less
traveled, kata M. Scott Peck. Dan itulah jalan menuju kebahagiaan sejati.

* Jansen H. Sinamo adalah seorang penulis, pembicara, pengembang pelatihan sumber daya manusia berbasis etos yang pertama di Indonesia.

Advertisements

The Secret of Unhappiness


Mengapa Semua Orang Pada Dasarnya Tidak Bahagia

Anda mungkin kaget dengan judul di atas. Bila biasanya orang selalu menulis tentang bagaimana caranya hidup bahagia, rahasia hidup bahagia, seni hidup bahagia, mengapa sekarang ada yang malah menulis tentang ketidakbahagiaan? Apakah penulis seorang yang pesimis dengan kehidupan? Atau lebih jauh lagi, apakah penulis ini sebenarnya sedang depresi sehingga merasa perlu mengangkat topik Unhappiness ini? Bila Anda tertarik untuk mengetahui mengapa tulisan ini dimuat, maka saya akan menghimbau agar Anda dapat bersabar dahulu dan membaca artikel yang cukup panjang ini sampai akhir sebelum berkomentar. Karena judul di atas sama sekali bukan pepesan kosong, atau gimmick untuk menarik perhatian. Tetapi judul di atas akan menunjukkan kepada Anda sebuah fakta yang selama ini selalu dihindari untuk diakui oleh semua orang padahal ia nyata.

Jika kita mau sedikit merenungkan kata-kata di atas, sama sekali tidak ada yang salah dengan judul tersebut. Semua orang pada dasarnya tidak bahagia, oleh karena itu mereka mencari kebahagiaan dalam hidupnya. Ada film yang judulnya “The Pursuit of Happyness”¬†yang dibintangi oleh Will Smith, dan di toko-toko buku Anda akan temukan banyak sekali buku-buku motivasi tentang mencari kebahagiaan. Kalau manusia pada dasarnya sudah bahagia, untuk apa lagi kita mencari kebahagiaan? Kita mencari kebahagiaan karena kita sedang tidak bahagia. Betul bukan? Nah logika tersebut memang masuk akal, tapi tidak lama lagi saya akan mencoba menuntun Anda pada pemahaman yang tidak hanya logis namun juga faktual. Bahwa ada fakta-fakta yang menunjukkan bahwa kita pada dasarnya memang tidak bahagia.

Kalau manusia pada dasarnya sudah bahagia, untuk apa lagi kita mencari kebahagiaan?

Kita Terlahir Tidak Bahagia

Seorang bayi terlahir menangis. Nah itu indikasi ia tidak bahagia tuh, kata orang-orang yang mendukung teori saya ini. Sebentar jangan terlalu cepat menyimpulkan. Teori medis mengatakan bayi terlahir menangis karena sistem pernafasannya pertama kali bekerja saat itu dan menangis perlu untuk membersihkan cairan amniotic dari paru-parunya. Dengan menangis ia juga dapat dengan cepat mendapatkan oksigen ke paru-paru. Tapi ini juga baru teori. Ada lagi yang mengatakan karena ini pertama kalinya ia merasakan gravitasi, adaptasinya dari keluar dari rahim ia tidak nyaman, maka menangis. Teori saya, bayi menangis saat lahir dan menangis beberapa jam sesudahnya, beberapa hari, minggu, bulan sesudahnya karena satu hal: ia tidak nyaman.

Kalau Anda termasuk orang tua yang beruntung dan sudah pernah menyaksikan, membesarkan bayi, tentu akan tahu bahwa menangis adalah satu-satunya alat komunikasi bayi kepada orang tuanya untuk hal-hal yang ia perlukan. Bila ia lapar, ia menangis. Saat ia tidak nyaman dengan popoknya yang penuh dengan pup atau air seni, ia menangis. Saat ia bosan, ia menangis. Kesimpulannya saat bayi merasa tidak nyaman, ia menangis. Menangis adalah indikasi ketidaknyamanan, yang dalam hal ini juga dapat kita sebut ketidakbahagiaan.

Apakah bayi terus-menerus menangis? Tidak juga. Selebihnya ia akan tertawa, tersenyum, mengoceh sendiri, tapi setelah bosan, ia akan menangis. Siklus ini diulang-ulang sampai para orang tua muda ini sering kali jadi ikut bingung, tertekan, dan kekurangan tidur. Bayi yang tidak bahagia membuat orang tuanya tidak bahagia pula. Tapi karena bayi ini menggemaskan, ketidakbahagiaan orang tua terbayar saat melihatnya tersenyum, atau tertawa. Seperti Michelle anakku yang baru berumur 3 bulan ini.

Baby Michelle, how cute is she?

Mengapa bayi bisa tersenyum atau tertawa? Nah itu kita simpan untuk artikel berikutnya saja. Mungkin judulnya The Secret of Baby Happiness. ūüôā

Sekarang kita melihat orang dewasa. Apakah sesungguhnya kita sama dengan bayi, yang lebih sering merasa tidak nyaman daripada nyaman? Untuk mengujinya mudah sekali. Coba Anda diam sejenak. Diam dalam posisi tertentu tanpa harus melakukan apa-apa. Kalau ada stopwatch boleh dipakai, hitung berapa lama dari Anda pertama kali diam sampai Anda mulai gelisah dan ingin berpindah posisi. Apakah itu memindahkan posisi tangan, menggerakkan kepala, atau menggoyangkan kaki. Anda akan terkejut mengetahui seberapa cepat Anda dari diam menjadi gelisah, tidak nyaman. Hal yang sama bisa diterapkan ke pikiran. Perhatikan pikiran Anda, sejak Anda diam sampai Anda gelisah. Apakah pikiran bisa merasa relax, atau terus-menerus memikirkan hal-hal lain?

Setelah Anda mencoba, maka mungkin sedikit banyak Anda mulai akan terbuka pada kemungkinan ini: bahwa pada dasarnya kita cepat sekali merasa tidak nyaman. Posisi badan dipindah-pindahkan karena badan ini tidak nyaman berada dalam satu kondisi statis untuk waktu yang sebentar sekalipun. Pikiran juga tidak nyaman dalam kondisi relax, tenang. Pada dasarnya pikiran ini sifatnya seperti monyet liar, ingin selalu bergerak ke sana ke mari, tidak bisa diam. Cobalah test percobaan di atas beberapa kali sampai Anda benar-benar memahami demikianlah sifat dasar badan dan pikiran kita: tidak bisa diam, dan kalau diminta untuk diam dengan cepat menjadi gelisah dan tidak nyaman.

Siklus Ketidakbahagiaan

Anda mungkin bisa protes, “Lho tidak nyaman kok disamakan dengan tidak bahagia? Bukannya wajar saja kalau kita merasa tidak nyaman dalam satu saat? Toh kemudian kita melakukan perpindahan posisi misalnya, atau melakukan aktivitas, dan badan serta pikiran ini kembali nyaman.”

Anda benar, pikiran dan badan ini selalu mencari “kesibukan” agar ketidaknyamanan ini dapat dilupakan, untuk sesaat. Saya ambil contoh lain.

“Hari Minggu, sebagaimana orang-orang kantoran umumnya Lukas tidak bekerja. Bangun siang karena semalam nonton pertandingan Arsenal sampai tengah malam. Tidak ada janji acara hari ini. Bingung mau ngapain. Nonton TV tidak ada acara yang menarik. Mau ke bioskop tidak ada teman. Teman-teman lagi pada sibuk dengan pacarnya masing-masing. Pacarnya sendiri baru diputuskan 2 bulan lalu. Lukas lalu membuat sarapan sendiri, indomie. Saat ia makan, ia memikirkan apa yang mau dilakukannya hari Minggu itu. Bosan. Akhirnya ia memutuskan untuk main game PS3 saja. Lumayan bisa membunuh waktu, pikir Lukas.”

Nah dari contoh di atas kondisi awal Lukas adalah tidak nyaman. Baru bangun tidur ia sudah merasa tidak nyaman. Ia mencari-cari aktivitas apa yang bisa ia lakukan untuk “menghabiskan” sisa hari Minggu itu. Akhirnya ia memilih menghanyutkan dirinya dalam game console. Anda, saya mungkin sering mengalami hal yang serupa dengan Lukas. Apakah dalam permainan PS3 tersebut ia akan menikmatinya? Mungkin iya. Untuk 3-4 jam ia akan melupakan sejenak dunia di sekitarnya dan hidup di dunia imajiner rekayasa sebuah game. Ia “lari” dari kenyataan untuk sejenak. Setelah selesai dan bosan bermain, ia terpaksa harus kembali lagi ke dunia nyata. Dan mencari lagi aktivitas baru yang dapat membuatnya nyaman, sekaligus untuk melupakan ketidaknyamanan yang dihadapinya. Hampir sama dengan bayi.

Kalau dirunut aktivitas harian kita, bisa kita bagi dalam beberapa kategori:

  1. Aktivitas primer yang rutin. Seperti mandi, sikat gigi, buang air, makan, minum, tidur. Aktivitas ini dilakukan hampir secara otomatis setiap hari karena kebutuhan biologis atau karena harus dilakukan demi kesehatan badan.
  2. Aktivitas sekunder yang rutin. Berangkat kerja/sekolah, dan bekerja di kantor/belajar di sekolah. Semua kegiatan yang dilakukan hampir sama setiap harinya kecuali hari libur. Kegiatan ini dilakukan karena manusia hidup bermasyarakat. Butuh pekerjaan untuk menghidupi keluarga atau diri sendiri, butuh pendidikan untuk modal bekerja nanti.
  3. Aktivitas optional untuk mengisi waktu yang tersisa . Bisa jalan-jalan ke suatu tempat setelah bekerja, pacaran, ibadah, shopping, main game, nonton film, baca buku, browsing dan lain-lain.

Aktivitas primer dan sekunder kita lakukan seakan-akan itu kewajiban, agar manusia bisa tetap hidup bermasyarakat. Aktivitas sekunder dilakukan untuk menopang aktivitas primer. Kita bekerja agar punya uang untuk makan, punya tempat untuk tidur, bisa beli sabun untuk mandi. Enak atau tidak, aktivitas primer dan sekunder ini harus dilakukan. Apakah aktivitas primer dan sekunder ini mendatangkan kebahagiaan? Apakah makan bisa buat orang bahagia? Makan sering menjadi ritual harian yang kita lakukan dan lalui tanpa terlalu menikmatinya. Apakah bekerja bisa mendatangkan kebahagiaan? Bagi sebagian orang yang cinta profesinya mungkin akan merasakan kebahagiaan dari pekerjaan. Tapi umumnya orang bekerja hanya untuk uang. Jadi aktivitas primer dan sekunder ini umumnya dilakukan sebagai bagian dari kewajiban hidup. Jarang sekali orang menganggap kedua aktivitas ini adalah sumber kebahagiaan. Jadi kita bisa simpulkan saat melakukan aktivitas primer dan sekunder, umumnya manusia tidak bahagia.

Bagaimana dengan aktivitas optional? Tampaknya yang satu ini bisa menjadi sumber kebahagiaan. Dengan bekerja dan punya uang, orang bisa berpacaran, bisa shopping, bisa nonton film yang ia sukai, bisa mengoleksi barang-barang yang ia sukai, perhiasan atau mobil sport misalnya (miniatur). Dengan hiburan, orang merasa ia bisa bahagia. Dengan memiliki benda-benda yang ia inginkan, orang jadi bahagia. Membelanjakan uang, orang bahagia. Apakah benar?

Para wanita yang demen shopping mungkin akan mengiyakan. Saat shopping, wajah mereka begitu berseri-seri. Sepertinya bahagia. Demikian juga para pria. Saat bisa melakukan aktivitas kegemarannya seperti bermain futsal, atau golf, mereka tampaknya bahagia. Persepsi kita saat seseorang melakukan kegiatan yang disukainya, ia puas, ia bahagia.

Fakta ini tak mungkin disangkal. Melakukan kegiatan yang digemari, diinginkan, otomatis kita merasa gembira. Namun apakah kita tidak mungkin bosan dengan kegiatan yang digemari itu? Ternyata kita juga akan bosan, seiring dengan berlalunya waktu.

Contoh: membeli sebuah benda kesukaan, handphone misalnya. Saat handphone terbaru diumumkan, hasrat membelinya menggebu-gebu. Saat kita pertama kali membelinya, senangnya bukan main. Seharian itu handphone diutak-atik. Seminggu pertama masa bulan madu. Satu bulan lewat, dua bulan lewat, enam bulan handphone itu sudah dianggap biasa. Kalau habis bekerja, langsung dilempar ke meja atau tempat tidur. Seiring dengan waktu berlalu, “kecintaan” kita pada handphone itu berkurang. Kebahagiaan kita yang didapatkan dari berinteraksi dengannya berkurang, bahkan perlahan hilang.

Memiliki sebuah benda ternyata tidak mendatangkan kebahagiaan. Saat membelinya kita “bahagia”, seiring dengan waktu berlalu “kebahagiaan” itu hilang. Apakah benar ini kebahagiaan? Kalau benar ini kebahagiaan mengapa sifatnya hanya sementara? Mengapa kita bisa “bosan” terhadap barang yang sangat kita senangi di awal?

Dua contoh dan tiga kategori aktivitas ¬†di atas adalah ilustrasi bahwa awalnya kita tidak bahagia (“terpaksa” menjalankan aktivitas primer dan sekunder). Lalu kita bisa gembira ketika menenggelamkan diri dalam suatu aktivitas optional yang disukai, atau ketika mendapatkan sesuatu yang kita sukai. Namun kegembiraan itu bersifat sementara. Seiring dengan berlalunya waktu, kita kembali bosan, kembali tidak nyaman, dan kembali mencari-cari lagi sesuatu yang bisa menggembirakan. Kalau dibuat diagramnya kira-kira seperti ini:

kondisi awal: tidak bahagia -> mencari-cari kebahagiaan -> melakukan aktivitas -> merasa mendapatkan kebahagiaan -> kembali tidak bahagia

Ketidaknyamanan, kebosanan adalah indikasi ketidakbahagiaan kita. Dan kita berusaha menolak kenyataan itu dengan melakukan aktivitas-aktivitas opsional. Walaupun akhirnya kita terpaksa dihadapkan kembali pada kondisi awal, yaitu ketidakbahagiaan. Demikianlah siklus ketidakbahagiaan ini berulang.

Escapism

Escapism is mental diversion by means of entertainment or recreation, as an “escape” from the perceived unpleasant or banal aspects of daily life. It can also be used as a term to define the actions people take to help relieve persisting feelings of depression or general sadness.

-wikipedia

Usaha kita untuk melarikan diri dari kondisi awal ketidakbahagiaan ini disebut escapism. Kita merasa tidak nyaman, lalu kita mencoba mengalihkan perhatian kita dari keadaan yang tidak nyaman ini ke berbagai bentuk hiburan atau rekreasi seperti: membaca buku, nonton film, main game, atau bahkan aktivitas seksual. Saat kita terbenam dalam kegiatan hiburan dan rekreasi tersebut, sejenak kita dapat melupakan ketidaknyamanan kita. Namun setelah kegiatan itu usai, karena tidak dapat berlangsung selamanya, kita kembali merasa tidak nyaman. Ada yang mencoba drugs untuk membawanya ke dunia khayal lebih lama namun itupun tidak membantu. Kerusakan pada jaringan otak dan ketergantungan menjadikan drugs bukan solusi.

Ada sebuah contoh lagi ketika saya masih kuliah. Ada jam session hari itu diadakan di kampus. Saya mengajak seorang teman untuk menonton jam session. Tugas kuliahnya masih banyak yang belum selesai. Ia suntuk. Saya berkata, “Ayolah jangan suntuk, kita nikmati musik.” Teman yang bijak ini menjawab, “Ah paling senangnya satu dua jam doank Ben, habis itu kembali harus bikin tugas ini… malah waktu terbuang.”

Kata-kata itu masih teringat sampai sekarang. Ia benar, escapism hanya menyediakan solusi sementara atas ketidaknyamanan kita. Bukan solusi permanen. Namun kebanyakan dari kita hidup dengan melompat-lompat dari bentuk escapism yang satu ke bentuk yang lain. Kita pun salah identifikasi, menganggap escapism adalah sumber kebahagiaan padahal ia sesungguhnya hanyalah sarana pelarian kita.

Sulit memang menerima kenyataan bahwa kita sesungguhnya tidak bahagia, namun semakin kita menolak fakta ini, semakin kita terdelusi. Sebagian jadi bergantung dengan drugs. Sebagian lagi dari aktivitas seksual, bergonti-ganti pasangan demi sensasi seksual. Sebagian jadi shopaholic. Ada yang jadi game-addicted. Bahkan di Korea sudah banyak cerita remaja yang menghabiskan lebih dari 48 jam di warnet dan kemudian tewas karena dehidrasi atau tidak makan. Salah identifikasi escapism sebagai source of happiness membuat kita terdelusi, dan hal ini bisa berakibat fatal.

Achievement

Bila escapism tidak membawakan kebahagiaan, bagaimana dengan achievement? Orang akan bahagia ketika ia berhasil dalam hidupnya. Berhasil menjadi pimpinan sebuah perusahaan, berhasil menjadi ketua RT atau malah Gubernur. Berhasil menjadi orang terkaya di kompleks. Berhasil ranking satu di sekolah. Segala macam prestasi ini konon disebutkan sebagai sumber kebahagiaan juga. Mari kita periksa kebenarannya.

Saya mengawali karir saya sebagai Engineer di proyek. Impian saya adalah menjadi Project Manager di usia muda. Dengan demikian saya bisa membuktikan diri saya sebagai Civil Engineer yang berhasil di dunia konstruksi. Setelah beberapa tahun berkecimpung di dunia konstruksi, akhirnya saya diberikan kesempatan menjadi Project Manager (PM). Gembira? Tentu. Ada sebuah kebanggaan dalam diri saya di mana saya berhasil menjadi PM dalam usia yang belum kepala tiga saat itu, dan di proyek bertaraf internasional pula. Satu-dua bulan, setahun berlalu dan “prestasi” itu menjadi biasa lagi. Jabatan PM itu tak lagi membanggakan, bahkan perlahan-lahan yang lebih terasa adalah kewajibannya daripada posisi yang dapat dipamerkan. Kebanggaan tetap akan muncul ketika kita dipuji orang saat itu, namun pujian hanya datang mungkin satu-dua kali dalam beberapa bulan. Sisanya adalah memuji diri sendiri dalam hati ketika kita lagi ingin merasakan kebanggaan tersebut. Lucu dan konyol juga kalau diingat-ingat. ūüôā

Setelah sekian lama terbiasa dengan jabatan tersebut, achievement tersebut tidak lagi menjadi hal yang membanggakan. Saya tidak lagi mengandalkan prestasi itu sebagai sumber kebahagiaan. Lagipula mengandalkan pujian orang lain untuk menjadi bahagia, how pathetic is that? :p

Orang yang merasa saat ia berhasil mencapai sesuatu ia bahagia mungkin harus memeriksa kembali kenyataannya. Bahwa kita bangga kita berhasil menaklukkan tantangan tertentu, itu benar. Dan bahwa kita senang ketika orang lain mengakui prestasi kita, itu juga benar. Namun menjadikan pengakuan orang lain atas prestasi kita itu sebagai sumber kebahagiaan tampaknya terlalu naif. Tidak heran ada orang yang haus pujian, bahkan sampai ada yang mengharuskan bawahannya menjilat dan memuja-muji karena ia merasa dengan demikian ia bisa bahagia. Ketika tidak ada yang memuji, ia tidak bahagia. Malah saking haus pujian, ia bisa depresi karena absennya pujian. Ini menjadi ketergantungan. Kalau contoh sebelumnya ada yang menjadi tergantung dengan escapism, yang ini ketergantungannya dengan pengakuan (pujian) atas achievement.

Mengakui Kita Tidak Bahagia = Depresi?

Lalu pertanyaan berikutnya setelah memahami penjelasan di atas: Apa untungnya kita mengakui diri kita tidak bahagia? Bukankah itu bisa malah membuat kita depresi?

Depresi, atau penyakit mental banyak didapatkan bahkan pada penduduk negara-negara maju. Mereka hidup berkecukupan, kebutuhan primer terpenuhi, tapi tetap depresi. Pil tidur seakan menjadi obat flu/batuk kalau di sini. Apakah karena mereka mengakui dirinya tidak bahagia lalu jadi depresi? Tidak. Justru karena tidak mengenali ketidakbahagiaan ini sebagai fenomena yang natural ini yang membuat mereka depresi. Karena tidak mengenali ketidakbahagiaan sebagai fenomena yang natural, orang cenderung untuk mencari-cari sebab mengapa ia tidak bahagia. Kemudian ia mencari-cari cara bagaimana agar ia bahagia. Dan setelah menjalankan berbagai macam cara, ia tetap tidak bahagia. Akhirnya depresi.

Justru dengan mengakui bahwa kondisi awal kita adalah tidak bahagia, bahwa unhappiness adalah titik awal kondisi mental seseorang, kita bisa bebas dari upaya menyangkalnya. Bebas dari denial. Dengan bebas dari upaya menyangkalnya, kita tidak lagi mencari-cari sebab mengapa kita tidak bahagia. Dan kita tidak lagi bergantung pada escapism atau achievement untuk menjadi bahagia. Tidak bergantung pada sumber yang salah untuk menjadi bahagia. Akhirnya kita tidak lagi depresi ketika setelah melakukan aktivitas-aktivitas rekreasi dan hiburan ternyata tidak menghasilkan kebahagiaan.

Menerima bahwa unhappiness itu alami justru mulai membebaskan kita dari siklus ketidakbahagiaan ini. Kok bisa? Cobalah. Akui bahwa aku ini tidak bahagia. Dengan menerima fakta ini, cara berpikir Anda akan berubah. Inilah rahasia kecil ketidakbahagiaan yang akhirnya berhasil kita buka. The secret of unhappiness.

Bahkan rahasia ini, the secret of unhappiness bukan tidak mungkin akan membuka mata Anda terhadap happiness yang sesungguhnya. Bukan yang palsu, yang disediakan escapism atau achievement. Akan coba saya tulis di lain kesempatan.

The secret of unhappiness could be the gate to real happiness.

Tulisan ini terpaksa saya singkat karena dipost dalam blog. Tentu masih menyisakan banyak pertanyaan karena saya merasa juga masih banyak pembahasan poin-poin tertentu yang tidak lengkap saya tulis di sini. Namun ruang diskusi terbuka di bagian komentar. Silakan corat-coret pikiran Anda di bagian komentar, bila sempat pasti akan saya usahakan untuk menjawab. ūüôā