Catatan untuk Ahok-Djarot di Putaran Kedua


Disclaimer: saya tinggal di Kab. Tangerang, Banten sehingga tidak bisa ikut memilih di Pilkada DKI Jakarta.

Namun, siapa yang tidak tertarik dengan Pilkada DKI kali ini. Tiga kandidat yang kuat dengan dukungan para megastar politik Indonesia. Arena DKI sudah seperti arena pertarungan politik nasional. Sebagai “pengamat” politik amatiran saya ikut tertarik untuk memberikan sedikit komentar terhadap hasil sementara Pilkada DKI kemarin. Ahok-Djarot memimpin dengan suara sekitar 43%, Anies-Sandi 40%, dan terakhir Agus-Sylvi dengan suara sekitar 17%. Angka-angka tersebut mengacu ke quick count LSI, SMRC dan Litbang Kompas. Rasanya tidak akan berbeda jauh dengan hasil akhirnya.

Dibandingkan dengan hasil survei elektabilitas di awal Februari sebelum pemungutan suara, kesimpulannya adalah suara Anies yang melesat tinggi sekitar 10% lebih, Ahok naik sekitar 6-7% dan Agus turun sekitar 10-11%. Penurunan suara Agus dan undecided voters (sekitar 7%mendongkrak naik suara Ahok dan Anies. Tanpa adanya data exit poll, kita tidak bisa menyimpulkan seberapa besar dari pemilih yang tadinya ingin memilih Agus namun akhirnya memindahkan suaranya ke Anies atau Ahok. Pun kita tak dapat tahu persis undecided voters ini lebih banyak merapat ke mana. Namun kita punya data persentase suara utuh dan tingkat partisipasi Pilkada. Di akhir bulan, data rekaputilasi KPU resmi dengan jumlah suara TPS pun akan tersedia. Itu sangat membantu strategi kedua timses untuk putaran kedua.

Dengan tingkat partisipasi yang sangat tinggi (hampir 80% dari DPT), pilkada DKI ini menyisakan sangat sedikit undecided voters untuk putaran kedua. Rata-rata sudah menentukan pilihan, sedikit harapan untuk mendulang suara dari golput di putaran pertama. Mau tidak mau di putaran kedua ini baik Ahok maupun Anies mesti mengincar suara dari pemilih Agus. Skenario lainnya adalah semua pemilih Agus memutuskan untuk golput, maka otomatis Ahok yang lebih berpeluang menang, dengan catatan konstituennya tetap loyal selama 2 bulan mendatang.

Saya rasa lembaga survei atau tim pemantau kedua pihak punya data exit poll yang mumpuni. Kalau ada data exit poll yang memadai, mereka bisa membuat strategi untuk mendulang suara di putaran kedua. Exit poll yang dimaksud adalah wawancara dengan pemilih yang baru saja memilih untuk mendapatkan berbagai data seperti background, gender, umur, agama, pendidikan, alasan memilih A, dll. Tanpa akses data exit poll, maka kita hanya bisa berandai-andai.

Mari kita berandai-andai. Anggaplah pemilih Agus sebagian besar masih bersemangat untuk ikut memilih di putaran kedua. Untuk mencapai >50% suara, Ahok butuh sekitar 7% suara tambahan atau sekitar 41% dari suara pemilih Agus. Sedangkan untuk Anies, butuh sekitar 10% suara tambahan atau sekitar 59% suara pemilih Agus. Asumsi saya kelompok pemilih Agus dan Anies lebih banyak beririsan daripada pemilih Agus dan Ahok (sentimen agama, penantang incumbent, dll). Maka logikanya lebih mudah bagi Anies untuk mendapatkan suara pemilih Agus, yang mana sudah ia buktikan di putaran pertama. PR Ahok di putaran kedua lebih berat walaupun persentase suara yang ia butuhkan lebih sedikit.

However you spun it, Ahok has the bigger homework for 2nd round. It’s harder for him to meet the 50+% votes than Anies. But it’s possible

@benhan

Lalu langkah apa yang akan ditempuh timses Ahok?

Menakut-nakuti pemilih Agus agar pada golput semua di putaran kedua sehingga secara persentase Ahok tetap lebih unggul? Bisa saja, tapi hampir mustahil berhasil.

Sebaliknya timses Anies akan semakin menyemangati pemilih Agus dengan menggunakan sentimen anti-Ahok yang sudah demikian intens di putaran pertama untuk tetap menggunakan hak suara mereka.

Melakukan kampanye negatif terhadap Anies sehingga pemilih Agus tidak simpatik dengan Anies? Bisa saja, tapi strategi yang sama akan lebih mudah sukses dilakukan oleh timses Anies terhadap Ahok.

Menggali kembali hubungan buruk Prabowo – SBY untuk menjauhkan pemilih Agus dari memilih Anies? Hubungan Jokowi – SBY jelas tidak lebih baik. Apalagi kebrutalan buzzer Ahok dan Agus yang saling menyerang dengan kampanye negatif tidak akan mudah dilupakan kedua pihak.

Saya pribadi tidak akan menganjurkan kampanye negatif. Sebagai incumbent, tidak semestinya timses Ahok menjalankan kampanye negatif. Itu biasanya strategi penantang. Penantang relatif tidak punya track record terkait DKI, sehingga kalau mau diserang juga akan menuju ke hal yang personal. Serangan personal akan membuat yang tidak suka Ahok semakin tidak suka. Semakin punya alasan untuk memilih lawannya. Ahok punya track record yang cukup baik dan tingkat kepuasan yang cukup tinggi. Kampanye positif menjelaskan program-programnya yang telah berjalan dan gambaran tujuan masa depan bersama warga DKI menurut saya akan lebih efektif. Beberapa catatan yang bisa dilakukan Ahok-Djarot:

  1. Hentikan kampanye negatif terhadap lawan sama sekali. Jangan pula defensif. Akhir-akhir ini timses Anies dengan cerdasnya mengampanyekan program anti terhadap isu-isu kontroversial. Bila Ahok pro Reklamasi, maka Anies anti Reklamasi. Bila Ahok melakukan penggusuran, maka Anies anti penggusuran. Kampanye anti ini cukup efektif karena timses Ahok defensif dan tidak pula menjawab dengan utuh. Daripada menjawab tuduhan lawan, lebih baik bercermin, menyadari isu-isu apa yang masih kontroversial selama masa jabatan Ahok dan berikanlah penjelasan, edukasi mengapa Pemda DKI melakukan hal tersebut. Terbuka untuk kritik dan perubahan untuk program mendatang. Akui adanya ketidakpuasan dan tawarkan solusi. Ahok-Djarot mesti lebih  banyak bicara soal reklamasi dan penggusuran. Dua isu tersebut digunakan pihak lawan dengan sangat baik dan akan terus digarap menjelang putaran kedua ini. Kampanye negatif akan menjatuhkan dirimu dari level incumbent menjadi penantang. Melecehkan lawan juga tidak akan mengundang simpati baru. Kampanye negatif akan menjadi senjata makan tuan di putaran kedua.
  2. Mengapa harus memilih saya? Dengan tingkat kepuasan yang cukup tinggi (>70%), Ahok semestinya jangan melihat warga DKI sebagai blok musuh dan kawan. Jangan menuduh atau curiga dengan pihak lain. Lihat ke diri sendiri karena engkaulah fokus, pemeran utama permainan ini. Mungkin pemilih belum yakin dengan dirinya, belum memiliki jawaban kenapa harus memilih dia. Masih curiga dengannya. Masih curiga dengan agenda terselubungnya. Terutama dengan banyaknya kampanye negatif seputar penistaan agama ini. Seputar reklamasi dan penggusuran. Ahok mesti kembali ke basic, menjelaskan apa yang telah dilakukannya terhadap Jakarta dan apa yang akan terus dilakukannya. Dengan suara hanya 43% di putaran pertama, teorinya 57% warga masih menolaknya. Namun dengan tingkat kepuasan yang lebih tinggi dari itu artinya secara teoritis masih ada massa cair yang bisa didapatkannya kembali. Mereka yang belum cukup puas dengan apa yang telah dilakukannya (walaupun cukup bagus) dan yang masih curiga dengan motifnya (karena kasus penistaan agama, isu reklamasi dan penggusuran). Yang sudah dikerjakan belum cukup meyakinkan mereka, perlu hal baru. Di putaran kedua ini, Ahok mesti mengeluarkan hal baru, apa yang akan diperbuatnya berbeda, lebih baik dari periode sebelumnya, terutama terkait umat Islam (untuk counter isu penistaan agama), reklamasi dan penggusuran.

    …masih ada massa cair yang bisa didapatkannya kembali. Mereka yang belum cukup puas dengan apa yang telah dilakukannya dan yang masih curiga dengan motifnya…

  3. Terima kesalahanmu dan bertanggung jawablah. Manusia tidak ada yang sempurna. Ahok sering melakukan blunder yang tidak perlu. Blunder ini dilakukan karena self-righteousness-nya. Ia merasa paling benar sehingga lebih cepat menuduh orang lain salah. Hal itu juga sering diekspresikannya secara terang-terangan. Bagus untuk memberantas birokrasi korup namun juga akan terlihat arogan bagi orang yang tidak begitu mengenalnya. Blunder di kepulauan Seribu dan kemudian di persidangannya (ribut-ribut dengan Ma’ruf Amin) dan hampir saja kembali blunder di pidatonya saat Sertijab. Rasa kebenarannya yang tinggi sering menutup kemampuan melihat kesalahannya sehingga saat ia meminta maaf pun terkesan tidak tulus. Menjadi rendah hati dengan menerima kesalahan yang telah dilakukannya dan bertanggung jawab terhadap hal tersebut adalah hal-hal yang ingin dilihat banyak orang. Warga ingin melihat apa pendapat Ahok pribadi terhadap penggusuran. Tak adakah empatinya terhadap korban penggusuran? Pendapatnya tentang nelayan-nelayan yang akan kehilangan pekerjaan karena reklamasi dan pembangunan giant sea wall. Ia perlu lebih sering menunjukkan empatinya, terbuka, jujur terhadap kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Lebih rendah hati. Saya melihat Djarot dapat memainkan peran penting untuk itu. Pengakuan dari orang terdekatnya (di politik saat ini) akan menjembatani keraguan menuju keyakinan.

    Menjadi rendah hati dengan menerima kesalahan yang telah dilakukannya dan bertanggung jawab terhadap hal tersebut adalah hal-hal yang ingin dilihat banyak orang.

  4. Lakukan pemetaan per TPS berdasarkan hasil putaran pertama dan perbanyak kampanye di daerah-daerah kantung suara Agus dan Anies. Jawab keraguan mereka dan beri gambaran jelas apa yang akan diperbuat untuk mereka di masa mendatang. Ahok memiliki keuntungan dengan kembali menjabat sebagai Gubernur DKI. Ia bisa kembali melakukan blusukan ke daerah-daerah yang tidak begitu yakin dengannya.
  5. Kendalikan tim buzzer atau paling tidak jubir resmi dan tidak resmi. Kalau ada hal yang sangat tidak saya sukai dari kampanye Ahok-Djarot ini adalah tingkah laku tim buzzer-nya di social media yang juga menebar kebencian dan prasangka terhadap lawan politiknya. Entah tim resmi atau tidak, mereka menjadi bumbu dari kampanye Ahok. Pentolan-pentolan Ahokers dengan follower yang ramai di social media perlu dirangkul dan diberikan guideline kampanye yang benar. Berkampanyelah dengan tema yang sama.

Saya akan menutup opini amatiran saya ini dengan kalimat,”Musuh terbesar Ahok adalah dirinya sendiri.” Ia sudah demikian dekat untuk mencatatkan sejarah menjadi Gubernur DKI pertama yang berasal dari minoritas namun dipilih langsung dan didukung oleh mayoritas. Ia memiliki track record yang baik dan karakter yang menarik sehingga banyak public figure, celebrities, dan middle class yang mendukungnya. Itu modal yang kuat untuk mengimbangi handicap-nya dengan status sebagai combo minoritas (Cina-Kristen). Handicap-nya itu melahirkan musuh, yaitu prasangka. Hanya dirinya sendiri yang bisa melenyapkan prasangka orang lain terhadapnya.

“Tak kenal maka tak sayang.” Saya selalu menggunakan frase itu untuk menjembatani kecurigaan dan kebencian yang muncul akibat prasangka. Kontroversi yang muncul seputar Penistaan Agama, Reklamasi, Penggusuran perlu dihadapi langsung oleh Ahok. Tak dapat dihindari lagi. Sidang terbuka menjadi awal yang bagus. Sikapnya selama sidang akan dinilai masyarakat. Tidak hanya apa yang diucapkan, tapi apa yang tersirat juga akan ditafsirkan banyak orang. Di era social media di mana segalanya itu serba instan dan multi-tafsir, satu-satunya cara untuk menghindari prasangka adalah dengan tetap menjadi diri sendiri tapi tambahkan dengan kejujuran dan keterbukaan, apa adanya. Karakter memang sulit diubah sehingga berikanlah alasan orang lain untuk memahami karaktermu, untuk menerimamu. Hal itu hanya bisa dilakukan dengan kejujuran dan kerendahan hati.

Sebagai minoritas, tidak mudah baginya memang untuk memenangi pemilihan umum, apalagi untuk kursi terhormat seperti DKI-1. Ia mesti “sempurna” di dalam ketidak-sempurnaannya. Ia mesti menunjukkan kualitas yang jauh berbeda dari lawannya. Ia punya peluang, walau tidak besar. Ia perlu berubah, dalam pembawaannya dan caranya berkampanye.

Semua catatan di atas hanyalah opini pribadi tanpa berlandaskan data ilmiah. Kalau bagus ya boleh diikuti kalau sampah ya silakan dibuang, seperti tema blog ini. Namun bila Ahok dan timsesnya memilih kampanye negatif yang menyerang lawannya, tanpa perlu data survei saya yakin ia akan kalah di putaran kedua.

Advertisements

Pemilu 2014 dan Anak Zaman Peralihan (part II)


Bila di artikel dengan judul yang sama bagian pertama saya mencoba mengulas mengenai euforia kampanye kedua capres, kesamaan para pendukung capres dengan fans bola, soal Hok-Gie dan Zaman Peralihan, maka di bagian kedua ini saya akan membahas soal pengetahuan saya tentang kedua capres. Dengan berbekal informasi dari media ditambah dengan pengalaman pribadi, barangkali saya kemudian bisa memutuskan untuk memilih capres yang mana.

Visi misi keduanya penuh dengan retorika, janji-janji yang bila dipenuhi tentu berakibat pada masa depan negeri yang cerah (tentunya tergantung sudut pandang masing-masing kubu). Materi kampanye mereka pun telah disiapkan dengan baik oleh tim sukses yang profesional (lengkap dengan serangan terhadap lawannya). Kedua pasang capres-cawapres rasanya sudah siap sekali memimpin negeri ini dan tampak yakin dapat memenuhi janjinya, walaupun kita tahu tak mungkin semua janji tersebut terpenuhi selama 5 tahun mereka menjabat.

Bila kita abaikan hiruk-pikuk kampanye kedua kubu capres, maka bahan yang tersisa untuk menjatuhkan pilihan adalah menilai pribadi masing-masing capres tersebut. Lewat rekam jejak, lewat pikiran (saya rasanya bisa sedikit membaca pikiran orang :p), ucapan dan perbuatannya, sebagaimana kita biasanya menilai orang-orang di sekitar kita. Abaikan semua puja-puji tentang kedua capres ini, abaikan semua rumor dari kampanye negatif, periksa dan lihat sendiri rekam jejak mereka. Hal ini yang akan saya coba lakukan ditambah dengan opini pribadi mengenai kedua capres ini. Saya akan berusaha mengabaikan rumor-rumor yang tidak terbukti dan lebih mengandalkan referensi faktual. Mudah-mudahan bisa objektif.

Bagian kedua ini saya akan menulis tentang Prabowo dan baru di bagian ketiga tentang Jokowi serta kesimpulan pilihan saya. Semoga pembaca bisa sabar mengingat tulisan kedua bagian ini cukup panjang.

Ambisi Sang Putra Mahkota

Prabowo Subianto lahir di tahun 1951, saat ini berusia 63 tahun. Di saat terjadi Peralihan Zaman Orla ke Orba, ia masih remaja berumur 15 tahun. Namun ia tidak menyaksikan Peralihan itu secara langsung karena di tahun 1966-1968 ia sedang sekolah dan tinggal di London. Tahun 1968, ayah Prabowo, Soemitro Djojohadikoesoemo dipanggil kembali oleh Soeharto untuk menjadi Menteri Perdagangan di Kabinet Pembangunan I. Sebelumnya beliau keluar dari Indonesia karena terlibat dalam pemberontakan PRRI/Permesta, menjadi buronnya Pemerintahan Soekarno. Soemitro lalu menjadi arsitek ekonomi Orba. Anak-anak didiknya yang dikirim ke Universitas California, Berkeley untuk belajar Ekonomi seperti Widjojo Nitisastro, Mohammad Sadli, Subroto, Emil Salim, Ali Wardhana dan lain-lain yang kemudian berperan penting dalam pembangunan ekonomi Orba. Mereka kemudian dikenal dengan sebutan Mafia Berkeley.

Singkat kata, Prabowo masuk AKABRI di tahun 1970, lulus di tahun 1974 sebagai lulusan terbaik (satu angkatan dengan SBY tapi lulus satu tahun lebih lambat karena pelanggaran disiplin). Ia lalu ditugaskan di Kopassandha (nama sebelum Kopassus), pasukan khusus elit Indonesia yang saat itu sangat disegani dan ditakuti. Baret Merah panggilan bekennya di masyarakat. Prabowo menjadi komandan pleton Grup 1 Kopassandha di tahun 1976, setahun setelah invasi RI ke Timor Timur di tahun 1975. Latar belakangnya saat itu Timor Timur sedang dilanda perang saudara akibat dekolonisasi Portugis di tahun 1974. Fretilin yang “kiri” berhasil mendesak UDT ke perbatasan dan menguasai pemerintahan. RI melihat kondisi yang berkembang di TimTim dan bahaya “komunisme” yang akan diterapkan Fretilin di negara tetangga itu, akhirnya memutuskan untuk menginvasi TimTim dan mencaploknya ke dalam wilayah NKRI. Operasi Seroja pun diluncurkan Desember 1975 dengan jumlah pasukan puluhan ribu yang jauh melampaui tentara Fretilin.

Dalam sekejap pasukan RI menguasai kota-kota penting di TimTim. Dan selama beberapa tahun menghadapi perlawanan gerilya sisa-sisa pasukan Fretilin. Tentu tidak sedikit korban. Sekitar 1.000 orang korban jiwa di pihak Indonesia, namun di pihak TimTim puluhan ribu korban tewas. Di sebuah interview tanggal 5 April 1977 dengan Sydney Morning Herald, Menteri Luar Negeri RI, Adam Malik mengakui sekitar 50.000 atau bahkan 80.000 warga TimTim terbunuh selama invasi ini. Dan dalam invasi ini, Kopassandha berperan besar. Pasukan Khusus dan TimTim kemudian menjadi bagian terpenting dalam karir militer Prabowo.

Prabowo Muda dan Korps Tercinta

Misi Prabowo saat di TimTim waktu itu adalah menangkap Wakil Presiden Fretilin yang juga Perdana Menteri pertama TimTim, Nicolau dos Reis Lobato. Berhasil menelusuri jejak Nicolau, pasukan Kopassandha Nanggala-28 yang dipimpin Prabowo bersama pasukan Yonif 744 menyergap Nicolau dan terjadi adu tembak. Nicolau tewas dalam adu tembak tersebut. Sebuah kemenangan besar bagi ABRI saat itu namun kehilangan besar bagi TimTim. Setelah TimTim merdeka dan menjadi Timor Leste, Nicolau Lobato ditetapkan sebagai pahlawan nasional mereka. Bahkan bandara international Timor Leste saat ini diberi nama Presidente Nicolau Lobato International Airport.

Prabowo pun melesat karir militernya semenjak itu. Ia bertugas di TimTim hingga tahun 1980. Setelah itu ia ditunjuk menjadi Wakil Komandan Detasemen 81 yang baru dibentuk di dalam Kopassandha untuk penanggulangan anti-teror. Mayor Luhut Panjaitan menjadi Komandannya. Prabowo bersama Luhut Panjaitan dan beberapa perwira Kopassandha kemudian diundang untuk mengikuti 6 minggu pelatihan anti-teroris Special Force Polisi Jerman, GSG 9. Mereka menjadi peserta pertama dari Indonesia. Partisipasi Prabowo dalam pelatihan itu menjadikannya bak selebriti di Jerman dan lingkaran militer di Indonesia serta menaikkan persepsi tentang posisinya di ABRI. Apalagi tidak lama setelah itu ia menikahi Titiek, Siti Hediati Suharto, putrinya Presiden Suharto di tahun 1983 setelah lama berpacaran. Bintang Prabowo semakin bersinar. Seorang perwira militer dengan ayah begawan ekonomi, mertua Presiden RI, pendidikan barat dan visi militer modern. Tidak ada rival di generasinya yang bisa menyainginya di militer saat itu.

Perubahan yang dilakukan Benny Murdani (Pangab saat itu) di tahun 1983-1985 di ABRI sedikit berdampak terhadap karir Prabowo. Kopassandha dikurangi jumlah pasukannya dari 6.500 ke 2.600 dan dari lima grup menjadi tinggal 2 grup. Termasuk yang dipangkas adalah Grup IV, Sandhi Yudha yang kemudian terkait erat dengan Prabowo. Yang menjadi spesialisasi dari Grup ini adalah intelijen tempur dan penggunaan taktik Unconventional Warfare. Kopassandha diganti namanya menjadi Kopassus, yang lebih ramping, namun lebih terlatih. Grup IV dibubarkan dan fungsinya diintegrasikan dengan pusat pelatihan Kopassus di Batujajar, Bandung. Murdani juga menempatkan loyalisnya di Kopassus. Prabowo pun tergeser dan di tahun 1985 pindah ke Kostrad.

Prabowo sempat mencicipi latihan di Fort Benning di tahun 1985 dan kembali ke Seskoad di tahun 1986. Tentu ia dan Murdani tidak memiliki hubungan baik saat itu. Dalam dokumen yang detail ini: Prabowo, Kopassus and East Timor – On the Hidden History of Modern Indonesian Unconventional Warfare yang ditulis oleh Ingo Wandelt mengungkap detail tentang bibit lahirnya Unconventional Warfare di Kopassus versi Prabowo yang membawa pengaruh besar dalam dua kejadian besar di sejarah Indonesia: Referendum 1999 Timor Timur dan Penculikan Aktivis + Kerusuhan Mei 1998.

Di tulisan tersebut, Prabowo saat di Seskoad ingin membuktikan Murdani salah dengan menghapus fungsi Unconventional Warfare di Kopassus menjadikan topik itu sebagai bahan presentasi dan studinya. Prabowo mengusulkan jenis baru dari konsep milisi Sipil untuk TimTim dengan ide:

“It takes East Timorese to fight East Timorese”

Konsep milisi Sipil (mempersenjatai penduduk sipil dan melatihnya dengan keterampilan militer) untuk membantu militer bukan hal baru di dunia dan di ABRI saat itu. Biasanya militer akan mendapatkan dukungan secara intelijen dari milisi Sipil dan juga bantuan saat pertempuran. Namun yang sedikit membedakan konsep Unconventional Warfare Prabowo ini adalah pendekatannya menargetkan satu kelompok untuk milisi Sipil bentukannya: preman Timor Timur.

Preman menjadi jasa keamanan militer juga sudah dilakukan sebelum di TimTim. Di akhir tahun 70-an, militer menggunakan jasa preman terorganisir untuk “mengamankan” Pemilu. Mengarahkan pemilih untuk mencoblos partai tertentu. Beberapa tahun kemudian grup preman ini akhirnya tak dapat dikendalikan dan meningkatkan tingkat kriminalitas di kota-kota. Di tahun 1982-1984 dilancarkan operasi penembakan gelap para preman yang tak terkendali ini. Publik menyebutnya Petrus (penembakan misterius). Para korban Pe­trus ditemukan masyarakat da­lam kondisi tangan dan lehernya te­ri­kat, tewas. Kebanyakan korban juga dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, la­ut, hutan dan kebun. Pola pengambilan pa­ra korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal dan dijemput aparat ke­amanan. Tempo pernah memuat pengakuan pelaku Petrus.

Dengan menggunakan preman terorganisir yang juga adalah orang-orang TimTim sendiri, maka kritik terhadap ABRI dari dunia internasional bisa berkurang di samping berkurangnya tingkat kekerasan dari para pemberontak (Fretilin) pro kemerdekaan (akibat tekanan kekerasan milisi Sipil tentunya). Tentunya agar milisi Sipil ini mau ikut kehendak ABRI, mereka diberikan kekuasaan dan kesejahteraan. Inilah bentuk terbaru dari Unconventional Warfare versi Prabowo yang dibahas selama studinya di Seskoad, menurut dokumen tersebut.

Selepas dari Seskoad, Prabowo kembali ke Kostrad. Namun ia tak lepas kontak dengan TimTim. Ia juga menjalin hubungan dengan dua komandan Kopassus selama ia di Kostrad: Mayjen Sintong Panjaitan dan Brigjen Kuntara. Di tahun 1989 ia kembali ke TimTim sebagai Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kostrad. Saat itu di TimTim telah bermunculan laporan adanya gangster berpakaian ninja, yang dilatih Kopassus soal intelijen, interogasi dan pembunuhan yang menargetkan kelompok pro kemerdekaan. Apakah milisi Sipil berbentuk preman terorganisir oleh Kopassus ini adalah berkat usulan Prabowo kepada rekannya di Kopassus atau tidak, tidak ada datanya.

Segera setelah Murdani lengser dari pos Pangab di Maret 1993, Prabowo langsung kembali ke korps tercintanya, Kopassus. Ia menjadi kepala Grup III, Pusat Pelatihan di Bandung. Tiga tahun kemudian ia diangkat menjadi Komandan Jenderal Kopassus di bulan Juni 1996. Langkah yang pertama ia lakukan adalah mengembangkan kembali 3 Grup di Kopassus menjadi 5 Grup, termasuk Grup IV Sandhi Yudha (cikal bakal karir militernya). Prabowo kembali ke TimTim dan mendirikan secara resmi Gada Paksi (Garda Muda Penegak Integrasi). Gada Paksi menjadi perwujudan dari teori studinya di Seskoad: model organisasi “contras” ala TimTim untuk Unconventional Warfare.

Pemuda-pemuda TimTim direkrut, diberikan pendidikan dan pelatihan. Awalnya mereka membuka bengkel, toko, wartel namun kemudian masuk ke bisnis miras, tempat perjudian dan jasa keamanan. Gada Paksi berkembang dengan cepat, kurang dari setahun memiliki lebih dari 1.000 anggota. Bahkan 600 anggota sempat dikirim ke Jawa untuk mendapatkan pelatihan dari Kopassus. Gada Paksi kemudian digunakan Kopassus di TimTim untuk tugas teror psikologis dan fisik kepada kelompok pro kemerdekaan.

Produk ultimate dari Gada Paksi dan visi UW Prabowo ada pada sosok Eurico Guterres. Silakan googling namanya dan akan ditemukan rekam jejak yang cukup menarik. Mungkin nama tersebut tidak cukup terkenal di Jakarta, namun nama yang lain lagi: Hercules Rozario Marsal aka Hercules tentunya sudah tak asing lagi bagi warga Jakarta.

Sayangnya kekerasan berlebihan yang dilakukan milisi-milisi Sipil binaan Kopassus di TimTim akhirnya tidak menghasilkan manfaat untuk NKRI. Kekerasan ini mendapatkan sorotan dunia internasional dan akhirnya RI mendapatkan tekanan untuk mengadakan Referendum di tahun 1999 dan penduduk TimTim memilih melepaskan diri dari NKRI. Visi Prabowo di final gagal terealisir.

Namun Prabowo tidak perlu mengkhawatirkan soal Referendum 1999 karena setahun sebelumnya ia telah mengalami masalah yang lebih serius: tereksposnya penculikan aktivis oleh tim Mawar Kopassus. Penculikan ini dilakukan oleh bagian dari Grup IV yang difavoritkannya. Tulisan dari Dian Paramita di blognya sangat mendetail menceritakan soal penculikan ini: Rangkaian Kejadian Penculikan dan Keterlibatan Prabowo.

Tidak hanya penculikan, Prabowo juga dirumorkan terlibat dalam Kerusuhan Mei 1998, yang mana dalam laporan Tim Gabungan Pencari Fakta ditemukan orang-orang sipil yang tidak dikenal masyarakat lokal yang mengarahkan dan memprovokasi. Kehadiran milisi Sipil di lokasi dan pembiaran militer menjadi indikasi kemungkinan keterlibatan Unconventional Warfare ala Kopassus di kerusuhan-kerusuhan yang terjadi serentak di kota-kota besar tersebut. Prabowo membantah keterlibatannya, tentunya.

Kerusuhan Mei 1998 dan kasus penculikan mahasiswa 1997-1998 ditambah dengan krisis moneter dunia mengubah jalur hidup Prabowo. Saat itu ia sebagai Pangkostrad berpeluang besar untuk menjadi Panglima ABRI dan sudah diproyeksikan menjadi pewaris tahta Suharto. Saya dan teman-teman segenerasi saat itu sudah memprediksikan tongkat estafet diktator rezim ORBA akan dioper dari sang mertua ke menantunya. Siapa yang menduga kalau Sang Putra Mahkota berubah takdirnya menjadi Outsider, yang tersingkirkan, dari militer dan dari korps kecintaannya. Bahkan ia ditolak oleh keluarga Cendana, dicap pengkhianat oleh isterinya (yang kemudian menceraikannya) karena dianggap berkonspirasi dengan kelompok-kelompok prodem untuk kudeta sang mertua. Wawancara Prabowo dengan Majalah Panji ini cukup menarik untuk memberikan pencerahan mengenai isi pikiran Prabowo saat itu.

Diberhentikan dari militer dan keluar dari lingkaran kekuasaan serta dikecam oleh publik yang sedang merasakan euforia demokrasi, Prabowo hengkang ke luar negeri. Di saat yang bersamaan aksi unconventional warfare warisannya di TimTim gagal dengan Referendum yang memberikan kemerdekaan bagi Timor Leste. Apakah hal itu cukup untuk meredam ambisi Sang Putra Mahkota?

Ternyata tidak.

Ia berbisnis bersama adiknya, yang sudah konglomerat saat itu. Ia kembali masuk ke Golkar dan ikut Konvensi Capres Golkar di tahun 2004 dan masih gagal. Ia masuk dan menjadi ketua HKTI. Mendirikan Gerindra di 2008 dengan satu tujuan utama: menjadikannya Presiden RI 2009. Bergandengan dengan Megawati dan masih gagal. Tahun ini Gerindra akhirnya mendapatkan suara yang cukup untuk mencalonkannya dengan menggandeng partai-partai yang lebih kecil. Ambisi itu tak pernah hilang.

Tahun 2014 ini menjadi pertaruhan terakhir Sang Putra Mahkota untuk menjadi Raja.

bersambung 

bagian III: Kesempatan Anak Tukang Kayu