Ketika Garuda Menapak Bumi


Kekalahan timnas Indonesia 0-3 dari Malaysia di stadion Bukit Jalil semalam dengan sendirinya meredam hingar-bingar selebrasi beberapa pekan terakhir ini. Satu-satunya hal yang masih bisa dibanggakan oleh rakyat Indonesia di tahun 2010 ini seakan-akan tidak mau mengkhianati tema tahun 2010 ini, tahun yang penuh kekecewaan.

“Timnas Indonesia bermain normal, di babak pertama,” kata Alfred Riedl, pelatih timnas. Sayangnya hanya di babak pertama. Di babak kedua timnas Indonesia terlihat kehilangan konsentrasi. Kehilangan konsentrasi sejenak dari Maman -pemain belakang timnas, membuat pemain Malaysia -Safee, berhasil mencuri bola dan kemudian mencuri gol, 1-0. Tidak lama berselang, sepakan jarak jauh pemain Malaysia -Ashari, menghasilkan gol, 2-0. Kepanikan melanda barisan pertahanan Indonesia. Empat hingga lima pemain Indonesia di kotak penalti tak mampu menghalau bola. Indonesia berusaha menyerang, namun serangan balik lewat umpan lambung yang cantik berhasil disundul lagi-lagi oleh Safee, 3-0. Game over.

Sesaat sebelum gol pertama Malaysia, sempat muncul insiden yang bakal menjadi kambing hitam media dan banyak pihak untuk kekalahan timnas Indonesia ini. Beberapa pendukung Malaysia menyorot pemain Indonesia dengan sinar laser hijau dengan tujuan mengganggu konsentrasi, dan mereka berhasil. Kiper Indonesia, Markus Horison paling terpengaruh. Ia memimpin teman-temannya untuk melakukan protes dan boikot pertandingan kepada wasit. Wasit menghentikan pertandingan sejenak di menit 50-an babak kedua. Setelah himbauan dari FA Malaysia dan mungkin pemberian jaminan insiden serupa tak akan terulang, pertandingan kembali dilanjutkan. Tidak lama berselang Malaysia membobol gawang Indonesia.

Ada lagi yang memilih kambing hitam kekalahan timnas kepada yang berada di Indonesia. Euforia media terhadap keberhasilan timnas Indonesia di babak-babak sebelum final AFF ini, selebrasi berlebihan oleh politisi-pengusaha yang salah satunya juga merangkap sebagai ketum PSSI, infotainment yang “genit” dengan pemain ganteng hasil naturalisasi bisa jadi pilihan kambing hitam. Liputan media yang berlebihan dirasakan membuat timnas menjadi jumawa, istilah asingnya “complacent”, sesuatu yang sangat dihindari di pertandingan sepakbola. Dalam pertandingan level tinggi di mana dua tim setara, kesalahan sedikit akibat kurangnya fokus bisa berakibat kekalahan fatal. Dan itu yang kita saksikan semalam.

Menurut pengamatan mereka yang ada di Malaysia, suasana timnas Indonesia bukan seperti suasana tim yang siap bertarung, tapi sudah seperti suasana tim yang sedang melakukan selebrasi kemenangan. Politisi-pengusaha berebutan untuk berbagi “spotlight” dengan timnas. Entah dalam acara undangan makan-makan, doa bersama, atau hanya foto bersama. Masih untung kita punya pelatih asing, yang tidak merayakan kemenangan sebelum menang betulan. Permintaan Andi Mallarangeng, Menpora untuk dapat makan bersama timnas di Malaysia ditolak. Permintaan yang tidak perlu muncul sama sekali, lebih-lebih dari seorang Menteri Olahraga di tengah kompetisi olahraga yang membawa nama negara. Ironis.

Mungkin timnas Indonesia beserta pejabat PSSI, Menpora dan media yang berangkat ke Malaysia berpikir kemenangan 5-1 di babak grup menjadi jaminan kita akan menang mudah di Bukit Jalil. Ternyata tidak. Ini adalah sepakbola di mana kemenangan ditentukan oleh performa pada hari itu di lapangan hijau. Bukan hitung-hitungan di atas kertas. Dan di malam 26 Desember 2010 itu, Garuda akhirnya menapak bumi. Jatuh dengan keras, dan sakit.

Pertandingan kedua akan berlangsung 29 Desember 2010 di Gelora Bung Karno. Entah apakah lapangan rumputnya bisa siap, setelah dirusak calon penonton yang marah akibat tidak jelasnya penjualan tiket final oleh PSSI. Demikian amburadulnya manajemen sepakbola kita, sampai ke jualan tiket pun tak becus. Panitia mengumpulkan calon pembeli tiket (yang sedang marah) ke dalam stadion, entah dapat inspirasi cemerlang dari mana (dan Nurdin Halid terpilih sebagai Best FA Official oleh Guardian, edisi mockery tentunya).

Apakah timnas Indonesia mampu membalas kekalahan dari Malaysia di kandang nanti? Alfred Riedl berkata jujur, peluangnya hanya 5-10 persen. Malaysia pasti akan bermain bertahan dan mengandalkan serangan balik sebagaimana yang mereka lakukan di Vietnam. Mereka tidak akan tampil seperti ketika dicukur 5-1 di babak grup. Mereka juga ingin juara AFF. Terlepas dari penampilan Malaysia, semua itu kembali lagi kepada timnas Indonesia, apakah mampu menampilkan permainan terbaik mereka di turnamen ini di final kandang? Bila hal itu terjadi, tentu masih mungkin untuk mendapatkan trofi AFF ini. Seperti kata Arsene Wenger,”If you do not believe you can do it then you have no chance at all.” Mudah-mudahan para pemain timnas Indonesia masih memiliki kepercayaan diri itu.

Media kita bisa membantu timnas Indonesia dengan membiarkan pelatih Alfred Riedl berpikir keras tentang strategi dan bersama timnya mempersiapkan timnas untuk 29 Desember nanti. Media dapat menunda “gangguannya” terhadap anggota timnas sampai turnamen berakhir dan politisi-pengusaha lebih baik urusi bisnis dan PR mereka yang tak kunjung beres. Dengan kata lain, mari “karantina” timnas Indonesia dari sorotan media. Dan tanggal 29 Desember 2010 nanti kita akan menonton dan mendukung penampilan puncak mereka. Semoga masih ada hasil baik untuk tahun 2010 ini. Timnas Indonesia tak perlu ikut-ikutan menghadirkan kekecewaan sebagaimana yang telah dilakukan segenap pejabat publik negeri ini, tahun ini.

Advertisements