Mei 98, Kelahiran Kembali Kebanggaan Bangsa


pic courtesy of @uberfunk

Bulan Mei adalah bulan yang memiliki makna istimewa, terkait dengan kata “awakening“. Di bulan ini tanggal 20 ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Bagi umat Buddhist bulan Mei adalah bulan Vesākha, yang memperingati “pencerahan” Buddha Gotama. Pencerahan di sini amat dekat maknanya dengan kata “bangun”, “kebangkitan” -bangunnya Ia dari “mimpi” untuk dapat “terjaga” melihat kenyataan.

Untuk saksi sejarah, bulan Mei tahun 1998 memiliki makna yang amat spesial. Dalam satu bulan, kita menyaksikan serentetan peristiwa yang mengubah negeri ini, untuk selama-lamanya. Peristiwa yang dimulai dari demonstrasi besar-besaran mahasiswa di Jakarta dan daerah-daerah, kemudian kerusuhan massal yang menimbulkan korban tewas dan perkosaan wanita, diakhiri dengan lengsernya Soeharto, presiden diktator yang sebelumnya tak tersentuh selama 32 tahun kekuasaannya di negeri ini.

Sekilas tentang apa yang terjadi di Mei 98. Krisis finansial terbesar dalam sejarah menghantam Asia termasuk Indonesia di pertengahan tahun 1997. Pondasi ekonomi yang lemah membuat Indonesia yang menderita paling parah dari krisis ini dan paling lama bangkit. Krisis kepercayaan terjadi, rush deposan ke bank-bank memaksa suku bunga SBI sampai 70%, depresiasi rupiah hingga ke level Rp 17.000/USD. Inflasi tertinggi sejak era ORBA mengakibatkan harga-harga barang naik luar biasa.

Krisis finansial ini seakan membuka topeng pembangunan ekonomi ORBA yang berlandaskan pada crony capitalism. Pembangunan yang dipenuhi korupsi dan kolusi Soeharto dan kroni-kroninya (hasil riset Stolen Asset Recovery Initiative: 15-35 billion US$ dana pembangunan dikorupsi Soeharto). Ketidakmampuan pemerintah dalam menangani krisis yang bergulir hingga ke tahun 1998 mengakibatkan praktek KKN dalam pembangunan selama ini akhirnya terekspos ke publik. Sederhananya, urusan perut membuat orang nekat, mahasiswa akhirnya berani bersuara dalam skala yang besar.

Februari 98, aksi-aksi mahasiswa mulai ramai di kampus-kampus. Contoh tulisan mengenai aksi mahasiswa dalam kampus ini dapat membantu memberikan gambaran apa yang terjadi.

Maret 98, mahasiswa UI ke Gedung DPR/MPR menyatakan penolakan terhadap pertanggungjawaban Soeharto dan menyampaikan agenda reformasi nasional. Diterima Fraksi ABRI. Soeharto dan BJ Habibie disumpah MPR menjadi Presiden (untuk kesekian kalinya) dan Wakil Presiden. Kabinet Pembangunan VII terbentuk. Kabinet ini dinilai makin kental unsur KKN dengan adanya nama Bob Hasan dan Tutut (anak sulung Soeharto).

April 98, Soeharto minta mahasiswa kembali ke kampus. Dialog antara menteri-menteri dan Pangab Wiranto dengan mahasiswa di Arena PRJ, Jakarta. Banyak perwakilan mahasiswa yang menolak dialog ini.

Mei 98, bulan penuh sejarah, akan diuraikan sesuai urutan tanggal peristiwa:

  • 2 Mei, harga BBM dinaikkan.
  • 4 Mei, mahasiswa di Medan, Bandung, Yogyakarta demo besar-besaran protes kenaikan harga BBM.
  • 5 Mei, demonstrasi besar di Medan berakhir dengan kerusuhan.
  • 9 Mei, Soeharto berangkat ke Kairo, Mesir untuk KTT G-15.
  • 12 Mei, empat mahasiswa Trisakti tertembak di dalam kampus ketika digelar demonstrasi besar-besaran ke gedung DPR/MPR. Puluhan luka-luka.
  • 13-15 Mei, kerusuhan terjadi di Jakarta dan daerah-daerah. Toko-toko dijarah, kantor-kantor dibakar, terutama milik warga Tionghoa. Perkosaan juga terjadi pada puluhan wanita etnis Tionghoa. Ratusan warga juga mati terbakar di supermarket yang sedang dijarah. Laporan Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa 13-15 Mei 1998.
  • 15 Mei, Soeharto memperpendek masa kunjungannya dan kembali ke Indonesia dari Kairo. Suasana Jakarta masih mencekam.
  • 19 Mei, Soeharto memanggil tokoh-tokoh Islam seperti Nurcholis Madjid, Gus Dur, Malik Fajar, dan KH Ali Yafie. Dalam pertemuan, para tokoh menyampaikan masyarakat dan mahasiswa minta Soeharto mundur. Isu beredar malamnya Amien Rais mengajak massa ke Monas untuk demonstrasi besar-besaran memperingati Hari Kebangkitan Nasional.
  • 20 Mei, jalan menuju Monas diblokir kawat berduri. Amien Rais batalkan demonstrasi dengan alasan keamanan. Tank dan panser militer terlihat di Monas. Mahasiswa ke Gedung DPR/MPR.
  • 21 Mei, di Istana Merdeka, pukul 09.05 WIB Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya dan BJ Habibie disumpah menjadi Presiden RI ketiga.

Serentetan peristiwa di bulan Mei 98 tersebut menghadirkan emosi yang begitu bervariasi. Dari rasa marah, benci, takut, sedih, malu, lega, gembira sampai dengan bangga. Di manapun kita berada dan sedang melakukan aktivitas apapun pada saat itu, Mei 98 mengubah pandangan kita tentang Bangsa Indonesia.

Teringat dulu saat saya masih SMP dan ikut kursus Bahasa Inggris di luar sekolah. Guru Bahasa Inggrisnya adalah seorang Singaporean bertanya, “Apa yang Anda banggakan sebagai bangsa Indonesia?”

Pertanyaan yang sederhana tapi sungguh sulit saya mencari jawabannya. Apa yang saya banggakan? Luasnya daerahnya? Saat itu saya belum punya wawasan seberapa luas Indonesia. Keragaman budaya? Ah itu hanya di atas buku sejarah. Bhinneka Tunggal Ika? Sebaliknya saat itu sebagai seorang keturunan Tionghoa, saya merasakan diskriminasi di pergaulan sehari-hari. Tampaknya lebih banyak malunya daripada bangganya menjadi bangsa Indonesia, bagi saya saat itu tentunya.

Namun setelah Mei 98, saya bisa menjawab pertanyaan itu dengan mudah.

13 Mei 1998 bergabung dengan rekan-rekan mahasiswa kampus Unpar di Bandung, saya ikut demonstrasi 50 ribu mahasiswa Aksi Reformasi Damai di Gedung Sate dan Lapangan Gasibu. Kembali dari demonstrasi, nonton tv di kampus tersiar berita kerusuhan di Jakarta, saya terdiam. Esoknya tersebar berita penjarahan toko-toko dan pemukiman etnis Tionghoa, saya kaget dan bingung. Namun rentetan kejadian berikutnya membuat lega dan gembira, rakyat Indonesia akhirnya menentukan nasibnya sendiri, tidak menyerah pada kekuatan dan provokasi militer.

Saya bangga sebagai bangsa Indonesia karena bangsa ini telah menentukan sendiri untuk mengakhiri yang jahat dan menumbuhkan yang baik. Bangsa ini memilih untuk mengakhiri rasisme, diskriminasi, otoritarianisme militeristik, dan menumbuhkan pluralisme, egalitarianisme, dan demokrasi. Mei 98 saya tandai sebagai titik tolak kelahiran kembali kebanggaan bangsa Indonesia, Kebangkitan Nasional kedua.