Ramalan itu Terealisasi! Mesut Özil, The Second Coming


Seri Model Finansial Arsenal Bagian Ketiga

image

Di dalam tulisan saya sebelumnya, Model Finansial Arsenal bagian pertama dan kedua, ada prediksi bahwa Arsenal akan belanja besar di awal musim 2014. Dalam dua tulisan tersebut dijelaskan mengapa Arsenal mesti “irit” sejak pembangunan stadion baru, Emirates Stadium, dan mengapa awal musim 2014 adalah masa berakhirnya paceklik pembelian pemain besar. Masa belanja besar itu ternyata dimulai satu tahun lebih awal dari skenario, dengan dibelinya Mesut Özil dari Real Madrid di deadline transfer window musim ini. Sebuah transfer yang tidak hanya memecahkan rekor Arsenal sebelumnya namun juga menjadi rekor pembelian pemain termahal kedua (£42.5M) di Premier League, setelah transfer Torres (£50M) dari Liverpool ke Chelsea.

Rahasia Sukses Arsenal Membeli Özil

Mengapa Arsenal bisa membeli Özil sedangkan klub kaya EPL lainnya tidak? Ada beberapa jawaban yang berkontribusi terhadap suksesnya pembelian terbaik transfer window ini, antara lain:

1. Punya cadangan dana cash yang melebihi seluruh klub EPL (hasil tabungan 8 tahun).

2. Kesabaran dalam menunggu timing transfer yang tepat.

Saat City sudah menghabiskan budgetnya untuk membeli pemain dari klub-klub kelas dua, dan Chelsea menutup pembelanjaannya dengan membajak Willian dari Sp*rs, Arsenal belum menyentuh pundi-pundinya. Hanya MU klub EPL yang masih mungkin membajak Özil di saat-saat terakhir namun gerak MU terlambat dan ada faktor lain yang membuat Arsenal akan selalu lebih unggul dari MU di kasus ini. Kesabaran dalam menanti pemain yang benar-benar top ini akhirnya berbuah manis. Özil adalah pemain yang lebih baik daripada semua nama pemain penyerang target Arsenal yang beredar di media. Mulai dari Higuain, Jovetic, Rooney, Suarez, Di Maria dan terakhir Draxler. Pepatah Save the best for last benar-benar dijalankan Arsenal. Sebuah keputusan yang beresiko tinggi namun bila sukses, seperti dalam kasus ini, akan sangat memuaskan.

3. Manager yang dihormati pemain top dunia dan bisa berbahasa Jerman.

Özil mengatakan cukup satu pembicaraan lewat telepon untuk meyakinkan dirinya bahwa Wenger adalah manager yang tepat untuk mengembangkan dirinya ke level yang lebih tinggi. Sebuah keputusan yang tidak mudah mengingat di usianya yang hampir 25 tahun ini, ia mengambil keputusan di klub mana ia akan mencapai puncak permainannya. Kepercayaannya pada Wenger tentunya berdasarkan pada reputasi Wenger sebagai pencipta bintang dan pembicaraan dalam bahasa ibunya sedikit banyak berpengaruh dalam menumbuhkan kepercayaan itu. Bayangkan kalau Özil harus berkomunikasi dengan Moyes (dengan aksen Scouser-nya) lewat translator di telepon. Mungkin ia akan lebih memilih bercakap-cakap dengan Siri daripada menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengerti rencana Moyes menduetkannya dengan pemain basket berambut jadul di lini tengah.

4. Blunder dari Sp*rs.

Penjualan Bale ke Madrid memungkinkan transfer ini terjadi. Hampir tidak pernah terjadi dalam sejarah klub sebesar Madrid, penjualan salah satu pemain terbaik di usia puncak. Hal ini hanya dimungkinkan karena mereka membeli superstar termahal dalam sejarah sepakbola modern. Untuk me-recoup sebagian dari pengeluaran itu, Madrid harus menjual pemainnya. Ancelotti memilih mempertahankan Di Maria daripada Özil dan Arsenal yang memiliki kontak yang dekat dengan Madrid, punya opsi untuk mendapatkan salah satu di antara dua. Upaya Sp*rs untuk menggagalkan transfer ini bernasib sama dengan upaya mereka mengalahkan Arsenal dengan pembelian £100 juta-nya. Bahkan panggilan telepon di saat-saat terakhir dari Levy untuk menggagalkan transfer Özil ke Arsenal diabaikan Perez. Strategic partnership antara Sp*rs dan Madrid ternyata hanya menguntungkan Arsenal. Alih-alih mimpi finish di atas Arsenal, penjualan Bale malah membantu Arsenal menjadi penantang serius juara liga musim ini. Ironis. Forever in our shadow.

Dampak Transfer Özil

Bila Bergkamp yang pertama kali mengenalkan fans Arsenal pada mukjizat sehingga membuat kita yakin kalau Tuhan itu ada, maka Özil adalah kedatangan kedua, the second coming. Setelah menunggu dan menunggu sekian lama sejak mukjizat pertama, saat yang dinanti akhirnya tiba. Özil akan mengubah Walcott menjadi Henry lewat assist-assistnya. Ia juga akan mengangkat level permainan skuad Arsenal secara keseluruhan. Playmaker terbaik di generasinya akan menjadi solusi problem kreativitas Arsenal musim lalu. Bayangkan Cazorla, Özil dan Ramsey/Wilshere memporak-porandakan lini pertahanan lawan. Dan karena Özil sang top assister seluruh Eropa ini nyaman bermain di kotak penalti lawan, hal yang tidak dimiliki pemain tengah Arsenal musim lalu, jumlah gol Arsenal bisa bertambah 15-20 gol dari musim lalu. Salah satu prasyarat untuk menjadi juara liga.

Di luar lapangan bola, transfer Özil ini mengubah persepsi terhadap klub bola ini. Bila Arsenal sebelumnya dianggap tidak berambisi, hanya mencari untung, tidak berani membeli pemain mahal, maka sekarang persepsi ini berubah total. Walaupun sesungguhnya langkah ini sudah menjadi bagian dari strategi jangka panjang Arsenal (lihat artikel Model Finansial Arsenal), pembelian Özil mempermudah publik dan fans Arsenal untuk percaya kalau Arsenal memang punya strategi jangka panjang untuk menjadi klub sukses secara finansial dan prestasi lapangan. Wenger mengatakan ia hanya akan membeli top top quality player, dan hal itu ia buktikan. Tidak ada pemain yang lebih baik dari Özil di transfer window EPL musim ini. Pembelian Özil menjadi benchmark transfer Arsenal berikutnya. Pembelian pemain berikutnya dengan harga kisaran £30-40 juta sekarang tidak lagi menjadi hal yang tidak tercapai bagi Arsenal. Arsenal sekarang beroperasi di wilayah klub bola seperti Bayern Muenchen, government clubs (duo La Liga) dan sugar daddy clubs soal pembelian pemain. Siapa yang berikutnya kita harapkan bergabung? Reus, Gundogan, Draxler menjadi nama-nama yang realistis, bukan lagi mimpi di siang bolong. Pembelian Özil menjadi daya tarik pemain-pemain top di luar Arsenal untuk bergabung, sebagaimana Bergkamp dulu menarik pemain seperti Overmars, Vieira, Petit, Henry, dan lainnya untuk bergabung. Selain daya tarik Arsene Wenger tentunya.
Boleh disimpulkan, pembelian Özil meletakkan kembali Arsenal di jajaran klub elit dan kaya dunia. First tier club yang belanja dari klub first tier juga. Wenger tentu akan terus mencari pemain muda dan bargain buy seperti Sanogo, Flamini, Viviano, namun ia juga tidak akan ragu membayar super mahal untuk pemain luar biasa seperti Özil.

image

Skuad Terkuat Arsenal

Ada pengamatan menarik dari Flamini di wawancara terbarunya di Arsenal.com soal skuad musim ini. Menurutnya banyak persamaan antara skuad musim ini dengan skuad musim 2007/2008, yaitu rasa kebersamaan yang kuat. Masih kita ingat di musim itu pertemanan antara Flamini-Fabregas-Rosicky-Hleb sangat erat di dalam dan luar lapangan. Musim itu Arsenal memimpin klasemen dengan meyakinkan sampai bulan Februari. Permainan terbaik Arsenal sejak pindah ke stadion baru diperagakan mereka. One touch football, lini tengah yang mendominasi dan saling memback-up satu sama lain adalah ciri khas skuad musim itu. Hanya patah kakinya Eduardo yang bisa menghentikan langkah Arsenal saat itu. Shock mendera seluruh pemain dan Wenger gagal mengembalikan fokus ditambah perilaku moody sang kapten Gallas menurunkan Arsenal ke posisi ketiga.

Musim ini, semangat kebersamaan sangat kuat dan terasa di pre-season tour. Pemain egois telah keluar dari tim. Sisanya adalah pekerja keras yang siap memback-up satu sama lain. Ada kemungkinan besar performa di musim 2007/2008 bisa terulang kembali minus shock di penghujung musim. Semenjak Eduardo, sudah ada tiga pemain Arsenal yang mengalami cedera parah, jadi ini sudah bukan hal baru lagi. Selain itu kematangan pemain Arsenal musim ini jauh lebih baik daripada 5 tahun lalu. Dengan tambahan Özil dan Flamini, skuad Arsenal musim ini bisa berpotensi menjadi yang terkuat semenjak pindah dari Highbury. Kebersamaan antar pemain (baca: Victoria Concordia Crescit) dan cedera pemain menjadi kunci keberhasilan. Apabila Arsenal mampu mengembalikan pemain yang cedera lebih cepat ke full training dan menjaga tidak ada lagi cedera parah lanjutan, musim ini akan ada banyak kejutan yang bagus untuk Gooners. Walaupun tentunya akan sangat sulit mengalahkan kejutan pembelian Özil ini. Belum ada yang namanya third coming di kitab suci manapun.

Moneyball + Wengerball


Model Finansial Arsenal dan Mengapa Fans Perlu Memahaminya (bagian kedua)

Moneyball adalah film dibuat yang berdasarkan kisah nyata seputar tokoh Billy Beane, General Manager tim baseball Oakland Athletics di Amerika Serikat. Menceritakan bagaimana Billy Beane berhasil membawa “tim kecil” bersaing dengan tim-tim besar di kompetisi MLB. Sebuah romantisme dalam dunia baseball. Film yang dibintangi Brad Pitt ini masuk dalam 6 nominasi Oscar, jadi termasuk film yang bagus. Saya baru menonton film ini beberapa hari lalu dan walaupun mengetahui bahwa Billy Beane mengidolakan Arsene Wenger, tetap saya terkejut melihat betapa banyak persamaan antara Billy Beane dan Arsene Wenger, dan cara mereka menjalankan klub masing-masing.

Peringatan: paragraf berikutnya mengandung spoiler ringan sehingga mungkin mengganggu bagi mereka yang belum namun berencana menonton film ini

A Small Market Team

Awal film ini dimulai dengan adegan pertandingan play-off post season tahun 2001, di mana Oakland A’s (selanjutnya disebut The A’s) mengalami kekalahan dari New York Yankees. Lalu adegan berlanjut dengan The A’s menjual tiga pemain terbaiknya di awal musim (terdengar akrab?). Billy Beane lalu bertemu dengan pemilik klub, dengan jujur ia mengatakan The A’s tak dapat berprestasi lebih baik musim depan (tahun 2001 mereka peringkat 2 di AL West) karena baru saja menjual 3 pemain terbaiknya. Billy menuntut tambahan budget untuk pembelian pemain karena ia merasa tak mungkin dapat berkompetisi dengan budgetnya yang hanya $38 juta melawan tim berbudget $120 juta seperti New York Yankees. Pemilik klub menjawab, kita tak punya dana dan kita tidak harus berkompetisi dengan tim-tim yang berbudget lebih besar ini. “Kita harus bekerja dengan batasan-batasan yang kita miliki dan kamu harus melakukan pekerjaan terbaik dalam merekrut pemain baru,” ujarnya.

Billy tidak bisa menerima penjelasan ini. Ia tidak butuh budget $120 juta, namun ia butuh suntikan dana tambahan untuk membangun tim juara. Untuk apa bermain di kompetisi kalau tidak untuk juara? Standar yang ia tetapkan adalah minimal masuk championship World Series (dalam kompetisi baseball Amerika, play-off post season menentukan sebuah tim masuk World Series atau tidak). Tapi apa jawaban pemilik klub?

“Billy, we’re a small market team, and you’re a small market GM. I’m asking you to be okay not spending money that I don’t have.”

Persamaan Billy Beane dan Arsene Wenger

Kutipan di atas kurang-lebih sama dengan kondisi Arsenal saat ini. Mungkin Wenger tidak akan berbicara seperti Billy ke Stan Kroenke tapi kesepakatan yang sama saat ini terjadi di Arsenal. Wenger tidak akan membelanjakan uang yang tidak dimiliki Arsenal. Walaupun kekuatan finansial Arsenal secara relatif jauh lebih besar daripada The A’s, namun menghadapi klub-klub Sugar Daddy dan Establishment (baca model finansial Arsenal bagian pertama), maka kemampuan belanja Arsenal bisa dikatakan pada posisi yang sama dengan The A’s. Kita bertanding dalam kompetisi yang tidak seimbang.

Lalu apa yang dilakukan Billy setelah penolakan dari sang pemilik? Ia kecewa, namun tidak ingin meninggalkan klub. Ia lalu berpikir keras bagaimana caranya untuk bisa berkompetisi dengan klub-klub berbudget besar. Ia sadar ia tak dapat berkompetisi dengan cara mereka, cara konvensional menjalankan tim baseball, belanja pemain mahal dan membentuk tim penuh bintang. Ia harus menemukan cara baru, cara yang benar-benar efektif untuk bersaing tanpa harus mengandalkan kekuatan finansial.

Ia akhirnya bertemu dengan Peter Brand, anak muda lulusan Yale yang jago statistik. Peter Brand menganalisa kekuatan pemain dengan statistik, dengan model yang disebut Sabermetric. Billy Beane terkesan, lalu “mentransfernya” dari klub tempatnya bekerja. Peter dijadikan asisten GM dan sejak itu mereka menilai pemain dengan cara yang sama sekali berbeda dengan cara konvensional. Peter diminta Billy menilai pemain-pemain baseball yang ada di liga, dan akhirnya mereka menemukan pemain-pemain undervalued, yang dinilai murah oleh pasar dan klub tempat bermainnya sekarang tapi memiliki angka-angka statistik yang mereka butuhkan.

Cerita bergulir dan agar tidak terlalu spoiler di sini, singkatnya The A’s berhasil berprestasi lebih baik daripada musim sebelumnya. Mereka bahkan mencetak rekor kemenangan berturut-turut sebanyak 20 kali, pertama kali dalam sejarah American League dan rekor ini masih bertahan hingga sekarang. Mereka menempati posisi pertama klasemen AL West, namun sayang akhirnya tetap kalah di play-off. Namun prestasi The A’s membuka mata dunia baseball di Amerika dan menjadi perbincangan seluruh penggemar baseball, manager, pemilik klub dan jurnalis. Apalagi di awal-awal kompetisi pers sempat mencemooh pendekatan Billy Beane yang menggunakan statistik untuk menganalisa pemain dan membeli pemain-pemain murah. Publik terpesona dengan romantisme klub baseball miskin seperti The A’s mengalahkan raksasa seperti New York Yankees. Mendekati akhir film, walaupun tidak berhasil masuk World Series, Billy Beane ditawari pekerjaan GM oleh Boston Red Sox, klub baseball yang kaya (dalam benak kita akan muncul adegan Arsene Wenger ditawari menjadi manajer Real Madrid, yang memang nyata terjadi).

Lalu apa kemiripan Billy Beane dan Arsene Wenger? Saya coba uraikan dalam poin per poin di bawah ini:

  1. Kemampuan belanja pemain dibatasi oleh budget klub. Bila Billy Beane dibatasi budget karena klubnya bermain di stadion tua dengan tingkat attendance termasuk yang terendah di liga, maka Arsene Wenger dibatasi oleh hutang pembangunan stadion baru Ashburton Grove (Emirates Stadium). Arsenal harus pindah karena Highbury hanya berkapasitas 35.000 orang, bila tidak pindah Arsenal kurang lebih akan bernasib sama dengan The A’s yang masih berbudget rendah sampai sekarang.
  2. Menggunakan cara alternatif yang pintar untuk bersaing dengan klub-klub kaya. Billy Beane menggunakan analisa statistik untuk membeli pemain murah dan kemudian menjualnya saat sudah jadi bintang. Arsene Wenger melakukan hal yang sama, kombinasi pendekatan statistik dan jaringan scouting yang luas memungkinkan Arsenal membeli pemain murah (dan muda) untuk kemudian menjualnya saat sudah menjadi bintang. Proses regenerasi pemain dilakukan Wenger dan Billy. Perbedaannya kalau umur pemain aktif di baseball bisa lebih lama, di sepakbola lebih pendek. Sehingga Wenger harus lebih sering melakukan regenerasi pemain daripada Billy. Di sepakbola ada batasan umur tertentu di mana pemain masih bisa laku dijual mahal.
  3. Melakukan pendekatan yang tidak konvensional dalam pembentukan tim juara. Hasilnya mereka membentuk tim juara yang juga pencetak rekor-rekor baru, dengan segala keterbatasan finansial yang ada. Bila The A’s menciptakan rekor kemenangan beruntun sebanyak 20 kali maka Arsenal-nya Wenger menciptakan dua rekor di liga Inggris yang tidak kalah impresif: kemenangan 14 kali beruntun di tahun 2002 dan tak terkalahkan sebanyak 49 kali beruntun. Kedua rekor ini belum terpecahkan di liga Inggris sampai sekarang. Billy melakukan pendekatan coaching ke pemainnya lewat analisa statistik kelebihan/kekurangan pemain di setiap pertandingan, Wenger menerapkan gaya bermain Wengerball yang efektif dari tim utama sampai tim akademi Arsenal sehingga transisinya bisa mulus. Wengerball adalah soal sepakbola cepat satu dua sentuhan di permukaan lapangan, bukan bola-bola panjang ala kick n rush. Untuk itu Wenger menerapkan pengawasan nutrisi yang ketat untuk membentuk stamina pemain sehingga dapat bermain cepat tanpa lelah. Melakukan analisa statistik untuk menilai pemain mana yang efisien, sehingga hanya pemain-pemain berstamina bagus, berteknik tinggi dan bisa bermain sepakbola satu dua sentuhan cepat yang tinggal di Arsenal saat ini. Wenger merombak total timnya sudah 4 kali (tim 1998-2000, 2001-2005, 2006-2011, 2012-sekarang) dan level permainan Arsenal yang tinggi dengan ciri khas Wengerball tetap terjaga karena konsistensi pendekatan ini.
  4. Tidak selalu berhasil menjadi juara dalam kompetisi. The A’s tidak pernah lagi masuk play-off sejak tahun 2006, sedangkan Arsenal belum pernah memenangkan trofi sejak tahun 2005. Namun kedua manager ini selalu diapresiasi dan dihormati oleh pemilik klub lain, manager lain dan pers karena publik menyadari kalau mereka “consistently punching above their weight“. Keberhasilan mereka melebihi sumber daya mereka layaknya petinju kelas ringan yang berlaga di kelas berat. Kedua manager ini bisa mendapatkan pekerjaan di mana pun mereka mau, dengan gaji berapapun. Wenger sempat ditawari pekerjaan oleh Real Madrid 3 tahun lalu dan musim lalu ditawari pekerjaan oleh Sugar Daddy Club yang baru, PSG. Keduanya menolak, karena cinta dan loyalitas terhadap klubnya sekarang. Terdengar klise tapi itulah nyatanya.

Billy Beane sendiri akan menolak kalau The A’s disamakan dengan Arsenal. Menurutnya The A’s lebih mirip Wigan, dari segi kemampuan finansial. Di musim terbaru ini The A’s punya budget hanya $55 juta, dibandingkan budget Yankees yang $170 juta (3 kali lipatnya) memang menempatkan The A’s sekelas klub papan tengah Liga Inggris jika dibandingkan dengan klub-klub terkaya. Bila Billy Beane hanya memiliki budget sepertiga dari budget klub kaya, bagaimana budget Wenger dibandingkan budget klub-klub kaya di liga Inggris?

Budget Wenger

Arsenal baru saja merilis laporan keuangannya untuk musim 2011-2012. Laporan ini dengan cut off date 31 Mei 2012 sehingga tidak termasuk aktivitas transfer musim ini. Bagaimana angka-angkanya?

Secara singkat bisa dirangkum sebagai berikut:

  1. Pendapatan total klub turun dari £255.7 million menjadi £243.0 million karena pemasukan dari sisi properti turun. Untuk pemasukan dari sisi sepakbola naik ke £235.3 million (2011  – £225.4 million). Sisi komersial menyumbang kenaikan £5.6 million.
  2. Biaya untuk gaji naik menjadi £143 million (2011 – £124 million). Kenaikan ini bisa diprediksi karena Arsenal membeli banyak pemain baru musim lalu. Dan pemain yang dibelinya rata-rata pada usia “peak” seperti Mertesacker, Arteta, Santos, Gervinho, Park dan juga pemain pinjaman seperti Benayoun yang tentunya gajinya juga premium. Arsenal hanya kehilangan tiga pemain inti: Fabregas, Clichy, Nasri jadi otomatis biaya gaji secara keseluruhan membengkak.
  3. Profit sebelum pajak £36.6 million dengan transfer pemain menyumbang £26.1 million (hasil penjualan Cesc, Nasri, Clichy dikurangi pembelian pemain). Jadi Arsenal untung dalam hal transfer pemain.
  4. Seluruh keuntungan masuk ke kas klub, pemilik tidak menarik dividen, sehingga keuntungan selama beberapa tahun terakhir ini menghasilkan cash balance di bank klub sebesar £153.6 million. Cash balance ini naik turun tergantung pengeluaran klub hari per hari. Perlu diingat sebagian dari cash balance ini adalah commitment yang tidak dapat diganggu karena diperlukan untuk membayar cicilan utang stadion, gaji pemain, dan utang operasional.
  5. Cash balance dapat digunakan juga untuk membayar utang stadion sepenuhnya jika manajemen merasa perlu. Saat ini utang stadion Arsenal masih tersisa £252.5 million sehingga bila dikurangi cash balance yang ada, net debt Arsenal tinggal £98.9 million. Angka yang sangat bagus mengingat stadion Ashburton Grove itu sendiri memakan biaya £390 million. Jadi bisa dikatakan sejak pindah ke Ashburton Grove tahun 2006, selama 6 tahun ini Arsenal berhasil mengurangi utang sebesar hampir £300 juta. Setiap tahunnya rata-rata 50 juta, pencapaian yang luar biasa. Jika hal ini dipertahankan, maka utang stadion bisa dilunasi tahun 2014. Nah buat yang membaca blog saya Model Finansial Arsenal bagian pertama, tentu paham tahun 2014 adalah tahun yang ditunggu-tunggu oleh Arsenal. Tahun perubahan.

Dengan angka-angka di atas maka kita bisa estimasi budget Wenger musim lalu (gaji + transfer) yang sesungguhnya. Budget Wenger adalah budget untuk belanja pemain yang mencakup gaji dan transfer pemain. Maka formulanya adalah sebagai berikut:

Budget belanja pemain = gaji pemain + pembelian pemain – penjualan pemain

Untuk musim 2011/2012 budget belanja pemain Arsenal = 143 + 53 – 70 = 126 juta.

Bila memperhitungkan Arsenal boleh tidak profit, maka Wenger bisa mendapatkan tambahan budget sebesar 36 juta (profit Arsenal musim lalu) menjadi 155-160 juta yang tidak ia gunakan sepenuhnya. Jadi estimasi budget Arsenal musim lalu untuk Wenger berkisar dari 120 – 155 juta. Bla angka maksimum 155 juta itu dipotong gaji 143 juta, maka ia hanya punya sisa 12 juta untuk net transfer spending. Sehingga kenyataan pahit yang harus kita hadapi adalah:

Wenger memang harus menjual pemain, sebelum membeli pemain bintang.

Kecuali bila ia menggunakan cash balance, klub siap melepaskan cash balance ini untuk kepentingan mendesak namun sepertinya Wenger paham akan kegunaan cash balance ini untuk kepentingan jangka panjang dan menolak menggunakannya demi masa depan Arsenal.

Jika cash balance Arsenal tidak digunakan, Arsenal dapat melunasi seluruh utang stadion di tahun 2014. Hanya 8 tahun sejak Arsenal pindah ke stadion baru senilai £390 juta tersebut.

Perbandingan dengan Budget Manager Klub Lain

Lalu berapa budget untuk belanja pemain dari klub-klub rival Arsenal? Karena laporan tahun 2012 dari klub-klub lainnya belum diterbitkan, maka kita hanya bisa menggunakan laporan tahun 2011. Sumber: swissramble blog.

Perbandingan laporan keuangan tahun 2011

Update: Dan kita gunakan grafik transfer pemain yang saya rangkum dari transferleague.co.uk.

Maka kita dapatkan angka budget untuk belanja pemain klub-klub tersebut tahun 2010 sebagai berikut (diurutkan dari besar ke kecil):

  • Man City = 174 + 84 – 5 = 253 juta 116 = 290 juta
  • Chelsea = 168 + 40 – 18 = 190 juta 87 = 255 juta
  • Man Utd = 153 + 39 -4 =188 juta 14 = 167 juta
  • Arsenal = 124 + 22 – 6 = 140 juta 7 = 131 juta
  • Liverpool = 129 + 36 – 43 = 122 juta – 5 = 124 juta
  • Spurs = 91 + 39 – 9 = 121 juta 18 = 109 juta

Kita bisa lihat dua klub Sugar Daddy budget untuk belanja pemainnya paling besar. Dan dari perbandingan di atas terlihat Arsenal budgetnya no.4 di liga. Ini musim sebelum musim kemarin, tepatnya musim 2010/2011. Arsenal sendiri peringkat ke-4 di musim tersebut, sesuai dengan budgetnya yang juga no.4. Man City dengan budget tertinggi berhasil menusuk ke posisi 3 di musim tersebut, pertama kalinya sejak Sugar Daddy membeli klub itu.

Budget musim lalu (2011/2012) belum kita ketahui sampai klub-klub menerbitkan laporan keuangannya. Maka kita hanya bisa mengandalkan data net transfer dari prediksi http://www.transfermarkt.co.uk transferleague.co.uk dan untuk budget gaji pemain kita naikkan rata 10% untuk semuanya (Arsenal sendiri budget gaji pemain naik 15% musim lalu).

Update: Grafik transfer pemain musim 2011/2012 dari tranferleague:

Esitmasi budget musim 2011/2012 (dari besar ke kecil):

  • Chelsea = 185 + 50 = 235 juta 58 = 242 juta
  • Man City = 191 + 46 =237 juta 48 =239 juta
  • Man Utd = 168 + 30 = 198 juta 38 = 206 juta
  • Liverpool = 142 + 30 = 172 juta 36 = 178 juta
  • Arsenal = 143 – 17 = 126 juta
  • Spurs = 100 – 21 = 79 juta 27 = 73 juta (Spurs banyak menjual pemain musim lalu)

Kita dapatkan bahwa posisi 1-3 budget terbesar masih sama, dan Chelsea belanja justru lebih banyak daripada Man City dibandingkan musim sebelumnya. Liverpool menggeser Arsenal karena ambisi Kenny Dalgish belanja pemain. Spurs banyak menjual pemain sehingga net transfer spendingnya malah minus. Arsenal juga profit dari transfer pemain sehingga biaya gaji yang 143 juta berhasil disubsidi profit transfer, budget aktual menjadi 126 juta.

Perbandingan Budget Belanja Pemain Tahun 2010 dan 2011

Bagaimana posisi klasemen akhir? Ternyata besarnya budget untuk belanja pemain tidak menentukan hasil akhir klasemen. Man City dan Man United memimpin posisi satu-dua namun yang lain tidak sesuai semua. Chelsea dan Liverpool yang jor-joran dalam transfer pemain musim lalu malah mencapai hasil di bawah ekspektasi (kecuali trofi dari turnamen). Arsenal yang budgetnya urutan ke-5 malah berhasil naik ke posisi ke-3. Spurs juga bagus. Dengan budget di bawah 100 juta, ia bisa masuk di posisi ke-4 di atas Chelsea dan jauh di atas Liverpool. Liverpool memang paling mengecewakan dengan budget urutan ke-4 hasil akhir klasemen di posisi ke-8.

Solusi untuk Kompetitif

Lalu bagaimana caranya agar Arsenal tetap bisa bersaing dengan klub yang budgetnya dua kali lipat darinya, Man City dan Chelsea? Kita bukan Sugar Daddy Club dan tidak harus menjual diri ke Sugar Daddy. Tidak ada cara lain selain Moneyball+Wengerball. Moneyball adalah mencari pemain-pemain undervalued tapi berkualitas, dan Wengerball adalah memainkan sepakbola khas Arsenal sehingga output dari hasil permainan tim lebih tinggi daripada gabungan kemampuan masing-masing pemain.

Ini adalah kenyataan yang mesti kita hadapi. Kita tidak mungkin bisa punya budget seperti Sugar Daddy Club karena tidak seperti mereka yang dimanja pemilik, Arsenal harus mandiri, harus berdiri di kaki sendiri. Chelsea, Man City bisa dikatakan beruntung karena memiliki Sugar Daddy Club, tapi masa depan kedua klub tersebut tergantung kepada satu orang pemilik. Begitu pemilik berhenti mengeluarkan uang dari kocek pribadi untuk menomboki kerugian klub, klub tersebut langsung bangkrut.

Selain solusi di atas yang telah dilakukan Wenger selama ini dan walaupun belum berhasil sepenuhnya (tanpa trophy sejak tahun 2005 namun selalu lolos kualifikasi Liga Champions), Arsenal punya senjata rahasia yang masih disimpan. Kuncinya ada pada tahun 2014. Dari tweet @swissramble:

Arsenal 2012 commercial revenue of £52m is less than half of Manchester United’s £118m.

Artinya Arsenal punya potensi. Kemungkinan kenaikan pendapatan sebesar 50 juta per tahun dari sisi komersial di tahun 2014 (dengan berakhirnya kontrak sponsor baju Flying Emirates dan Nike) dan kemungkinan membayar lunas utang stadion di 2014 (lihat penjelasan di poin no.5 Budget Wenger) menjadi kombinasi yang dahsyat.

Arsenal dapat bebas dari cicilan utang stadion sebesar 20 juta per tahun di tahun 2014 dan ditambah pendapatan komersil 50 juta per tahun, akan menaikkan budget Wenger sebesar kurang lebih 70 juta per tahun. Jadi budget Wenger akan menjadi 155+70 = 225 juta per musim. Angka yang lebih realistis untuk bisa bersaing melawan MU, Chelsea dan City.

Di tahun 2014, potensi kenaikan pendapatan komersil sebesar 50 juta per tahun dan terbebasnya Arsenal dari cicilan utang stadion sebesar 20 juta per tahun akan menambah budget belanja pemain Wenger sebesar 70 juta per tahun menjadi 225 juta per musim, setara dengan Man United dan Chelsea.

Apa artinya budget sebesar 225 juta tersebut?

Artinya kita mampu menawarkan transfer fee yang tinggi kepada pemain bintang seperti Eden Hazard misalnya dan mampu membayar gaji yang dibayar klub-klub mahal. Lewat press conference yang terbaru, Wenger mengakui Arsenal ikut bidding Hazard dan siap membayar transfer fee sebesar £32 juta namun Arsenal tidak siap untuk membayar gaji seperti yang ditawarkan Chelsea. Hal yang sama terjadi di musim lalu untuk Juan Mata. Transfer Juan Mata ke Arsenal dibajak Chelsea dengan penawaran gaji yang lebih tinggi. Mereka mampu melakukan hal itu karena Chelsea memiliki budget belanja pemain 2 kali lipat budget Arsenal (242 juta berbanding 126 juta). Jadi sekarang kita paham mengapa Arsenal belum dapat membeli pemain di atas 20 juta sekaligus membayar gaji pemain di atas 150.000 per minggu (sehingga Van Persie harus dilepas). Kenaikan gaji pemain mempunyai efek domino. Anda yang sudah bekerja di perusahaan pasti mengerti, bila perusahaan menaikkan gaji satu karyawan secara drastis, maka perusahaan harus meninjau ulang gaji seluruh karyawan. Dan untuk budget belanja pemain Arsenal seperti sekarang ini, hal itu tidak dapat dilakukan, terlalu riskan dengan utang sebesar 250 juta yang belum lunas.

Sambil menunggu pendapatan komersial naik di tahun 2014, dan pelunasan utang stadion yang dapat dilakukan di tahun 2014, Arsenal harus cerdik dalam soal belanja pemain satu-dua tahun ini. Wenger telah melakukan hal yang luar biasa di awal musim ini dengan pembelian Cazorla senilai 12-14 juta, pemain yang di pasaran normal mestinya bernilai di atas 20 juta. Podolski juga dibeli murah senilai 10 juta, demikian juga Giroud. Tiga pemain ini bila Chelsea atau Man City yang beli, rata-rata harganya mendekati atau di atas 20 juta. Arsenal dengan cerdik bisa membeli ketiganya dengan harga separuh. Pedagang yang cerdik. Kecerdikan Wenger dan manajemen Arsenal saat ini menjadi andalan klub untuk bersaing dengan klub-klub berbudget besar. Tinggal kita tunggu penampilan di lapangan hijau. Untuk saat ini, performa Arsenal di lapangan hijau sangat baik, jauh lebih baik daripada musim sebelumnya. Pemain-pemain baru sudah menunjukkan kemampuannya dan Santi Cazorla sejauh ini sudah menjadi pemain terbaik liga Inggris untuk 5 pertandingan. Kita optimis musim ini Arsenal akan lebih baik daripada musim sebelumnya.

Victoria Concordia Crescit

update: revisi nilai transfer pemain lewat data yang lebih akurat dari transferleague.co.uk