Ketika Sang Creator Menemukan Putra-Nya (Pengakuan Dennis Bergkamp)


“I really like Arsenal. But you, do you like Arsenal? Or just Arsenal with Trophies?” – Dennis Bergkamp

Dennis Bergkamp diakui mayoritas pendukung Arsenal di seluruh dunia sebagai pemain terbaik kedua sepanjang sejarah klub tercinta ini setelah Thierry Henry. Namun bagi sebagian orang dari mayoritas tersebut, Dennis Bergkamp adalah segala-galanya, melebihi gelar pemain terbaik sekalipun. Banyak fans global Arsenal, yang tidak punya kesempatan lahir dan besar di London, menjadi fans Arsenal karena memuja Dennis Bergkamp, sang creator (maka ia punya nickname God).

Thierry Henry sering disebut King Henry karena rekor golnya di Arsenal. Namun di atas Sang Raja adalah Sang Pencipta. Menyaksikan aksi Dennis Bergkamp tidak berbeda dengan menyaksikan sebuah pertunjukan seni. Kita melihat sepakbola yang tidak lagi dibatasi oleh definisi “olahraga”. Sepakbola juga menjadi “olahjiwa”, sesuatu yang bernilai spiritual, yang menghadirkan “mukjizat” yang sulit dicerna akal sehat.

Sebuah kutipan dari biografinya yang terbaru, Stillness and Speed (yang masih saya tunggu-tunggu kedatangannya) mengkonfirmasi pandangan Bergkamp tentang sepakbola yang berbau spiritual:

“Well, you set yourself goals, targets. And once you’ve got there you want to move on and go further. You keep raising the bar and therefore it’s never good enough. You want perfection. It’s never good enough but it’s within your reach. You climb one mountain and see the higher one. And I want to do it, I want to do that. But I like what you say that it’s a passion – something within the soul, isn’t it? It’s deeper. Whereas ambition, for money or whatever, is more calculating. It can be satisfied. But passion is … no … you keep … you want to grab it. You do the hard thing, always go for the difficult thing, and then you have to go for the next thing.”

Bergkamp tidak melihat sepakbola sebagai alat untuk mengumpulkan kekayaan (berbeda dengan Dutch Skunk yang satu itu). Ia melihatnya sebagai sarana mencapai kesempurnaan. Sesuatu yang bermakna dari dalam, lebih dalam daripada segala kesenangan permukaan luar yang dapat diberikan uang. Bahkan dalam sebuah perbincangannya dengan Arsene Wenger yang juga dikenal sebagai figur holistik, memberikan gambaran kepada kita pandangan spiritual mereka tentang sepakbola:

“Arsène Wenger has an interesting view about this. He says: “It is a spiritual thing. I am convinced of that. I believe you have two kinds of players who play football. Those who want to serve football like you serve God, and they put football so high that everything that is not close to what football should be is a little bit non-acceptable. And then you have those who use football to serve their ego. And sometimes the ego can get in the way of the game, because their interest comes before the interest of the game.

Sometimes the big ego is linked with what we call strong personalities, charisma. But most of the time what people call charisma is just big ego. I believe that Dennis was one of those who had such a high idea of the game and such a respect for the game that he wanted that to be above everything. I believe that the real great players are guided by how football should be played and not by how football should serve them. If it becomes spiritual, it’s endless and you’re always driven to going higher and getting closer to what you think football should be.

Then Wenger gives the example of a player who knows he ought to pass but takes a massive gamble and scores. “If he really loves the game he’ll go home and worry about it. He’ll know he really should have passed to set up an easy chance for someone else. But he was selfish and got lucky. If he doesn’t care about the game he’ll go home and think: ‘That was great – I’ll do the same next time.’

And he says that’s the difference. “That’s why you have to teach the kids to respect the game and treat the game a little bit like a religion, that is above you, where you want to serve the game.”

Wenger mengatakan ada dua tipe pesepakbola:

  1. Pesepakbola yang ingin melayani sepakbola sebagaimana ia melayani Tuhan. Mereka meletakkan sepakbola begitu tinggi sehingga apapun yang tidak sesuai dengan visinya tentang sepakbola, tidak dapat ia terima.
  2. Pesepakbola yang menggunakan sepakbola untuk melayani egonya. Kepentingan pribadi menjadi lebih utama daripada kepentingan permainan itu sendiri.

Pesepakbola yang pertama akan selalu melakukan pencarian bagaimana sepakbola seharusnya dimainkan. Pencarian itu menjadi motivasi mereka untuk menjadi lebih baik, lebih tinggi dan lebih dekat dengan idealisme sepakbola. Dennis Bergkamp adalah tipe pesepakbola yang pertama. Ambisinya untuk memainkan sepakbola yang sempurna membawanya untuk selalu mengasah teknik dan visinya, agar ia mampu menampilkan permainan sepakbola yang seharusnya. Ia selalu datang latihan lebih awal dan pulang paling akhir. Cintanya dan pengabdiannya pada sepakbola sudah masuk ke level spiritual, bak pelayanan kepada Tuhan. Sepakbola ditempatkan di atas kepentingan pribadinya, kepentingan permainan sepakbola di atas kepentingan pribadinya. Ia menjadi hamba dari sepakbola.

Beberapa hari yang lalu, Telegraph memuat komentar Dennis Bergkamp tentang Mesut Özil. Wawancara yang sangat menarik dilakukan oleh David Winner, yang juga menjadi salah satu penulis biografi Bergkamp. Selain soal kemungkinan ia kembali ke Arsenal dalam kapasitas sebagai coach, hal menarik lainnya adalah pandangannya tentang Özil. Saya sendiri percaya Özil adalah The Second Coming, pewaris DB10. Mendengar langsung bahwa Bergkamp sendiri menilai Özil sangat tinggi, dan mengakui bahwa ia adalah Creator yang sama dengan dirinya, sempat buat diri ini merinding. Secara tidak langsung ini adalah pengumuman Sang Creator kepada publik tentang siapa pewaris tahtanya.

“Behind every pass there must be a thought.

Özil knows exactly how to control the ball in what kind of space to give himself time. That’s the difference between the players and great players. With his intelligence and his touch and his skills, he is trying to do something right with every ball.”

Bergkamp mengatakan di balik setiap operan, pasti ada gagasan. Dan bagi Bergkamp, Özil mengetahui persis apa yang ingin ia lakukan dengan bola dan mengeksekusinya dengan tepat.

Sebuah contoh analisa Bergkamp tentang isi pikiran Özil  ketika melakukan operan yang berbuah gol Wilshere itu kepada Giroud:

“With that pass it seems like Özil was already calculating what the next pass should be. So he puts the ball on the side which means Giroud’s only option is to pass it to the third player. The point is that there is a thought behind that pass. You see that with his control and his movement and that’s what I like.

With all the respect to the other Arsenal players, I think he is the one who can make a difference. The other players are good in midfield. But you need someone of a high-level you can be good in all areas of the pitch.”

Ketika mengoper bola kepada Giroud, Özil sudah memperhitungkan beberapa langkah berikutnya. Ia menempatkan bola ke posisi di mana satu-satunya pilihan Giroud adalah mengopernya lagi kepada pemain ketiga (dalam hal ini Rosicky). Ia tidak memberikan bola kepada Giroud untuk langsung ditembakkan ke gawang. Artinya Özil juga melihat gerakan Rosicky dan Wilshere saat itu. Hal berikutnya yang terjadi adalah Rosicky dengan satu sentuhan membelokkan operan Giroud ke Wilshere dan tembakan first time Wilshere berbuah gol. Bergkamp mampu melihat itu karena ia juga akan melakukan hal yang sama yang dilakukan Özil. Tidak semua pemain bola dapat menganalisa seperti itu, karena level pemahamannya belum sampai ke sana.

Kalau direnungkan lagi, 2 gol Arsenal melawan Swansea juga berawal dari operan Özil. Gol Ramsey yang menjadi gol ketiga Arsenal saat melawan Sunderland juga mengikuti alur yang sama. Özil mengoper ke Giroud pada posisi di mana ia mampu melihat gerakan Ramsey namun ia sendiri membelakangi gawang, sehingga satu-satunya opsi Giroud adalah mengoper kembali ke Ramsey yang bergerak masuk ke dalam kotak penalti lawan. Hal itu dilakukan Özil karena ia membaca gerakan Ramsey dan posisi Giroud dengan sempurna. Hal yang sungguh tidak mudah karena pemain umumnya hanya membaca gerakan satu pemain pada satu waktu.

Mungkin bagi Özil waktu seakan berhenti ketika ia menganalisa gerakan dan posisi pemain di lapangan. Waktu menjadi relatif. Hal ini dimungkinkan ketika seorang pemain sudah demikian terserap dalam sebuah aktivitas. Dalam bela diri, gerakan lawan akan terasa lambat (bak The Matrix) dan refleks kita menjadi lebih cepat. Tidak percaya? Boleh tanyakan kepada para ahli bela diri. 🙂

Dan Bergkamp juga menjelaskan mengapa kejeniusan Özil ini akan membawa perubahan pada permainan Arsenal secara keseluruhan:

“It looks like it’s a relief to the other players. ‘Oh yes this is what we want’, ‘Oh this is a great ball’. They are adapting to Özil, and moving into spaces where before maybe they didn’t do that because maybe they weren’t expecting the ball.”

Pemain Arsenal lainnya akan menyesuaikan diri dengan operan dan gerakan Özil. Mereka akan mempelajari hal-hal baru, tentang kejeniusan Özil melihat ruang dan waktu dalam beberapa langkah ke depan bak seorang pemain catur. Mereka akan masuk ke ruang-ruang baru di mana Özil akan memberikan operannya, hal yang tidak mereka lakukan sebelumnya karena belum ada pemain yang bisa melihat itu. Secara keseluruhan, pemain Arsenal lainnya akan bergerak lebih efisien, lebih mematikan, dan lebih tidak terduga oleh lawan. Semua berkat operan Özil. Dan Bergkamp bisa melihat itu.

Mengapa Bergkamp bisa melihat itu? Karena ia sendiri melakukannya. Masih ingat operannya kepada Ljungberg ketika Arsenal melawan Juventus? Saat itu ia menggocek bola di depan kotak penalti lawan, dikerubungi 3 pemain lawan. Ia menunggu dan menunggu hingga Ljungberg masuk ke kotak penalti, lalu memberikan operan lob tanpa melihat dan gol pun tercipta dari kaki Ljungberg. Lihat kesamaannya dengan Özil yang membawa bola di pinggir garis belakang lapangan Napoli dan menunggu Giroud di posisi yang pas sebelum memberikan assist-nya. Dan operan-operan Özil kepada Walcott di game vs Sunderland yang sayangnya tidak berbuah gol namun sudah membawa kita bernostalgia pada operan-operan Bergkamp kepada Henry.

Özil mungkin belum ada di level Bergkamp saat ini namun tidak ragu lagi ia akan mencapai level yang sama, dan itu akan ia lakukan di Arsenal. Ia boleh jadi baru bermain di beberapa pertandingan dan mungkin pernyataan ini akan terasa terlalu dini. Tapi siapalah kita sehingga berani membantah kata-kata Sang Pencipta?

Percaya saja dan saksikan Mukjizat Putra-Nya. 🙂

Advertisements

10 Sempurna Dalam 11


The Perfect Ten in Eleven.

Kalimat di atas bisa mengandung dua arti:

1. Sepuluh kemenangan sempurna Arsenal dalam sebelas pertandingan terakhir, dan

2. Mesut Özil

Tulisan ini dibuat setelah pertandingan Arsenal melawan Swansea dan diselesaikan setelah menonton replay Arsenal vs Napoli di Liga Champions. Dikarenakan hal personal, saya tidak bisa menonton LIVE pertandingan Liga Champions tersebut. Untung ada link ini yang memutar ulang dua babak pertandingan tersebut. Alternatif yang lumayan karena Arsenal Player tidak akan upload full match pertandingan tersebut sebelum hari Sabtu.

Menonton pertandingan Swansea vs Arsenal yang memantapkan posisi puncak Arsenal di klasemen EPL, pikiran fans Arsenal yang cukup dewasa akan kembali ke 9 tahun silam, era Invincible. Dua gol yang terjadi sangat mirip dengan gol-gol Arsenal di era tak terkalahkan tersebut. One touch football yang dilakukan dengan cepat sehingga transisi dari bertahan ke menyerang terjadi bak blitzkrieg, serangan kilat tentara Jerman yang menghancurkan total Polandia. Di antara gol-gol Arsenal yang terjadi musim ini, dua gol di Swansea ini adalah gol terbaik dan favorit saya (sebelum melihat gol Özil vs Napoli). Akan saya jelaskan mengapa.

Nostalgia Era Invincible

Di era Invincible, Henry, Pires, dan Ljungberg, merupakan senjata “Tuhan” untuk memporak-porandakan pertahanan lawan. Dennis Bergkamp, sang master ruang dan waktu, akan memanfaatkan kecepatan ketiga pemain yang juga memiliki teknik tinggi tersebut untuk menghantarkan pukulan mematikan.

Seringkali kita menyaksikan dalam hitungan detik saja Arsenal bisa mencetak gol dari posisi bertahan. Berawal dari tackle Vieira lalu bola diberikan ke Bergkamp, Henry berlari cepat diikuti Pires dan Ljungberg. Dalam sekejap ada tiga pemain Arsenal di kotak penalti lawan. Bergkamp tinggal memilih kepada siapa bola akan diantarkan, dan gol pun tercipta. Semua terjadi dalam hitungan detik dan tidak lebih dari 10 sentuhan. Lawan pun ketakutan, pontang panting dalam mengikuti gerakan pemain Arsenal.

Transisi adalah kuncinya. Counter attack adalah nama populernya. Perubahan dari pertahanan ke penyerangan yang terjadi dengan cepat akan membuat lawan panik karena tidak cukup waktu untuk adaptasi formasi. Ditambah dengan pergerakan pemain yang tidak lazim dengan formasinya (Pires dan Ljungberg akan menusuk ke dalam dari sayap sementara Henry bergerak melebar keluar sementara dua fullback akan menyerang bak winger tradisional) membuat lawan kalang kabut.

Adalah prinsip umum bahwa pemain bola akan lebih kesulitan bergerak cepat sambil membelakangi gawang daripada menghadap ke gawang. Oleh karena itu peluang yang dihasilkan dalam posisi counter attack adalah peluang dengan probabilitas keberhasilan tertinggi. Ruang yang lebih banyak, musuh yang masih harus menyesuaikan posisi kembali, dan waktu yang berpihak kepada penyerang, menciptakan peluang mencetak gol tertinggi.

Wengerball Mk I adalah soal counter attack yang secepat kilat.

Counter attack ditakuti semua tim bola. Sebaik apapun sebuah tim dalam penguasaan bola, satu counter attack cukup untuk membunuhnya. Sucker punch. Dan setelah gol terjadi, tim yang ingin mengejar ketertinggalan akan semakin menyerang. Hal ini malah akan semakin membuka ruang untuk counter attack berikutnya. Dengan cara inilah The Invincible mencetak 3-4 gol dalam satu pertandingan dengan mudahnya. Wengerball Mk I adalah soal counter attack yang secepat kilat.

Arsenal Post Invincible

Setelah era Invincible, Arsenal tidak lagi bermain dengan mengandalkan transisi yang cepat. Dengan Fabregas sebagai poros permainan, Arsenal bermain ala tiki taka, ball possession style dengan tingkat kesuksesan di bawah Barcelona. Wenger melakukan perubahan ini dengan sadar. Mengapa?

Ada dua alasan. Yang pertama: Henry dan Bergkamp tidak lagi muda. Arsenal tidak memiliki striker yang secepat Henry setelah itu. Penggantinya adalah Adebayor yang lebih lamban namun unggul dalam fisik dan Van Persie yang lebih teknikal. Alasan kedua: sehebat apapun The Invincible pada saat itu, perjalanannya di Eropa tidak jauh. Tim kontinental bermain tidak secepat tim Inggris, lebih taktis dan lebih sedikit menyisakan ruang untuk counter attack. Walaupun Arsenal sempat menang dari tim seperti Real Madrid, Juventus dan Inter Milan, Arsenal sering kali didominasi dalam permainan melawan tim-tim Eropa. Arsenal kerepotan dan disisihkan dari Knock Out Grup saat melawan tim seperti Bayern Muenchen (yang tidak sehebat sekarang) dan Valencia misalnya.

Wenger juga adalah pelatih cerdas yang selalu membaca arah angin perubahan. Setelah memanen talenta-talenta Perancis di era keemasan Perancis (1998-2000), ia melihat masa depan sepakbola Spanyol lewat dominasi mereka di kejuaraan dunia FIFA U-17 di tahun 2003. Cesc Fabregas menjadi top scorer di turnamen itu dan Spanyol menjadi juara. Bertepatan dengan dibongkarnya Tim Invincible karena faktor usia, Wenger juga mengganti style sepakbola timnya. Demi pursuit Holy Grail, trofi Liga Champions yang menjadi satu-satunya kekurangan di CV-nya.

Kiblat diubah ke Spanyol. Fabregas direkrut di tahun 2003 pada usia 16 tahun dan Jose Antonio Reyes di awal tahun 2004. Tahun 2005 dan 2006 secara berturut-turut Arsenal membeli pemain tipe ball player sebagaimana pemain Spanyol umumnya yaitu Hleb dan Rosicky. Sayang sekali Reyes gagal di Arsenal karena homesick dan korban dari “tatapan mata” Henry. Namun di musim 2007/2008 sepeninggal Thierry Henry, Arsenal dengan Kuartet midfield andalannya (Fabregas, Hleb, Rosicky, Flamini) berhasil menduduki puncak klasemen dan mendominasi liga Inggris sampai Februari 2008, saat pematahan kaki Eduardo mengguncang seluruh tim.

Wengerball baru, possession ball dengan pertukaran posisi pemain dan pergerakan bola satu sentuhan

Arsenal mengakhiri musim itu tanpa gelar dan tim yang tercerai berai. Hleb pindah ke Barcelona dan Flamini ke AC Milan. Namun musim itu adalah musim di mana Arsenal bermain Wengerball baru, possession ball dengan pertukaran posisi pemain dan pergerakan bola satu sentuhan. Kuartet Arsenal mendominasi lini tengah, bertukar posisi dengan cepat dan membentuk triangle operan satu sentuhan yang mematikan. Hubungan yang akrab antara keempat pemain ini di luar lapangan sangat membantu dalam kerjasama mereka di lapangan. Telepati seakan terjalin antara keempatnya. Rosicky dan Hleb yang pada dasarnya adalah pemain tengah bermain sebagai inverted winger sedangkan Fabregas dan Flamini sebagai double pivot. Namun saat pertandingan berjalan, posisi mereka sangat fleksibel. Berganti-ganti posisi dalam “box” dengan empat sudut, Arsenal bermain sempit, namun perpindahan posisi keempat pemain ini akan menciptakan “ruang” yang lebih besar daripada sekedar permainan melebar ke sayap. Menurut saya pribadi, sepakbola Arsenal di musim tersebut lebih indah daripada era Invincible sekalipun. Sayangnya cedera patah kakinya Eduardo di Februari 2008 memberikan tekanan mental yang luar biasa pada tim dan mengakhiri dini Wengerball Mk II dan perburuan gelar juara Arsenal di musim itu.

Kuartet Midfield Arsenal 2007/2008

Hleb pindah ke Barcelona namun tidak berhasil berperan besar di sana walaupun memenangkan trofi Champions League dan ia menyesali kepindahan tersebut. Flamini pindah ke Milan setelah menolak perpanjangan kontrak. Kepindahan kedua pemain tersebut sedikit banyak terpengaruh oleh horror cedera Eduardo. Dalam sekejap, Fabregas ditinggal 2 sahabat terbaiknya.

 

Setelah kepindahan Hleb dan Flamini, Wenger berusaha merekonstruksi ulang sepakbola Arsenal musim 2007/2008 di tahun-tahun berikutnya, namun gagal. Salah satu sebabnya adalah Rosicky yang cedera parah sejak awal musim 2008, sehingga praktis hanya Fabregas sendiri yang tersisa dari kuartet fenomenal tersebut. Hal lain adalah tiadanya pendamping Fabregas yang sebaik Flamini. Denilson dan Diaby tidak mampu mengemban tugas destroyer sebaik Flamini dan memberikan Fabregas kebebasan berkreasi di lapangan tengah. Arsenal membeli Samir Nasri dan Aaron Ramsey (umur 17 tahun saat itu), namun tetap saja Wenger gagal merekonstruksi kembali kuartet midfield yang mampu memainkan Wengerball Mk II. Ball possession Arsenal tetap dipertahankan dominan dalam setiap pertandingan tapi mereka kekurangan greget dalam serangan. Perubahan posisi setiap pemain terlihat stagnan, dan Arsenal bergantung total pada passing ala quarterback Fabregas dan kecepatan Walcott untuk menciptakan peluang. Lawan dengan mudah menangkalnya dengan double atau triple up Fabregas setiap kali ia menerima bola. Dan kita semua tahu apa akhir ceritanya. Fabregas pun pergi meninggalkan Arsenal di awal musim 2011/2012 bersama Samir Nasri. Wenger kehilangan dua pemain tengah terbaiknya, sebuah syarat mutlak untuk memainkan Wenger Ball.

Kelahiran Kembali Wengerball

Dua gol Arsenal di Swansea tersebut adalah contoh sempurna Wengerball dari dua jaman, era Invincible dan era Kuartet Midfield 2007/2008. Gol pertama berasal dari 20 operan cepat dari belakang ke depan, membentuk triangle yang indah dan perubahan posisi yang membingungkan lawan, ciri khas Wengerball Mk II. Gol kedua berupa transisi yang cepat 4-5 sentuhan dari kiper ke striker dan diselesaikan dengan indah oleh Aaron Ramsey, ciri khas Wengerball era Invincible.

Musim ini kita belum memainkan Santi Cazorla (pemain terbaik musim lalu) dan Walcott pun belum bermain maksimal namun hasil sempurna diraih di 10 pertandingan. Prospek kembalinya Walcott dan Cazorla ke starting line up Arsenal sungguh menggiurkan. Walcott bisa menjadi Henry era kini dengan kecepatan dan finishingnya yang makin akurat. Ramsey, Wilshere, Rosicky dan Cazorla adalah pemain tengah yang komplet dalam hal dribble, passing dan shooting. Arteta dan Flamini bisa menjadi pendistribusi bola, destroyer dan holding midfielder. Selain itu kita juga memiliki nomor 10 sempurna pewaris tahta DB10 yang berkaus nomor 11: Mesut Özil, pemain termahal dalam sejarah Arsenal yang telah membuktikan kepantasan harganya dengan permainan gemilang vs Napoli.

Özil bisa menjadi kunci penjalin Wengerball Mk I dan II. Keakuratan operannya dan pergerakan off the ball-nya yang cerdas menjadi kunci memulai Wengerball. Dalam dua gol di Swansea tersebut, rangkaian operan kilat satu sentuhan Arsenal dimulai dari Özil. Kejeniusan Özil akan saya bahas lebih detail di lain kesempatan.

Pilihan pemain tengah Arsenal demikian banyak dan berkualitas sehingga Wenger bisa memainkan berbagai formasi dan style sesuai dengan karakter permainan lawan. Ia bisa memainkan tiga CM di belakang Giroud seperti saat melawan Napoli atau 3 CM dan 1 Winger seperti Arsenal musim lalu. Ia bisa memakai formasi 4-2-3-1, 4-1-3-2, 4-2-1-3 atau bahkan 4-4-1-1 sebagai varian 4-3-3. Tujuh pemain tengah yang dimilikinya sangat flexible. Belum lagi ditambah 2 pemain depan yang bisa menjadi winger dalam Walcott dan Podolski. Chamberlain dan Gnabry pun siap menjadi pilihan. Total ada 11 pemain tengah/depan yang bisa dipermutasikan untuk mengisi 5 posisi selain Giroud, yang saat ini tidak tergantikan. Wengerball Arsenal musim ini sangat berpotensi untuk melewati level Wengerball di era Invincible dan 2007/2008. Arsenal bisa memainkan counter attack kilat namun juga bisa berbahaya lewat operan-operan cepat dari midfield ke depan saat menguasai bola. Pendek kata, baik saat memiliki bola maupun tidak, Arsenal bisa sama berbahayanya. Seperti saat melawan Swansea dan Napoli.

…baik saat memiliki bola maupun tidak, Arsenal bisa sama berbahayanya.

Wengerball adalah sepakbola menyerang dengan operan cepat satu sentuhan yang sangat membutuhkan rasa kepercayaan diri yang tinggi. Saat ini form Arsenal yang sedang bagus-bagusnya menciptakan kepercayaan diri yang tinggi. Sepuluh kemenangan beruntun memungkinkan pemain-pemain Arsenal untuk mengaktualisasikan dirinya dengan bebas tanpa rasa takut. Arsenal juga memilki barisan pertahanan yang lebih stabil sehingga relatif nyaman membiarkan lawan menguasai bola. Fixture awal yang relatif mudah di Liga Inggris cukup membantu dalam hal ini. Ujian sesungguhnya akan muncul di akhir Oktober dan awal bulan November. Di mana Arsenal akan berturut-turut berhadapan dengan Chelsea (Capital One Cup), Liverpool, Dortmund (away) dan Manchester United. Rangkaian pertandingan yang berpotensi memberikan orgasme sepakbola level tinggi yang tidak boleh dilewatkan.

Hingga saat itu tiba, rasanya winning streak tetap akan kita nikmati. We’re top of the league, long may it continue.

Dan prediksi saya, kita akan menyaksikan terlahirnya kembali Wengerball yang baru, bentuk yang sempurna. Seluruh persyaratan telah dipenuhi. Playmaker super? Checked. Kebersamaan tim? Checked. Pertahanan tangguh? Checked. Flamini? Checked.

Mudah-mudahan saja musim ini Arsenal bebas dari horror cedera seperti yang terjadi pada Eduardo. Giroud mesti dijaga bak keramik musim ini. Finger crossed.