Catatan untuk Ahok-Djarot di Putaran Kedua


Disclaimer: saya tinggal di Kab. Tangerang, Banten sehingga tidak bisa ikut memilih di Pilkada DKI Jakarta.

Namun, siapa yang tidak tertarik dengan Pilkada DKI kali ini. Tiga kandidat yang kuat dengan dukungan para megastar politik Indonesia. Arena DKI sudah seperti arena pertarungan politik nasional. Sebagai “pengamat” politik amatiran saya ikut tertarik untuk memberikan sedikit komentar terhadap hasil sementara Pilkada DKI kemarin. Ahok-Djarot memimpin dengan suara sekitar 43%, Anies-Sandi 40%, dan terakhir Agus-Sylvi dengan suara sekitar 17%. Angka-angka tersebut mengacu ke quick count LSI, SMRC dan Litbang Kompas. Rasanya tidak akan berbeda jauh dengan hasil akhirnya.

Dibandingkan dengan hasil survei elektabilitas di awal Februari sebelum pemungutan suara, kesimpulannya adalah suara Anies yang melesat tinggi sekitar 10% lebih, Ahok naik sekitar 6-7% dan Agus turun sekitar 10-11%. Penurunan suara Agus dan undecided voters (sekitar 7%mendongkrak naik suara Ahok dan Anies. Tanpa adanya data exit poll, kita tidak bisa menyimpulkan seberapa besar dari pemilih yang tadinya ingin memilih Agus namun akhirnya memindahkan suaranya ke Anies atau Ahok. Pun kita tak dapat tahu persis undecided voters ini lebih banyak merapat ke mana. Namun kita punya data persentase suara utuh dan tingkat partisipasi Pilkada. Di akhir bulan, data rekaputilasi KPU resmi dengan jumlah suara TPS pun akan tersedia. Itu sangat membantu strategi kedua timses untuk putaran kedua.

Dengan tingkat partisipasi yang sangat tinggi (hampir 80% dari DPT), pilkada DKI ini menyisakan sangat sedikit undecided voters untuk putaran kedua. Rata-rata sudah menentukan pilihan, sedikit harapan untuk mendulang suara dari golput di putaran pertama. Mau tidak mau di putaran kedua ini baik Ahok maupun Anies mesti mengincar suara dari pemilih Agus. Skenario lainnya adalah semua pemilih Agus memutuskan untuk golput, maka otomatis Ahok yang lebih berpeluang menang, dengan catatan konstituennya tetap loyal selama 2 bulan mendatang.

Saya rasa lembaga survei atau tim pemantau kedua pihak punya data exit poll yang mumpuni. Kalau ada data exit poll yang memadai, mereka bisa membuat strategi untuk mendulang suara di putaran kedua. Exit poll yang dimaksud adalah wawancara dengan pemilih yang baru saja memilih untuk mendapatkan berbagai data seperti background, gender, umur, agama, pendidikan, alasan memilih A, dll. Tanpa akses data exit poll, maka kita hanya bisa berandai-andai.

Mari kita berandai-andai. Anggaplah pemilih Agus sebagian besar masih bersemangat untuk ikut memilih di putaran kedua. Untuk mencapai >50% suara, Ahok butuh sekitar 7% suara tambahan atau sekitar 41% dari suara pemilih Agus. Sedangkan untuk Anies, butuh sekitar 10% suara tambahan atau sekitar 59% suara pemilih Agus. Asumsi saya kelompok pemilih Agus dan Anies lebih banyak beririsan daripada pemilih Agus dan Ahok (sentimen agama, penantang incumbent, dll). Maka logikanya lebih mudah bagi Anies untuk mendapatkan suara pemilih Agus, yang mana sudah ia buktikan di putaran pertama. PR Ahok di putaran kedua lebih berat walaupun persentase suara yang ia butuhkan lebih sedikit.

However you spun it, Ahok has the bigger homework for 2nd round. It’s harder for him to meet the 50+% votes than Anies. But it’s possible

@benhan

Lalu langkah apa yang akan ditempuh timses Ahok?

Menakut-nakuti pemilih Agus agar pada golput semua di putaran kedua sehingga secara persentase Ahok tetap lebih unggul? Bisa saja, tapi hampir mustahil berhasil.

Sebaliknya timses Anies akan semakin menyemangati pemilih Agus dengan menggunakan sentimen anti-Ahok yang sudah demikian intens di putaran pertama untuk tetap menggunakan hak suara mereka.

Melakukan kampanye negatif terhadap Anies sehingga pemilih Agus tidak simpatik dengan Anies? Bisa saja, tapi strategi yang sama akan lebih mudah sukses dilakukan oleh timses Anies terhadap Ahok.

Menggali kembali hubungan buruk Prabowo – SBY untuk menjauhkan pemilih Agus dari memilih Anies? Hubungan Jokowi – SBY jelas tidak lebih baik. Apalagi kebrutalan buzzer Ahok dan Agus yang saling menyerang dengan kampanye negatif tidak akan mudah dilupakan kedua pihak.

Saya pribadi tidak akan menganjurkan kampanye negatif. Sebagai incumbent, tidak semestinya timses Ahok menjalankan kampanye negatif. Itu biasanya strategi penantang. Penantang relatif tidak punya track record terkait DKI, sehingga kalau mau diserang juga akan menuju ke hal yang personal. Serangan personal akan membuat yang tidak suka Ahok semakin tidak suka. Semakin punya alasan untuk memilih lawannya. Ahok punya track record yang cukup baik dan tingkat kepuasan yang cukup tinggi. Kampanye positif menjelaskan program-programnya yang telah berjalan dan gambaran tujuan masa depan bersama warga DKI menurut saya akan lebih efektif. Beberapa catatan yang bisa dilakukan Ahok-Djarot:

  1. Hentikan kampanye negatif terhadap lawan sama sekali. Jangan pula defensif. Akhir-akhir ini timses Anies dengan cerdasnya mengampanyekan program anti terhadap isu-isu kontroversial. Bila Ahok pro Reklamasi, maka Anies anti Reklamasi. Bila Ahok melakukan penggusuran, maka Anies anti penggusuran. Kampanye anti ini cukup efektif karena timses Ahok defensif dan tidak pula menjawab dengan utuh. Daripada menjawab tuduhan lawan, lebih baik bercermin, menyadari isu-isu apa yang masih kontroversial selama masa jabatan Ahok dan berikanlah penjelasan, edukasi mengapa Pemda DKI melakukan hal tersebut. Terbuka untuk kritik dan perubahan untuk program mendatang. Akui adanya ketidakpuasan dan tawarkan solusi. Ahok-Djarot mesti lebih  banyak bicara soal reklamasi dan penggusuran. Dua isu tersebut digunakan pihak lawan dengan sangat baik dan akan terus digarap menjelang putaran kedua ini. Kampanye negatif akan menjatuhkan dirimu dari level incumbent menjadi penantang. Melecehkan lawan juga tidak akan mengundang simpati baru. Kampanye negatif akan menjadi senjata makan tuan di putaran kedua.
  2. Mengapa harus memilih saya? Dengan tingkat kepuasan yang cukup tinggi (>70%), Ahok semestinya jangan melihat warga DKI sebagai blok musuh dan kawan. Jangan menuduh atau curiga dengan pihak lain. Lihat ke diri sendiri karena engkaulah fokus, pemeran utama permainan ini. Mungkin pemilih belum yakin dengan dirinya, belum memiliki jawaban kenapa harus memilih dia. Masih curiga dengannya. Masih curiga dengan agenda terselubungnya. Terutama dengan banyaknya kampanye negatif seputar penistaan agama ini. Seputar reklamasi dan penggusuran. Ahok mesti kembali ke basic, menjelaskan apa yang telah dilakukannya terhadap Jakarta dan apa yang akan terus dilakukannya. Dengan suara hanya 43% di putaran pertama, teorinya 57% warga masih menolaknya. Namun dengan tingkat kepuasan yang lebih tinggi dari itu artinya secara teoritis masih ada massa cair yang bisa didapatkannya kembali. Mereka yang belum cukup puas dengan apa yang telah dilakukannya (walaupun cukup bagus) dan yang masih curiga dengan motifnya (karena kasus penistaan agama, isu reklamasi dan penggusuran). Yang sudah dikerjakan belum cukup meyakinkan mereka, perlu hal baru. Di putaran kedua ini, Ahok mesti mengeluarkan hal baru, apa yang akan diperbuatnya berbeda, lebih baik dari periode sebelumnya, terutama terkait umat Islam (untuk counter isu penistaan agama), reklamasi dan penggusuran.

    …masih ada massa cair yang bisa didapatkannya kembali. Mereka yang belum cukup puas dengan apa yang telah dilakukannya dan yang masih curiga dengan motifnya…

  3. Terima kesalahanmu dan bertanggung jawablah. Manusia tidak ada yang sempurna. Ahok sering melakukan blunder yang tidak perlu. Blunder ini dilakukan karena self-righteousness-nya. Ia merasa paling benar sehingga lebih cepat menuduh orang lain salah. Hal itu juga sering diekspresikannya secara terang-terangan. Bagus untuk memberantas birokrasi korup namun juga akan terlihat arogan bagi orang yang tidak begitu mengenalnya. Blunder di kepulauan Seribu dan kemudian di persidangannya (ribut-ribut dengan Ma’ruf Amin) dan hampir saja kembali blunder di pidatonya saat Sertijab. Rasa kebenarannya yang tinggi sering menutup kemampuan melihat kesalahannya sehingga saat ia meminta maaf pun terkesan tidak tulus. Menjadi rendah hati dengan menerima kesalahan yang telah dilakukannya dan bertanggung jawab terhadap hal tersebut adalah hal-hal yang ingin dilihat banyak orang. Warga ingin melihat apa pendapat Ahok pribadi terhadap penggusuran. Tak adakah empatinya terhadap korban penggusuran? Pendapatnya tentang nelayan-nelayan yang akan kehilangan pekerjaan karena reklamasi dan pembangunan giant sea wall. Ia perlu lebih sering menunjukkan empatinya, terbuka, jujur terhadap kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Lebih rendah hati. Saya melihat Djarot dapat memainkan peran penting untuk itu. Pengakuan dari orang terdekatnya (di politik saat ini) akan menjembatani keraguan menuju keyakinan.

    Menjadi rendah hati dengan menerima kesalahan yang telah dilakukannya dan bertanggung jawab terhadap hal tersebut adalah hal-hal yang ingin dilihat banyak orang.

  4. Lakukan pemetaan per TPS berdasarkan hasil putaran pertama dan perbanyak kampanye di daerah-daerah kantung suara Agus dan Anies. Jawab keraguan mereka dan beri gambaran jelas apa yang akan diperbuat untuk mereka di masa mendatang. Ahok memiliki keuntungan dengan kembali menjabat sebagai Gubernur DKI. Ia bisa kembali melakukan blusukan ke daerah-daerah yang tidak begitu yakin dengannya.
  5. Kendalikan tim buzzer atau paling tidak jubir resmi dan tidak resmi. Kalau ada hal yang sangat tidak saya sukai dari kampanye Ahok-Djarot ini adalah tingkah laku tim buzzer-nya di social media yang juga menebar kebencian dan prasangka terhadap lawan politiknya. Entah tim resmi atau tidak, mereka menjadi bumbu dari kampanye Ahok. Pentolan-pentolan Ahokers dengan follower yang ramai di social media perlu dirangkul dan diberikan guideline kampanye yang benar. Berkampanyelah dengan tema yang sama.

Saya akan menutup opini amatiran saya ini dengan kalimat,”Musuh terbesar Ahok adalah dirinya sendiri.” Ia sudah demikian dekat untuk mencatatkan sejarah menjadi Gubernur DKI pertama yang berasal dari minoritas namun dipilih langsung dan didukung oleh mayoritas. Ia memiliki track record yang baik dan karakter yang menarik sehingga banyak public figure, celebrities, dan middle class yang mendukungnya. Itu modal yang kuat untuk mengimbangi handicap-nya dengan status sebagai combo minoritas (Cina-Kristen). Handicap-nya itu melahirkan musuh, yaitu prasangka. Hanya dirinya sendiri yang bisa melenyapkan prasangka orang lain terhadapnya.

“Tak kenal maka tak sayang.” Saya selalu menggunakan frase itu untuk menjembatani kecurigaan dan kebencian yang muncul akibat prasangka. Kontroversi yang muncul seputar Penistaan Agama, Reklamasi, Penggusuran perlu dihadapi langsung oleh Ahok. Tak dapat dihindari lagi. Sidang terbuka menjadi awal yang bagus. Sikapnya selama sidang akan dinilai masyarakat. Tidak hanya apa yang diucapkan, tapi apa yang tersirat juga akan ditafsirkan banyak orang. Di era social media di mana segalanya itu serba instan dan multi-tafsir, satu-satunya cara untuk menghindari prasangka adalah dengan tetap menjadi diri sendiri tapi tambahkan dengan kejujuran dan keterbukaan, apa adanya. Karakter memang sulit diubah sehingga berikanlah alasan orang lain untuk memahami karaktermu, untuk menerimamu. Hal itu hanya bisa dilakukan dengan kejujuran dan kerendahan hati.

Sebagai minoritas, tidak mudah baginya memang untuk memenangi pemilihan umum, apalagi untuk kursi terhormat seperti DKI-1. Ia mesti “sempurna” di dalam ketidak-sempurnaannya. Ia mesti menunjukkan kualitas yang jauh berbeda dari lawannya. Ia punya peluang, walau tidak besar. Ia perlu berubah, dalam pembawaannya dan caranya berkampanye.

Semua catatan di atas hanyalah opini pribadi tanpa berlandaskan data ilmiah. Kalau bagus ya boleh diikuti kalau sampah ya silakan dibuang, seperti tema blog ini. Namun bila Ahok dan timsesnya memilih kampanye negatif yang menyerang lawannya, tanpa perlu data survei saya yakin ia akan kalah di putaran kedua.