Kumpulan tweet @benhan #Soeharto_Pahlawan_Nasional


Kumpulan tweet @benhan (17 Oktober 2010) soal wacana Soeharto dijadikan Pahlawan Nasional, blog menyusul:

  1. Slate: How Did Suharto Steal $35 Billion? (during his 32 years reign) http://www.slate.com/id/2097858/
  2. Dan skrg Mensos (PKS) mau ajukan RT @imanbr: Sekadar mengingatkan iklan PKS #SOEHARTO sebagai pahlawan http://youtu.be/fq-HuCw0J0U
  3. Transparency Int’l named Soeharto the most corrupt world leader of the past 20 years. And PKS want to name him National Hero…
  4. Time (1999) – Soeharto Inc.: All in the Family » http://bit.ly/9qShVv
  5. $15 billion (150T Rp) fortune in cash, property, art, jewelry and jets »Soeharto Inc., The Family Firm. http://bit.ly/9qShVv
  6. Soeharto Inc. controls some 3.6 million hectares of real estate in Indonesia, an area larger than Belgium http://bit.ly/9qShVv
  7. Coz we lived in delusion RT @IrfanRinaldi: If ppl knew Soeharto was corrupt, a dictator.Why do some people felt better off during his reign?
  8. 30% of Indonesia’s development budget over two decades disappeared through civil-service-wide corruption »Soeharto Inc. http://bit.ly/9qShVv
  9. We’re having hard time to battle corruption. Our politics full of corruption. All down to 2 decades of Soeharto Inc. National Hero my ass.
  10. @tvrner that stability was delusion. We were hit very hard in 1998, worst in Asia. Suddenly we were facing the Reality.
  11. Everyone who considers Soeharto as National Hero should read this http://bit.ly/9qShVv and ask ourselves: Are we proud of him?
  12. Soeharto RIP, but Golkar are his living remnants. It told us something when one of the richest became the party Chairman.
  13. National Hero is someone we look to, whom we aspire to be. Soeharto=corruption. I don’t want my children aspiring to be him.
  14. One did some good deeds in life but overall valued by one’s legacy. What was Soeharto’s? A corrupt country too hard to clean.
  15. Karena rasa takut > nasionalisme RT @mreinus: @benhan knp 150jt manusia membiarkan kekuasaan itu bertahan slm 32 thn?
  16. We could have done much much better RT @wcxsgj: @benhan im not fond of the guy. just hoping to be objective. we could have done worse…
  17. Yes, I also don’t believe we could paint ppl black or white. The argument is based on his legacy he doesn’t deserved tobe Nat’l Hero @tvrner
  18. RT @tvrner: @benhan not just because of fear. soeharto controlled all military, finances, people & system. little means for coup against him
  19. To think Soeharto era was better, u must be either of: 1.One of his cronies; 2.Had business with him; 3.Not the minority; cont’d..
  20. …4.Brainwashed by P4; 5.Nowhere in the country in 98; 6.Have short memory; 7.Simply naive; 8.Spin Doctor. #Soehartobetter
  21. Some said Soeharto era better. They still don’t get it that we were being freed from paying the rents by selling our soul to him.
  22. And when the time was up, the land lord sold his properties. Suddenly we had to pay the rents+interests. Huge debts till now. #98
  23. And Soeharto legacy was: systemic corruption. From Senayan to the most remote villages. National Hero of Corruption.
  24. Tradisinya mengakar bak pohon beringin RT @eddlinus: @benhanmenurut anda korupsi sekarang turunan Soeharto? Orangnya udah ganti semua kan
  25. Dg diajukannya Soeharto sebagai Pahlawan Nasional oleh Mensos, ini momentum yg pas utk Media angkat legacy Soeharto secara utuh.
  26. TIME (1999) http://bit.ly/9qShVv bs jd rujukan, jg Transparency Int’l yg indikasikan Soeharto merampok Rp 350T APBN wkt berkuasa.
  27. Bila media, baik TV maupun cetak hanya memuat puji-pujian Soeharto dan kangen Orba, maka kita patut curiga jiwa media pun dibeli.
  28. RT @claralila: Soeharto ad/ pemimpin yg gemakan kedamaian dan kestabilan berlandaskan korupsi, pelanggaran HAM dan tirani.
  29. Reformasi gagal mengubur Golkar RT @eddlinus: @benhandengan ada atau tidaknya reformasi kemarin, jadi tetap ada ya korupsi?
     

    Selingan analogi bagaimana Glazers Family menguasai MU:

  30. Memahami mengapa era Soeharto yg “seakan” lebih enak itu mudah. Semudah memahami bagaimana Glazers membuai fans MU. Nyangkut?
  31. Glazers beli MU dari pasar modal, tarik dari bursa jadi milik privat. Belinya pake uang bank, yg dijadikan jaminan semua aset MU.
  32. Jadi bs dibilang Glazers beli MU tanpa modal. Setiap tahun mereka membayar cicilan utang+bunga ke bank dari revenue MU. Canggih?
  33. Itu belum seberapa. Mereka juga tarik prive, manajemen fee dari MU. Jumlahnya puluhan juta GBP. Glazers hisap klubnya sendiri.
  34. Pendapatan darimana? Fans MU. Tiket dan commercial. Jadi Fans MU menghidupi Glazers. Dibuai dg janji transfer pemain dan trofi…
  35. Namun beban bunga yg besar buat MU merugi. Tanpa penjualan CR7, MU thn lalu mestinya rugi 40M GBP. Tahun lalu cuma bs bayar bunga
  36. Awal musim, Glazers coba akali beban bunga bank yg tinggi (15-an% gila kalo di UK). Mereka issue bond dg interest 8-9%. Kemana?
  37. Bond yg diisu MU 700 juta GBP dg jangka 10 tahunan. Mana ada lembaga investasi yg mau beli. Lagi2 yg dimanfaatkan sentimen fans.
  38. MU pecah bond agar lebih affordable. Dijual ke fans setia MU worldwide. Dg kata lain minta tolong fans bayarin utang Glazers.
  39. Kalo scheme bond MU sukses dan utang Glazers lunas, resmi Glazers memiliki aset MU dg bantuan fans. Hampir tanpa modal. Briliant!
  40. Kalo scheme Glazers gagal? Nasibnya akan seperti LIV, mesti lego pemain dan terancam masuk administrasi. Lebih parah? Jadi Leeds.
  41. Demikianlah cara Glazers membeli MU mengorbankan fans, yg dimortgage aset MU. Soeharto pakai cara yg hampir sama. Hanya beda objek
  42. Sangat legal memanfaatkan celah EPL yg memang tidak ketat soal ownership RT @captainugros: @benhan apakah yg dilakukan Glazers ini legal?
  43. Brilliant if they can pull it off. If they can’t, Glazers have nothing to lose, fans suffer RT @yusrizki: @benhan financially this is smart!
  44. Soeharto kuasai aset negara, mortgagenya SDA contoh tambang emas Freeport RT @wahyudw: @benhan masih ga ngerti kalo di samain dg pak harto?
  45. Quote is too soft Bang, …Order of the Day! RT @fadjroel:#TolakSoeharto sebagai Pahlawan Nasional – #QuoteoftheDay

Mei 98, Kelahiran Kembali Kebanggaan Bangsa


pic courtesy of @uberfunk

Bulan Mei adalah bulan yang memiliki makna istimewa, terkait dengan kata “awakening“. Di bulan ini tanggal 20 ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Bagi umat Buddhist bulan Mei adalah bulan Vesākha, yang memperingati “pencerahan” Buddha Gotama. Pencerahan di sini amat dekat maknanya dengan kata “bangun”, “kebangkitan” -bangunnya Ia dari “mimpi” untuk dapat “terjaga” melihat kenyataan.

Untuk saksi sejarah, bulan Mei tahun 1998 memiliki makna yang amat spesial. Dalam satu bulan, kita menyaksikan serentetan peristiwa yang mengubah negeri ini, untuk selama-lamanya. Peristiwa yang dimulai dari demonstrasi besar-besaran mahasiswa di Jakarta dan daerah-daerah, kemudian kerusuhan massal yang menimbulkan korban tewas dan perkosaan wanita, diakhiri dengan lengsernya Soeharto, presiden diktator yang sebelumnya tak tersentuh selama 32 tahun kekuasaannya di negeri ini.

Sekilas tentang apa yang terjadi di Mei 98. Krisis finansial terbesar dalam sejarah menghantam Asia termasuk Indonesia di pertengahan tahun 1997. Pondasi ekonomi yang lemah membuat Indonesia yang menderita paling parah dari krisis ini dan paling lama bangkit. Krisis kepercayaan terjadi, rush deposan ke bank-bank memaksa suku bunga SBI sampai 70%, depresiasi rupiah hingga ke level Rp 17.000/USD. Inflasi tertinggi sejak era ORBA mengakibatkan harga-harga barang naik luar biasa.

Krisis finansial ini seakan membuka topeng pembangunan ekonomi ORBA yang berlandaskan pada crony capitalism. Pembangunan yang dipenuhi korupsi dan kolusi Soeharto dan kroni-kroninya (hasil riset Stolen Asset Recovery Initiative: 15-35 billion US$ dana pembangunan dikorupsi Soeharto). Ketidakmampuan pemerintah dalam menangani krisis yang bergulir hingga ke tahun 1998 mengakibatkan praktek KKN dalam pembangunan selama ini akhirnya terekspos ke publik. Sederhananya, urusan perut membuat orang nekat, mahasiswa akhirnya berani bersuara dalam skala yang besar.

Februari 98, aksi-aksi mahasiswa mulai ramai di kampus-kampus. Contoh tulisan mengenai aksi mahasiswa dalam kampus ini dapat membantu memberikan gambaran apa yang terjadi.

Maret 98, mahasiswa UI ke Gedung DPR/MPR menyatakan penolakan terhadap pertanggungjawaban Soeharto dan menyampaikan agenda reformasi nasional. Diterima Fraksi ABRI. Soeharto dan BJ Habibie disumpah MPR menjadi Presiden (untuk kesekian kalinya) dan Wakil Presiden. Kabinet Pembangunan VII terbentuk. Kabinet ini dinilai makin kental unsur KKN dengan adanya nama Bob Hasan dan Tutut (anak sulung Soeharto).

April 98, Soeharto minta mahasiswa kembali ke kampus. Dialog antara menteri-menteri dan Pangab Wiranto dengan mahasiswa di Arena PRJ, Jakarta. Banyak perwakilan mahasiswa yang menolak dialog ini.

Mei 98, bulan penuh sejarah, akan diuraikan sesuai urutan tanggal peristiwa:

  • 2 Mei, harga BBM dinaikkan.
  • 4 Mei, mahasiswa di Medan, Bandung, Yogyakarta demo besar-besaran protes kenaikan harga BBM.
  • 5 Mei, demonstrasi besar di Medan berakhir dengan kerusuhan.
  • 9 Mei, Soeharto berangkat ke Kairo, Mesir untuk KTT G-15.
  • 12 Mei, empat mahasiswa Trisakti tertembak di dalam kampus ketika digelar demonstrasi besar-besaran ke gedung DPR/MPR. Puluhan luka-luka.
  • 13-15 Mei, kerusuhan terjadi di Jakarta dan daerah-daerah. Toko-toko dijarah, kantor-kantor dibakar, terutama milik warga Tionghoa. Perkosaan juga terjadi pada puluhan wanita etnis Tionghoa. Ratusan warga juga mati terbakar di supermarket yang sedang dijarah. Laporan Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa 13-15 Mei 1998.
  • 15 Mei, Soeharto memperpendek masa kunjungannya dan kembali ke Indonesia dari Kairo. Suasana Jakarta masih mencekam.
  • 19 Mei, Soeharto memanggil tokoh-tokoh Islam seperti Nurcholis Madjid, Gus Dur, Malik Fajar, dan KH Ali Yafie. Dalam pertemuan, para tokoh menyampaikan masyarakat dan mahasiswa minta Soeharto mundur. Isu beredar malamnya Amien Rais mengajak massa ke Monas untuk demonstrasi besar-besaran memperingati Hari Kebangkitan Nasional.
  • 20 Mei, jalan menuju Monas diblokir kawat berduri. Amien Rais batalkan demonstrasi dengan alasan keamanan. Tank dan panser militer terlihat di Monas. Mahasiswa ke Gedung DPR/MPR.
  • 21 Mei, di Istana Merdeka, pukul 09.05 WIB Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya dan BJ Habibie disumpah menjadi Presiden RI ketiga.

Serentetan peristiwa di bulan Mei 98 tersebut menghadirkan emosi yang begitu bervariasi. Dari rasa marah, benci, takut, sedih, malu, lega, gembira sampai dengan bangga. Di manapun kita berada dan sedang melakukan aktivitas apapun pada saat itu, Mei 98 mengubah pandangan kita tentang Bangsa Indonesia.

Teringat dulu saat saya masih SMP dan ikut kursus Bahasa Inggris di luar sekolah. Guru Bahasa Inggrisnya adalah seorang Singaporean bertanya, “Apa yang Anda banggakan sebagai bangsa Indonesia?”

Pertanyaan yang sederhana tapi sungguh sulit saya mencari jawabannya. Apa yang saya banggakan? Luasnya daerahnya? Saat itu saya belum punya wawasan seberapa luas Indonesia. Keragaman budaya? Ah itu hanya di atas buku sejarah. Bhinneka Tunggal Ika? Sebaliknya saat itu sebagai seorang keturunan Tionghoa, saya merasakan diskriminasi di pergaulan sehari-hari. Tampaknya lebih banyak malunya daripada bangganya menjadi bangsa Indonesia, bagi saya saat itu tentunya.

Namun setelah Mei 98, saya bisa menjawab pertanyaan itu dengan mudah.

13 Mei 1998 bergabung dengan rekan-rekan mahasiswa kampus Unpar di Bandung, saya ikut demonstrasi 50 ribu mahasiswa Aksi Reformasi Damai di Gedung Sate dan Lapangan Gasibu. Kembali dari demonstrasi, nonton tv di kampus tersiar berita kerusuhan di Jakarta, saya terdiam. Esoknya tersebar berita penjarahan toko-toko dan pemukiman etnis Tionghoa, saya kaget dan bingung. Namun rentetan kejadian berikutnya membuat lega dan gembira, rakyat Indonesia akhirnya menentukan nasibnya sendiri, tidak menyerah pada kekuatan dan provokasi militer.

Saya bangga sebagai bangsa Indonesia karena bangsa ini telah menentukan sendiri untuk mengakhiri yang jahat dan menumbuhkan yang baik. Bangsa ini memilih untuk mengakhiri rasisme, diskriminasi, otoritarianisme militeristik, dan menumbuhkan pluralisme, egalitarianisme, dan demokrasi. Mei 98 saya tandai sebagai titik tolak kelahiran kembali kebanggaan bangsa Indonesia, Kebangkitan Nasional kedua.