Arsenal 1 – Bayern Munich 3. Akhir atau Awal Sebuah Era?


Arsenal 1 (Podolski 55) – Bayern Munich 3 (Kroos 7, Müller 21, Mandzukic 77)

Wenger yang frustrasi

Arsenal tidak berdaya di kandang sendiri. Kecolongan dua gol di dua puluh menit pertama menjadi awal malapetaka. Gol dari Kroos menyambut umpan crossing dari sayap kanan Bayern terjadi dengan cepat. Gol kedua terjadi setelah sundulan Van Buyten dari Corner Kick tidak berhasil dimentahkan dengan sempurna oleh Szczesny diselesaikan oleh Muller. Kemudian Bayern Munich yang penuh percaya diri mendominasi total babak pertama, “dibantu” oleh Arsenal kembali lagi ke kebiasaannya yang selalu memulai babak pertama dengan melempem. Kebangkitan dan agresifitas di babak kedua tidak cukup untuk menyamakan kedudukan. Bayern menutup partai tandang mereka ini dengan gol Mandzukic dan Arsenal menghadapi tugas mustahil untuk menang tiga gol tanpa balas di kandang lawan tiga minggu ke depan.

Wenger memainkan Walcott sebagai striker utama. Pilihan yang aneh karena Giroud selalu tampil sebagai striker utama di beberapa pertandingan terakhir Arsenal. Mungkin Wenger kecewa dengan penampilan Giroud di FA Cup saat melawan Blackburn namun keputusannya kali ini tampaknya salah. Walcott tidak mampu berbuat banyak di posisinya, tidak dapat menciptakan ruang lewat pergerakan tanpa bola dan Arsenal juga tidak bisa memainkan long ball kepadanya. Babak pertama Arsenal praktis hampir tanpa peluang mencetak gol.

Permainan Arsenal, seperti biasa, sedikit membaik di babak kedua. Podolski mencetak gol lewat Corner Kick yang semestinya tidak diberikan wasit. Performa wasit pada pertandingan ini sangat buruk. Berkali-kali tidak memberikan keputusan foul kepada pemain Bayern padahal jelas-jelas pemain Arsenal dilanggar. Dan sering sekali memberikan foul tanpa dasar untuk pemain Arsenal. Namun satu-satunya keputusannya yang “bias” ke Arsenal membantu terciptanya gol. Impas.

Giroud masuk menggantikan Podolski dan satu tembakannya dari peluang bersih satu-satunya mengarah tepat ke kiper Bayern. Sayangnya pertahanan Bayern sangat bagus dan tidak ada clear chance yang diciptakan Arsenal setelah itu. Sebaliknya lewat counter attack dan kembali crossing dari sayap kanan, Bayern menambah satu gol dari Mario Mandzukic, striker utama mereka yang menggeser posisi Mario Gomez musim ini.

Hal yang menarik adalah tiga gol Bayern terjadi lewat umpan lambung (termasuk gol kedua yang merupakan rebound dari sundulan yang menyambut umpan lambung). Dan dua gol hasil open play tersebut berasal dari crossing sayap kanan Bayern, sisi yang dikawal Vermaelen. Tiadanya Left Back murni Arsenal di pertandingan ini menjadi penentu. Dan Bayern, bila melihat dari statistik mereka, adalah tim yang sangat mengandalkan crossing untuk mencetak gol. Hal yang mestinya sudah diketahui Wenger dan pemainnya sebelum pertandingan ini. Sisanya, mesti diakui Bayern memang lebih kuat di semua lini, dan tampil penuh percaya diri dengan mental tim juara.

Kekalahan di kandang sendiri yang telak ini praktis membuat satu-satunya target untuk Arsenal musim ini adalah mengamankan posisi kualifikasi di Liga Champions. Berbeda dengan target trofi FA atau Carling Cup yang sering dijadikan parameter keberhasilan sebuah klub (walaupun Liverpool memecat Kenny setelah meraih Carling Cup tapi gagal lolos ke UCL), posisi keempat liga walaupun bukan “trofi”, sangat menentukan masa depan klub. Posisi keempat ini akan menentukan apakah sebuah pemain top akan bergabung dengan Arsenal atau tidak, dan menentukan berapa besar budget Arsenal untuk pemain, mengingat klub ini tidak disponsori oleh Sugar Daddy dengan budget pembelanjaan yang tidak terbatas.

Gagal finish di empat besar akan menambah tekanan terhadap klub dan terutama Wenger. Wenger terlihat frustrasi belakangan ini terutama setelah kekalahan dari Blackburn di FA Cup. Ia digambarkan media Inggris sebagai sosok yang terisolasi, delusional dengan kekuatan timnya sendiri, dan gagal menambah kekuatan tim dalam target meraih gelar di transfer window. Akankah Wenger walk out  di akhir musim ini atau di akhir musim depan saat kontraknya habis? Board Arsenal tidak akan memecatnya, mengingat pencapaiannya selama ini notabene menghasilkan stadion baru dan cash hasil penjualan saham mereka yang nilainya berlipat ganda, para keturunan bangsawan Inggris pemilik Arsenal (Hill-wood, Lady Nina dan sepupunya Carr, keluarga Fiszman dan ex board seperti Dein).

Wenger berhak untuk memimpin tim ini satu musim lagi. Karena lewat penghematannya selama ini, Arsenal bisa survive tetap bermain di kompetisi elit sambil membangun dan melunasi utang stadion baru. Net transfer spendingnya terendah di antara semua manager klub Premier League. Ia berhak membelanjakan budget di tahun 2014 yang jauh lebih besar karena penambahan pendapatan commercial dan memperlihatkan kualitas timnya yang sesungguhnya. Giroud, Podolski dan Cazorla sudah memberikan beberapa penampilan yang cemerlang, sayangnya tidak konsisten. Namun perlu diingat ini adalah musim pertama mereka di Liga Inggris dan pertama kali mereka bermain bersama. Tim Bayern sendiri di bawah pelatih Juup Heynckes butuh 3 musim untuk merebut kembali dominasi Dortmund di Bundesliga 2 tahun terakhir ini. Arsenal di bawah Wenger sejak kepindahan ke stadion baru memang sudah mengalami masa 8 tahun tanpa gelar, namun perlu diingat dalam 8 tahun itu Wenger harus bongkar pasang tim akibat pemain-pemain terbaiknya dijual ke klub lain yang daya belanjanya jauh lebih kuat.

Masa depan Wenger di Arsenal akan ditentukan pencapaiannya di musim ini. Yang mengikuti jejak karier Wenger akan mengetahui bahwa yang mempengaruhinya dalam mengambil keputusan untuk mundur atau bertahan adalah kepercayaan board. Ia bisa tangguh menghadapi celaan media dan fans, namun bila tidak dipercaya lagi oleh board, ia akan memilih mundur. Sementara ini fans Arsenal telah terbelah menjadi dua bak Laut Merah di musim ini. Ketika half time semalam, sebagian fans boo pemain Arsenal yang akan masuk ke dressing room, dan langsung dicounter dengan fans yang lainnya dengan seruan “Come on, Arsenal!” Tekanan dari fans bisa saja membuat board mengambil keputusan soal penggantian manager. Dan siapapun manager setelah Wenger, akan menikmati budget yang selama ini “ditabung” olehnya. Sebuah privilege yang tidak dimiliki olehnya selama Arsenal bermain di stadion baru ini. Fakta yang sering diabaikan media dan fans Arsenal (silakan baca Model Finansial Arsenal).

Bila musim ini dan musim depan kemungkinan akan menjadi Akhir sebuah Era, mungkin berakhirnya Era Wenger atau Era belanja hemat Wenger (tergantung prestasinya di akhir musim 2013 dan 2014), kita juga melihat Awal sebuah Era di dalam penampilan dan karakter seorang pemain: Jack Wilshere.

Jack Wilshere, His Heart is Red and White

Jack Wilshere, yang baru berusia 21 tahun ini bertarung tanpa takut dengan pemain-pemain kawakan Eropa. Di antara negatifnya penampilan Arsenal, kita selalu akan bisa melihat penampilan positif Wilshere dan tersenyum. Wilshere, berbeda dengan pemain-pemain terbaik Arsenal sebelumnya yang tidak kurang talentanya, punya Arsenal DNA. Jebolan akademi “Anelka” (akademi dan tempat latihan yang direstrukturisasi ulang  dengan uang penjualan Anelka ke Real Madrid) yang bergabung dengan Arsenal sejak usia 9 tahun ini memiliki “hati” selain “otak” Arsenal. Ia bermain untuk Arsenal seakan tidak pernah mengalami masa cedera panjang satu setengah tahun. Tak perlu kita ragukan komitmennya di setiap pertandingan. Ia juga menolak untuk menyalahkan Wenger atas kekalahan dari Bayern semalam.

I don’t think this is anything to do with the manager. He puts us on the pitch – it’s up to us to perform and do the best we can every week.

He can motivate us, and it is up to us to do the best we can on the pitch.

The players will take responsibility. We are man enough to take it, but the boss has been here for 16 years and he has done a great job. I don’t think you can question him. We move on to the weekend and have to try and take it from there.

[On Arsenal’s notorious slow start to a match] I don’t know why we had a slow start again. Maybe it was a bit of nerves, a bit of anxiety – I don’t know. We show what we can do when we play, so we will have to look at it and try and learn from this.

We didn’t start great, and against good teams you get punished. In the second half we stepped it up, got one back and could have got a second goal with [Olivier] Giroud, but their keeper pulled off a good save.

There is always a chance for us at their place. We are not out of this tie. We have the players to do it, but we have to start games better.

Fans Arsenal mungkin sudah mengalami penantian panjang 8 tahun tanpa gelar, namun bagi Wilshere era Arsenal-nya baru dimulai. Ia masih punya waktu panjang untuk bermain sepakbola dan meraih gelar demi gelar, dan Gooners till I die di mana pun akan menikmati menyaksikan penampilannya hingga saat ia pensiun nanti. Sebagaimana Dennis Bergkamp yang juga “pensiun” di Arsenal.

“I really like Arsenal. But you, yes, you. Do you really like Arsenal? Or just Arsenal with trophies?”

– Dennis Bergkamp

Advertisements

Momen Bersejarah bagi Pendukung (Tandang) Arsenal


Reading 5 (Roberts 12, Koscielny 18 (og), Leigertwood 20, Hunt 37, Pogrebnyak 115) – 

Arsenal 7 (Walcott 45, 120, Giroud 64, Koscielny 89, Jenkinson 90, Chamakh 103, 120)

Giroud dan Walcott Inspirator Comeback Historis Arsenal

Siapapun yang menonton pertandingan Capital One Cup babak perdelapan final antara Reading melawan Arsenal di Madejski Stadium tidak akan menyangka hasil akhirnya. Seperti menaiki roller coaster, fans Arsenal dibawa turun-naik, dibalik 180′ dengan jantung yang berdebar-debar. Menonton pertandingan ini lewat televisi saja cukup menegangkan, apalagi yang menonton langsung di stadion. Pendukung tandang Arsenal mengalami momen bersejarah yang tak ayal lagi akan makin menguatkan cinta mereka terhadap the greatest club the world has ever seen ini.

Neraka Babak Pertama

Wenger memainkan starting eleven yang berbeda total dengan yang bermain melawan QPR pekan lalu. Formasi yang dimainkan tetap 4-2-1-3 dengan susunan seperti ini:

Gnabry ——- Chamakh ——– Walcott

—————– Arshavin ——————–

———- Coquelin —- Frimpong ———-

Miquel – Koscielny -Djourou – Jenkinson

—————– Martinez ——————–

Arshavin bermain di posisi yang biasa diisi Santi Cazorla, peran yang juga dimainkannya di pertandingan COC sebelumnya. Cukup mengherankan Wenger memainkan Chamakh daripada Giroud yang duduk di bangku cadangan. Ini pertanda Le Boss masih percaya kepada striker yang sudah lama kehilangan kepercayaan di mata fans. Atau bisa juga karena Giroud diistirahatkan agar punya stamina yang cukup untuk big match melawan MU akhir pekan ini. Atau bisa juga Wenger tidak memprioritaskan kemenangan di partai ini, demikian pikir fans Arsenal kebanyakan di awal pertandingan. Toh League Cup masuk prioritas kelima dalam daftar trofi incaran Wenger.

Reading memainkan setengah pemain intinya dari starting line up di Premier League pekan lalu dan memulai pertandingan dengan cemerlang. Hanya dalam waktu 20 menit, Arsenal sudah kebobolan tiga gol. Gol pertama berawal dari serangan sayap kiri Reading. Jenkinson terlambat menutup gerakan pemain sayap lawan yang melakukan crossing rendah dan Koscielny terlambat mengikuti gerakan Jason Roberts. Gol mudah bagi Reading. Gol kedua juga berasal dari sayap, kali ini dari sayap kanan Reading. Crossing rendah dari Gunter berusaha diblok oleh Koscielny (ke mana Miquel?) dan bola malah memantul ke gawang Martinez. Own goal untuk kesekian kalinya untuk Koscielny. Gaya bermain Koscielny yang gung-ho tidak membantu Arsenal untuk kesekian kalinya. Keputusan yang ceroboh sering dilakukan (bertolak belakang dengan Mertesacker yang kalem) sehingga berakibat pada own goal. Koscielny sangat bagus dalam man marking dan pertandingan satu lawan satu namun lemah dalam mengantisipasi crossing yang cepat dari sayap. Kelemahan ini dimanfaatkan dengan sempurna oleh Reading. Mestinya pemain-pemain Arsenal membaca scouting report yang dibuat Michael Cox (@ZonalMarking) di website Arsenal. Jelas-jelas ia memperingatkan serangan Reading akan dilakukan dengan crossing dari sayap.

Hanya berselang 2 menit kemudian, tembakan Leigertwood hanya bisa dimentahkan Martinez ke gawangnya sendiri. Kesalahan mendasar yang berawal dari kegugupan lini belakang Arsenal. Kiper muda ini tidak terbantu dengan back four yang gugup, gagap dan terlambat mengantisipasi serangan lawan. Mereka juga tidak dibantu oleh lini tengah yang kerap kehilangan bola. Frimpong terutama bermain tidak pada level yang seharusnya dan Coquelin serta Arshavin sering melakukan passing yang salah. Lini tengah terlambat menutup gerakan lawan ketika kehilangan bola. Begitu kontras dengan kesigapan Arteta dan Cazorla dalam tracking lawan sesaat setelah kehilangan bola dan ketenangan Ramsey atau Wilshere saat membawa bola. Akibatnya Gnabry, Walcott dan Chamakh tidak mendapatkan supply bola yang memadai. Arsenal menemukan jalan buntu setiap melewati garis tengah lapangan dan bola segera kembali ke pemain Reading dan menyerang Arsenal. Ketidakhadiran jenderal lapangan tengah sangat terasa di babak pertama ini.

Gol Hunt di menit ke-37 melengkapi neraka babak pertama bagi Arsenal. Dengan mudahnya ia melakukan free header ke gawang Arsenal tanpa kontes berarti dari Djourou. Satu-satunya hal positif dari penampilan pemain Arsenal babak pertama ini adalah di injury time Walcott berhasil mencetak gol lewat counter attack, menyelesaikan through ball manis dari Arshavin. Walcott berhasil menjawab dukungan pendukung tandang Arsenal yang tak henti-hentinya bernyanyi walau Arsenal telah ketinggalan 4-0. Juga menjawab “judgment” saya di twitter yang mengatakan ia tak cukup bagus untuk menjadi striker utama. What did I know?

Twitter Meltdown

Seperti biasa, setiap Arsenal ketinggalan di pertandingan dan bermain buruk, fans Arsenal di twitter pasti akan ngomel, dan sebagian marah-marah. Ada yang melempar joke sarkas, ada yang meragukan komitmen pemain, ada yang menjelek-jelekkan pemain yang memang di matanya selalu jelek, dan sebagian kecil tetap mendukung tim dengan berharap pada mukjizat yang mengubah jalannya pertandingan. Harapan untuk perubahan ini kandas di 2 pertandingan lawan Norwich dan Schalke dan sedikit berhasil di pertandingan melawan QPR. Tentunya saya tidak terkecuali dalam hal twitter meltdown ini. Berikut akan saya copas twit @benhan selama pertandingan berlangsung. Menarik untuk melakuan “psikoanalisis” perubahan mental seorang fans dalam menyaksikan mukjizat ini. Komentar psikoanalisis ini ditulis dalam huruf italic. 🙂

Babak pertama:

  • Boyz bullied by men…. What a shame.
  • Reality check for these players and for the manager: they’re not as good as they perceive. Worse when being put together.
  • WTF. Stapleton won’t play in this game RT @piersmorgan: ‘We sold Van Persie for football reasons’ – #IvanTheTerrible #Arsenal #LaughingStock
  • Hahaha RT @binhaf: REMEMBER NEWCASTLE, WE CAN GET BACK ON THIS
  • Rightly deserve RT @feverpitch: This game will be available on DVD at the spurs shop tomorrow morning.
  • Nah, eleven different players RT @ellgalegoy: “@AFCholic: I’m genuinely scared of what’s going to happen at Old Trafford.” (menarik batas antara pertandingan ini dengan pertandingan berikutnya, yang bermain di OT nanti jelas 11 pemain yang berbeda)
  • Walcott’s first touch is too heavy for a striker. He can keep dreaming becoming one this season. Not good enough even for a COC
  • Walcott’s first touch is too heavy for a striker. He can keep dreaming becoming one this season… And he scores! What do I know (setelah Walcott mencetak gol pertama, terpaksa menelan ludah sendiri dan melakukan revisi twit hehe)

Campuran kekecewaan dan pesimisme terlihat di twit-twit di atas dicampur joke-joke sarkas pesimis. Ditambah dengan beberapa twit selama half time:

  • Koscielny’s confidence nose dived after being benched since the start of the season. From world beater to grave digger..
  • Me too. His absence contribute to the abysmal midfield RT @binhaf: I don’t know about the rest of you, but I blame Ramsey.
  • First and second Reading goals: mistake by Koscielny. Not helped by the fullbacks.
  • The third Reading goal put any wishful thinking of Martinez challenging Don Vito for GK spot to bed.
  • LOL RT @binhaf: I think people should be more specific about wanting ‘Arsenal back’. What if we get the 80s?!
  • Wenger should put Giroud 2nd half. Chasing for a draw. This result won’t be good for any fringe players we have.

Terus terang saya tidak percaya Arsenal dapat membalikkan hasil pada babak kedua dan melakukan “New Castle” terhadap Reading. Namun dengan masuknya pemain seperti Giroud, ada harapan Arsenal bisa mencetak 1-2 gol lagi agar tidak kalah memalukan tanpa perlawanan seperti yang ditunjukkan di babak pertama. Twit di babak kedua:

  • 2nd half isn’t better. #COYG
  • Now we can truly appreciate how hard Arteta works for the team… Leading and uniting the bunch of overrated players.
  • Amazing that some fans decide to take cheap shot to the board based on this performance. We see things as what we want to believe. (masih pasrah tapi menolak bereaksi berlebihan)
  • Giroud and Eisfield coming on. Wenger does bother to be back to this game.
  • 4-2. Pull off a Newcastle, please! Great header by Giroud. (optimisme mulai hadir, boleh donk berharap?)
  • Arsenal away fans are amazing. Much better than those pretending to know how to support Gooners on twitter… Including me. (mulai mengakui kesalahan ketidakpercayaan pada tim ini)
  • Away fans know how to SUPPORT the team. Amazing RT@LadyArse: The noise from the Arsenal fans is unreal
  • Giroud is more and more impressive as minutes passing by… Good warming up for the weekend big match.
  • Giroud shows Walcott how to be a center forward. A proper one in the modern game.
  • Now we know why Wenger keeps playing Arshavin at the flank not in the hole. Inconsistency on passing and inability to hold up ball. (geram dengan Arshavin yang kerap kehilangan bola saat menyerang)
  • Koscielny payback! 4-3 now. Come on Arsenal!
  • 4-4! Unbelievable amazing comeback! I love you Arsenal! (hampir tidak percaya, akhirnya Arsenal melakukan New Castle!)
  • Sign da thing, Walcott!!! 😀 (bukti betapa rapuhnya penilaian fans terhadap pemain, sesaat mengatakan ia bukan striker, dua gol dalam comeback mengubah drastis persepsi sebelumnya)

Wenger memasukkan Giroud dan Eisfeld di babak kedua menggantikan Frimpong dan Gnabry yang tidak efektif. Hanya 2 menit berselang, Giroud mencetak gol lewat header jarak cukup jauh di dalam kotak penalti menyambut umpan tendangan sudut Walcott, 4-2. Gol Giroud ini memberikan harapan untuk comeback. Gerakan Giroud di kotak penalti sangat efektif, beberapa peluang dihasilkannya dan juga beberapa tembakan ke gawang. Eisfeld memberikan suntikan baru pada kemampuan penguasaan bola di lapangan tengah dengan operannya yang lebih akurat dari Frimpong, dan lewat penetrasinya yang cerdik ke daerah lawan yang menghasilkan beberapa freekick. Gnabry dipuja-puji media sebelum pertandingan namun Eisfeld adalah pemain Jerman yang bersinar di pertandingan kali ini. Arsenal bermain praktis dengan formasi 4-2-4 dengan 4 striker. Eisfeld dan Arshavin bergantian maju ke depan di saat dibutuhkan dan Coquelin menjadi satu-satunya pivot lapangan tengah.

Menit dan menit berlalu, Arsenal terus menyerang, fans Arsenal terus bernyanyi, Reading semakin kehilangan kepercayaan diri dan akhirnya kita mendapatkan hasil yang diinginkan. Gol Koscielny di menit terakhir dan gol Walcott (yang kemudian dikoreksi dan versi resminya menjadi gol Jenkinson) di injury time menghasilkan comeback dramatis Arsenal pertama musim ini. Tertinggal 4-0 dan membalikkan kedudukan menjadi 4-4, kita resmi melakukan “New Castle” terhadap Reading. Fans tandang Arsenal yang terus bernyanyi tanpa henti sejak ketinggalan sampai menyamakan kedudukan pasti senang luar biasa karena kepercayaannya pada tim ini terbayar tuntas. Simak catatan saksi hidupnya di blog Goonerholic ini.

Di babak kedua ini penampilan Miquel, Jenkinson dan Coquelin mengalami peningkatan drastis. Dengan hadirnya Eisfeld, Arshavin tidak memangku sendiri lagi beban kreativitas lapangan tengah. Passing-passingnya menjadi lebih akurat. Chamakh yang belum menghasilkan peluang di pertandingan ini dengan hadirnya Giroud di depan bisa turun sedikit ke lapangan tengah dan bekerja keras untuk menerima bola, melakukan pressing ke pemain lawan, dan menahan bola selama mungkin untuk pemain depan Arsenal. Chamakh bermain hampir seperti box to box midfielder.

Gol Walcott (Jenkinson) di awal menit ke-6 injury time diprotes pemain Reading karena melewati batas 4 menit injury time yang resmi. Salah sendiri Reading melakukan pergantian pemain dan membuang-buang waktu di injury time. Semangat Jenkinson luar biasa dalam penyamaan kedudukan ini. Tanpa tembakannya menyambut rebound bola Walcott yang sebenarnya telah melewati garis gawang Reading, kemungkinan Arsenal tidak dapat menyamakan kedudukan. Gol terakhir di detik akhir injury time. Buah dukungan tanpa henti fans dan kerja keras tanpa henti pemain. Semuanya berbasis pada Faith. Kepercayaan manager dan fans pada para pemain Arsenal lapis kedua ini akhirnya berbuah manis.

Babak Tambahan, Gol Tambahan

Terus terang di babak tambahan perpanjangan waktu ini saya sudah tidak begitu peduli dengan hasilnya. Optimis Arsenal bisa menang, dan kalaupun sampai kalah tetap bangga dengan perjuangan para pemain di babak kedua. Babak tambahan ini adalah soal siapa yang lebih lelah, namun secara momentum, angin berpihak di Arsenal. Pemain Reading selain lelah fisik juga lelah mental karena terkejar dari posisi yang sudah sangat diuntungkan pasti bikin down pemain setangguh apapun.

  • Now into extra time. Let’s kill the game, Arsenal!
  • RT @Alex_OxChambo: I’m shaking i’m buzzin zoo much!!!
  • Giving up supporting does RT @GoonerboyBlog: Getting upset when your team is 4-0 down obviously means you’re not a proper supporter.
  • A reward for the amazing away fans RT @DarrenArsenal1: WEVE GOT OUR ARSENAL BACK …….
  • Fair RT @WengerBoy1: If you’re going to slate the team for the first half you have to praise them just as much for the second.
  • Chamakh might not score again in his career but he works tirelessly for the team. Maybe its time to convert him to box to box midfielder? 🙂
  • Forgive me Chamakh, what do I know? You score and win the game! From outside the box. 5-4 for Arsenal! 😀 (kembali harus menelan ludah, Chamakh mencetak gol brilliant dari luar kotak penalti, menjawab keraguan semua fans Arsenal)
  • I love when the players keep proving me wrong and that Wenger is right in trusting them. What do I know? #WengerKnows
  • RT @goonerdesi: A Chamakh goal from outside the box would a collector’s item in itself.. but that build-up play..ooh what a goal! pure class
  • I should repeat it this weekend 🙂 RT @ujangw@benhan First Walcott, then Chamakh, what kind of voodoo dolls you got there?
  • Can he walk the talk? 😀 RT @binhaf: (One hour ago) Awkward. RT@LukeHines: If chamakh scores I’ll eat my own shit
  • +1 RT @GeoffArsenal: Gotta say the Arsenal support have been incredible tonight. 4 down singing their hearts out. They deserve to win.
  • Lesson learnt from Arsenal away fans undying support: never stop supporting the team, it would only help the players. #COYG
  • Must be an amazing experience for the Arsenal away fans. This could be once in a lifetime comeback. A moment of truth, indeed.
  • Ouch… Too early to be happy. This could go to penalty shootout. 5-5
  • Walcott hattrick! 6-5. Amazing game. Now sign da thing!
  • Arshavin is much better playing from the left flank. How many assists he has today?
  • Chamakh scores again! 7-5. Really unbelievable.
  • What a classy chip goal from 30 yards by Chamakh. He could restore his confidence again. This what trust can give you.
  • Hell yeah! RT @beautifulgroan: Chamakh finishing the match with an impudent lob is the final nail in the ‘take the piss’ column.

Reaksi di twitter pun berubah 180 derajat. Fans Arsenal di twitter berubah dari kecewa menjadi kagum. Dari meremehkan menjadi setengah tidak percaya menjadi bangga. Apapun yang dilakukan Wenger di dressing room saat half time berdampak besar pada perubahan sikap mental pemain Arsenal. Tim cadangan ini bahkan bereaksi lebih hebat daripada tim utama saat melawan QPR pekan lalu. Sikap yang sama dipertahankan di babak perpanjangan waktu.

Chamakh mencetak gol kelima Arsenal malam itu dari luar kotak penalti. Tendangan terarah dan keras tidak dapat ditahan kiper Reading. Fans Arsenal seluruh jagad raya terperangah tidak percaya. Siapa sangka pemain yang sudah tidak mencetak gol selama berbulan-bulan ini mampu mencetak gol indah seperti ini. 5-4 untuk Arsenal.

Arshavin yang selama ini dicap tidak memiliki stamina yang cukup ternyata bisa menyelesaikan pertandingan 120 menit ini dengan sangat baik. Berkat tembakannya di menit terakhirlah, Walcott akhirnya bisa mencetak gol ketiganya malam ini menyambut bola rebound. Membalas gol Pogrebnyak sebelumnya yang belum mau menyerah. Injury time dari extra time ini dimanfaatkan dengan baik oleh Arsenal. Chamakh berhasil menerima umpan serangan balik dan berhadapan dengan kiper Reading yang siap keluar dari kotak penaltinya, ia melakukan lob jauh yang akurat. Chamakh seperti terlahir kembali menjadi striker tajam yang tidak kita kenal sebelumnya. 7-5, first set for Arsenal (mengutip pertandingan tenis).

Post Match

  • Ready for Old Trafford 🙂 RT @Sagnaofficial: Ahahahahah i’m gonna sleep veeeeeery well looooooooooooool
  • Walcott: It was an unbelievable game. We started sloppy & had to wake up. The boss told us that wasn’t #AFC in the 1st half. via@GoonerTalk
  • Whatever Wenger said at half time, it worked. Proud of the players tonight. Walcott MoTM.
  • RT @LadyArse: “You cannot play for Arsenal and give up, no matter what the score is” Wenger
  • This performance will only inspire the first team to give their best at OT. All watched the game tonite.

Saat post match interview, Jenkinson dan Walcott memberikan petunjuk bahwa Wenger berhasil mengangkat moral pemain di saat istirahat. Kata-kata seperti bermain untuk Arsenal harus pantang menyerah membangunkan para pemain. Terutama pemain seperti Jenkinson yang juga seorang Gooner, tentunya kebanggaan mengenakan baju merah putih akan terusik dengan penampilan melempem di babak pertama.

“I just thought what can I do about that and started to think about my half-time speech,” said Wenger. “I felt sorry for our fans and I would like to give them credit tonight. A big part of them stayed behind and I am happy that we paid them back.” And for those who left? “I give them less credit,” he chirped.

Kredit terbesar tentunya untuk pendukung tandang Arsenal yang tiada henti mendukung, bernyanyi dan menyerukan semangat kepada timnya. Nyanyian seperti “We love you Arsenal, we do!” berkumandang walaupun Arsenal bermain sangat buruk dan ketinggalan 4-0. Seruan seperti “Come on Arsenal!” terus menyemangati pemain untuk mengejar ketinggalan. Kita sering melupakan fans adalah pemain ke-12 dalam pertandingan dan betapa atmosfer stadion bisa mengubah arah pertandingan. Pendukung tandang Arsenal mengajarkan bahwa kesabaran, kesetiaan dan dukungan tanpa henti kepada tim, dalam kondisi apapun pasti akan membuahkan hasil. Paling tidak dukungan itu akan mendorong pemain untuk berupaya lebih keras, apapun hasilnya.

Semoga tim utama Arsenal belajar dari pertandingan ini. Penampilan melempem saat lawan Norwich dan Schalke mesti dilupakan. Memahami ulang apa artinya memakai kostum merah putih tercinta ini, mengulang kata Wenger:

You can not play for Arsenal and give up, no matter what the score is.

Hal yang sama berlaku juga untuk pendukung Arsenal, di mana pun kita berada.

Saya terus terang sedikit iri dengan away fans Arsenal yang berhasil menjadi saksi sejarah comeback cemerlang ini. Peristiwa spesial ini pasti akan membekas di hati mereka. Membuktikan bahwa cinta dan kepercayaan total bisa memiliki happy ending di dunia nyata…

Sedikit dokumentasi dari dua away fans Arsenal yang menyaksikan langsung brilliant comeback ini di blog Goonerholic:

ArthurTheGooner:

This game taught me two things, first of all NEVER leave game before the final whistle and secondly NEVER sit with the opposition fans ever again. I wanted to shout and scream when those two late goals went. I wanted to celebrate with all the fans in the south stand as they went crazy, Oliver caught my attention:

Daddy I want to sit and sing with the Arsenal fans please….

Next time my boy next time indeed!

Steve T:

My two have again had a ball. Both have returned home exhausted and very hoarse. I have never seen Ben so animated at a game. 4 nil, and you’ve mucked it up he sang from the top of his voice. I am not sure of he is convinced that they were the words but he knows what he can and can’t sing. Emily has also managed to sing herself hoarse.

“Can we do another away game dad?” comes the request as we get back to the car. I am sure that can be arranged, I just hope they do not expect 12 goals next time.

Bisa dibayangkan bocah-bocah ini yang dibawa ayahnya ke pertandingan kemarin adalah bibit-bibit muda fans away Arsenal, dibaptis oleh kelompok pendukung terbaik sepakbola di Liga Inggris, mereka akan menjadi penerusnya. Oh to be a Gooner. 🙂

Victoria Concordia Crescit