10 Sempurna Dalam 11


The Perfect Ten in Eleven.

Kalimat di atas bisa mengandung dua arti:

1. Sepuluh kemenangan sempurna Arsenal dalam sebelas pertandingan terakhir, dan

2. Mesut Özil

Tulisan ini dibuat setelah pertandingan Arsenal melawan Swansea dan diselesaikan setelah menonton replay Arsenal vs Napoli di Liga Champions. Dikarenakan hal personal, saya tidak bisa menonton LIVE pertandingan Liga Champions tersebut. Untung ada link ini yang memutar ulang dua babak pertandingan tersebut. Alternatif yang lumayan karena Arsenal Player tidak akan upload full match pertandingan tersebut sebelum hari Sabtu.

Menonton pertandingan Swansea vs Arsenal yang memantapkan posisi puncak Arsenal di klasemen EPL, pikiran fans Arsenal yang cukup dewasa akan kembali ke 9 tahun silam, era Invincible. Dua gol yang terjadi sangat mirip dengan gol-gol Arsenal di era tak terkalahkan tersebut. One touch football yang dilakukan dengan cepat sehingga transisi dari bertahan ke menyerang terjadi bak blitzkrieg, serangan kilat tentara Jerman yang menghancurkan total Polandia. Di antara gol-gol Arsenal yang terjadi musim ini, dua gol di Swansea ini adalah gol terbaik dan favorit saya (sebelum melihat gol Özil vs Napoli). Akan saya jelaskan mengapa.

Nostalgia Era Invincible

Di era Invincible, Henry, Pires, dan Ljungberg, merupakan senjata “Tuhan” untuk memporak-porandakan pertahanan lawan. Dennis Bergkamp, sang master ruang dan waktu, akan memanfaatkan kecepatan ketiga pemain yang juga memiliki teknik tinggi tersebut untuk menghantarkan pukulan mematikan.

Seringkali kita menyaksikan dalam hitungan detik saja Arsenal bisa mencetak gol dari posisi bertahan. Berawal dari tackle Vieira lalu bola diberikan ke Bergkamp, Henry berlari cepat diikuti Pires dan Ljungberg. Dalam sekejap ada tiga pemain Arsenal di kotak penalti lawan. Bergkamp tinggal memilih kepada siapa bola akan diantarkan, dan gol pun tercipta. Semua terjadi dalam hitungan detik dan tidak lebih dari 10 sentuhan. Lawan pun ketakutan, pontang panting dalam mengikuti gerakan pemain Arsenal.

Transisi adalah kuncinya. Counter attack adalah nama populernya. Perubahan dari pertahanan ke penyerangan yang terjadi dengan cepat akan membuat lawan panik karena tidak cukup waktu untuk adaptasi formasi. Ditambah dengan pergerakan pemain yang tidak lazim dengan formasinya (Pires dan Ljungberg akan menusuk ke dalam dari sayap sementara Henry bergerak melebar keluar sementara dua fullback akan menyerang bak winger tradisional) membuat lawan kalang kabut.

Adalah prinsip umum bahwa pemain bola akan lebih kesulitan bergerak cepat sambil membelakangi gawang daripada menghadap ke gawang. Oleh karena itu peluang yang dihasilkan dalam posisi counter attack adalah peluang dengan probabilitas keberhasilan tertinggi. Ruang yang lebih banyak, musuh yang masih harus menyesuaikan posisi kembali, dan waktu yang berpihak kepada penyerang, menciptakan peluang mencetak gol tertinggi.

Wengerball Mk I adalah soal counter attack yang secepat kilat.

Counter attack ditakuti semua tim bola. Sebaik apapun sebuah tim dalam penguasaan bola, satu counter attack cukup untuk membunuhnya. Sucker punch. Dan setelah gol terjadi, tim yang ingin mengejar ketertinggalan akan semakin menyerang. Hal ini malah akan semakin membuka ruang untuk counter attack berikutnya. Dengan cara inilah The Invincible mencetak 3-4 gol dalam satu pertandingan dengan mudahnya. Wengerball Mk I adalah soal counter attack yang secepat kilat.

Arsenal Post Invincible

Setelah era Invincible, Arsenal tidak lagi bermain dengan mengandalkan transisi yang cepat. Dengan Fabregas sebagai poros permainan, Arsenal bermain ala tiki taka, ball possession style dengan tingkat kesuksesan di bawah Barcelona. Wenger melakukan perubahan ini dengan sadar. Mengapa?

Ada dua alasan. Yang pertama: Henry dan Bergkamp tidak lagi muda. Arsenal tidak memiliki striker yang secepat Henry setelah itu. Penggantinya adalah Adebayor yang lebih lamban namun unggul dalam fisik dan Van Persie yang lebih teknikal. Alasan kedua: sehebat apapun The Invincible pada saat itu, perjalanannya di Eropa tidak jauh. Tim kontinental bermain tidak secepat tim Inggris, lebih taktis dan lebih sedikit menyisakan ruang untuk counter attack. Walaupun Arsenal sempat menang dari tim seperti Real Madrid, Juventus dan Inter Milan, Arsenal sering kali didominasi dalam permainan melawan tim-tim Eropa. Arsenal kerepotan dan disisihkan dari Knock Out Grup saat melawan tim seperti Bayern Muenchen (yang tidak sehebat sekarang) dan Valencia misalnya.

Wenger juga adalah pelatih cerdas yang selalu membaca arah angin perubahan. Setelah memanen talenta-talenta Perancis di era keemasan Perancis (1998-2000), ia melihat masa depan sepakbola Spanyol lewat dominasi mereka di kejuaraan dunia FIFA U-17 di tahun 2003. Cesc Fabregas menjadi top scorer di turnamen itu dan Spanyol menjadi juara. Bertepatan dengan dibongkarnya Tim Invincible karena faktor usia, Wenger juga mengganti style sepakbola timnya. Demi pursuit Holy Grail, trofi Liga Champions yang menjadi satu-satunya kekurangan di CV-nya.

Kiblat diubah ke Spanyol. Fabregas direkrut di tahun 2003 pada usia 16 tahun dan Jose Antonio Reyes di awal tahun 2004. Tahun 2005 dan 2006 secara berturut-turut Arsenal membeli pemain tipe ball player sebagaimana pemain Spanyol umumnya yaitu Hleb dan Rosicky. Sayang sekali Reyes gagal di Arsenal karena homesick dan korban dari “tatapan mata” Henry. Namun di musim 2007/2008 sepeninggal Thierry Henry, Arsenal dengan Kuartet midfield andalannya (Fabregas, Hleb, Rosicky, Flamini) berhasil menduduki puncak klasemen dan mendominasi liga Inggris sampai Februari 2008, saat pematahan kaki Eduardo mengguncang seluruh tim.

Wengerball baru, possession ball dengan pertukaran posisi pemain dan pergerakan bola satu sentuhan

Arsenal mengakhiri musim itu tanpa gelar dan tim yang tercerai berai. Hleb pindah ke Barcelona dan Flamini ke AC Milan. Namun musim itu adalah musim di mana Arsenal bermain Wengerball baru, possession ball dengan pertukaran posisi pemain dan pergerakan bola satu sentuhan. Kuartet Arsenal mendominasi lini tengah, bertukar posisi dengan cepat dan membentuk triangle operan satu sentuhan yang mematikan. Hubungan yang akrab antara keempat pemain ini di luar lapangan sangat membantu dalam kerjasama mereka di lapangan. Telepati seakan terjalin antara keempatnya. Rosicky dan Hleb yang pada dasarnya adalah pemain tengah bermain sebagai inverted winger sedangkan Fabregas dan Flamini sebagai double pivot. Namun saat pertandingan berjalan, posisi mereka sangat fleksibel. Berganti-ganti posisi dalam “box” dengan empat sudut, Arsenal bermain sempit, namun perpindahan posisi keempat pemain ini akan menciptakan “ruang” yang lebih besar daripada sekedar permainan melebar ke sayap. Menurut saya pribadi, sepakbola Arsenal di musim tersebut lebih indah daripada era Invincible sekalipun. Sayangnya cedera patah kakinya Eduardo di Februari 2008 memberikan tekanan mental yang luar biasa pada tim dan mengakhiri dini Wengerball Mk II dan perburuan gelar juara Arsenal di musim itu.

Kuartet Midfield Arsenal 2007/2008

Hleb pindah ke Barcelona namun tidak berhasil berperan besar di sana walaupun memenangkan trofi Champions League dan ia menyesali kepindahan tersebut. Flamini pindah ke Milan setelah menolak perpanjangan kontrak. Kepindahan kedua pemain tersebut sedikit banyak terpengaruh oleh horror cedera Eduardo. Dalam sekejap, Fabregas ditinggal 2 sahabat terbaiknya.

 

Setelah kepindahan Hleb dan Flamini, Wenger berusaha merekonstruksi ulang sepakbola Arsenal musim 2007/2008 di tahun-tahun berikutnya, namun gagal. Salah satu sebabnya adalah Rosicky yang cedera parah sejak awal musim 2008, sehingga praktis hanya Fabregas sendiri yang tersisa dari kuartet fenomenal tersebut. Hal lain adalah tiadanya pendamping Fabregas yang sebaik Flamini. Denilson dan Diaby tidak mampu mengemban tugas destroyer sebaik Flamini dan memberikan Fabregas kebebasan berkreasi di lapangan tengah. Arsenal membeli Samir Nasri dan Aaron Ramsey (umur 17 tahun saat itu), namun tetap saja Wenger gagal merekonstruksi kembali kuartet midfield yang mampu memainkan Wengerball Mk II. Ball possession Arsenal tetap dipertahankan dominan dalam setiap pertandingan tapi mereka kekurangan greget dalam serangan. Perubahan posisi setiap pemain terlihat stagnan, dan Arsenal bergantung total pada passing ala quarterback Fabregas dan kecepatan Walcott untuk menciptakan peluang. Lawan dengan mudah menangkalnya dengan double atau triple up Fabregas setiap kali ia menerima bola. Dan kita semua tahu apa akhir ceritanya. Fabregas pun pergi meninggalkan Arsenal di awal musim 2011/2012 bersama Samir Nasri. Wenger kehilangan dua pemain tengah terbaiknya, sebuah syarat mutlak untuk memainkan Wenger Ball.

Kelahiran Kembali Wengerball

Dua gol Arsenal di Swansea tersebut adalah contoh sempurna Wengerball dari dua jaman, era Invincible dan era Kuartet Midfield 2007/2008. Gol pertama berasal dari 20 operan cepat dari belakang ke depan, membentuk triangle yang indah dan perubahan posisi yang membingungkan lawan, ciri khas Wengerball Mk II. Gol kedua berupa transisi yang cepat 4-5 sentuhan dari kiper ke striker dan diselesaikan dengan indah oleh Aaron Ramsey, ciri khas Wengerball era Invincible.

Musim ini kita belum memainkan Santi Cazorla (pemain terbaik musim lalu) dan Walcott pun belum bermain maksimal namun hasil sempurna diraih di 10 pertandingan. Prospek kembalinya Walcott dan Cazorla ke starting line up Arsenal sungguh menggiurkan. Walcott bisa menjadi Henry era kini dengan kecepatan dan finishingnya yang makin akurat. Ramsey, Wilshere, Rosicky dan Cazorla adalah pemain tengah yang komplet dalam hal dribble, passing dan shooting. Arteta dan Flamini bisa menjadi pendistribusi bola, destroyer dan holding midfielder. Selain itu kita juga memiliki nomor 10 sempurna pewaris tahta DB10 yang berkaus nomor 11: Mesut Özil, pemain termahal dalam sejarah Arsenal yang telah membuktikan kepantasan harganya dengan permainan gemilang vs Napoli.

Özil bisa menjadi kunci penjalin Wengerball Mk I dan II. Keakuratan operannya dan pergerakan off the ball-nya yang cerdas menjadi kunci memulai Wengerball. Dalam dua gol di Swansea tersebut, rangkaian operan kilat satu sentuhan Arsenal dimulai dari Özil. Kejeniusan Özil akan saya bahas lebih detail di lain kesempatan.

Pilihan pemain tengah Arsenal demikian banyak dan berkualitas sehingga Wenger bisa memainkan berbagai formasi dan style sesuai dengan karakter permainan lawan. Ia bisa memainkan tiga CM di belakang Giroud seperti saat melawan Napoli atau 3 CM dan 1 Winger seperti Arsenal musim lalu. Ia bisa memakai formasi 4-2-3-1, 4-1-3-2, 4-2-1-3 atau bahkan 4-4-1-1 sebagai varian 4-3-3. Tujuh pemain tengah yang dimilikinya sangat flexible. Belum lagi ditambah 2 pemain depan yang bisa menjadi winger dalam Walcott dan Podolski. Chamberlain dan Gnabry pun siap menjadi pilihan. Total ada 11 pemain tengah/depan yang bisa dipermutasikan untuk mengisi 5 posisi selain Giroud, yang saat ini tidak tergantikan. Wengerball Arsenal musim ini sangat berpotensi untuk melewati level Wengerball di era Invincible dan 2007/2008. Arsenal bisa memainkan counter attack kilat namun juga bisa berbahaya lewat operan-operan cepat dari midfield ke depan saat menguasai bola. Pendek kata, baik saat memiliki bola maupun tidak, Arsenal bisa sama berbahayanya. Seperti saat melawan Swansea dan Napoli.

…baik saat memiliki bola maupun tidak, Arsenal bisa sama berbahayanya.

Wengerball adalah sepakbola menyerang dengan operan cepat satu sentuhan yang sangat membutuhkan rasa kepercayaan diri yang tinggi. Saat ini form Arsenal yang sedang bagus-bagusnya menciptakan kepercayaan diri yang tinggi. Sepuluh kemenangan beruntun memungkinkan pemain-pemain Arsenal untuk mengaktualisasikan dirinya dengan bebas tanpa rasa takut. Arsenal juga memilki barisan pertahanan yang lebih stabil sehingga relatif nyaman membiarkan lawan menguasai bola. Fixture awal yang relatif mudah di Liga Inggris cukup membantu dalam hal ini. Ujian sesungguhnya akan muncul di akhir Oktober dan awal bulan November. Di mana Arsenal akan berturut-turut berhadapan dengan Chelsea (Capital One Cup), Liverpool, Dortmund (away) dan Manchester United. Rangkaian pertandingan yang berpotensi memberikan orgasme sepakbola level tinggi yang tidak boleh dilewatkan.

Hingga saat itu tiba, rasanya winning streak tetap akan kita nikmati. We’re top of the league, long may it continue.

Dan prediksi saya, kita akan menyaksikan terlahirnya kembali Wengerball yang baru, bentuk yang sempurna. Seluruh persyaratan telah dipenuhi. Playmaker super? Checked. Kebersamaan tim? Checked. Pertahanan tangguh? Checked. Flamini? Checked.

Mudah-mudahan saja musim ini Arsenal bebas dari horror cedera seperti yang terjadi pada Eduardo. Giroud mesti dijaga bak keramik musim ini. Finger crossed.

Advertisements

Moneyball + Wengerball


Model Finansial Arsenal dan Mengapa Fans Perlu Memahaminya (bagian kedua)

Moneyball adalah film dibuat yang berdasarkan kisah nyata seputar tokoh Billy Beane, General Manager tim baseball Oakland Athletics di Amerika Serikat. Menceritakan bagaimana Billy Beane berhasil membawa “tim kecil” bersaing dengan tim-tim besar di kompetisi MLB. Sebuah romantisme dalam dunia baseball. Film yang dibintangi Brad Pitt ini masuk dalam 6 nominasi Oscar, jadi termasuk film yang bagus. Saya baru menonton film ini beberapa hari lalu dan walaupun mengetahui bahwa Billy Beane mengidolakan Arsene Wenger, tetap saya terkejut melihat betapa banyak persamaan antara Billy Beane dan Arsene Wenger, dan cara mereka menjalankan klub masing-masing.

Peringatan: paragraf berikutnya mengandung spoiler ringan sehingga mungkin mengganggu bagi mereka yang belum namun berencana menonton film ini

A Small Market Team

Awal film ini dimulai dengan adegan pertandingan play-off post season tahun 2001, di mana Oakland A’s (selanjutnya disebut The A’s) mengalami kekalahan dari New York Yankees. Lalu adegan berlanjut dengan The A’s menjual tiga pemain terbaiknya di awal musim (terdengar akrab?). Billy Beane lalu bertemu dengan pemilik klub, dengan jujur ia mengatakan The A’s tak dapat berprestasi lebih baik musim depan (tahun 2001 mereka peringkat 2 di AL West) karena baru saja menjual 3 pemain terbaiknya. Billy menuntut tambahan budget untuk pembelian pemain karena ia merasa tak mungkin dapat berkompetisi dengan budgetnya yang hanya $38 juta melawan tim berbudget $120 juta seperti New York Yankees. Pemilik klub menjawab, kita tak punya dana dan kita tidak harus berkompetisi dengan tim-tim yang berbudget lebih besar ini. “Kita harus bekerja dengan batasan-batasan yang kita miliki dan kamu harus melakukan pekerjaan terbaik dalam merekrut pemain baru,” ujarnya.

Billy tidak bisa menerima penjelasan ini. Ia tidak butuh budget $120 juta, namun ia butuh suntikan dana tambahan untuk membangun tim juara. Untuk apa bermain di kompetisi kalau tidak untuk juara? Standar yang ia tetapkan adalah minimal masuk championship World Series (dalam kompetisi baseball Amerika, play-off post season menentukan sebuah tim masuk World Series atau tidak). Tapi apa jawaban pemilik klub?

“Billy, we’re a small market team, and you’re a small market GM. I’m asking you to be okay not spending money that I don’t have.”

Persamaan Billy Beane dan Arsene Wenger

Kutipan di atas kurang-lebih sama dengan kondisi Arsenal saat ini. Mungkin Wenger tidak akan berbicara seperti Billy ke Stan Kroenke tapi kesepakatan yang sama saat ini terjadi di Arsenal. Wenger tidak akan membelanjakan uang yang tidak dimiliki Arsenal. Walaupun kekuatan finansial Arsenal secara relatif jauh lebih besar daripada The A’s, namun menghadapi klub-klub Sugar Daddy dan Establishment (baca model finansial Arsenal bagian pertama), maka kemampuan belanja Arsenal bisa dikatakan pada posisi yang sama dengan The A’s. Kita bertanding dalam kompetisi yang tidak seimbang.

Lalu apa yang dilakukan Billy setelah penolakan dari sang pemilik? Ia kecewa, namun tidak ingin meninggalkan klub. Ia lalu berpikir keras bagaimana caranya untuk bisa berkompetisi dengan klub-klub berbudget besar. Ia sadar ia tak dapat berkompetisi dengan cara mereka, cara konvensional menjalankan tim baseball, belanja pemain mahal dan membentuk tim penuh bintang. Ia harus menemukan cara baru, cara yang benar-benar efektif untuk bersaing tanpa harus mengandalkan kekuatan finansial.

Ia akhirnya bertemu dengan Peter Brand, anak muda lulusan Yale yang jago statistik. Peter Brand menganalisa kekuatan pemain dengan statistik, dengan model yang disebut Sabermetric. Billy Beane terkesan, lalu “mentransfernya” dari klub tempatnya bekerja. Peter dijadikan asisten GM dan sejak itu mereka menilai pemain dengan cara yang sama sekali berbeda dengan cara konvensional. Peter diminta Billy menilai pemain-pemain baseball yang ada di liga, dan akhirnya mereka menemukan pemain-pemain undervalued, yang dinilai murah oleh pasar dan klub tempat bermainnya sekarang tapi memiliki angka-angka statistik yang mereka butuhkan.

Cerita bergulir dan agar tidak terlalu spoiler di sini, singkatnya The A’s berhasil berprestasi lebih baik daripada musim sebelumnya. Mereka bahkan mencetak rekor kemenangan berturut-turut sebanyak 20 kali, pertama kali dalam sejarah American League dan rekor ini masih bertahan hingga sekarang. Mereka menempati posisi pertama klasemen AL West, namun sayang akhirnya tetap kalah di play-off. Namun prestasi The A’s membuka mata dunia baseball di Amerika dan menjadi perbincangan seluruh penggemar baseball, manager, pemilik klub dan jurnalis. Apalagi di awal-awal kompetisi pers sempat mencemooh pendekatan Billy Beane yang menggunakan statistik untuk menganalisa pemain dan membeli pemain-pemain murah. Publik terpesona dengan romantisme klub baseball miskin seperti The A’s mengalahkan raksasa seperti New York Yankees. Mendekati akhir film, walaupun tidak berhasil masuk World Series, Billy Beane ditawari pekerjaan GM oleh Boston Red Sox, klub baseball yang kaya (dalam benak kita akan muncul adegan Arsene Wenger ditawari menjadi manajer Real Madrid, yang memang nyata terjadi).

Lalu apa kemiripan Billy Beane dan Arsene Wenger? Saya coba uraikan dalam poin per poin di bawah ini:

  1. Kemampuan belanja pemain dibatasi oleh budget klub. Bila Billy Beane dibatasi budget karena klubnya bermain di stadion tua dengan tingkat attendance termasuk yang terendah di liga, maka Arsene Wenger dibatasi oleh hutang pembangunan stadion baru Ashburton Grove (Emirates Stadium). Arsenal harus pindah karena Highbury hanya berkapasitas 35.000 orang, bila tidak pindah Arsenal kurang lebih akan bernasib sama dengan The A’s yang masih berbudget rendah sampai sekarang.
  2. Menggunakan cara alternatif yang pintar untuk bersaing dengan klub-klub kaya. Billy Beane menggunakan analisa statistik untuk membeli pemain murah dan kemudian menjualnya saat sudah jadi bintang. Arsene Wenger melakukan hal yang sama, kombinasi pendekatan statistik dan jaringan scouting yang luas memungkinkan Arsenal membeli pemain murah (dan muda) untuk kemudian menjualnya saat sudah menjadi bintang. Proses regenerasi pemain dilakukan Wenger dan Billy. Perbedaannya kalau umur pemain aktif di baseball bisa lebih lama, di sepakbola lebih pendek. Sehingga Wenger harus lebih sering melakukan regenerasi pemain daripada Billy. Di sepakbola ada batasan umur tertentu di mana pemain masih bisa laku dijual mahal.
  3. Melakukan pendekatan yang tidak konvensional dalam pembentukan tim juara. Hasilnya mereka membentuk tim juara yang juga pencetak rekor-rekor baru, dengan segala keterbatasan finansial yang ada. Bila The A’s menciptakan rekor kemenangan beruntun sebanyak 20 kali maka Arsenal-nya Wenger menciptakan dua rekor di liga Inggris yang tidak kalah impresif: kemenangan 14 kali beruntun di tahun 2002 dan tak terkalahkan sebanyak 49 kali beruntun. Kedua rekor ini belum terpecahkan di liga Inggris sampai sekarang. Billy melakukan pendekatan coaching ke pemainnya lewat analisa statistik kelebihan/kekurangan pemain di setiap pertandingan, Wenger menerapkan gaya bermain Wengerball yang efektif dari tim utama sampai tim akademi Arsenal sehingga transisinya bisa mulus. Wengerball adalah soal sepakbola cepat satu dua sentuhan di permukaan lapangan, bukan bola-bola panjang ala kick n rush. Untuk itu Wenger menerapkan pengawasan nutrisi yang ketat untuk membentuk stamina pemain sehingga dapat bermain cepat tanpa lelah. Melakukan analisa statistik untuk menilai pemain mana yang efisien, sehingga hanya pemain-pemain berstamina bagus, berteknik tinggi dan bisa bermain sepakbola satu dua sentuhan cepat yang tinggal di Arsenal saat ini. Wenger merombak total timnya sudah 4 kali (tim 1998-2000, 2001-2005, 2006-2011, 2012-sekarang) dan level permainan Arsenal yang tinggi dengan ciri khas Wengerball tetap terjaga karena konsistensi pendekatan ini.
  4. Tidak selalu berhasil menjadi juara dalam kompetisi. The A’s tidak pernah lagi masuk play-off sejak tahun 2006, sedangkan Arsenal belum pernah memenangkan trofi sejak tahun 2005. Namun kedua manager ini selalu diapresiasi dan dihormati oleh pemilik klub lain, manager lain dan pers karena publik menyadari kalau mereka “consistently punching above their weight“. Keberhasilan mereka melebihi sumber daya mereka layaknya petinju kelas ringan yang berlaga di kelas berat. Kedua manager ini bisa mendapatkan pekerjaan di mana pun mereka mau, dengan gaji berapapun. Wenger sempat ditawari pekerjaan oleh Real Madrid 3 tahun lalu dan musim lalu ditawari pekerjaan oleh Sugar Daddy Club yang baru, PSG. Keduanya menolak, karena cinta dan loyalitas terhadap klubnya sekarang. Terdengar klise tapi itulah nyatanya.

Billy Beane sendiri akan menolak kalau The A’s disamakan dengan Arsenal. Menurutnya The A’s lebih mirip Wigan, dari segi kemampuan finansial. Di musim terbaru ini The A’s punya budget hanya $55 juta, dibandingkan budget Yankees yang $170 juta (3 kali lipatnya) memang menempatkan The A’s sekelas klub papan tengah Liga Inggris jika dibandingkan dengan klub-klub terkaya. Bila Billy Beane hanya memiliki budget sepertiga dari budget klub kaya, bagaimana budget Wenger dibandingkan budget klub-klub kaya di liga Inggris?

Budget Wenger

Arsenal baru saja merilis laporan keuangannya untuk musim 2011-2012. Laporan ini dengan cut off date 31 Mei 2012 sehingga tidak termasuk aktivitas transfer musim ini. Bagaimana angka-angkanya?

Secara singkat bisa dirangkum sebagai berikut:

  1. Pendapatan total klub turun dari £255.7 million menjadi £243.0 million karena pemasukan dari sisi properti turun. Untuk pemasukan dari sisi sepakbola naik ke £235.3 million (2011  – £225.4 million). Sisi komersial menyumbang kenaikan £5.6 million.
  2. Biaya untuk gaji naik menjadi £143 million (2011 – £124 million). Kenaikan ini bisa diprediksi karena Arsenal membeli banyak pemain baru musim lalu. Dan pemain yang dibelinya rata-rata pada usia “peak” seperti Mertesacker, Arteta, Santos, Gervinho, Park dan juga pemain pinjaman seperti Benayoun yang tentunya gajinya juga premium. Arsenal hanya kehilangan tiga pemain inti: Fabregas, Clichy, Nasri jadi otomatis biaya gaji secara keseluruhan membengkak.
  3. Profit sebelum pajak £36.6 million dengan transfer pemain menyumbang £26.1 million (hasil penjualan Cesc, Nasri, Clichy dikurangi pembelian pemain). Jadi Arsenal untung dalam hal transfer pemain.
  4. Seluruh keuntungan masuk ke kas klub, pemilik tidak menarik dividen, sehingga keuntungan selama beberapa tahun terakhir ini menghasilkan cash balance di bank klub sebesar £153.6 million. Cash balance ini naik turun tergantung pengeluaran klub hari per hari. Perlu diingat sebagian dari cash balance ini adalah commitment yang tidak dapat diganggu karena diperlukan untuk membayar cicilan utang stadion, gaji pemain, dan utang operasional.
  5. Cash balance dapat digunakan juga untuk membayar utang stadion sepenuhnya jika manajemen merasa perlu. Saat ini utang stadion Arsenal masih tersisa £252.5 million sehingga bila dikurangi cash balance yang ada, net debt Arsenal tinggal £98.9 million. Angka yang sangat bagus mengingat stadion Ashburton Grove itu sendiri memakan biaya £390 million. Jadi bisa dikatakan sejak pindah ke Ashburton Grove tahun 2006, selama 6 tahun ini Arsenal berhasil mengurangi utang sebesar hampir £300 juta. Setiap tahunnya rata-rata 50 juta, pencapaian yang luar biasa. Jika hal ini dipertahankan, maka utang stadion bisa dilunasi tahun 2014. Nah buat yang membaca blog saya Model Finansial Arsenal bagian pertama, tentu paham tahun 2014 adalah tahun yang ditunggu-tunggu oleh Arsenal. Tahun perubahan.

Dengan angka-angka di atas maka kita bisa estimasi budget Wenger musim lalu (gaji + transfer) yang sesungguhnya. Budget Wenger adalah budget untuk belanja pemain yang mencakup gaji dan transfer pemain. Maka formulanya adalah sebagai berikut:

Budget belanja pemain = gaji pemain + pembelian pemain – penjualan pemain

Untuk musim 2011/2012 budget belanja pemain Arsenal = 143 + 53 – 70 = 126 juta.

Bila memperhitungkan Arsenal boleh tidak profit, maka Wenger bisa mendapatkan tambahan budget sebesar 36 juta (profit Arsenal musim lalu) menjadi 155-160 juta yang tidak ia gunakan sepenuhnya. Jadi estimasi budget Arsenal musim lalu untuk Wenger berkisar dari 120 – 155 juta. Bla angka maksimum 155 juta itu dipotong gaji 143 juta, maka ia hanya punya sisa 12 juta untuk net transfer spending. Sehingga kenyataan pahit yang harus kita hadapi adalah:

Wenger memang harus menjual pemain, sebelum membeli pemain bintang.

Kecuali bila ia menggunakan cash balance, klub siap melepaskan cash balance ini untuk kepentingan mendesak namun sepertinya Wenger paham akan kegunaan cash balance ini untuk kepentingan jangka panjang dan menolak menggunakannya demi masa depan Arsenal.

Jika cash balance Arsenal tidak digunakan, Arsenal dapat melunasi seluruh utang stadion di tahun 2014. Hanya 8 tahun sejak Arsenal pindah ke stadion baru senilai £390 juta tersebut.

Perbandingan dengan Budget Manager Klub Lain

Lalu berapa budget untuk belanja pemain dari klub-klub rival Arsenal? Karena laporan tahun 2012 dari klub-klub lainnya belum diterbitkan, maka kita hanya bisa menggunakan laporan tahun 2011. Sumber: swissramble blog.

Perbandingan laporan keuangan tahun 2011

Update: Dan kita gunakan grafik transfer pemain yang saya rangkum dari transferleague.co.uk.

Maka kita dapatkan angka budget untuk belanja pemain klub-klub tersebut tahun 2010 sebagai berikut (diurutkan dari besar ke kecil):

  • Man City = 174 + 84 – 5 = 253 juta 116 = 290 juta
  • Chelsea = 168 + 40 – 18 = 190 juta 87 = 255 juta
  • Man Utd = 153 + 39 -4 =188 juta 14 = 167 juta
  • Arsenal = 124 + 22 – 6 = 140 juta 7 = 131 juta
  • Liverpool = 129 + 36 – 43 = 122 juta – 5 = 124 juta
  • Spurs = 91 + 39 – 9 = 121 juta 18 = 109 juta

Kita bisa lihat dua klub Sugar Daddy budget untuk belanja pemainnya paling besar. Dan dari perbandingan di atas terlihat Arsenal budgetnya no.4 di liga. Ini musim sebelum musim kemarin, tepatnya musim 2010/2011. Arsenal sendiri peringkat ke-4 di musim tersebut, sesuai dengan budgetnya yang juga no.4. Man City dengan budget tertinggi berhasil menusuk ke posisi 3 di musim tersebut, pertama kalinya sejak Sugar Daddy membeli klub itu.

Budget musim lalu (2011/2012) belum kita ketahui sampai klub-klub menerbitkan laporan keuangannya. Maka kita hanya bisa mengandalkan data net transfer dari prediksi http://www.transfermarkt.co.uk transferleague.co.uk dan untuk budget gaji pemain kita naikkan rata 10% untuk semuanya (Arsenal sendiri budget gaji pemain naik 15% musim lalu).

Update: Grafik transfer pemain musim 2011/2012 dari tranferleague:

Esitmasi budget musim 2011/2012 (dari besar ke kecil):

  • Chelsea = 185 + 50 = 235 juta 58 = 242 juta
  • Man City = 191 + 46 =237 juta 48 =239 juta
  • Man Utd = 168 + 30 = 198 juta 38 = 206 juta
  • Liverpool = 142 + 30 = 172 juta 36 = 178 juta
  • Arsenal = 143 – 17 = 126 juta
  • Spurs = 100 – 21 = 79 juta 27 = 73 juta (Spurs banyak menjual pemain musim lalu)

Kita dapatkan bahwa posisi 1-3 budget terbesar masih sama, dan Chelsea belanja justru lebih banyak daripada Man City dibandingkan musim sebelumnya. Liverpool menggeser Arsenal karena ambisi Kenny Dalgish belanja pemain. Spurs banyak menjual pemain sehingga net transfer spendingnya malah minus. Arsenal juga profit dari transfer pemain sehingga biaya gaji yang 143 juta berhasil disubsidi profit transfer, budget aktual menjadi 126 juta.

Perbandingan Budget Belanja Pemain Tahun 2010 dan 2011

Bagaimana posisi klasemen akhir? Ternyata besarnya budget untuk belanja pemain tidak menentukan hasil akhir klasemen. Man City dan Man United memimpin posisi satu-dua namun yang lain tidak sesuai semua. Chelsea dan Liverpool yang jor-joran dalam transfer pemain musim lalu malah mencapai hasil di bawah ekspektasi (kecuali trofi dari turnamen). Arsenal yang budgetnya urutan ke-5 malah berhasil naik ke posisi ke-3. Spurs juga bagus. Dengan budget di bawah 100 juta, ia bisa masuk di posisi ke-4 di atas Chelsea dan jauh di atas Liverpool. Liverpool memang paling mengecewakan dengan budget urutan ke-4 hasil akhir klasemen di posisi ke-8.

Solusi untuk Kompetitif

Lalu bagaimana caranya agar Arsenal tetap bisa bersaing dengan klub yang budgetnya dua kali lipat darinya, Man City dan Chelsea? Kita bukan Sugar Daddy Club dan tidak harus menjual diri ke Sugar Daddy. Tidak ada cara lain selain Moneyball+Wengerball. Moneyball adalah mencari pemain-pemain undervalued tapi berkualitas, dan Wengerball adalah memainkan sepakbola khas Arsenal sehingga output dari hasil permainan tim lebih tinggi daripada gabungan kemampuan masing-masing pemain.

Ini adalah kenyataan yang mesti kita hadapi. Kita tidak mungkin bisa punya budget seperti Sugar Daddy Club karena tidak seperti mereka yang dimanja pemilik, Arsenal harus mandiri, harus berdiri di kaki sendiri. Chelsea, Man City bisa dikatakan beruntung karena memiliki Sugar Daddy Club, tapi masa depan kedua klub tersebut tergantung kepada satu orang pemilik. Begitu pemilik berhenti mengeluarkan uang dari kocek pribadi untuk menomboki kerugian klub, klub tersebut langsung bangkrut.

Selain solusi di atas yang telah dilakukan Wenger selama ini dan walaupun belum berhasil sepenuhnya (tanpa trophy sejak tahun 2005 namun selalu lolos kualifikasi Liga Champions), Arsenal punya senjata rahasia yang masih disimpan. Kuncinya ada pada tahun 2014. Dari tweet @swissramble:

Arsenal 2012 commercial revenue of £52m is less than half of Manchester United’s £118m.

Artinya Arsenal punya potensi. Kemungkinan kenaikan pendapatan sebesar 50 juta per tahun dari sisi komersial di tahun 2014 (dengan berakhirnya kontrak sponsor baju Flying Emirates dan Nike) dan kemungkinan membayar lunas utang stadion di 2014 (lihat penjelasan di poin no.5 Budget Wenger) menjadi kombinasi yang dahsyat.

Arsenal dapat bebas dari cicilan utang stadion sebesar 20 juta per tahun di tahun 2014 dan ditambah pendapatan komersil 50 juta per tahun, akan menaikkan budget Wenger sebesar kurang lebih 70 juta per tahun. Jadi budget Wenger akan menjadi 155+70 = 225 juta per musim. Angka yang lebih realistis untuk bisa bersaing melawan MU, Chelsea dan City.

Di tahun 2014, potensi kenaikan pendapatan komersil sebesar 50 juta per tahun dan terbebasnya Arsenal dari cicilan utang stadion sebesar 20 juta per tahun akan menambah budget belanja pemain Wenger sebesar 70 juta per tahun menjadi 225 juta per musim, setara dengan Man United dan Chelsea.

Apa artinya budget sebesar 225 juta tersebut?

Artinya kita mampu menawarkan transfer fee yang tinggi kepada pemain bintang seperti Eden Hazard misalnya dan mampu membayar gaji yang dibayar klub-klub mahal. Lewat press conference yang terbaru, Wenger mengakui Arsenal ikut bidding Hazard dan siap membayar transfer fee sebesar £32 juta namun Arsenal tidak siap untuk membayar gaji seperti yang ditawarkan Chelsea. Hal yang sama terjadi di musim lalu untuk Juan Mata. Transfer Juan Mata ke Arsenal dibajak Chelsea dengan penawaran gaji yang lebih tinggi. Mereka mampu melakukan hal itu karena Chelsea memiliki budget belanja pemain 2 kali lipat budget Arsenal (242 juta berbanding 126 juta). Jadi sekarang kita paham mengapa Arsenal belum dapat membeli pemain di atas 20 juta sekaligus membayar gaji pemain di atas 150.000 per minggu (sehingga Van Persie harus dilepas). Kenaikan gaji pemain mempunyai efek domino. Anda yang sudah bekerja di perusahaan pasti mengerti, bila perusahaan menaikkan gaji satu karyawan secara drastis, maka perusahaan harus meninjau ulang gaji seluruh karyawan. Dan untuk budget belanja pemain Arsenal seperti sekarang ini, hal itu tidak dapat dilakukan, terlalu riskan dengan utang sebesar 250 juta yang belum lunas.

Sambil menunggu pendapatan komersial naik di tahun 2014, dan pelunasan utang stadion yang dapat dilakukan di tahun 2014, Arsenal harus cerdik dalam soal belanja pemain satu-dua tahun ini. Wenger telah melakukan hal yang luar biasa di awal musim ini dengan pembelian Cazorla senilai 12-14 juta, pemain yang di pasaran normal mestinya bernilai di atas 20 juta. Podolski juga dibeli murah senilai 10 juta, demikian juga Giroud. Tiga pemain ini bila Chelsea atau Man City yang beli, rata-rata harganya mendekati atau di atas 20 juta. Arsenal dengan cerdik bisa membeli ketiganya dengan harga separuh. Pedagang yang cerdik. Kecerdikan Wenger dan manajemen Arsenal saat ini menjadi andalan klub untuk bersaing dengan klub-klub berbudget besar. Tinggal kita tunggu penampilan di lapangan hijau. Untuk saat ini, performa Arsenal di lapangan hijau sangat baik, jauh lebih baik daripada musim sebelumnya. Pemain-pemain baru sudah menunjukkan kemampuannya dan Santi Cazorla sejauh ini sudah menjadi pemain terbaik liga Inggris untuk 5 pertandingan. Kita optimis musim ini Arsenal akan lebih baik daripada musim sebelumnya.

Victoria Concordia Crescit

update: revisi nilai transfer pemain lewat data yang lebih akurat dari transferleague.co.uk