Arsenal 1 – Bayern Munich 3. Akhir atau Awal Sebuah Era?


Arsenal 1 (Podolski 55) – Bayern Munich 3 (Kroos 7, Müller 21, Mandzukic 77)

Wenger yang frustrasi

Arsenal tidak berdaya di kandang sendiri. Kecolongan dua gol di dua puluh menit pertama menjadi awal malapetaka. Gol dari Kroos menyambut umpan crossing dari sayap kanan Bayern terjadi dengan cepat. Gol kedua terjadi setelah sundulan Van Buyten dari Corner Kick tidak berhasil dimentahkan dengan sempurna oleh Szczesny diselesaikan oleh Muller. Kemudian Bayern Munich yang penuh percaya diri mendominasi total babak pertama, “dibantu” oleh Arsenal kembali lagi ke kebiasaannya yang selalu memulai babak pertama dengan melempem. Kebangkitan dan agresifitas di babak kedua tidak cukup untuk menyamakan kedudukan. Bayern menutup partai tandang mereka ini dengan gol Mandzukic dan Arsenal menghadapi tugas mustahil untuk menang tiga gol tanpa balas di kandang lawan tiga minggu ke depan.

Wenger memainkan Walcott sebagai striker utama. Pilihan yang aneh karena Giroud selalu tampil sebagai striker utama di beberapa pertandingan terakhir Arsenal. Mungkin Wenger kecewa dengan penampilan Giroud di FA Cup saat melawan Blackburn namun keputusannya kali ini tampaknya salah. Walcott tidak mampu berbuat banyak di posisinya, tidak dapat menciptakan ruang lewat pergerakan tanpa bola dan Arsenal juga tidak bisa memainkan long ball kepadanya. Babak pertama Arsenal praktis hampir tanpa peluang mencetak gol.

Permainan Arsenal, seperti biasa, sedikit membaik di babak kedua. Podolski mencetak gol lewat Corner Kick yang semestinya tidak diberikan wasit. Performa wasit pada pertandingan ini sangat buruk. Berkali-kali tidak memberikan keputusan foul kepada pemain Bayern padahal jelas-jelas pemain Arsenal dilanggar. Dan sering sekali memberikan foul tanpa dasar untuk pemain Arsenal. Namun satu-satunya keputusannya yang “bias” ke Arsenal membantu terciptanya gol. Impas.

Giroud masuk menggantikan Podolski dan satu tembakannya dari peluang bersih satu-satunya mengarah tepat ke kiper Bayern. Sayangnya pertahanan Bayern sangat bagus dan tidak ada clear chance yang diciptakan Arsenal setelah itu. Sebaliknya lewat counter attack dan kembali crossing dari sayap kanan, Bayern menambah satu gol dari Mario Mandzukic, striker utama mereka yang menggeser posisi Mario Gomez musim ini.

Hal yang menarik adalah tiga gol Bayern terjadi lewat umpan lambung (termasuk gol kedua yang merupakan rebound dari sundulan yang menyambut umpan lambung). Dan dua gol hasil open play tersebut berasal dari crossing sayap kanan Bayern, sisi yang dikawal Vermaelen. Tiadanya Left Back murni Arsenal di pertandingan ini menjadi penentu. Dan Bayern, bila melihat dari statistik mereka, adalah tim yang sangat mengandalkan crossing untuk mencetak gol. Hal yang mestinya sudah diketahui Wenger dan pemainnya sebelum pertandingan ini. Sisanya, mesti diakui Bayern memang lebih kuat di semua lini, dan tampil penuh percaya diri dengan mental tim juara.

Kekalahan di kandang sendiri yang telak ini praktis membuat satu-satunya target untuk Arsenal musim ini adalah mengamankan posisi kualifikasi di Liga Champions. Berbeda dengan target trofi FA atau Carling Cup yang sering dijadikan parameter keberhasilan sebuah klub (walaupun Liverpool memecat Kenny setelah meraih Carling Cup tapi gagal lolos ke UCL), posisi keempat liga walaupun bukan “trofi”, sangat menentukan masa depan klub. Posisi keempat ini akan menentukan apakah sebuah pemain top akan bergabung dengan Arsenal atau tidak, dan menentukan berapa besar budget Arsenal untuk pemain, mengingat klub ini tidak disponsori oleh Sugar Daddy dengan budget pembelanjaan yang tidak terbatas.

Gagal finish di empat besar akan menambah tekanan terhadap klub dan terutama Wenger. Wenger terlihat frustrasi belakangan ini terutama setelah kekalahan dari Blackburn di FA Cup. Ia digambarkan media Inggris sebagai sosok yang terisolasi, delusional dengan kekuatan timnya sendiri, dan gagal menambah kekuatan tim dalam target meraih gelar di transfer window. Akankah Wenger walk out  di akhir musim ini atau di akhir musim depan saat kontraknya habis? Board Arsenal tidak akan memecatnya, mengingat pencapaiannya selama ini notabene menghasilkan stadion baru dan cash hasil penjualan saham mereka yang nilainya berlipat ganda, para keturunan bangsawan Inggris pemilik Arsenal (Hill-wood, Lady Nina dan sepupunya Carr, keluarga Fiszman dan ex board seperti Dein).

Wenger berhak untuk memimpin tim ini satu musim lagi. Karena lewat penghematannya selama ini, Arsenal bisa survive tetap bermain di kompetisi elit sambil membangun dan melunasi utang stadion baru. Net transfer spendingnya terendah di antara semua manager klub Premier League. Ia berhak membelanjakan budget di tahun 2014 yang jauh lebih besar karena penambahan pendapatan commercial dan memperlihatkan kualitas timnya yang sesungguhnya. Giroud, Podolski dan Cazorla sudah memberikan beberapa penampilan yang cemerlang, sayangnya tidak konsisten. Namun perlu diingat ini adalah musim pertama mereka di Liga Inggris dan pertama kali mereka bermain bersama. Tim Bayern sendiri di bawah pelatih Juup Heynckes butuh 3 musim untuk merebut kembali dominasi Dortmund di Bundesliga 2 tahun terakhir ini. Arsenal di bawah Wenger sejak kepindahan ke stadion baru memang sudah mengalami masa 8 tahun tanpa gelar, namun perlu diingat dalam 8 tahun itu Wenger harus bongkar pasang tim akibat pemain-pemain terbaiknya dijual ke klub lain yang daya belanjanya jauh lebih kuat.

Masa depan Wenger di Arsenal akan ditentukan pencapaiannya di musim ini. Yang mengikuti jejak karier Wenger akan mengetahui bahwa yang mempengaruhinya dalam mengambil keputusan untuk mundur atau bertahan adalah kepercayaan board. Ia bisa tangguh menghadapi celaan media dan fans, namun bila tidak dipercaya lagi oleh board, ia akan memilih mundur. Sementara ini fans Arsenal telah terbelah menjadi dua bak Laut Merah di musim ini. Ketika half time semalam, sebagian fans boo pemain Arsenal yang akan masuk ke dressing room, dan langsung dicounter dengan fans yang lainnya dengan seruan ”Come on, Arsenal!” Tekanan dari fans bisa saja membuat board mengambil keputusan soal penggantian manager. Dan siapapun manager setelah Wenger, akan menikmati budget yang selama ini “ditabung” olehnya. Sebuah privilege yang tidak dimiliki olehnya selama Arsenal bermain di stadion baru ini. Fakta yang sering diabaikan media dan fans Arsenal (silakan baca Model Finansial Arsenal).

Bila musim ini dan musim depan kemungkinan akan menjadi Akhir sebuah Era, mungkin berakhirnya Era Wenger atau Era belanja hemat Wenger (tergantung prestasinya di akhir musim 2013 dan 2014), kita juga melihat Awal sebuah Era di dalam penampilan dan karakter seorang pemain: Jack Wilshere.

Jack Wilshere, His Heart is Red and White

Jack Wilshere, yang baru berusia 21 tahun ini bertarung tanpa takut dengan pemain-pemain kawakan Eropa. Di antara negatifnya penampilan Arsenal, kita selalu akan bisa melihat penampilan positif Wilshere dan tersenyum. Wilshere, berbeda dengan pemain-pemain terbaik Arsenal sebelumnya yang tidak kurang talentanya, punya Arsenal DNA. Jebolan akademi “Anelka” (akademi dan tempat latihan yang direstrukturisasi ulang  dengan uang penjualan Anelka ke Real Madrid) yang bergabung dengan Arsenal sejak usia 9 tahun ini memiliki “hati” selain “otak” Arsenal. Ia bermain untuk Arsenal seakan tidak pernah mengalami masa cedera panjang satu setengah tahun. Tak perlu kita ragukan komitmennya di setiap pertandingan. Ia juga menolak untuk menyalahkan Wenger atas kekalahan dari Bayern semalam.

I don’t think this is anything to do with the manager. He puts us on the pitch – it’s up to us to perform and do the best we can every week.

He can motivate us, and it is up to us to do the best we can on the pitch.

The players will take responsibility. We are man enough to take it, but the boss has been here for 16 years and he has done a great job. I don’t think you can question him. We move on to the weekend and have to try and take it from there.

[On Arsenal's notorious slow start to a match] I don’t know why we had a slow start again. Maybe it was a bit of nerves, a bit of anxiety – I don’t know. We show what we can do when we play, so we will have to look at it and try and learn from this.

We didn’t start great, and against good teams you get punished. In the second half we stepped it up, got one back and could have got a second goal with [Olivier] Giroud, but their keeper pulled off a good save.

There is always a chance for us at their place. We are not out of this tie. We have the players to do it, but we have to start games better.

Fans Arsenal mungkin sudah mengalami penantian panjang 8 tahun tanpa gelar, namun bagi Wilshere era Arsenal-nya baru dimulai. Ia masih punya waktu panjang untuk bermain sepakbola dan meraih gelar demi gelar, dan Gooners till I die di mana pun akan menikmati menyaksikan penampilannya hingga saat ia pensiun nanti. Sebagaimana Dennis Bergkamp yang juga “pensiun” di Arsenal.

“I really like Arsenal. But you, yes, you. Do you really like Arsenal? Or just Arsenal with trophies?”

- Dennis Bergkamp

Chelsea 2 – 1 Arsenal. Arsenal dengan Dua Muka


Lagi-lagi  terulang. Arsenal melempem di babak pertama dan trengginas di babak kedua. Dan seperti saat pertandingan melawan City pekan lalu, Arsenal kembali gagal seri apalagi menang. Kebobolan dua gol “mudah” di babak pertama gagal dibayar di babak kedua. Walaupun gol indah dari Walcott dan bombardir serangan Arsenal di babak kedua sempat membuat Chelsea terus bertahan, gol lanjutannya tak kunjung datang. Ada sesuatu yang salah dengan penampilan Arsenal di babak pertama. Sedikit analisa singkatnya dari fan layar kaca:

1. Kurang pressing di babak pertama

Di babak pertama terlihat Wilshere seringkali mengajak rekan-rekannya untuk melakukan pressing terhadap pemain Chelsea. Terutama kepada Diaby yang sering statis dan juga kepada Coquelin. Namun pressing itu tetap tidak dilakukan. Cazorla dan Walcott (pemain dengan naluri menyerang) juga tidak membantu sama sekali. Hasilnya pemain tengah Chelsea diberikan ruang yang demikian leluasa di lini tengah. Ditambah lagi tiga pemain tengah Chelsea adalah pemain kreatif bertalenta tinggi, lini tengah praktis dikuasai Chelsea di babak pertama.

2. Benitez menyerang titik lemah Arsenal

Berbeda dengan Wenger yang dalam menyiapkan pemainnya tidak begitu detail secara taktik (insight dari biografinya), Benitez terkenal sebagai Tinkerman. Ia selalu menyesuaikan formasi dan starting line up timnya dengan lawannya dan menyerang titik lemah lawan. Wenger lebih senang pemainnya bermain dengan gaya permainannya sendiri dan menang karena dominan atas lawannya. Karena itu ia cenderung memilih pemain dengan tingkat intelejensia lumayan dan menurutnya pemain harusnya cukup cerdik untuk bisa menyesuaikan diri dengan dinamika di lapangan.

Benitez pasti telah menyiapkan timnya untuk menyerang sisi kanan Arsenal. Jarak yang cukup jauh antara Sagna dan Walcott menjadi titik lemah Arsenal. Walcott jarang melakukan track back, karena menganggap dirinya sebagai striker (ini salah satu alasan kenapa ia menolak dianggap sebagai winger). Permasalahannya di formasi 4-2-3-1 Sagna tidak akan mendapatkan perlindungan. Ditambah Diaby yang mestinya menutup sisi kanan tersebut statis dalam pergerakan tanpa bolanya. Dua gol Chelsea berawal dari serangan di sisi kanan Arsenal.

Formasi Arsenal dieksploitasi oleh Benitez dengan sangat baik. Di atas kertas, Arsenal mestinya bermain dengan formasi 4-2-3-1 namun kenyataan di lapangan menjadi 4-2-2-2. Walcott bermain dengan mental sebagai striker bukan winger. Cazorla bermain mestinya sebagai pemain tengah kiri tapi ia lebih memilih condong ke tengah. Akibatnya LB dan RB Arsenal selalu di bawah tekanan. Setelah sukses mencetak gol lewat kanan Arsenal, giliran kiri Arsenal yang dibombardir di sisa babak pertama. Beruntung Chelsea tidak menambah jumlah golnya.

Chelsea (kiri) - Arsenal (kanan) Average Position. Perhatikan posisi Sagna (no.3 di kanan)

Chelsea (kiri) – Arsenal (kanan) Average Position. Perhatikan posisi Sagna (no.3 di kanan)

Benitez menempatkan pemain menyerangnya di sisi kiri Chelsea, di depan dan melebar. Dan karena Walcott posisinya sering maju ke depan, untuk merapatkan jarak otomatis Sagna juga bermain lebih maju, jauh di depan offside line pemain bertahan Arsenal. Posisi Sagna ini dimanfaatkan oleh Mata di babak pertama dan Oscar-Ramires di babak kedua. Bola diagonal ke sisi kanan Arsenal, Sagna yang terlambat mundur, adalah awal cerita sama kedua gol Chelsea. Skor untuk Benitez 2 – Wenger 0 untuk soal taktik di babak pertama.

Benitez selalu menyesuaikan formasi dan starting line up timnya dengan lawannya dan menyerang titik lemah lawan. Wenger lebih senang pemainnya bermain dengan gaya permainannya sendiri dan menang karena dominan atas lawannya.

3. Ramires sang Aggressor

Wenger berkata timnya perlu bermain dengan lebih banyak “aggression” dan sayangnya hal itulah yang tidak ada sama sekali di babak pertama. Ramires sebaliknya adalah manifestasi dari aggression yang diinginkan Wenger. Gol pertama Chelsea berawal dari tackle Ramires terhadap Coquelin (yang mestinya foul) dan bola yang berhasil direbut dengan cepat sampai di kaki Mata yang menyelesaikannya dengan sangat baik. Gol kedua Chelsea berawal dari Diaby yang mengoper bola salah karena berada dalam tekanan Ramires dan bola dengan cepat juga sampai ke Oscar dan kembali ke Ramires di sisi kanan Arsenal (Sagna terlambat). Ramires kemudian melesat dengan cepat ke kotak penalti dan dengan sedikit aksi “diving” ketika menghindari kaki Szczesny, berhasil mendapatkan penalti.

Diaby sebaliknya sangat lamban dalam tracking back pemain lawan dan juga tidak melakukan pressing. Gol pertama Chelsea sedikit banyak juga ada kontribusi darinya. Ramires menusuk ke tengah, Per Mertesacker yang mestinya menutup gerakan Mata teralihkan untuk menjaga Ramires. Bila Diaby segera mundur saat itu untuk tracking Ramires, maka Per bisa menutup Mata. Keterlambatan Sagna bisa ditutupi.

Ramires sebaliknya bertahan dan melakukan pressing dengan sangat baik. Man of the match dari partai ini jelas adalah Ramires sang Aggressor, yang tidak dimiliki Arsenal di babak pertama.

4. Perubahan 180′ di babak kedua

Arsenal adalah tim yang reaktif, untuk saat ini. Di dressing room, apapun yang dikatakan dan dilakukan Wenger, berhasil. Arsenal mengubah formasi dengan Diaby sedikit ke depan meninggalkan Coquelin sebagai poros tengah. Diaby pun melakukan pressing bersama Wilshere dan Coquelin berubah menjadi Ramires-nya Arsenal. Coquelin bermain dengan sangat baik, tackling, interception sehingga bola selalu kembali ke Arsenal. Agresivitasnya muncul di babak kedua. Sayangnya ia mengalami cedera dan harus ditarik keluar digantikan Ramsey.

Walcott mencetak gol indah setelah lolos jebakan offside. Berulang-ulang di babak pertama ia tertangkap offside. Saya twit: salah satu dari run Walcott ini di babak kedua akan menjadi onside dan terbukti! Operan cantik dari Santi yang menerobos pertahanan Chelsea diselesaikan dengan indah oleh Walcott. Sayangnya di sisa babak kedua, Arsenal tidak mampu mengulanginya karena Chelsea bermain lebih bertahan, tidak menyisakan ruang untuk penetrasi Walcott.

Arsenal mendominasi babak kedua, Chelsea memilih bertahan. Fans Arsenal pun akan berandai-andai mengapa Arsenal tidak bermain seperti ini dari babak pertama?

Wenger mencoba menjelaskan bahwa masalah psikologis di babak pertama ini adalah kurang percaya dirinya pemain-pemain Arsenal akan kualitas tim. Arsenal sebenarnya mampu mengimbangi tim-tim papan atas seperti Chelsea dan City, terbukti dari penampilan di babak kedua, ujar Wenger. Ia memang benar dan pernyataan ini adalah indikasi Wenger adalah tipe manager yang mengandalkan kepercayaan diri pemain. Permasalahannya ia mungkin lupa beberapa hal yang bisa menghambat manifestasi kepercayaan diri ini menjadi performa yang mantap di lapangan:

  1. Pemain tengah yang relatif muda dan baru beberapa kali ini dipasangkan bersama. Wilshere yang mesti berteriak kepada rekan-rekannya untuk melakukan pressing adalah bukti kurangnya pengertian di antara mereka. Diaby walau sudah 26 tahun jam terbangnya bak pemain usia 22-23 tahun (karena cedera panjang). Kurangnya rasa percaya diri dan percaya terhadap teman mengakibatkan keraguan dalam melakukan pressing, saling cover, yang amat penting bagi permainan yang tidak menyisakan ruang untuk kesalahan sedikitpun. Dua kesalahan, kebobolan dua gol.
  2. Formasi. Walcott dan Cazorla tidak nyaman bermain di 4-2-3-1 sebagai AM sayap yang mesti turun membantu bek sayap saat bertahan. Bahkan tidak juga untuk Podolski (gol City juga berawal dari kesalahan di sayap kiri Arsenal). Banyaknya kesalahan-kesalahan individu yang terjadi adalah contoh pemain-pemain belum memahami formasi yang diterapkan. Untuk mengakomodasi Walcott (yang memang berguna saat ini karena kecepatan dan ketajaman finishingnya), Wenger mungkin mesti mempertimbangkan kembali ke formasi 4-4-2. Chamberlain di sayap kanan dan Cazorla bisa bermain di sayap kiri dengan cover dari Arteta/Coquelin. Atau 4-4-2 diamond dengan Wilshere di puncak, kiri-kanan oleh Ramsey-Diaby.
  3. Sedikit pengarahan soal taktik sejak babak pertama akan membantu kepercayaan diri pemain muda. Cara Benitez bisa diterapkan. Arahan yang jelas kepada pemain untuk bermain dengan taktik tertentu dan pemberian tugas yang lebih spesifik ke setiap pemain akan membantu menimbulkan kepercayaan diri. Saat ini pemain Arsenal seperti kehilangan orientasi saat bermain. Counter attack atau pressing? Crossing atau cutback? Serangan Arsenal menjadi gampang dibaca (contohnya crossing Sagna). Saat melawan Swansea kepercayaan diri Arsenal memungkinkan operan one-two yang cantik dan berani di kotak penalti lawan. Melawan Chelsea kita tidak melihat itu. Pengarahan taktik yang jelas sebelum pertandingan akan membantu pemain-pemain muda Arsenal ini untuk fokus sejak babak pertama, bukan setelah dimarahi di ruang ganti saat half time.

Akibat pergantian pemain depan dan tengah yang cukup signifikan, musim ini bagi Arsenal adalah musim untuk menemukan jati diri. Musim menemukan Satu Muka. Giroud adalah striker yang berbeda dengan RVP. Kekuatan dan kelemahannya berbeda. Pemain-pemain di sekitarnya mesti menyesuaikan diri dengannya. Wilshere baru kembali, Cazorla baru bermain di Liga Inggris dan Walcott baru saja menemukan identitas barunya sebagai striker yang tajam. Semakin cepat pemain-pemain Arsenal ini saling mengerti satu sama lain, semakin besar kemungkinan untuk tetap finish di empat besar dan meraih trofi, paling mungkin di FA Cup (Champions League rasanya berat). Aktivitas Arsenal di transfer window Januari ini juga akan ikut menentukan resiko yang mesti dibayar untuk penemuan jati diri. Pembelian pemain yang berpengalaman dan penuh percaya diri akan membantu meminimalisir resiko dari proses pencarian jati diri ini. Mungkin itu sebabnya Arsenal sangat tertarik dengan David Villa di transfer window ini.