Penderitaan, Kekecewaan dan Rasa Sakit


Browsing artikel-artikel lama di milis grup, ketemu sebuah artikel yang saya post hampir sepuluh tahun yang lalu. Mudah-mudahan bermanfaat untuk yang mereka yang lagi membutuhkannya. Tentang kekecewaan dan penderitaan. Jangan galau dulu, baca sampai selesai dan niscaya Anda bisa lebih bahagia. :) 

PENDERITAAN, KEKECEWAAN, DAN RASA SAKIT

Oleh : Jansen H. Sinamo *

Pada tahun 1967 Gerhard Gschwandtber mengadakan riset mengenai kekecewaan dan menemukan bahwa di Library Of Congress terdapat 1500 judul buku mengenai kesuksesan sedangkan buku mengenai kekecewaan hanya 16 judul saja. Ini mengherankan Gerhard karena observasi menunjukkan bahwa kekecewaan dan dukacita sesungguhnya merupakan pengalaman paling akrab dengan manusia ketimbang kesuksesan dan kegembiraan. Artinya dukacita lebih sering terjadi daripada sukacita. Kekecewaan lebih banyak terjadi daripada kegembiraan.

Lalu mengapa topik kekecewaan begitu sedikit dibahas orang?

Mengapa kesuksesan dan sukacita yang hanya sedikit dirasakan orang atau dirasakan oleh sedikit orang saja mendapat perhatian begitu banyak? Dan apakah kekecewaan itu sehingga ia dihindari orang sekuat tenaga dan para sarjana pun kurang berminat membahasnya padahal dikatakan tadi kekecewaan selalu datang terus menerus?

Saya ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan 3 tujuan.

Pertama, agar Anda para pembaca lebih mampu mengelola kekecewaan yang sering menimpa Anda. Kedua, bagaimana menggunakan kekecewaan menjadi batu loncatan menuju sukacita. Ketiga, agar Anda lebih mampu meningkatkan
kualitas rasa bahagia Anda di tengah-tengah dunia yang selalu merasa kecewa.

Pertama, kekecewaan itu perlu dijelaskan dulu. Menurut kamus Webster, kekecewaan adalah perasaan pedih karena menginginkan sesuatu namun tidak mendapatkannya. Mengharapkan sesuatu namun tidak terkabul.

Perhatikanlah daftar kekecewaan di bawah ini. Rasanya sangat dekat dengan pengalaman kita dan orang-orang di sekitar kita bukan?

  • Anda menyekolahkan anak habis-habisan sampai sarjana tetapi anak Anda tidak mampu menjadi orang kaya yang bisa membantu keluarga besar Anda, maka Anda kecewa.
  • Anda mengawinkan anak, tetapi ternyata menantu Anda tidak sebaik yang diharapkan, maka Anda kecewa lagi.
  • Anda berharap putri Anda menikah dengan pria baik-baik dari keluarga kaya dan terhormat, tetapi putri Anda memilih kawin lari dan melahirkan anak di luar nikah dengan laki-laki brengsek, maka hati Anda sangat kecewa.
  • Anda menikah dengan baik-baik di penghulu dan dirayakan dengan meriah pula, tetapi bertahun-tahun sudah lewat namun Anda tidak mendapat anak juga, padahal tetangga Anda yang anaknya kawin di luar nikah justru sudah punya dua anak yang lucu-lucu, maka Anda pun kecewa juga.
  • Anda sudah berusaha keras untuk setia pada suami, tetapi suami Anda tetap menyeleweng juga, sudah pasti Anda kecewa.
  • Anda berharap Pak Bupati dan Gubernur datang ke pesta pernikahan anak Anda tetapi sang pejabat tidak muncul, maka Anda kecewa berat.
  • Anda menanam kopi di kebun, tetapi ketika panen tiba harganya anjlok di pasar, lalu Anda juga kecewa.
  • Anda bekerja jujur, rajin, dan sungguh-sungguh, tetapi sejawat Anda yang brengsek dan cuma pandai menjilat yang naik pangkat, maka kemudian Anda juga kecewa.
  • Anda membuka toko dan puluhan tahun bekerja dengan keras serta berhemat mati-matian sehingga toko Anda maju dan menjadi besar, tetapi dalam sehari habis dijarah dan dibakar massa, pasti Anda sangat kecewa.
  • Anda mengharapkan sang kekasih hati membawa oleh-oleh pada malam minggu, tetapi dia datang dengan tangan kosong dan terlambat lagi, hati Anda pun kecewa.
  • Anda mengharapkan pesta keluarga Anda dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, tetapi yang datang cuma keroco-keroco, maka Anda juga kecewa lagi.
  • Anda mengharapkan sumbangan besar dari seseorang yang Anda anggap cukup kaya tetapi sumbangannya ternyata sedikit, maka Anda kecewa setengah mati.
  • Anda berharap pendeta Anda dan isterinya berperilaku seperti nabi yang suci dan penuh kasih sayang, tetapi mereka ternyata gila hormat dan gila duit, maka Anda kecewa berat.
  • Anda berharap dijamu dan dihormati oleh seseorang yang berhutang budi pada Anda, tetapi sebaliknya dia menghina Anda, maka Anda pun kecewa juga.
  • Anda melihat bahwa tetangga Anda bertambah kaya sedangkan Anda tidak padahal jabatan suami Anda lebih tinggi, ini pun mengakibatkan kekecewaan.
  • Anda berharap seseorang agar jatuh melarat dan ditimpa penyakit namun nyatanya dia bertambah makmur dan sehat walafiat, Anda pun amat kecewa.
  • Anda sudah bekerja setengah mati tetapi kerja keras Anda dihabiskan oleh tikus dan hama wereng, maka Anda juga kecewa lagi.
  • Anda berharap boss mendukung Anda, tetapi malah menjatuhkan Anda, maka Anda pun kecewa.
  • Anda sudah mendukung seorang untuk menjadi pejabat dengan uang dan doa Anda, tetapi ketika sang pejabat sudah duduk di kursinya dia melupakan Anda, maka Anda pun kecewa berat.
  • Anda berharap anak buah patuh dan tunduk pada Anda, namun ternyata dia bisa melawan dan susah diatur, maka Anda pun kecewa juga.

Anda tentu bisa menambahkan daftar di atas seribu lagi. Namun dengan daftar ini saja kita sudah mampu melihat bahwa sesungguhnya kekecewaan memang lebih sering kita alami daripada sukacita.

Maka begitulah orang kecewa pada Bupati, kecewa pada IMF, kecewa pada Amerika, kecewa pada Bank Dunia, kecewa pada Harmoko, kecewa pada orangtua, kecewa pada Soeharto, kecewa pada Habibie, kecewa pada anak, kecewa pada menantu, kecewa pada tetangga, kecewa pada matahari, kecewa pada hujan, kecewa pada ABRI, kecewa pada kakak, kecewa pada adik, kecewa pada Pak Lurah, kecewa pada Pak Camat, kecewa pada kawan, kecewa pada sahabat, kecewa pada isteri, kecewa pada suami, kecewa pada pendeta, kecewa pada Golkar, dan seterusnya dan seterusnya. Bahkan orang bisa sangat kecewa pada Tuhan.

Dua Macam Kekecewaan

Kekecewaan jenis pertama disebut kekecewaan bodoh. Mengapa disebut bodoh? Jawabnya karena kekecewaan itu sesungguhnya tidak perlu terjadi. Namun terjadi juga karena kita bodoh. Akibatnya kegembiraan kita yang wajar terampas, sukacita yang sudah di tangan hilang lenyap.

Kita dengan bodohnya mau kecewa dan membiarkan hati kita larut dalam kepahitan yang mengakibatkan dendam, amarah, dukacita, stress, depressi, hilang ingatan, kebencian, sungut-sungut, fitnah, kabar bohong, bahkan kekerasan dan pembunuhan.

Sebab utama kekecewaan bodoh adalah harapan yang tidak-tidak, ambisi yang tidak masuk akal, keinginan yang mustahil,
keserakahan, dan ilusi atau impian di siang bolong. Ingatlah, Tuhan saja tidak memperoleh semua yang diinginkanNya. Adalah keinginan Tuhan agar semua manusia masuk surga tetapi kita tahu ada banyak yang masuk neraka. Artinya,
keinginan Tuhan tak semua kesampaian. Kristus pun kehilangan Yudas Iskariot dan tentu hatinya sedih ketika Petrus menyangkal diriNya tatkala dukungannya paling dibutuhkan. Jadi janganlah kita bodoh dengan berharap semua keinginan
kita bisa tercapai.

Berikut adalah contoh-contoh kekecewaan bodoh.

  1. Anda berharap Ketua Umum PDI-Perjuangan di Jakarta mengirimkan karangan bunga pada pesta sunatan anak Anda padahal Anda cuma seorang penggembira PDI kelas kelurahan di ujung pulau Sumatera.
  2. Anda berharap kaya raya dengan memasang lotere atau main judi padahal Anda tahu penjudilah yang biasanya bangkrut jatuh miskin.
  3. Anda berharap dengan datang ke Jakarta maka dengan sekejap bisa makmur dan mengkilat seperti orang yang di TV itu, padahal kuliah tingkat dua pun Anda tak selesai akibat kemalasan Anda.
  4. Anda berharap hidup bahagia, tenteram, dan terhormat dengan menuruti ajakan kawin seorang pria brengsek padahal Anda tahu dia masih beristeri dan agamanya pun berbeda dengan Anda.
  5. Anda berharap semua orang sebaik Anda, seramah Anda, sejujur Anda, dan semanis Anda.
  6. Anda berharap semua orang yang pernah Anda bantu akan membantu Anda pula pada saatnya.
  7. Anda berharap agar suami Anda selalu baik, melindungi, tidak egois, lembut, bertanggungjawab, dan bersikap kesatria seperti Arjuna.
  8. Anda berharap hari tak pernah mendung, rezeki tak pernah seret, badan selalu sehat.
  9. Anda berharap hidup makmur, mewah, penuh gengsi padahal jabatan Anda adalah ulama atau pendeta yang memang diharapkan dan seharusnya hidup sederhana.
  10. Anda berharap agar Tuhan menghukum orang yang Anda benci padahal rencana Tuhan lebih besar dari keinginan Anda yang egoistik.

Jelaslah semua harapan di atas sebenarnya too good to be true bahkan sebenarnya mustahil. Maka dengan mudah dimengerti bahwa kekecewaan-kekecewaan seperti di atas terjadi karena kebodohan kita sendiri kok mau menginginkan hal-hal yang mustahil. Agar kita terhindar dari kekecewaan bodoh seperti di atas berikut adalah sejumlah saran:

  • Hiduplah lebih realistik. Jangan neko-neko.
  • Bersikaplah wajar-wajar.
  • Jangan menganggap diri sendiri sudah hebat atau jago.
  • Bandingkan diri sendiri dengan orang lain secara proporsional.
  • Pelajari hukum alam, dan ketahuilah Anda tidak mungkin bisa menipu hukum alam. Andalah yang kena batunya jika nekat melawan hukum alam, moral dan kebenaran.
  • Ingat, tidak ada makan gratis di bumi ini. Seseorang pasti membayarnya untuk Anda, dan pada suatu hari pasti ditagihnya.
  • Jangan percaya pada keajaiban buatan manusia.
  • Curigalah pada apa saja yang terlalu indah, terlalu muluk, atau terlalu gampang. Biasanya di belakangnya pasti ada penipuan.

Ketahuilah hidup ini pada dasarnya susah. Jadi jangan percaya undian. Jangan percaya pada janji iklan berhadiah. Jangan buang waktu mengisi kupon-kupon di supermarket. Jangan percaya pada program penggandaan uang. Itu semua cuma angin surga demi keuntungan mereka.

Ingatlah, karya tangan Anda sendirilah yang membuat Anda senang, berkecukupan, dan bahagia. Apa yang Anda terima dengan sangat gampang akan lenyap dengan sangat gampang pula. Jangan bermimpi, hasil keringat dan jerih payah sendiri, itulah tetap tinggal dengan berkat Tuhan.

Kekecewaan Yang Sehat

Lawan kekecewaan bodoh ialah kekecewaan yang sehat yaitu kekecewaan yang Anda rasakan ketika rasa keadilan tidak terpenuhi dan kebenaran dijungkirbalikkan. Kebaikan dibalas kejahatan. Kerja keras hilang percuma. Cinta tulus dibalas dengan pengkhianatan. Kasih menjadi dosa. Orang malas naik pangkat, orang jujur disingkirkan. Kebaikan dilecehkan, kesucian diolok-olok. Orang kaya diperkaya, orang miskin dipinggirkan. Konglomerat dilindungi, kita semua rakyat dicurangi.

Jika yang begini terjadi maka kekecewaan adalah reaksi yang wajar. Malahan jika Anda tidak kecewa ketika hal-hal di atas terjadi, saya berpendapat hati nurani Anda sudah kumuh. Kekecewaan seperti ini selain sehat, juga berpotensi mengubah Anda menjadi orang besar. Ada orang bijak berkata, “Kekecewaan diberikan Tuhan pada manusia biasa agar kita menjadi manusia luar biasa.”

Tengoklah misalnya Abraham Lincoln. Hampir seluruh riwayat hidupnya diisi oleh rangkaian kegagalan dan kekecewaan. Tapi ia selalu bangkit. Tidak penting berapa kali engkau gagal, kata Lincoln, yang penting berapa kali engkau bangkit. Ujung-ujungnya dia berhasil menjadi presiden pada tahun 1861, dan dicatat sebagai presiden Amerika terbesar.
Untuk mengubah rasa kecewa jenis ini menjadi energi yang positif maka berikut adalah sejumlah saran saya:

  • Ketika Anda terkena rasa kecewa maka carilah penghiburan sejati agar hati Anda lebih ringan, misalnya musik, jalan-jalan, tidur panjang, atau cuti. Jika hati Anda sudah enteng, terhibur, maka pikiran rasional akan kembali pada Anda, dan perspektif Anda menjadi lebih baik.
  • Hindari pelarian. Pelarian yang umum dari kekecewaan adalah gila kerja (workaholik), obat bius, alkohol, agressi, depressi, balas dendam, makan berlebihan, merokok berlebihan, dan melamun serta bermuram durja.
  • Bicarakan kekecewaan Anda dengan seseorang yang cerdas emosinya, bersikap simpatik dan empatik, bersikap dewasa, dan dapat dipercaya.
  • Ungkapkan kekecewaan Anda dalam bentuk tulisan, misalnya di catatan harian atau sebuah karangan. 
  • Ungkapkan kekecewaan Anda kepada Tuhan dalam bentuk doa.
  • Gubahlah kekecewaan Anda menjadi sebuah musik atau syair (jika punya bakat).
  • Cari petunjuk dari seseorang sudah mampu mengatasi kekecewaan serupa.
  • Bacalah kisah orang-orang besar tentang bagaimana cara mereka mengatasi kekecewaan yang dialaminya, misalnya:
    • Mahatma Gandhi yang ditendang dari kabin kereta api kelas satu dan kemudian berubah menjadi pejuang gerakan tanpa kekerasan (satyagraha) yang mampu mengusir penjajah Inggris dari bumi India.
    • Nelson Mandela yang keluar dari penjara selama 29 tahun tanpa dendam dan sakit hati.
    • Nietzche yang berkata, “Apa yang tidak bisa mematikanku sesungguhnya menguatkan aku”
    • Thomas A. Edison yang pabrik dan laboratorumnya terbakar namun sanggup mengangumi nyala api yang hebat itu, seraya berkata, “Tidak apa-apa semua ini terbakar karena sekarang kita berkesempatan membangun gedung yang lebih modern dan besar.
    • William Soerjadjaya, mantan pemilik Grup Astra yang kehilangan kerajaan bisnisnya tetapi masih tetap tersenyum dan tetap sanggup memulai bisnis baru di usia lanjutnya.
    • Kuntoro Mangkusubroto yang dipecat oleh atasannya Menteri Pertambangan dan Energi di zaman Kabinet Pembangunan VI gara-gara kasus Busang, tetapi yang berpikir positif dan konstruktif, kemudian terpilih menjadi Menteri menggantikan si pemecatnya setahun kemudian.
    • AH Nasution yang disingkirkan oleh Soeharto secara sistematik sejak 1966, mampu bertahan selama 32 tahun sampai usia lanjut, menulis puluhan buku tebal, menjadi mentor moral bagi banyak orang, mencapai status jenderal besar, semakin berkharisma, sanggup berdamai dengan Soeharto, dan masih sempat menyaksikan tragedi kejatuhan Soeharto yang dramatik.
    • Cacuk Sudarijanto yang dipecat sebagai Dirut Telkom, menjadi orang terbuang sekian tahun, tetapi mampu come back ke dunia bisnis, menjadi Dirut Bank Mega, dan menjadi Ketua Alumni ITB periode 1998-2003.

Orang-orang Dekat yang Mengecewakan

Yang paling sering mengecewakan Anda pastilah orang-orang dekat Anda  seperti orangtua, anak, isteri/suami, kakak/adik,
ipar/saudara. Terhadap mereka, inginkanlah yang terbaik tetapi pasanglah sikap zero expectation (tuntutan nol). Artinya jika Anda berbuat baik jangan harapkan imbalan, apalagi menuntut balasan agar mereka berbuat setimpal. Jadi berbuat baiklah dengan tulus.Terima kasih pun jangan harapkan.

Sadarilah dunia ini memang bukan dunia yang adil. Ingatlah, para nabi pun selalu dilecehkan bahkan dihujat dan dikejar-kejar. Mereka pun tidak mampu menyenangkan semua orang.

Bergembiralah bahwa Anda masih bisa memberi dan sanggup berbuat baik. Itu saja adalah sebuah kehormatan. Untuk menghibur Anda, ketahuilah bahwa Tuhan akan membalas kebaikan Anda berlipat ganda jika penerima kebaikan Anda itu
tidak tahu berterimakasih. Jika orang yang Anda baiki itu tahu berterimakasih dan kemudian membalas perbuatan baik Anda, jangan pula ditolak, tetapi terimalah sebagai bonus, dan karenanya bergembiralah dua kali.

Jika orang yang Anda baiki itu sudah keterlaluan, Anda tak sanggup lagi bersikap baik pada dia, maka jauhi sajalah dia.

Putuskan saja hubungan dengan dia tanpa terjebak dalam kebencian dan dendam kesumat. Batasi diri, jaga jarak. Kalau Anda mampu, doakanlah orang brengsek itu. Jika hasil doa Anda tidak layak diterimanya, maka doa Anda akan
kembali pada Anda.

Jika tidak mampu mendoakannya, jangan pula mengutuknya, siapa tahu kutuk Anda bisa memakan Anda. Serahkan saja agar keadilan Tuhan yang terjadi.

Kemudian, jangan memelihara karakter meminta, menuntut, dan mengemis dari orang lain untuk diri sendiri. Jika Anda harus meminta dan menuntut maka minimal itu demi kepentingan bersama, kalau bisa demi kepentingan dia yang
Anda tuntut, tapi jangan pernah untuk diri sendiri.

Sebaliknya suburkanlah karakter memberi, membagi, dan berbagi dengan orang lain. Anggaplah bahwa Anda adalah wakil Tuhan untuk membagi-bagikan rezeki dan berkat-berkat surgawi. Tapi jangan terlalu ekstrim. Jangan sampai susu buat anak sendiri terputus gara-gara terlalu bersemangat membantu anak tetangga. Yang seperti itu bisa-bisa adalah bentuk
kesombongan baru yang pada suatu saat akan berbalik mengecewakan Anda.

Penutup

Saya mau menutup tulisan ini dengan kisah dari bawah laut. Pada suatu  hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. Anakku, kata
sang Ibu sambil bercucuran air mata, Tuhan tidak memberikan kita bangsa kerang sebuah tangan pun sehingga Ibu tak bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam.

Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa pedih dan sakit yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat, kata Ibunya dengan sendu namun lembut.

Maka si anak kerang pun melakukan nasihat ibundanya.

Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan bertahun-tahun. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Makin lama mutiaranya makin besar. Rasa sakit menjadi terasa wajar. Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada seribu ekor kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

Penderitaan membuat seekor kerang biasa menjadi kerang luar biasa.

Kekecewaan dan penderitaan pun dapat mengubah orang biasa menjadi orang luar biasa. Jika Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Ibu Teresa, Mahatma Gandhi, AH Nasution, Cacuk Sudarijanto, dan Kuntoro Mangkusubroto mampu melakukannya, saya yakin, Anda pun mampu melakukannya. Anda sudah selesai membaca sampai di sini, itu tanda bahwa Anda sedang berjalan menuju status manusia luar biasa dan meninggalkan status manusia biasa.

Jadi saya ucapkan selamat menempuh jalan susah, itulah jalan menuju keagungan, jalan menuju kemuliaan, the road less
traveled, kata M. Scott Peck. Dan itulah jalan menuju kebahagiaan sejati.

* Jansen H. Sinamo adalah seorang penulis, pembicara, pengembang pelatihan sumber daya manusia berbasis etos yang pertama di Indonesia.

Pemilu 2014 dan Anak Zaman Peralihan (part III)


Bila bagian pertama tulisan ini adalah prolog mengenai opini saya seputar Pilpres 2014, dan bagian kedua adalah soal figur Prabowo Subianto capres nomor 1, maka bagian ketiga ini akan berisi tentang figur Jokowi sebagai capres nomor 2 dan ditutup dengan pilihan pribadi saya.

Bila Prabowo adalah soal Ambisi, maka Jokowi adalah soal Kesempatan. Ambisi dan Kesempatan berbeda namun memiliki keserupaan. Yang pertama adalah soal sesuatu yang dicita-citakan dari dalam dan yang kedua adalah soal sesuatu yang hadir dari luar. Kesamaannya ada pada bila kedua hal itu tidak terealisasikan, maka tak akan terjadi perubahan dalam hidup. Ambisi dan Kesempatan juga perlu faktor-faktor penunjang lainnya dari dalam dan luar diri agar bisa berwujud menjadi Keberhasilan.

Kesempatan Anak Tukang Kayu

Berbeda dengan Prabowo yang lahir dari keluarga terpandang, sekolah di luar negeri dan memulai karir dengan mulus di militer, Jokowi adalah anak orang biasa saja. Ia lahir di tahun 1961, sepuluh tahun lebih muda daripada Prabowo. Saat ini usianya 53 tahun. Ia lahir sebagai anak dari seorang tukang kayu, besar di sekitar bantaran sungai di Solo, dan sering digusur. Pendek kata ia hidup miskin sejak lahir.

Bapaknya penjual kayu di pinggir jalan, sering juga menggotong kayu gergajian. Ia sering ke pasar, pasar tradisional dan berdagang apa saja waktu kecil. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pedagang dikejar-kejar aparat, diusir, pedagang ketakutan untuk berdagang. Sewaktu SD ia berdagang apa saja untuk biaya sekolah, membantu ayahnya yang tidak berkecukupan.

Video di atas (cek dari menit ke-5) menunjukkan bagaimana Jokowi terharu mengingat masa kecilnya. Ia meneteskan air mata (menit ke-8 dan ke-9) ketika bertemu tetangga “bantaran sungai”-nya di stasiun televisi. Dalam kata-katanya sendiri:

“Saya jadi… bayangin waktu kecil saya dulu… Hidup di bantaran sungai, di pinggir sungai, dalam sebuah kehidupan yang sangat sulit… dan… dan digusur. Dan sekarang ini saya… ya sangat bersyukur sekali.

Tuhan memberikan sebuah… jabatan, yang saya bisa… bisa berbuat sesuatu. Dan saya ingin melakukan sesuatu itu.” (sambil berlinangan air mata dan menahan emosi)

Jokowi lalu bersekolah di SD Negeri Solo, SMP dan SMA juga di Sekolah Negeri di Solo lalu berlanjut dengan studi perguruan tinggi di UGM, Fakultas Perhutanan. Ia memilih jurusan itu mungkin karena dibesarkan di lingkungan keluarga yang akrab dengan kayu. Setelah lulus sebagai Sarjana, Jokowi merantau ke Aceh, bekerja di BUMN bidang perkayuan. Ia kembali ke Solo karena istrinya hamil dan mulai bertekad untuk berbisnis di bidang kayu. Akhirnya pada tahun 1988, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri dengan nama CV Rakabu, yang diambil dari nama anak pertamanya. Jatuh bangun dalam bisnis, akhirnya Jokowi meraih kesuksesan dalam bisnis mebel sampai bisa mengekspor ke luar negeri.

Seperti biasa, ketika seseorang sukses dalam bisnis, maka relasi politik umumnya tak terhindarkan. Mulai masuk dalam jaringan politik kota, Jokowi akhirnya akrab dengan politikus-politikus di PDIP dan PKB. Ia diusung kedua parpol itu untuk menjadi walikota Solo di tahun 2005. Yang menariknya saat itu Jokowi mendapatkan suara terbanyak (99.747) suara meskipun tidak mampu mengungguli jumlah suara golput dan kartu rusak (104.248 suara). Ia menang dengan hanya sekitar 36% dari suara sah.

Ia memulai mandat pertamanya dengan rebranding Solo, pembenahan pedagang kaki lima, pembenahan pasar tradisional, pembenahan transportasi umum, program pendidikan dan kesehatan. Semua program populis itu sangat berhasil ditunjang dengan blusukannya ke seantero Solo, berkomunikasi dengan masyarakat secara langsung, menghantarkannya untuk menang di Pilkada lima tahun berikutnya dengan suara telak 90% (248.243 suara).

Popularitas Jokowi bahkan sampai ke level nasional dibantu dengan isu mobil nasional (Esemka) dan buruknya performa Gubernur di DKI. Baru 2 tahun menjabat di Solo, Jokowi dicalonkan sebagai DKI-1. Yang menariknya, usulan mencalonkan Jokowi dan Ahok sebagai cagub-cawagub di Pilkada DKI 2012 tidak lepas dari tangan Prabowo yang sedang mencari simpati publik tingkat nasional. Singkat kata, Jokowi kembali menang di DKI. Laju anak tukang kayu ini tak tertahankan.

Saat itu jelas Prabowo melihat kemenangan Jokowi dan Ahok sebagai kredit baginya. Modal baginya untuk menunjukkan kepada publik bahwa ia pro pejabat publik yang bersih dan kompeten. Menunjuk Ahok juga diharapkan bisa menghapuskan kekhawatiran etnis Tionghoa kepada prospek dirinya menjadi Presiden di tahun 2014 (karena isu kerusuhan Mei 98). Prabowo tidak menyangka hal yang dilakukannya ini malah balik makan tuan. Jokowi, dengan desakan partai (yang juga terdesak dengan elektabilitasnya di publik) akhirnya mencalonkan diri menjadi capres di Pilpres 2014 ini.

Selama di DKI, ia mengulangi modus yang sama saat ia menjabat di Solo. Blusukan, program-program populis menjadi andalan. Pembenahan nyata secara fisik juga terjadi. Waduk Pluit, Tanah Abang menjadi bukti janji Jokowi yang terealisasi. Program Kartu Jakarta Sehat melahirkan euforia dan trend baru masyarakat miskin untuk berobat di Rumah Sakit, yang bahkan menjadi trending di daerah-daerah. Pembenahan rumah susun, pedagang kaki lima, pencitraan ulang Satpol PP merupakan upaya-upayanya untuk semakin memanusiawikan Jakarta. Semua upayanya sejauh ini ditanggapi positif oleh warga Jakarta, meskipun ada beberapa kritik soal kecepatan aksi pembenahan yang dilakukan Jokowi-Ahok.

Apabila ada satu kritik penting warga Jakarta untuk Jokowi adalah soal Jakarta dijadikan batu loncatan untuk panggung nasional. Kritik ini bisa jadi valid karena itulah yang terjadi (walau itu tidak berarti ia tidak serius selama menjadi Gubernur DKI). Namun yang tak bisa dipungkiri adalah terjadinya krisis kepemimpinan di level nasional sehingga hanya ada figur-figur lama berusia di atas 60 tahun yang akan menjadi capres. Krisis kepemimpinan ini dan popularitas Jokowi yang luar biasa akhirnya menghadirkan kesempatan bagi Gubernur DKI yang belum selesai masa jabatannya ini. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Ia ditawarkan untuk menjadi Presiden RI 2014 oleh PDIP dan Jokowi akhirnya menerimanya. Bila berhasil, ia akan menjadi Presiden RI pertama setelah Sukarno yang adalah warga Sipil dan bukan keturunan orang besar.

Pilih Yang Mana?

Dalam menulis tentang sosok kedua capres ini, saya menemukan dua hal yang sangat kontras. Bila menulis soal Prabowo saya harus mencari referensi yang cukup banyak dan melakukan cek silang antar referensi, maka menulis tentang Jokowi cukup mudah. Hal itu dikarenakan masa lalu Prabowo yang penuh dengan polemik dan rumor, penuh dengan konflik. Sedangkan Jokowi seperti secarik kertas bersih yang berisi beberapa bullet point. Bukan berarti hidup Jokowi tidak lebih menarik atau berwarna daripada Prabowo, namun itu mungkin karena hidup Jokowi rasanya lebih sederhana dituliskan. Hidupnya seperti hidup sebagian besar kita (kecuali bagian karir politiknya yang gemilang). Lahir miskin, sekolah, bekerja, berwiraswasta, dan sukses. Tidak neko-neko. Sementara hidup Prabowo bagaikan tragedi di film. Misterius dan mengandung banyak pertanyaan soal motif, soal kebohongan, soal konflik.

Seorang Putra Mahkota dan seorang anak Tukang Kayu pun sudah adalah kenyataan yang demikian kontras. Calon penerus Soeharto dari militer yang gagal karena kejadian-kejadian eksternal yang tak terprediksikan sebelumnya dibandingkan dengan melejitnya karir politik warga Sipil yang tidak menyangka ia akan masuk demikian dalam pusaran kekuasaan. Jokowi hanya bercita-cita menjadi pengusaha kayu sedangkan Prabowo mungkin sejak kecil sudah bercita-cita menjadi seorang penguasa, pemimpin negara. Namun nasib dan jalan hidup mempertemukan mereka berdua saat ini, selangkah lagi menuju puncak kekuasaan politik negeri ini.

Saya cukup salut dengan tekad dan ambisi Prabowo yang berusaha memenangkan kekuasaan dengan mengikuti cara demokrasi. Hal itu harus diacungi jempol. Bahwa ia kemudian menggaet partner dari partai-partai kanan dan ormas seperti FPI, hal itu mudah dipahami bila kita memahami rekam jejaknya. Itu hal biasa baginya. Prabowo akan menggunakan cara apapun yang ia rasa efisien dan efektif untuk mencapai sasaran, sebagaimana seorang pemimpin pasukan tempur. Ia seorang ekstrovert yang mudah mendapatkan banyak teman, asalkan visinya sama. Tidak heran ia yang beradik Kristen tidak sulit mendapatkan dukungan dari ormas dan partai Islam sedangkan Jokowi yang semua keluarganya Islam mesti menghadapi isu keagamaan. Prabowo ahlinya soal membangun jaringan dukungan. Ia punya network dan dana. Saya rasa pasti ada sesuatu yang diharapkan dari organisasi dan partai pendukungnya yang bisa mempersatukan mereka semua. Pembagian kekuasaan, visi bersama tentang organisasi agama yang lebih mendapatkan tempat di kekuasaan akan menjadi hal lumrah setelah ia menjadi Presiden. Baginya tentu tidak sulit mengendalikan ormas seperti FPI, apalagi setelah melihat rekam jejaknya dengan Gada Paksi dll di Timor Timur.

Prabowo akan menjadi pemimpin yang mandiri, yang punya visi tentang Indonesia, gagasan tentang nasionalisme versi pribadinya, dan tidak mudah untuk digoyang ketika ia sudah yakin dengan apa yang hendak dilakukannya dengan kekuasaan puncak di negeri ini.

Jokowi sebaliknya adalah pengusaha mebel paling beruntung di dunia. Namun ada pepatah mengatakan keberuntungan hanya akan datang pada mereka yang bekerja keras. Ia bekerja keras, baik di bisnisnya maupun di jabatan politiknya. Orang-orang di sekitarnya bisa merasakan kerja kerasnya itu. Bisa merasakan semangatnya, kejujurannya dan ketulusannya. Ia juga berada di saat yang tepat, ketika kesempatan besar datang padanya. Saat terjadi krisis kepemimpinan di DKI, dan saat terjadi krisis kepemimpinan di level nasional. Saat demokrasi kita sudah cukup dewasa untuk menghargai Ratu Adil yang lahir dari lapisan masyarakat kecil. Saat kita mulai beradaptasi pada Meritokrasi daripada Kleptokrasi atau Teokrasi. Meritokrasi yang artinya siapapun ia, latar belakangnya, akan mendapatkan kesempatan berdasarkan pada hasil kerjanya, usahanya sendiri. Jokowi adalah perwujudan dari Meritokrasi Indonesia. Ia bukan anak pendiri partai, bukan pula anak dari pemimpin partai. Ia anak Tukang Kayu yang terus diberikan kesempatan demi kesempatan, yang lahir dari hasil kerja kerasnya.

Jokowi akan menjadi pemimpin yang butuh dukungan banyak pihak karena ia tidak punya modal kekuasaan pribadi. Kekuasaan diraihnya dengan kolaborasi, dengan dukungan rakyat. Ia akan mendasarkan gagasannya mengenai Indonesia ke depan dari hasil dialognya dengan rakyat, dari hasil blusukannya. Ia akan bangun, hidup, sukses ataupun jatuh bersama rakyat.

Bagi saya, memilih Prabowo artinya memilih babak masa lalu sejarah Indonesia yang misterius, penuh dengan pertanyaan yang belum terjawabkan. Masa lalu di mana militer negeri ini berutang darah dengan negara lain atau warga negaranya sendiri. Timor Leste, Papua, dan Aceh. Belum lagi koalisi Prabowo dengan ormas dan parpol “kanan” yang visinya tentang negeri ini tidak cocok dengan harapan saya pribadi. Saya ingin Indonesia yang lebih beragam, yang lebih bisa hidup sesuai semangat “Bhinneka Tunggal Ika”. Keberagaman adalah kekuatan, bukan kelemahan. Keseragaman mencoba menyembunyikan ketakutan dalam persamaan.

Memilih Jokowi artinya memilih fase berikutnya dari demokrasi: Meritokrasi. Fase di mana semua warga negara, tak peduli kelas ekonominya saat ia lahir, tak peduli siapa orang tuanya, memperoleh kesempatan yang sama untuk berkontribusi terhadap negara. Bahkan di level tertinggi sebagai seorang Presiden. Jika Jokowi sang anak Tukang Kayu bisa menjadi Presiden RI, maka di tahun-tahun berikutnya mungkin giliran Kusni si anak Nelayan, atau Aceng si anak pemulung. Indonesia menjadi negeri harapan untuk semua orang, yang tidak terbatas lagi untuk keluarga penguasa tertentu atau kelas tertentu. Selama seseorang berusaha dengan jujur, dengan kerja keras, hasil kerjanya akan diapresiasi oleh publik, seperti Jokowi.

Berbagai kampanye negatif dengan isu SARA menurut saya adalah pembodohan publik. Negeri ini sudah cukup lama berhasil mengatasi isu SARA, bahkan sejak berdirinya (Bhinneka Tunggal Ika). Hanya saja isu ini dipakai berulang kali oleh penguasa diktator demi melanggengkan kekuasaannya, mengadu domba rakyatnya sendiri dengan perbedaan. Sama halnya dengan kampanye negatif dengan isu fasisme dan otoritarianisme. Rezim Orba sudah lama berlalu, dan saya yakin masyarakat demokratis ini tidak akan sudi melepas kebebasannya. Masyarakat akan melawan, ketika indikasi opresif akan dilakukan. Kedua isu ini sama saja bentuknya, adalah fear mongering campaign. Kampanye untuk menebarkan rasa takut yang tidak berdasar.

Baik Prabowo ataupun Jokowi yang terpilih, masa depan Indonesia akan ditentukan oleh rakyatnya sendiri. Yang jadi masalah sekarang adalah seakan ada dua kubu rakyat yang punya visi berbeda drastis mengenai Indonesia. Jangan kuatir, itu hanya permainan marketing kedua tim sukses. Saya yakin sebagian besar kita masih memiliki gagasan, harapan akan masa depan yang mirip tentang Indonesia, hanya berbeda selera soal figur pemimpinnya. Kita semua ingin Indonesia yang Makmur, Adil, dan Aman. Hanya bagaimana mencapainya yang mungkin berbeda.

Sudah saatnya Indonesia beralih Zaman. Mari tinggalkan Zaman Ratu Adil. Zaman Pemimpin ditunjuk untuk kita, dipilih dari kelas penguasa, atau dari militer yang berkuasa. Ini Zaman Peralihan.

Saya memilih Jokowi untuk menjadi Presiden Republik Indonesia di Pilpres 9 Juli besok. Bagaimana dengan Anda?