Pemilu 2014 dan Anak Zaman Peralihan (part III)


Bila bagian pertama tulisan ini adalah prolog mengenai opini saya seputar Pilpres 2014, dan bagian kedua adalah soal figur Prabowo Subianto capres nomor 1, maka bagian ketiga ini akan berisi tentang figur Jokowi sebagai capres nomor 2 dan ditutup dengan pilihan pribadi saya.

Bila Prabowo adalah soal Ambisi, maka Jokowi adalah soal Kesempatan. Ambisi dan Kesempatan berbeda namun memiliki keserupaan. Yang pertama adalah soal sesuatu yang dicita-citakan dari dalam dan yang kedua adalah soal sesuatu yang hadir dari luar. Kesamaannya ada pada bila kedua hal itu tidak terealisasikan, maka tak akan terjadi perubahan dalam hidup. Ambisi dan Kesempatan juga perlu faktor-faktor penunjang lainnya dari dalam dan luar diri agar bisa berwujud menjadi Keberhasilan.

Kesempatan Anak Tukang Kayu

Berbeda dengan Prabowo yang lahir dari keluarga terpandang, sekolah di luar negeri dan memulai karir dengan mulus di militer, Jokowi adalah anak orang biasa saja. Ia lahir di tahun 1961, sepuluh tahun lebih muda daripada Prabowo. Saat ini usianya 53 tahun. Ia lahir sebagai anak dari seorang tukang kayu, besar di sekitar bantaran sungai di Solo, dan sering digusur. Pendek kata ia hidup miskin sejak lahir.

Bapaknya penjual kayu di pinggir jalan, sering juga menggotong kayu gergajian. Ia sering ke pasar, pasar tradisional dan berdagang apa saja waktu kecil. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pedagang dikejar-kejar aparat, diusir, pedagang ketakutan untuk berdagang. Sewaktu SD ia berdagang apa saja untuk biaya sekolah, membantu ayahnya yang tidak berkecukupan.

Video di atas (cek dari menit ke-5) menunjukkan bagaimana Jokowi terharu mengingat masa kecilnya. Ia meneteskan air mata (menit ke-8 dan ke-9) ketika bertemu tetangga “bantaran sungai”-nya di stasiun televisi. Dalam kata-katanya sendiri:

“Saya jadi… bayangin waktu kecil saya dulu… Hidup di bantaran sungai, di pinggir sungai, dalam sebuah kehidupan yang sangat sulit… dan… dan digusur. Dan sekarang ini saya… ya sangat bersyukur sekali.

Tuhan memberikan sebuah… jabatan, yang saya bisa… bisa berbuat sesuatu. Dan saya ingin melakukan sesuatu itu.” (sambil berlinangan air mata dan menahan emosi)

Jokowi lalu bersekolah di SD Negeri Solo, SMP dan SMA juga di Sekolah Negeri di Solo lalu berlanjut dengan studi perguruan tinggi di UGM, Fakultas Perhutanan. Ia memilih jurusan itu mungkin karena dibesarkan di lingkungan keluarga yang akrab dengan kayu. Setelah lulus sebagai Sarjana, Jokowi merantau ke Aceh, bekerja di BUMN bidang perkayuan. Ia kembali ke Solo karena istrinya hamil dan mulai bertekad untuk berbisnis di bidang kayu. Akhirnya pada tahun 1988, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri dengan nama CV Rakabu, yang diambil dari nama anak pertamanya. Jatuh bangun dalam bisnis, akhirnya Jokowi meraih kesuksesan dalam bisnis mebel sampai bisa mengekspor ke luar negeri.

Seperti biasa, ketika seseorang sukses dalam bisnis, maka relasi politik umumnya tak terhindarkan. Mulai masuk dalam jaringan politik kota, Jokowi akhirnya akrab dengan politikus-politikus di PDIP dan PKB. Ia diusung kedua parpol itu untuk menjadi walikota Solo di tahun 2005. Yang menariknya saat itu Jokowi mendapatkan suara terbanyak (99.747) suara meskipun tidak mampu mengungguli jumlah suara golput dan kartu rusak (104.248 suara). Ia menang dengan hanya sekitar 36% dari suara sah.

Ia memulai mandat pertamanya dengan rebranding Solo, pembenahan pedagang kaki lima, pembenahan pasar tradisional, pembenahan transportasi umum, program pendidikan dan kesehatan. Semua program populis itu sangat berhasil ditunjang dengan blusukannya ke seantero Solo, berkomunikasi dengan masyarakat secara langsung, menghantarkannya untuk menang di Pilkada lima tahun berikutnya dengan suara telak 90% (248.243 suara).

Popularitas Jokowi bahkan sampai ke level nasional dibantu dengan isu mobil nasional (Esemka) dan buruknya performa Gubernur di DKI. Baru 2 tahun menjabat di Solo, Jokowi dicalonkan sebagai DKI-1. Yang menariknya, usulan mencalonkan Jokowi dan Ahok sebagai cagub-cawagub di Pilkada DKI 2012 tidak lepas dari tangan Prabowo yang sedang mencari simpati publik tingkat nasional. Singkat kata, Jokowi kembali menang di DKI. Laju anak tukang kayu ini tak tertahankan.

Saat itu jelas Prabowo melihat kemenangan Jokowi dan Ahok sebagai kredit baginya. Modal baginya untuk menunjukkan kepada publik bahwa ia pro pejabat publik yang bersih dan kompeten. Menunjuk Ahok juga diharapkan bisa menghapuskan kekhawatiran etnis Tionghoa kepada prospek dirinya menjadi Presiden di tahun 2014 (karena isu kerusuhan Mei 98). Prabowo tidak menyangka hal yang dilakukannya ini malah balik makan tuan. Jokowi, dengan desakan partai (yang juga terdesak dengan elektabilitasnya di publik) akhirnya mencalonkan diri menjadi capres di Pilpres 2014 ini.

Selama di DKI, ia mengulangi modus yang sama saat ia menjabat di Solo. Blusukan, program-program populis menjadi andalan. Pembenahan nyata secara fisik juga terjadi. Waduk Pluit, Tanah Abang menjadi bukti janji Jokowi yang terealisasi. Program Kartu Jakarta Sehat melahirkan euforia dan trend baru masyarakat miskin untuk berobat di Rumah Sakit, yang bahkan menjadi trending di daerah-daerah. Pembenahan rumah susun, pedagang kaki lima, pencitraan ulang Satpol PP merupakan upaya-upayanya untuk semakin memanusiawikan Jakarta. Semua upayanya sejauh ini ditanggapi positif oleh warga Jakarta, meskipun ada beberapa kritik soal kecepatan aksi pembenahan yang dilakukan Jokowi-Ahok.

Apabila ada satu kritik penting warga Jakarta untuk Jokowi adalah soal Jakarta dijadikan batu loncatan untuk panggung nasional. Kritik ini bisa jadi valid karena itulah yang terjadi (walau itu tidak berarti ia tidak serius selama menjadi Gubernur DKI). Namun yang tak bisa dipungkiri adalah terjadinya krisis kepemimpinan di level nasional sehingga hanya ada figur-figur lama berusia di atas 60 tahun yang akan menjadi capres. Krisis kepemimpinan ini dan popularitas Jokowi yang luar biasa akhirnya menghadirkan kesempatan bagi Gubernur DKI yang belum selesai masa jabatannya ini. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Ia ditawarkan untuk menjadi Presiden RI 2014 oleh PDIP dan Jokowi akhirnya menerimanya. Bila berhasil, ia akan menjadi Presiden RI pertama setelah Sukarno yang adalah warga Sipil dan bukan keturunan orang besar.

Pilih Yang Mana?

Dalam menulis tentang sosok kedua capres ini, saya menemukan dua hal yang sangat kontras. Bila menulis soal Prabowo saya harus mencari referensi yang cukup banyak dan melakukan cek silang antar referensi, maka menulis tentang Jokowi cukup mudah. Hal itu dikarenakan masa lalu Prabowo yang penuh dengan polemik dan rumor, penuh dengan konflik. Sedangkan Jokowi seperti secarik kertas bersih yang berisi beberapa bullet point. Bukan berarti hidup Jokowi tidak lebih menarik atau berwarna daripada Prabowo, namun itu mungkin karena hidup Jokowi rasanya lebih sederhana dituliskan. Hidupnya seperti hidup sebagian besar kita (kecuali bagian karir politiknya yang gemilang). Lahir miskin, sekolah, bekerja, berwiraswasta, dan sukses. Tidak neko-neko. Sementara hidup Prabowo bagaikan tragedi di film. Misterius dan mengandung banyak pertanyaan soal motif, soal kebohongan, soal konflik.

Seorang Putra Mahkota dan seorang anak Tukang Kayu pun sudah adalah kenyataan yang demikian kontras. Calon penerus Soeharto dari militer yang gagal karena kejadian-kejadian eksternal yang tak terprediksikan sebelumnya dibandingkan dengan melejitnya karir politik warga Sipil yang tidak menyangka ia akan masuk demikian dalam pusaran kekuasaan. Jokowi hanya bercita-cita menjadi pengusaha kayu sedangkan Prabowo mungkin sejak kecil sudah bercita-cita menjadi seorang penguasa, pemimpin negara. Namun nasib dan jalan hidup mempertemukan mereka berdua saat ini, selangkah lagi menuju puncak kekuasaan politik negeri ini.

Saya cukup salut dengan tekad dan ambisi Prabowo yang berusaha memenangkan kekuasaan dengan mengikuti cara demokrasi. Hal itu harus diacungi jempol. Bahwa ia kemudian menggaet partner dari partai-partai kanan dan ormas seperti FPI, hal itu mudah dipahami bila kita memahami rekam jejaknya. Itu hal biasa baginya. Prabowo akan menggunakan cara apapun yang ia rasa efisien dan efektif untuk mencapai sasaran, sebagaimana seorang pemimpin pasukan tempur. Ia seorang ekstrovert yang mudah mendapatkan banyak teman, asalkan visinya sama. Tidak heran ia yang beradik Kristen tidak sulit mendapatkan dukungan dari ormas dan partai Islam sedangkan Jokowi yang semua keluarganya Islam mesti menghadapi isu keagamaan. Prabowo ahlinya soal membangun jaringan dukungan. Ia punya network dan dana. Saya rasa pasti ada sesuatu yang diharapkan dari organisasi dan partai pendukungnya yang bisa mempersatukan mereka semua. Pembagian kekuasaan, visi bersama tentang organisasi agama yang lebih mendapatkan tempat di kekuasaan akan menjadi hal lumrah setelah ia menjadi Presiden. Baginya tentu tidak sulit mengendalikan ormas seperti FPI, apalagi setelah melihat rekam jejaknya dengan Gada Paksi dll di Timor Timur.

Prabowo akan menjadi pemimpin yang mandiri, yang punya visi tentang Indonesia, gagasan tentang nasionalisme versi pribadinya, dan tidak mudah untuk digoyang ketika ia sudah yakin dengan apa yang hendak dilakukannya dengan kekuasaan puncak di negeri ini.

Jokowi sebaliknya adalah pengusaha mebel paling beruntung di dunia. Namun ada pepatah mengatakan keberuntungan hanya akan datang pada mereka yang bekerja keras. Ia bekerja keras, baik di bisnisnya maupun di jabatan politiknya. Orang-orang di sekitarnya bisa merasakan kerja kerasnya itu. Bisa merasakan semangatnya, kejujurannya dan ketulusannya. Ia juga berada di saat yang tepat, ketika kesempatan besar datang padanya. Saat terjadi krisis kepemimpinan di DKI, dan saat terjadi krisis kepemimpinan di level nasional. Saat demokrasi kita sudah cukup dewasa untuk menghargai Ratu Adil yang lahir dari lapisan masyarakat kecil. Saat kita mulai beradaptasi pada Meritokrasi daripada Kleptokrasi atau Teokrasi. Meritokrasi yang artinya siapapun ia, latar belakangnya, akan mendapatkan kesempatan berdasarkan pada hasil kerjanya, usahanya sendiri. Jokowi adalah perwujudan dari Meritokrasi Indonesia. Ia bukan anak pendiri partai, bukan pula anak dari pemimpin partai. Ia anak Tukang Kayu yang terus diberikan kesempatan demi kesempatan, yang lahir dari hasil kerja kerasnya.

Jokowi akan menjadi pemimpin yang butuh dukungan banyak pihak karena ia tidak punya modal kekuasaan pribadi. Kekuasaan diraihnya dengan kolaborasi, dengan dukungan rakyat. Ia akan mendasarkan gagasannya mengenai Indonesia ke depan dari hasil dialognya dengan rakyat, dari hasil blusukannya. Ia akan bangun, hidup, sukses ataupun jatuh bersama rakyat.

Bagi saya, memilih Prabowo artinya memilih babak masa lalu sejarah Indonesia yang misterius, penuh dengan pertanyaan yang belum terjawabkan. Masa lalu di mana militer negeri ini berutang darah dengan negara lain atau warga negaranya sendiri. Timor Leste, Papua, dan Aceh. Belum lagi koalisi Prabowo dengan ormas dan parpol “kanan” yang visinya tentang negeri ini tidak cocok dengan harapan saya pribadi. Saya ingin Indonesia yang lebih beragam, yang lebih bisa hidup sesuai semangat “Bhinneka Tunggal Ika”. Keberagaman adalah kekuatan, bukan kelemahan. Keseragaman mencoba menyembunyikan ketakutan dalam persamaan.

Memilih Jokowi artinya memilih fase berikutnya dari demokrasi: Meritokrasi. Fase di mana semua warga negara, tak peduli kelas ekonominya saat ia lahir, tak peduli siapa orang tuanya, memperoleh kesempatan yang sama untuk berkontribusi terhadap negara. Bahkan di level tertinggi sebagai seorang Presiden. Jika Jokowi sang anak Tukang Kayu bisa menjadi Presiden RI, maka di tahun-tahun berikutnya mungkin giliran Kusni si anak Nelayan, atau Aceng si anak pemulung. Indonesia menjadi negeri harapan untuk semua orang, yang tidak terbatas lagi untuk keluarga penguasa tertentu atau kelas tertentu. Selama seseorang berusaha dengan jujur, dengan kerja keras, hasil kerjanya akan diapresiasi oleh publik, seperti Jokowi.

Berbagai kampanye negatif dengan isu SARA menurut saya adalah pembodohan publik. Negeri ini sudah cukup lama berhasil mengatasi isu SARA, bahkan sejak berdirinya (Bhinneka Tunggal Ika). Hanya saja isu ini dipakai berulang kali oleh penguasa diktator demi melanggengkan kekuasaannya, mengadu domba rakyatnya sendiri dengan perbedaan. Sama halnya dengan kampanye negatif dengan isu fasisme dan otoritarianisme. Rezim Orba sudah lama berlalu, dan saya yakin masyarakat demokratis ini tidak akan sudi melepas kebebasannya. Masyarakat akan melawan, ketika indikasi opresif akan dilakukan. Kedua isu ini sama saja bentuknya, adalah fear mongering campaign. Kampanye untuk menebarkan rasa takut yang tidak berdasar.

Baik Prabowo ataupun Jokowi yang terpilih, masa depan Indonesia akan ditentukan oleh rakyatnya sendiri. Yang jadi masalah sekarang adalah seakan ada dua kubu rakyat yang punya visi berbeda drastis mengenai Indonesia. Jangan kuatir, itu hanya permainan marketing kedua tim sukses. Saya yakin sebagian besar kita masih memiliki gagasan, harapan akan masa depan yang mirip tentang Indonesia, hanya berbeda selera soal figur pemimpinnya. Kita semua ingin Indonesia yang Makmur, Adil, dan Aman. Hanya bagaimana mencapainya yang mungkin berbeda.

Sudah saatnya Indonesia beralih Zaman. Mari tinggalkan Zaman Ratu Adil. Zaman Pemimpin ditunjuk untuk kita, dipilih dari kelas penguasa, atau dari militer yang berkuasa. Ini Zaman Peralihan.

Saya memilih Jokowi untuk menjadi Presiden Republik Indonesia di Pilpres 9 Juli besok. Bagaimana dengan Anda?

Pemilu 2014 dan Anak Zaman Peralihan (part II)


Bila di artikel dengan judul yang sama bagian pertama saya mencoba mengulas mengenai euforia kampanye kedua capres, kesamaan para pendukung capres dengan fans bola, soal Hok-Gie dan Zaman Peralihan, maka di bagian kedua ini saya akan membahas soal pengetahuan saya tentang kedua capres. Dengan berbekal informasi dari media ditambah dengan pengalaman pribadi, barangkali saya kemudian bisa memutuskan untuk memilih capres yang mana.

Visi misi keduanya penuh dengan retorika, janji-janji yang bila dipenuhi tentu berakibat pada masa depan negeri yang cerah (tentunya tergantung sudut pandang masing-masing kubu). Materi kampanye mereka pun telah disiapkan dengan baik oleh tim sukses yang profesional (lengkap dengan serangan terhadap lawannya). Kedua pasang capres-cawapres rasanya sudah siap sekali memimpin negeri ini dan tampak yakin dapat memenuhi janjinya, walaupun kita tahu tak mungkin semua janji tersebut terpenuhi selama 5 tahun mereka menjabat.

Bila kita abaikan hiruk-pikuk kampanye kedua kubu capres, maka bahan yang tersisa untuk menjatuhkan pilihan adalah menilai pribadi masing-masing capres tersebut. Lewat rekam jejak, lewat pikiran (saya rasanya bisa sedikit membaca pikiran orang :p), ucapan dan perbuatannya, sebagaimana kita biasanya menilai orang-orang di sekitar kita. Abaikan semua puja-puji tentang kedua capres ini, abaikan semua rumor dari kampanye negatif, periksa dan lihat sendiri rekam jejak mereka. Hal ini yang akan saya coba lakukan ditambah dengan opini pribadi mengenai kedua capres ini. Saya akan berusaha mengabaikan rumor-rumor yang tidak terbukti dan lebih mengandalkan referensi faktual. Mudah-mudahan bisa objektif.

Bagian kedua ini saya akan menulis tentang Prabowo dan baru di bagian ketiga tentang Jokowi serta kesimpulan pilihan saya. Semoga pembaca bisa sabar mengingat tulisan kedua bagian ini cukup panjang.

Ambisi Sang Putra Mahkota

Prabowo Subianto lahir di tahun 1951, saat ini berusia 63 tahun. Di saat terjadi Peralihan Zaman Orla ke Orba, ia masih remaja berumur 15 tahun. Namun ia tidak menyaksikan Peralihan itu secara langsung karena di tahun 1966-1968 ia sedang sekolah dan tinggal di London. Tahun 1968, ayah Prabowo, Soemitro Djojohadikoesoemo dipanggil kembali oleh Soeharto untuk menjadi Menteri Perdagangan di Kabinet Pembangunan I. Sebelumnya beliau keluar dari Indonesia karena terlibat dalam pemberontakan PRRI/Permesta, menjadi buronnya Pemerintahan Soekarno. Soemitro lalu menjadi arsitek ekonomi Orba. Anak-anak didiknya yang dikirim ke Universitas California, Berkeley untuk belajar Ekonomi seperti Widjojo Nitisastro, Mohammad Sadli, Subroto, Emil Salim, Ali Wardhana dan lain-lain yang kemudian berperan penting dalam pembangunan ekonomi Orba. Mereka kemudian dikenal dengan sebutan Mafia Berkeley.

Singkat kata, Prabowo masuk AKABRI di tahun 1970, lulus di tahun 1974 sebagai lulusan terbaik (satu angkatan dengan SBY tapi lulus satu tahun lebih lambat karena pelanggaran disiplin). Ia lalu ditugaskan di Kopassandha (nama sebelum Kopassus), pasukan khusus elit Indonesia yang saat itu sangat disegani dan ditakuti. Baret Merah panggilan bekennya di masyarakat. Prabowo menjadi komandan pleton Grup 1 Kopassandha di tahun 1976, setahun setelah invasi RI ke Timor Timur di tahun 1975. Latar belakangnya saat itu Timor Timur sedang dilanda perang saudara akibat dekolonisasi Portugis di tahun 1974. Fretilin yang “kiri” berhasil mendesak UDT ke perbatasan dan menguasai pemerintahan. RI melihat kondisi yang berkembang di TimTim dan bahaya “komunisme” yang akan diterapkan Fretilin di negara tetangga itu, akhirnya memutuskan untuk menginvasi TimTim dan mencaploknya ke dalam wilayah NKRI. Operasi Seroja pun diluncurkan Desember 1975 dengan jumlah pasukan puluhan ribu yang jauh melampaui tentara Fretilin.

Dalam sekejap pasukan RI menguasai kota-kota penting di TimTim. Dan selama beberapa tahun menghadapi perlawanan gerilya sisa-sisa pasukan Fretilin. Tentu tidak sedikit korban. Sekitar 1.000 orang korban jiwa di pihak Indonesia, namun di pihak TimTim puluhan ribu korban tewas. Di sebuah interview tanggal 5 April 1977 dengan Sydney Morning Herald, Menteri Luar Negeri RI, Adam Malik mengakui sekitar 50.000 atau bahkan 80.000 warga TimTim terbunuh selama invasi ini. Dan dalam invasi ini, Kopassandha berperan besar. Pasukan Khusus dan TimTim kemudian menjadi bagian terpenting dalam karir militer Prabowo.

Prabowo Muda dan Korps Tercinta

Misi Prabowo saat di TimTim waktu itu adalah menangkap Wakil Presiden Fretilin yang juga Perdana Menteri pertama TimTim, Nicolau dos Reis Lobato. Berhasil menelusuri jejak Nicolau, pasukan Kopassandha Nanggala-28 yang dipimpin Prabowo bersama pasukan Yonif 744 menyergap Nicolau dan terjadi adu tembak. Nicolau tewas dalam adu tembak tersebut. Sebuah kemenangan besar bagi ABRI saat itu namun kehilangan besar bagi TimTim. Setelah TimTim merdeka dan menjadi Timor Leste, Nicolau Lobato ditetapkan sebagai pahlawan nasional mereka. Bahkan bandara international Timor Leste saat ini diberi nama Presidente Nicolau Lobato International Airport.

Prabowo pun melesat karir militernya semenjak itu. Ia bertugas di TimTim hingga tahun 1980. Setelah itu ia ditunjuk menjadi Wakil Komandan Detasemen 81 yang baru dibentuk di dalam Kopassandha untuk penanggulangan anti-teror. Mayor Luhut Panjaitan menjadi Komandannya. Prabowo bersama Luhut Panjaitan dan beberapa perwira Kopassandha kemudian diundang untuk mengikuti 6 minggu pelatihan anti-teroris Special Force Polisi Jerman, GSG 9. Mereka menjadi peserta pertama dari Indonesia. Partisipasi Prabowo dalam pelatihan itu menjadikannya bak selebriti di Jerman dan lingkaran militer di Indonesia serta menaikkan persepsi tentang posisinya di ABRI. Apalagi tidak lama setelah itu ia menikahi Titiek, Siti Hediati Suharto, putrinya Presiden Suharto di tahun 1983 setelah lama berpacaran. Bintang Prabowo semakin bersinar. Seorang perwira militer dengan ayah begawan ekonomi, mertua Presiden RI, pendidikan barat dan visi militer modern. Tidak ada rival di generasinya yang bisa menyainginya di militer saat itu.

Perubahan yang dilakukan Benny Murdani (Pangab saat itu) di tahun 1983-1985 di ABRI sedikit berdampak terhadap karir Prabowo. Kopassandha dikurangi jumlah pasukannya dari 6.500 ke 2.600 dan dari lima grup menjadi tinggal 2 grup. Termasuk yang dipangkas adalah Grup IV, Sandhi Yudha yang kemudian terkait erat dengan Prabowo. Yang menjadi spesialisasi dari Grup ini adalah intelijen tempur dan penggunaan taktik Unconventional Warfare. Kopassandha diganti namanya menjadi Kopassus, yang lebih ramping, namun lebih terlatih. Grup IV dibubarkan dan fungsinya diintegrasikan dengan pusat pelatihan Kopassus di Batujajar, Bandung. Murdani juga menempatkan loyalisnya di Kopassus. Prabowo pun tergeser dan di tahun 1985 pindah ke Kostrad.

Prabowo sempat mencicipi latihan di Fort Benning di tahun 1985 dan kembali ke Seskoad di tahun 1986. Tentu ia dan Murdani tidak memiliki hubungan baik saat itu. Dalam dokumen yang detail ini: Prabowo, Kopassus and East Timor – On the Hidden History of Modern Indonesian Unconventional Warfare yang ditulis oleh Ingo Wandelt mengungkap detail tentang bibit lahirnya Unconventional Warfare di Kopassus versi Prabowo yang membawa pengaruh besar dalam dua kejadian besar di sejarah Indonesia: Referendum 1999 Timor Timur dan Penculikan Aktivis + Kerusuhan Mei 1998.

Di tulisan tersebut, Prabowo saat di Seskoad ingin membuktikan Murdani salah dengan menghapus fungsi Unconventional Warfare di Kopassus menjadikan topik itu sebagai bahan presentasi dan studinya. Prabowo mengusulkan jenis baru dari konsep milisi Sipil untuk TimTim dengan ide:

“It takes East Timorese to fight East Timorese”

Konsep milisi Sipil (mempersenjatai penduduk sipil dan melatihnya dengan keterampilan militer) untuk membantu militer bukan hal baru di dunia dan di ABRI saat itu. Biasanya militer akan mendapatkan dukungan secara intelijen dari milisi Sipil dan juga bantuan saat pertempuran. Namun yang sedikit membedakan konsep Unconventional Warfare Prabowo ini adalah pendekatannya menargetkan satu kelompok untuk milisi Sipil bentukannya: preman Timor Timur.

Preman menjadi jasa keamanan militer juga sudah dilakukan sebelum di TimTim. Di akhir tahun 70-an, militer menggunakan jasa preman terorganisir untuk “mengamankan” Pemilu. Mengarahkan pemilih untuk mencoblos partai tertentu. Beberapa tahun kemudian grup preman ini akhirnya tak dapat dikendalikan dan meningkatkan tingkat kriminalitas di kota-kota. Di tahun 1982-1984 dilancarkan operasi penembakan gelap para preman yang tak terkendali ini. Publik menyebutnya Petrus (penembakan misterius). Para korban Pe­trus ditemukan masyarakat da­lam kondisi tangan dan lehernya te­ri­kat, tewas. Kebanyakan korban juga dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, la­ut, hutan dan kebun. Pola pengambilan pa­ra korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal dan dijemput aparat ke­amanan. Tempo pernah memuat pengakuan pelaku Petrus.

Dengan menggunakan preman terorganisir yang juga adalah orang-orang TimTim sendiri, maka kritik terhadap ABRI dari dunia internasional bisa berkurang di samping berkurangnya tingkat kekerasan dari para pemberontak (Fretilin) pro kemerdekaan (akibat tekanan kekerasan milisi Sipil tentunya). Tentunya agar milisi Sipil ini mau ikut kehendak ABRI, mereka diberikan kekuasaan dan kesejahteraan. Inilah bentuk terbaru dari Unconventional Warfare versi Prabowo yang dibahas selama studinya di Seskoad, menurut dokumen tersebut.

Selepas dari Seskoad, Prabowo kembali ke Kostrad. Namun ia tak lepas kontak dengan TimTim. Ia juga menjalin hubungan dengan dua komandan Kopassus selama ia di Kostrad: Mayjen Sintong Panjaitan dan Brigjen Kuntara. Di tahun 1989 ia kembali ke TimTim sebagai Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kostrad. Saat itu di TimTim telah bermunculan laporan adanya gangster berpakaian ninja, yang dilatih Kopassus soal intelijen, interogasi dan pembunuhan yang menargetkan kelompok pro kemerdekaan. Apakah milisi Sipil berbentuk preman terorganisir oleh Kopassus ini adalah berkat usulan Prabowo kepada rekannya di Kopassus atau tidak, tidak ada datanya.

Segera setelah Murdani lengser dari pos Pangab di Maret 1993, Prabowo langsung kembali ke korps tercintanya, Kopassus. Ia menjadi kepala Grup III, Pusat Pelatihan di Bandung. Tiga tahun kemudian ia diangkat menjadi Komandan Jenderal Kopassus di bulan Juni 1996. Langkah yang pertama ia lakukan adalah mengembangkan kembali 3 Grup di Kopassus menjadi 5 Grup, termasuk Grup IV Sandhi Yudha (cikal bakal karir militernya). Prabowo kembali ke TimTim dan mendirikan secara resmi Gada Paksi (Garda Muda Penegak Integrasi). Gada Paksi menjadi perwujudan dari teori studinya di Seskoad: model organisasi “contras” ala TimTim untuk Unconventional Warfare.

Pemuda-pemuda TimTim direkrut, diberikan pendidikan dan pelatihan. Awalnya mereka membuka bengkel, toko, wartel namun kemudian masuk ke bisnis miras, tempat perjudian dan jasa keamanan. Gada Paksi berkembang dengan cepat, kurang dari setahun memiliki lebih dari 1.000 anggota. Bahkan 600 anggota sempat dikirim ke Jawa untuk mendapatkan pelatihan dari Kopassus. Gada Paksi kemudian digunakan Kopassus di TimTim untuk tugas teror psikologis dan fisik kepada kelompok pro kemerdekaan.

Produk ultimate dari Gada Paksi dan visi UW Prabowo ada pada sosok Eurico Guterres. Silakan googling namanya dan akan ditemukan rekam jejak yang cukup menarik. Mungkin nama tersebut tidak cukup terkenal di Jakarta, namun nama yang lain lagi: Hercules Rozario Marsal aka Hercules tentunya sudah tak asing lagi bagi warga Jakarta.

Sayangnya kekerasan berlebihan yang dilakukan milisi-milisi Sipil binaan Kopassus di TimTim akhirnya tidak menghasilkan manfaat untuk NKRI. Kekerasan ini mendapatkan sorotan dunia internasional dan akhirnya RI mendapatkan tekanan untuk mengadakan Referendum di tahun 1999 dan penduduk TimTim memilih melepaskan diri dari NKRI. Visi Prabowo di final gagal terealisir.

Namun Prabowo tidak perlu mengkhawatirkan soal Referendum 1999 karena setahun sebelumnya ia telah mengalami masalah yang lebih serius: tereksposnya penculikan aktivis oleh tim Mawar Kopassus. Penculikan ini dilakukan oleh bagian dari Grup IV yang difavoritkannya. Tulisan dari Dian Paramita di blognya sangat mendetail menceritakan soal penculikan ini: Rangkaian Kejadian Penculikan dan Keterlibatan Prabowo.

Tidak hanya penculikan, Prabowo juga dirumorkan terlibat dalam Kerusuhan Mei 1998, yang mana dalam laporan Tim Gabungan Pencari Fakta ditemukan orang-orang sipil yang tidak dikenal masyarakat lokal yang mengarahkan dan memprovokasi. Kehadiran milisi Sipil di lokasi dan pembiaran militer menjadi indikasi kemungkinan keterlibatan Unconventional Warfare ala Kopassus di kerusuhan-kerusuhan yang terjadi serentak di kota-kota besar tersebut. Prabowo membantah keterlibatannya, tentunya.

Kerusuhan Mei 1998 dan kasus penculikan mahasiswa 1997-1998 ditambah dengan krisis moneter dunia mengubah jalur hidup Prabowo. Saat itu ia sebagai Pangkostrad berpeluang besar untuk menjadi Panglima ABRI dan sudah diproyeksikan menjadi pewaris tahta Suharto. Saya dan teman-teman segenerasi saat itu sudah memprediksikan tongkat estafet diktator rezim ORBA akan dioper dari sang mertua ke menantunya. Siapa yang menduga kalau Sang Putra Mahkota berubah takdirnya menjadi Outsider, yang tersingkirkan, dari militer dan dari korps kecintaannya. Bahkan ia ditolak oleh keluarga Cendana, dicap pengkhianat oleh isterinya (yang kemudian menceraikannya) karena dianggap berkonspirasi dengan kelompok-kelompok prodem untuk kudeta sang mertua. Wawancara Prabowo dengan Majalah Panji ini cukup menarik untuk memberikan pencerahan mengenai isi pikiran Prabowo saat itu.

Diberhentikan dari militer dan keluar dari lingkaran kekuasaan serta dikecam oleh publik yang sedang merasakan euforia demokrasi, Prabowo hengkang ke luar negeri. Di saat yang bersamaan aksi unconventional warfare warisannya di TimTim gagal dengan Referendum yang memberikan kemerdekaan bagi Timor Leste. Apakah hal itu cukup untuk meredam ambisi Sang Putra Mahkota?

Ternyata tidak.

Ia berbisnis bersama adiknya, yang sudah konglomerat saat itu. Ia kembali masuk ke Golkar dan ikut Konvensi Capres Golkar di tahun 2004 dan masih gagal. Ia masuk dan menjadi ketua HKTI. Mendirikan Gerindra di 2008 dengan satu tujuan utama: menjadikannya Presiden RI 2009. Bergandengan dengan Megawati dan masih gagal. Tahun ini Gerindra akhirnya mendapatkan suara yang cukup untuk mencalonkannya dengan menggandeng partai-partai yang lebih kecil. Ambisi itu tak pernah hilang.

Tahun 2014 ini menjadi pertaruhan terakhir Sang Putra Mahkota untuk menjadi Raja.

bersambung 

bagian III: Kesempatan Anak Tukang Kayu